
Wu Kong dan Xiao Tian duduk di atas kepala naga hitam raksasa yang terbang di depan semua pasukan lain.
" ... " Xiao Tian memegang kepala naga hitam dan berkata, "Sekarang!"
Woosh!!! Duarr!!!! Naga hitam menyemburkan api biru ke menara penjaga Kekaisaran Ning yang jaraknya masih ratusan kilo meter.
Setelah mencapai target, naga hitam segera mempercepat terbangnya meninggalkan naga naga lain. "Roarr!!!!"
'Serangan macam apa itu?' para prajurit yang berjaga di menara lain terkejut bukan main melihat salah satu dari menara penjaga hancur dalam sekejap meski musuh belum berada dalam jangkauan serang mereka.
Setiap lima belas detik sekali, Naga hitam menyemburkan api birunya ke menara lain dengan kecepatan terbang yang menakjubkan. Serangan sang naga begitu kuat dan berdampak besar, hingga array pelindung yang menyelimuti menaranya tertembus bagai tak pernah ada sama sekali.
Woooshhh,. Duarrr!!!! "Kuuaaaa!!!" Para prajurit yang berusaha menghindar dari dampak ledakan api biru berteriak kepanasan.
Disaat Xiao Tian dan naga hitam melesat maju menuju istana sang raja, Taiwu dan pasukan naga birunya memutar ke kanan, Sunlong beserta pasukan roh iblis memutar ke kiri, sedangkan sisanya terbang ke tengah mengikuti laju terbang Xiao Tian.
Kreatttt... Duarrr!!!! Naga biru menyemburkan laser berlapis petir biru untuk membumi hanguskan musuh yang dapat mereka jangkau.
"Ratakan semua pasukan musuh!"
"Ratakan terus hingga tak ada yang sanggup melarikan diri!" Taiwu mengangkat suaranya.
Wooshh, Cessss!!!! Naga hijau memuntahkan ludah asam untuk melelehkan seluruh menara dan prajurit musuh yang terlihat, mengikuti perintah Sunlong dan para roh iblis yang menaiki tubuh mereka. "Jangan biarkan satupun dari mereka lolos!" Sunlong melemparkan bola bola api dari kedua tangannya sembari menaiki naga hijau yang terus melontarkan ludah asam ke arah musuh.
....
Para pillar kerajaan berkumpul di satu ruangan mengikuti arahan raja mereka. Terdapat lima orang pillar kerajaan yang terkumpul.
Ning Lian meng, gadis berambut merah panjang dan bersenjatakan cambuk naga ekor merah. Dia berjirah emas layaknya keempat pillar kerajaan yang lain dengan lambang tengkorak naga di bagian tengahnya. Dia datang paling awal menghadap sang raja. "Salam yang mulia,"
Selang beberapa detik sejak ucapan salam Ning Lian Meng dilontarkan, Ning Lian Zen, pria berambut hitam panjang dan bersenjatakan pedang ganda berjalan masuk bersama Ning Lian Xuan yang tak memakai senjata apapun selain jirah merah yang terbuat dari sisik naga merah. Sama halnya dengan Ning Lian Zen, dia memiliki rambut hitam yang agak panjang. Bedanya dia mengikat rambut miliknya dengan kain merah tak seperti Ning Lian Zen yang membiarkannya terurai bebas. "Hormat kami, yang mulia"
Tak lama setelah pemberian hormat Ning Lian Zen dan Ning Lian Xuan, seseorang dengan cakar naga merah di kedua tangan dan kakinya berjalan masuk ke dalam ruangan. Berbeda dengan ketiga pillar kerajaan, dia berjalan dengan cukup sombong dan terkesan tak menghargai sang raja. Bersamaan dengan masuknya pria berambut putih itu, seseorang dengan rambut putih dan tak kalah panjang seperti pria yang berjalan mendahuluinya, berjalan masuk dengan bersenjatakan tombak berlapis sisik naga merah, dan sarung tangan yang dibentuk dari tulang kepala naga berjalan masuk dengan cara yang tak kalah sombong.
"Ning Chen memberi hormat kepada yang mulia," ucap pria bercakar naga merah dengan senyum palsunya.
"Ning Yuan memberi hormat kepada yang mulia," pria bersenjatakan tombak naga merah dengan sarung tangan tengkorak naga memberi hormat tanpa membungkukkan badannya.
'Dasar tak punya sopan santun,' pikir ketiga pillar sembari menatap dua pillar kerajaan yang tak menghargai sang raja.
'Kami berada disini atas perintah dari sang kaisar, keluarga cabang seperti kalian tak dapat mendapat hormat dari kami,' Ning Yuan dan Ning Chen menatap semua orang termasuk raja dengan sinis.
'Cih, andai saja mereka bukan berasal dari keluarga inti,' Ning Lian Huo menatap kesal kedua pillar kerajaan yang tak pernah menghargai dirinya.
"Kerajaan barat telah dihancurkan, Ning Lian Ho beserta sekte yang dibangun oleh putriku juga menghilang tanpa jejak. Para siluman dan naga hijau seharusnya tak punya kemampuan untuk melenyapkan mereka, dan jika memang mereka masih hidup, seharusnya mereka akan mengabariku atau datang kemari untuk meminta bantuan," jelas raja Ning Lian Huo dengan serius.
"Dengan kata lain, kemungkinan besar mereka telah tiada," ucap Ning Lian Meng sambil menyipitkan matanya.
"Hmmm," sang raja mengangguk.
"Karena kami juga tak mendapat kabar mengenai serangan di kerajaan barat, maka besar kemungkinan bahwa Ning Zetao telah tiada," Ning Yuan menyela karena menyadari bahwa berita yang dikatakan sang raja belum dia ketahui.
"Jika berita yang anda katakan memang benar, maka musuh kita kali ini tidaklah sederhana," Ning Chen memasang wajah serius.
Semua orang menjadi tegang setelah mendengar ucapan Ning Chen. Semua karena mereka tahu, bahwa kultivasi Ning Zetao tidaklah serendah itu sehingga mudah dihabisi begitu saja.
Saat suasana tegang sedang terjadi, seorang pria berkepala botak dan berpakaian seperti seorang biksu seketika muncul di belakang kelima pillar melalui teknik teleportasi dan berkata, "Shancai shancai, ini benar benar keadaan yang cukup rumit,"
Semua orang terfokus ke sumber suara dan segera menunduk memberi hormat kepada pria tersebut. Bahkan sang raja pun ikut tunduk kepadanya dan berkata, "Ning Lian Huo memberi salam kepada guru besar,"
"Ning Yuan, memberi hormat kepada Guru besar."
"Ning Chen, memberi hormat kepada Guru besar."
"Ning Lian Meng memberi hormat kepada Guru besar."
"Ning Lian Zen, memberi hormat kepada Guru besar."
"Ning Lian Xuan memberi hormat kepada Guru besar." Kelima pillar kerajaan memberi hormat tanpa terkecuali.
Bersamaan dengan salam hormat semua orang, tepat dibelakang pria misterius itu, bermunculan orang orang misterius yang berasal dari kekaisaran Ning. Pasukan khusus itu berpakaian serba putih, dan tertutup layaknya seorang ninja. Di punggung mereka terlihat dua buah pedang merah bergagang hitam yang nampak sederhana namun memancarkan aura kematian.
"Jika boleh saya tahu, apa yang membawa Guru kemari?" tanya Ning Lian Huo dengan heran.
"Aku merasakan kehadiran seorang Dewa yang cukup berbahaya sedang memancarkan aura permusuhan, jika aku tak turun segera turun tangan, aku takut seluruh kerajaan bagian timur tak akan terselamatkan seperti kerajaan Barat."
.....
#Kekaisaran Ning
Kaisar Ning Zhou duduk di singgasanya dengan penuh kekesalan. "Panggil semua pillar kekaisaran untuk munghadap diriku!"
"Baik yang mulia," seorang prajurit berjirah emas memberi hormat sebelum pergi meninggalkan Kaisarnya.
'Kerajaan barat hancur tanpa diketahui, sedangkan Guru besar menghilang entah kemana. Bukan gaya dia meninggalkan kekaisaran tanpa memberi kabar, mungkinkah terjadi situasi yang mendesak?' Kaisar Ning Zhuo merasa khawatir karena ini adalah pertama kali baginya kehilangan kontak dengan Guru besar pencipta relik buatan yang biasa dipakai para petinggi kerajaan untuk mengimbangi dan bahkan melebihi kekuatan dari relik relik Kaisar iblis maupun pusaka kuno milik para Dewa.