
#Kerajaan Petir
(kediaman Jenderal Huang Cheng)
"Sudah hari kelima belum ada kabar juga, kalian pergilah ke kerajaan angin, setelah sampai disana kirimkan surat lewat beast burung!" ucap Jenderal Huang Cheng sambil menunjuk ke arah prajuritnya
"Baik tuan!" jawab para prajurit
Jenderal Huang Cheng tak bisa menahan diri untuk mengirim prajuritnya, karena dia tak bisa meninggalkan kerajaan tanpa perintah raja, tapi dia masih bisa mengirim prajurit bayangan keluar kerajaan, meski dia tahu ada orang kuat yang melindungi putrinya, dia tak bisa tenang sebelum mendapat kabar darinya.
"Kecepatan manusia menuju kerajaan awan memang lambat karena harus memutari lembah naga, tapi seharusnya mereka sudah sampai sejak kemarin dan mengirim Beast tipe burung menuju kemari"
"Beast burung bisa terbang melewati lembah naga, dan sampai kemari dalam waktu seperempat hari, aku mana bisa tenang kalau belum mendapat kabar dari putriku."
"Semoga kau baik-baik saja, Huang Li." pikir jenderal Huang Cheng
*******
#Istana kerajaan petir
"Lapor yang mulia, hamba melihat Jenderal Huang Cheng mengirimkan pasukan keluar kerajaan, apakah hamba harus menghentikan mereka?" tanya prajurit kerajaan petir
"Tak perlu, mungkin dia hanya khawatir pada putrinya, aku juga ingin mendengar kabar baik darinya, meski aku tahu topeng bencana sangat kuat, tetap saja aku menghawatirkan mereka." jawab raja Xiao Zhaoye
"Baik yang mulia, kalau begitu hamba pamit undur diri, dan lanjut mengawasi perbatasan." sambung prajurit kerajaan petir
"Baiklah." jawab raja Xiao Zhaoye
**********
#Kerajaan Api
(pasar makanan kerajaan Api)
"Ahhh, menyebalkan sudah puluhan tahun kita berada diluar kerajaan, aku merindukan putraku Taiwu!" ucap Jenderal Tailong
"Ah kau ini, kita kan baru pergi selama sepuluh tahun." sambung jenderal Taifeng
"Tapi sepuluh kan angka puluhan, jadi aku tak salahkan!" teriak Jenderal Tailong dengan tampang kesal.
"Kau ini kebanyakan minum, kau sudah menghabiskan 10 botol arak, berhentilah minum!" sambung jenderal Taifeng.
"Kau sendiri juga mabuk, berhenti melarangku, aku hanya mencoba menghilangkan kerinduanku!" ucap jenderal Tailong sambil memegang sebotol arak.
"Kalian sudah mabuk berat tahu, kalian mengobrol menghadap kearah berlawanan sejak tadi, semua orang menertawai kalian loh!" ucap jenderal Taizong dengan tampang kesal.
"Adeh kenapa aku harus terjebak dengan kedua idiot ini." pikir jenderal Taizong sambil menepuk jidatnya
"Hei adik, kau tak boleh berteriak kepada kakakmu, itu tak sopan tahu, hick(cegukan)" ucap jenderal Taifeng
"Aku ini kakakmu dasar adik sialan!" teriak jenderal Taizong dengan kesal.
"Hei kak Taifeng aku disini, dia adalah kak Taizong,Hikk(cegukan)!" ucap Tailong
"Oh aku salah ya, hehehe, maafkan aku kak, Hick(Cegukan)" ucap Taifeng sambil melihat ke arah belakang
"Woi kau sedang menatap kemana!"
"Aku ada disampingmu!" teriak Taizhong dengan kesal.
"Masa sih, tapi aku melihatmu dibelakangku, masih berani bohong ya, lihat aku berhasil menangkap tanganmu!"
"Kenapa tanganmu kecil sekali ya? Hick(Cegukan)," ucap Taifeng sambil meraba tangan seorang anak kecil.
"I ... ibu ... ada om om aneh memegang tanganku!"
"Huaaaa!" teriak bocah yang tangannya dipegang Taifeng.
Plakk
"Dasar pemabuk mesum, beraninya memegang putriku, dia masih dibawah umur tahu!" teriak ibu dari bocah itu
"Aduh kak Taizhong ada yang menamparku, huhu." ucap Taifeng
"Aku harap mereka bukan adikku, mereka bukan adikku," pikir jenderal Taizhong
"Apa kau lihat lihat!" teriak ibu dari bocah itu, karena Taizhong terlihat seperti sedang melihatnya.
"Aduh, kenapa aku juga kena semprot." pikir Taizong
"Kalau saja kami menemukan petunjuk lokasi rahasia sekte kegelapan atau sekte iblis, kami bisa pulang secepatnya" pikir Taizong
" Gara-gara tak menemukan petunjuk sedikitpun aku terpaksa menghabiskan waktu dengan kedua adikku ini." pikir Taizong sambil menepuk dahi
"Cih, dasar para sampah masyarakat." ucap ibu-ibu itu sambil melangkah pergi membawa putrinya
"Woi kalian sudah mabuk parah, ayo kembali kepenginapan!" teriak Taizhong sambil menyeret kedua adiknya
Mendengar ucapan pemilik kedai, Taizong pun melepaskan kedua adiknya, lalu mengambil uang di kantongnya
"Ah maaf, aku lupa ini uangnya." ucap Taizhong sambil memberikan koin emas kepada pemilik kedai
"Tuan, ini terlalu banyak, kau cukup membayar 3 koin emas, apa kau terlalu mabuk hingga memberi 5 koin emas?" ucap pemilik kedai
"Aku tak separah itu tahu, aku beritahu ya, aku sedang dalam kondisi sadar." teriak Taizhong
Taizhong marah karena dia sedang kesal dengan kelakuan kedua adiknya
"Cih kenapa pemilik kedai ini tak menerima uang itu saja, apa dia tak suka mendapat uang lebih?"
"Aku harus mengurus kedua adikku secepat mungkin." pikir jenderal Taizong
"Tuan kau berteriak tanpa alasan, itu membuktikan kalau kau mabuk, ini ambil kembali uangmu, kau pasti punya banyak masalah ya, hingga berteriak teriak ketika mabuk, uangmu lebih 2 koin emas, terima ini, dan pulanglah berikan ke istrimu." ucap pemilik kedai sambil memberikan 2 koin emas yang dia terima
"Pemilik kedai, aku tak mabuk, aku serius." ucap jenderal Taizong
"Sudahlah terima saja, pergilah." ucap pemilik kedai
"Ya sudahlah kalau kau tak mau uang lebihan, aku akan menerimanya." jawab jenderal Taizong
Ketika Taizong membalikkan badanya, kedua adiknya telah menghilang entah kemana.
"Kampret kemana mereka pergi dalam keadaan mabuk!"
"Ini semua gara-gara pemilik kedai itu!" pikir jenderal Taizong
******
#pasar buah kerajaan Api
"Hei anak muda tolong bantu aku, ambilkan buahku yang terjatuh." ucap seorang wanita paruh baya
"Ah baik, aku akan membantumu, mana buahnya?" tanya jenderal Tailong
"Itu ada tepat dibawah kakimu, kau ini sedang mabuk ya?" tanya wanita itu
"Hehehe aku sadar kok, aku hanya tak melihatnya, hick(cegukan)" ucap Tailong
"Nenek kenapa kau tak mengambil buahnya sendiri, adik Tailong sedang sibuk loh." ucap Taifeng
"Tak apa ini perkara mudah."
"Ah kenapa buah ini ada dua, mereka bergerak-gerak dan membelah diri terus!" ucap Tailong sambil berusaha mengambil buahnya
Tailong tak dapat mengambil buahnya, karena yang berusaha dia ambil adalah bayangan yang tercipta dari buah itu , karena terlalu mabuk buahnya terlihat begitu banyak
"Punggung nenek sakit, nenek sudah tak bisa berjalan tegak, nenek harus memakai tongkat untuk berdiri, jadi nenek tak bisa mengambilnya sendiri, karena nenek takut jatuh." ucap wanita itu
"Kalau begitu biar aku bantu luruskan punggung nenek, Tailong bantu aku memegangi tubuh nenek!" ucap Taifeng
"Siap boskuh!" ucap Tailong
Secara kebetulan Tailong berhasil menangkap nenek itu, dengan menggunakan jurus elemen tanah, dia membuat kedua kaki dan tangan nenek itu terperangkap dan memaksanya hingga terbuka lebar.
"Ayo aku sudah mengikat nenek dengan jurusku! hick(cegukan)" teriak Tailong
"Ok sekarang giliranku." ucap Taifeng
"Brengsek apa yang akan kalian lakukan padaku!" teriak wanita itu
"Tenang saja aku akan membantu meluruskan punggungmu! Hick(cegukan)" teriak Taifeng
Taifeng menciptakan palu dengan elemen tanah yang dia miliki, dia berencana memalu punggung nenek itu.
"Ini mungkin sedikit sakit, tahan ya nek, hick(cegukan)." ucap Taifeng
"Sedikit matamu, itu palu yang begitu besar, ditambah lagi terlihat sekeras batu, apa kau mau membunuhku?"
"Seseorang tolong aku!" teriak wanita itu
"Hahahah, nenek ini bercanda ya, kami ingin menolong, jadi tak perlu minta tolong, kami sedang berusaha membantu, hick(cegukan)." ucap Tailong
Semua penduduk yang melihat, tak berani mengganggu, karena mau dilihat dari manapun, kedua pria yang mabuk itu terlihat sangat kuat.
"Sialan, aku menyesal meminta tolong pada kalian!" teriak wanita itu
"Baiklah kita mulai ya, satu.. dua... " ucap Taifeng
Duakkk pletakk
"Dasar adik-adik sialan, baru ditinggal sebentar saja, sudah membuat keributan!" teriak Taizhong sambil memukul kedua adiknya
Nenek itu pun terlepas dari jeratan jurus Jenderal Tailong, dan Taizhong di marahi oleh nenek itu selama seharian, sedangkan kedua adiknya pingsan setelah dia pukuli.