
Tubuh Biksu Tong dapat terselamatkan, namun jiwanya tidak. Kebenaran tersebut membuat Wu Kong cukup terpukul hingga tak kunjung bergerak dari posisinya
"Apakah kau masih bisa melanjutkan ini, Dewa Kera?" tanya Xiao Tian dengan nada lemas dan diselimuti rasa bersalah.
Wu Kong terus diam dan tak menanggapi, hingga membuat Xiao Tian memutuskan untuk meninggalkannya dan berkata,"Kau tak perlu melanjutkan penyerangan ini, lagi pula kau tak ada kaitannya dengan pertarungan ini," Xiao Tian berjalan pergi meninggalkan Wu Kong dan bersiap untuk melesat terbang mendahului yang lainnya.
"Tunggu dulu!" Wu Kong mengangkat suaranya saat menyadari Xiao Tian hendak terbang meninggalkannya tanpa rasa ragu.
"Ada apa?" Xiao Tian mengurungkan niatnya untuk terbang dan menoleh ke arah Wu Kong saat mendengar teriakannya.
"Bukankah kau juga kehilangan pecahan dari kesadaran gurumu?"
"Kenapa hatimu tak sehancur hatiku?"
"Salah satu dari sembilan puluh sembilan relik Kaisar iblis telah lenyap ditelan Kaisar iblis Sheqi loh?"
"Dia bahkan menjelaskan bahwa sebagian ingatan dari pecahan jiwa gurumu juga tertelan habis bersama pecahan jiwa gurumu."
"Tanpa salah satu relik kaisar iblis yang mengandung pecahan jiwa gurumu, menghidupkannya kembali akan menjadi hal yang mustahil. Tapi kenapa kau bisa setenang itu?" Wu Kong sangat penasaran dengan sikap tegar Xiao Tian yang nampak tak terguncang meski salah satu dari pecahan jiwa gurunya juga hilang seperti yang terjadi pada Biksu Tong.
"Aku hanya mencoba bersikap optimis," Xiao Tian tersenyum tipis. Lalu melanjutkan niatnya untuk terbang menuju pusat istana kerajaan Ning bagian timur, dimana Ning Lian Huo berada. "Optimis ya?"
"Dasar pembohong," naga hitam yang berbagi pikiran dengan Xiao Tian dapat merasakan kegelisahannya yang dia kubur dalam dalam untuk dirinya sendiri.
Bersamaan dengan perginya Xiao Tian, Kaibo dan yang lainnya perlahan terbang mengikutinya. Meninggalkan Wu Kong yang masih larut dalam pikirannya. 'Bisakah kau memperlambat terbangmu, Yanyan!?' Putri Jia Li nampak berusaha terbang menyusul Xiao Tian dengan kecepatan yang sedikit lebih cepat dari pada yang lainnya.
Sementara itu ...
Taiwu dan pasukannya, dihadang oleh pasukan elit yang dipimpin pengguna relik pedang naga ganda.
Beruntungnya bawahan Taiwu dapat menahan serangan pasukan tersebut, berkat jirah serta pusaka langit berbentuk pedang hitam yang mereka dapatkan dari hasil menjamah mayat para siluman.
Trang!!! Relik pedang buatan milik pasukan musuh, serta duplikat pusaka langit tingkat atas milik pasukan elit kerajaan petir bertubrukan di atas punggung naga biru. "Mu ... mustahil!"
"Bagaimana bisa ada pedang yang dapat menahan relik buatan guru besar!" para pasukan pedang merah ganda, merespon dengan cara yang sama. Dan berakhir dikalahkan oleh pasukan elit kerajaan petir, karena setiap naga biru dapat menampung dua orang pasukan yang bisa saling melengkapi dan menutup titik buta mereka masing masing.
Krakkk, trang!!! Pedang di tangan kanan Taiwu terpotong menjadi dua, menyusul pedang di tangan kiri Taiwu yang telah potong pertama kali.
"Tanpa pedang ditanganmu, bisakah kau menahan relik pedang sisik naga gandaku!" Ning Lian Zen menjilati bagian tepi bibirnya dengan tatapan yang haus akan darah manusia.
"Maaf karena telah meremehkanmu sebelumnya," Taiwu melapisi pusaka langitnya dengan aura pedang yang terus meningkat dari aura pedang terlemah. Berawal dari aura pedang yang cukup lemah dengan warna merah, lalu menjadi kuning, dan perlahan menjadi hijau.
"Aura pedang tingkat tiga!?"
"Kau seorang master pedang!?"
"Hahahhahah, kau benar benar pria yang menarik"
Ning Lian Zen melapisi pedangnya dengan aura pedang hitam pekat dilapisi aura membunuh. Berbeda dengan master pedang jalan biasa seperti Taiwu, yang auranya bisa diukur kekuatannya dari segi warna berbeda seperti merah hingga ungu, kekuatan master pedang jalan iblis hanya bisa dilihat dari seberapa pekat warna hitam dari aura pedangnya. Semakin pekat dan gelap aura hitam yang dimiliki, maka semakin kuat pula kekuatan tebasannya.
Wooshh Srang Sring Srang, Taiwu dan Ning Lian Zen beradu pedang dengan cukup sengit di atas udara. Gerakan mereka tak dapat dilihat para prajurit karena jarak kultivasi.
'Cih! pedang apa yang dia gunakan!?'
'Rasanya seperti mencoba memotong besi dengan sebuah ranting. Kerasnya bukan main!' Ning Lian Zen terpental mundur beberapa kali setiap pedangnya bertubrukan dengan pedang Taiwu.
"Hosh hosh hosh!" Ning Lian Zen mundur beberapa langkah dengan napas yang tak beraturan karena semua serangannya ditahan Taiwu dengan mudah meski Taiwu tak berpindah dari posisinya berdiri.
'Pusaka Langit ini, benar benar luar biasa!'
'Dengan ini aku bisa melawan musuh tanpa takut, meski terpaut jarak kultivasi yang cukup jauh,' Taiwu menatap pedangnya sembari teraenyum tipis.
"Hosh hosh hosh, Ning Lian Zen menoleh ke arah kiri dan kanan dengan napas yang tak beraturan untuk memastikan pasukan elit pedang merah yang dikirim guru besar kekaisaran Ning untuk membantunya. Awalnya dia berpikir untuk mengacau pikiran Taiwu dengan menunjukkan kekuatan pasukan yang dipimpin olehnya, sayangnya keadaan malah berbalik dan tak sesuai harapannya. Bukannya menang telak atas prajurit kerajaan petir yang memiliki kultivasi cukup rendah bagi pasukan elit kekaisaran, dia malah dikejutkan oleh kekalahan telak mereka hingga hanya dapat melihat pasukan kerajaan petir saja di setiap naga biru yang masih terbang di udara.
'Sialan!' Ning Lian Zen hendak pergi meninggalkan medan perang untuk menyelamatkan hidupnya. Namun Taiwu muncul tepat di hadapannya hingga membuatnya terhenti tanpa kata kata. "Kau pikir aku akan melepaskanmu begitu saja!?" Taiwu menyilangkan kedua buah pedangnya lalu berkata,
"Teknik penebas langit, Thunder Cross Skill!!"
Woooshhh Srattt kreattt duarrrr!!! Taiwu melesat maju dengan langkah yang diselimuti kilat putih, menebas tubuh Ning Lian Zen hingga membuat bekas tebasan berbentuk huruf X tepat dibagian perut dan punggungnya. Luka tebas itu dilapisi kilatan petir putih yang menyala nyala, dan perlahan meledak.
"Pusaka langit pedang petir putih, memang luar biasa. Terimakasih karena telah meminjamkannya kepadaku, Dewa Petir," Taiwu kembali turun dan mendarat ke punggung naga biru setelah berhasil mengalahkan lawannya jauh di atas langit kerajaan Ning bagian timur.
Tap ... Taiwu mendaratkan kakinya ke atas punggung pemimpin naga biru.
"Hidup kerajaan petir!"
"Hidup!!" semua prajurit nampak bersemangat berkat kemenangan mereka.