
Xiao Tian memasuki pintu berwarna biru setelah mempertimbangkan banyak hal.
Seperti biasa, sejak Xiao Tian melewati sebuah pintu maka pintu yang dia lewati itu akan tertutup dan menghilang secara otomatis.
Ketika dia keluar dari pintu biru itu, dia melihat sebuah daratan es yang begitu luas. Tak ada satupun dinding pembatas maupun atap yang menghalangi jarak pandang.
"Tempat apa ini?"
"Apakah aku sudah sampai di lembah kristal es?" ucap Xiao Tian.
"Tidak secepat itu manusia. Kuakui kau cukup hebat karena bisa keluar dari rintangan kedua."
"Padahal jika kau salah sekali saja mungkin kau akan mati." sambung suara misterius.
"Ayolah tuan jangan terlalu keras kepadanya, dia hanyalah seorang manusia. Tolong permudah ujiannya." terdengar suara kera yang pernah Xiao Tian temui di rintangan kedua.
"Bukankah kau sudah meringankan rintangan kedua tadi?" tanya suara misterius itu.
"Itu ... ," ucap si kera.
"Pergilah temui manusia itu dan jelaskan tentang rintangan ketiga, tapi jangan beri dia petunjuk yang tidak perlu. Biarkan dia berpikir sendiri!" bentak suara misterius itu.
"Ba ... baik!" jawab kera itu.
Xiao Tian melihat ke atas langit untuk mencari sumber suara.
"Sebenarnya dari mana suara-suara itu berasal?"
"Kenapa mereka terdengar dari segala arah?" pikir Xiao Tian.
Ketika Xiao Tian sedang melihat keatas langit, tiba-tiba saja suara kera yang dia kenal terdengar dengan jelas tepat dihadapannya.
"Ehm, apa yang kau cari manusia?"
"Sejak kapan kau ada didepanku?" tanya Xiao Tian.
"Itu tidaklah penting, sekarang aku akan menjelaskan rintangan ketiga."
"Kalahkan semua orang dan jadilah nomor satu." ucap kera itu.
"Kalahkan semua orang?"
"Apa maksudmu?"
"Disini kan yak ada satu orangpun." jelas Xiao Tian.
"Lihatlah dibelakangmu." tunjuk kera itu.
Setelah melihat kera itu menunjuk kearah belakang, Xiao Tian menengok kearah belakang dengan penuh rasa penasaran.
Setelah melihat kebelakang ia pun terkejut, senang sekaligus sedih. perasaannya campur aduk setelah ia melihat Kaibo sedang tersenyum sambil berdiri tegak tepat dibelakangnya.
"Ka ... Kaibo?"
"Kau baik-baik saja?"
Xiao Tian berlari mendekat untuk memeluk Kaibo yang menatapnya dengan senyuman hangat.
Ketika Kaibo sudah berada dipelukannya, sebuah pedang yang sangat tajam menembus tubuhnya hingga mengeluarkan banyak darah.
"Kaibo?"
"Apa yang kau lakukan?"
Tanya Xiao Tian.
"Matilah, dan biarkan aku hidup."
"Hanya ada satu orang yang boleh hidup di dalam rintangan ini."
"Untuk lolos dari rintangan ketiga, kita harus saling membunuh." jawab Kaibo.
Bukkk
Xiao Tian memukul mundur Kaibo dengan sekuat tenaga.
"Sial aku telah tertipu oleh mataku sendiri." pikir Xiao Tian.
"Katakan siapa kau!"
"Kenapa kau berpura-pura menjadi Kaibo!" bentak Xiao Tian sambil menarik keluar pedang yang masih menempel menembus tubuhnya.
"Maafkan aku kak Xiao Tian, aku sudah menusukmu dengan pedangku."
"Aku tak tahu apa yang baru saja aku perbuat, aku tak bisa mengendalikan diriku hingga menusukmu dengan pedangku." jelas Kaibo dengan air mata yang mengalir deras.
Xiao Tian memakan pil pemulih energi dan menggunakan teknik akupuntur untuk menghentikan pendarahan di tubuhnya.
"Syukurlah aku masih memiliki banyak jarum yang tersisa, asalkan aku masih memiki jarum di cincin ruangku, aku bisa mempercepat proses pemulihan diri dan menghentikan pendarahan sesukaku." pikir Xiao Tian.
"Merepotkan." ucap Kaibo sambil menjentikkan jarinya.
Ketika Kaibo menjentikkan jarinya, pedang yang Xiao Tian cabut dari tubuhnya menghilang tanpa jejak dan berpindah kedalam genggamannya dalam sekejap mata.
"Cincin ruang dan pedang yang bisa menghilang dengan sekali jentikan jari, tidak salah lagi itu adalah jurus original milik Kaibo.
Bukankah dia belum menguasai teknik itu?"
"Sejak kapan dia menguasai teknik itu?" pikir Xiao Tian.
"Tenang saja, aku tak hanya memiliki satu pedang, aku memiliki total 9000 pedang didalam cincin ruangku dan semua itu adalah pedang yang kau berikan khusus untukku." jelas Kaibo.
"Siapa kau sebenarnya?"
"Dari mana kau mendapatkan pedang-pedang itu!" bentak Xiao Tian.
"Sabarlah kak Xiao Tian, bukankah sudah kujawab dengan jelas sejak tadi?"
"Aku adalah Kaibo dan jawabanku tidak akan pernah berubah!" jelas Kaibo.
Kaibo mengeluarkan semua pedang yang dia simpan di dalam cincin ruangnya. Dengan teknik pengendalian pedang yang dia kuasai, Kaibo melayangkan ribuan pedang-pedang itu untuk membunuh Xiao Tian.
Shut shut shut
Xiao Tian menghindari semua serangan pedang yang diarahkan Kaibo kepadanya. Sambil menghindari ribuan pedang yang menyerangnya tanpa henti, Xiao Tian mencoba untuk melempar jarum-jarum emasnya untuk melumpuhkan tubuh Kaibo.
Akan tetapi semua serangannya ditangkis Kaibo dengan mudah. Setiap jarum yang dilesatkan ke arahnya, Berhasil dia tangkis tanpa bergerak satu langkah pun. sebagian pedang-pedang yang bertebaran di udara selalu melindungi Kaibo saat jarum dilesatkab menuju ke arahnya.
"Pedang-pedang itu sungguh merepotkan."
"Aku harus mencari cara untuk menyingkirkan pedang-pedang itu." pikir Xiao Tian.
"Ijinkan aku untuk menolongmu." ucap Sunlong melalui telepati.
"Ini adalah ujianku, kau tak perlu ikut campur." sambung Xiao Tian.
"Cih, kau masih menyimpan dendam padaku ya?" sambung Sunlong."
"Ini tak ada kaitanya denganmu, diamlah dan biarkan aku mengurusnya sendiri." ucap Xiao Tian.
"Kau ini sedang bicara dengan siapa?"
"Apa kau sudah gila?"
ucap Kaibo yang tak bisa mendengar suara Sunlong.
"Kalau kau mati jangan salahkan aku." sambung Sunlong.
"Cukup kau saja yang mati.!" sambung Xiao Tian.
"Setidaknya katakan itu sambil menatap wajahku!" bentak Kaibo dengan kesal.
Pedang-pedang Kaibo melesat semakin cepat ketika dia kesal, hanya saja tingkat akurasi serangannya semakin menurun. Karena hal itu Xiao Tian bisa menghindari semua serangan Kaibo dengan begitu mudah. Tak hanya menghindarinya saja, dia bahkan bisa menangkap dua pedang yang melesat cepat ke arahnya. Dengan dua buah pedang ditangannya, Xiao Tian menangkis pedang-pedang yang lain hingga menancap ke daratan es. Ketika pedang-pedang tersebut menancap ke daratan es, Xiao Tian mencabut pedang-pedang itu untuk dilemparkan ke arah Kaibo.
Melihat Xiao Tian melemparkan ribuan pedang ke arahnya, Kaibo hanya tersenyum lebar. Dia menjentikkan jarinya untuk menghilangkan pedang-pedangnya itu dengan begitu santai, akan tetapi tak semua pedang yang di arahkan kepadanya merupakan pedang miliknya. Ternyata Xiao Tian juga melempar pedang miliknya yang selama ini dia bawa di cincin ruangnya.
Wooshhh
Cleb
"Dasar licik, ternyata kau menyembunyikan pedangmu diantara ribuan pedang-pedangku."
"Tapi satu buah pedang saja, tidaklah cukup untuk membunuhku."
"Aku pasti bisa, uhuk uhuk uhuk(batuk)" ucap Kaibo sambil batuk hingga keluar darah.
"Lukaku tidaklah dalam, tapi kenapa aku bisa terluka separah ini?"
"Pedang macam apa yang kau gunakan!"
"Aku seperti ... ," sebelum menyelesaikan ucapannya Kaibo pingsan menghantam daratan es.
"Meski hanya satu buah pedang yang berhasil mengenaimu, kau tak akan bisa menahannya."
"Jangankan luka tusuk, bahkan luka gores sekalipun bisa membuatmu tewas dengan mudah. Karena pedang milikku telah aku lapisi racun yang sangat mematikan". jelas Xiao Tian.
Tubuh Kaibo menghilang setelah Xiao Tian kalahkan, tak lama kemudian putri Jia Li muncul tepat di belakangnya.
"Luar biasa, kau sanggup membunuh temanmu sendiri." ucap putri Jia Li.
"Dia hanyalah ilusi, begitu pula dirimu putri!"
"Akan kuhabisi kau agar bisa cepat mencapai ujung labirin es." jawab Xiao Tian.
"Kami mungkin ilusi, akan tetapi tubuh kami itu asli."
"Dengan menyakiti kami, maka secara tidak langsung kau juga menyakiti pemilik asli tubuh ini."
"Begitu pula Kaibo yang baru saja kau bunuh." ucap Putri Jia Li.
"Aku tak akan percaya dengan ucapanmu, dasar peniru!" bentak Xiao Tian.
"Beraninya kau membentak seorang putri!"
"Matilah!" ucap putri Jia Li sambil mengangkat jari telunjuknya ke arah udara.
Ketika telunjuknya dia acungkan ke udara, dari dalam daratan es muncul pasukan es yang berbentuk golem seukuran manusia.
"Golem es ya?"
"Aku baru tahu kalau putri Jia Li punya teknik semacam ini." ucap Xiao Tian.
"Setelah kau mengetahui kekuatanku yang sebenarnya, apa kau akan menyerah?" tanya putri Jia Li.
"Berhenti bermimpi, dasar peniru!" sambung Xiao Tian.