
Dewi Petir telah kembali ke alam para Dewa karena tertarik dengan cuaca buruk yang tersebar ke seluruh jagat raya.
Awalnya dia berniat untuk pergi ke alam Dewa untuk mengecek sumber dari cuaca buruk tersebut. Akan tetapi dia saat dia baru sampai, dia malah menangkap basah tingkah mesum suaminya.
"Pemandangan segar ya?" ucap Dewi Petir.
"Ti ... tidak, kau salah dengar. Aku tak mengatakan hal seperti itu. Sungguh .... ," belum sempat Dewa petir menyelesaikan kalimatnya, terdengar suara Dian Peng yang memanggilnya dari perbatasan istana Langit.
"Ayah, kau kah itu?"
Dewa Petir yang tadinya sedang menatap istrinya langsung menoleh ke belakang sambil berkata, "Dian Peng?"
Setelah Dewa petir menatapnya, Dian Peng langsung berlari kepelukan ayahnya dengan pipi yang dibasahi air mata.
"Ayah ... !"
"Kemana saja ayah selama ini, aku merindukan ayah. Hua ... ," Dian Peng memeluk tubuh Dewa Petir begitu erat. Mengabaikan ibunya yang juga telah lama meninggalkannya.
"Terimakasih anakku, kau adalah penyelamat hidupku," pikir Dewa Petir sambil memeluk Dian Peng.
"Ayah mendapat tugas dari kaisar Langit. Jadi tolong bersabar ya. Seorang pria tak boleh nangis. Contohlah ayahmu ini, kau tak pernah melihat ayah menangis kan?" tanya Dewa Petir.
"Bukankah ibu sering membuat ayah menangis?"
"Aku selalu mendengar rintihan ayah kalau ibu membawa paksa ayah entah dari mana," elak Dian Peng sambil mencoba menghapus air matanya.
"Pft," Kaisar Langit mencoba menahan tawa sambil menutup mulutnya rapat rapat.
"Hmm ... pokoknya pria tak boleh menangis, cukup ingat itu baik baik oke."
"Jadi ayah bukan seorang pria?" tanya Dian Peng dengan wajah polosnya.
"Pft"
"Hahahaha!" Kaisar Langit tak bisa menahan tawanya sehingga tertawa terbahak bahak.
Dewa Petir menatap Kaisar Langit dengan pandangan kesal sedangkan Dewi Petir sejak tadi cemberut dan masih mencoba menahan amarah karena kehadiran Dian Peng.
"Maaf maaf aku tak bisa menahan diri untuk tertawa, aku sudah berusaha sejak tadi."
"Kalian lanjutkan saja pembicaraannya, biar aku yang pergi menemui Dewi Quan Im.
" Berjuanglah saudaraku," Kaisar Langit menghilang dari pandangan Dewa Petir dan semua orang. Dia menggunakan teknik teleportasi menuju ke tempat Dewi Quan Im berdiam diri.
Setelah kaisar Langit menghilang, Dewi Petir menepuk punggung Dian Peng lalu berkata,
"Bisakah kau tinggalkan ayahmu sebentar saja?"
"Ibu ingin bicara dengan ayahmu."
"Gak mau!"
"Aku masih mau sama ayah!" ucap Dian Peng dengan air mata yang berlinang.
Melihat Dian Peng sulit dibujuk, Dewi Petir langsung menotok punggung leher Dian Peng lalu memberi tubuh Dian Peng ke salah satu tubuh tiruan Wukong untuk dikirim kembali ke rumahnya.
"Istriku, dia anak kita loh. Bisakah kau bertindak sedikit lebih lembut?" tanya Dewa Petir sambil menatap Dewi Petir yang sedang memberikan tubuh Dian Peng ke gendongan Wukong.
Setelah tubuh tiruan Wukong menghilang sambil membawa pergi Dian Peng, Dewi Petir menatap Dewa Petir dengan pandangan yang begitu serius.
"Mati aku, sepertinya hari ini dia benar benar tak bisa memaafkanku. Meski sudah tak memiliki hati nurani karena sudah tak bisa merasa senang maupun sedih, biasanya dia tak pernah bertindak sekasar itu kepada Dian Peng. Bisa mati konyol aku kalau diam disini terus," pikir Dewa Petir sambil menyiapkan jurus teleportasi.
"Apakah raja iblis Dianzeng benar benar putra pertama kita?" tanya Dewi Petir sambil meneteskan air mata.
"Apa ingatanmu telah kembali?" tanya Dewa Petir sambil membatalkan jurusnya.
"Ingatan?"
"Apakah selama ini aku mengalami lupa ingatan?" tanya Dewi Petir sambil meneteskan air mata.
"Iya, dan kau sendiri yang menyebabkan ingatanmu menghilang. Dianzeng terlahir di alam manusia, berbeda dengan putra Dewa Dewi pada umumnya dia terlahir dengan hawa iblis yang menyelimuti tubuhnya."
"Karena hawa iblis tersebut, dia selalu dijadikan bahan ledekan teman temannya saat kita kembali ke alam para Dewa."
"Suatu hari Dianzeng mengamuk, dia dikuasai oleh hawa iblis miliknya. Memporak porandakan sekolah para Dewa dan menyakiti putra putri dari Dewa Dewi yang sedang menimba ilmu di sekolah Dewa."
"Karena kekacauan yang dia lakukan saat hilang kendali, Dianzeng dihukum oleh Kaisar Langit untuk merenungi perbuatannya di dalam gua kesunyian."
"Dia dihukum selama sepuluh tahun lamanya, tanpa makanan maupun minuman. Saat itu kita belum berteman dekat dengan Wukong, dan hanya bisa memohon kepada kaisar Langit agar membebaskan Dianzeng karena masih berumur delapan tahun. Tapi permohonan kita selalu ditolak, dengan alasan bahwa itu sudah menjadi aturan Langit. Demi keadilan agar para Dewa Dewi yang lain tidak marah."
"Meski ditolak berkali kali, kita tak pernah menyerah. Kita terus memohon kepada " Kaisar Langit agar Dianzeng bebas dari kurungan."
"Setelah memohon berkali kali, akhirnya Kaisar Langit merasa kasihan dengan kita."
"Meski Dianzeng tetap tak dibebaskan, dia memberi kita ijin untuk mengunjungi dan memberinya makan dengan catatan tak boleh ada Dewa Dewi yang tahu akan hal itu."
"Ijin itu kita dapatkan di hari ke tujuh, kita pergi diam diam saat Dewa Dewi sedang disibukkan oleh tugas dari Kaisar Langit yang sengaja dia buat untukengalihkan perhatian para Dewa Dewi."
"Saat itu kita merasa begotu senang karena bisa menemui Dianzeng setelah menahan rindu tujuh hari lamanya. Sayangnya saat kita masuk ke gua kesunyian, yang kita dapatkan malah sebuah kejadian yang tak terduga."
"Dianzeng telah tewas diracuni oleh seseorang. Napas dan rohnya benar benar tak bisa kita rasakan. Kaisar Langit dan Dewa Dewi penjaga alam roh tak ada yang bisa membantu kita. Bahkan nama Dianzeng terhapus dari buku takdir. Setelah mengetahui kebenaran itu semua orang menyimpulkan bahwa roh Dianzeng telah hancur atau ditelan oleh iblis."
"Karena tak tahan dengan kebenaran tersebut, kau mengunci emosimu dan melupakan segala kenangan tentang Dianzeng. Hingga terciptalah kau yang sekarang, tanpa hati nurani dan hanya bertindak sesuai logika. Hanya satu emosi yang masih bisa kau rasakan yaitu amarah. Karena hal itu pula kau jadi mudah marah," jelas Dewa Petir sambil menatap Dewi Petir.
"Jika dia telah tiada, lalu kenapa sekarang dia muncul kembali?" tanya Dewi petir dengan wajah yang dibasahi air mata.
"Aku pun tak tahu, tapi mendengar kabar itu saja aku sudah merasa senang. Semoga saja dia benar benar Dianzeng kita," ucap Dewa Petir sambil tersenyum tipis.
"Bolehkah aku memelukmu?" tanya Dewi petir sambil tersipu malu.
"Tentu saja, kemarilah dan luapkan semua kesedihanmu. Biarkan air matamu mengalir agar emosimu segera kembali. Bersamaan dengan kembalinya semua emosimu, ingatanmu juga akan ikut kembali."
"Menangislah istriku," ucap Dewa Petir sambil memeluk Dewi Petir.
#######
Terhitung dua hari sejak Wukong merebut Xiao Tian dari tangan dewa petir.
Setelah insiden ular Yin dan Yang benar benar dilupakan oleh para Dewa Dewi, Wukong mengembalikan tanggung jawab mengurus Xiao Tian beserta kawan kawannya ke tangan Dewa Petir.
Tiba saatnya bagi Dewa Petir berpamitan kembali dengan Dewi petir dan anaknya yang paling kecil.
"Kenapa ayah harus pergi lagi?"
"Kenapa bukan paman Wukong saja yang pergi?" tanya Dian Peng sambil menarik pakaian Dewa Petir.
"Maaf putraku, ini semua sudah menjadi kewajiban ayah. Demi menebus kesalahan ayah di masa lalu, ayah harus membimbing Xiao Tian hingga sekuat ayahmu ini," ucap Dewa Petir sambil mengelus kepala Dian Peng.
"Istriku, aku pamit undur diri. Tolong jaga tubuhku dan putra kita Dian Peng saat aku pergi. Titipkan salamku kepada Dewi Chang E dan para Dewi yang lainnya," ucap Dewa Petir sambil menatap Dewi Petir.
"Ini adalah pertemuan terakhir kita untuk waktu yang lama, kenapa kau malah menyulut emosiku dengan menyebut nama wanita lain di hadapanku ha?" tanya Dewi Petir dengan tatapan kesal.
"Bukan begitu, maksudku sampaikan ucapan terimakasih kepada mereka karena mau merawat Dian Peng selama kita tidak ada," ucap Dewa Petir sambil tersenyum tipis.
"Oh ... ," jawab Dewi petir dengan wajah kesalnya.
"Kau sangat imut ketika sedang cemburu," ucap Dewa Petir sambil tersenyum tipis.
"Siapa juga yang cemburu, Huft," ucap Dewi petir sambil membuang wajahnya ke kanan.
Setelah puas menggoda istrinya, Roh Dewa Petir keluar dari jasadnya dan langsung terbang mendekati Xiao Tian. Bersamaan dengan itu tubuh fisik yang telah ditinggalkan mulai terjatuh ke pelukan Dewi Petir.
Tepat ketika Dewa Petir ingin masuk ke dalam cincin ruang Xiao Tian, Dewi petir memanggilnya dengan ragu ragu.
"Tu ... tunggu!"
"Ada apa?" tanya Dewa Petir sambil menoleh ke belakang.
"Jaga dirimu, dan berhati hatilah," ucap Dewi petir sambil menatap roh Dewa Petir.
"Baiklah, sampai jumpa cintaku," ucap Dewa Petir sebelum masuk ke dalam cincin ruangnya.
Dewi petir tersenyum tipis sambil menatap ke roh Dewa Petir.
"Sejak kapan mereka bisa semesra ini?" pikir Wukong yang berada diantara rombongan Xiao Tian.
"Baiklah, Dewa kera. Dewa Petir telah masuk ke dalam cincin ruang. Ayo kita obrak abrik sekte iblis," ucap Xiao Tian sambil menatap Wukong.
Wukong tersenyum tipis setelah mendengar ucapan Xiao Tian.
Setelah Xiao Tian dan rombongannya memegang pundak Wukong, dia langsung mengaktifkan sihir teleportasi menuju alam manusia.