Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 112 : Kekacauan di kerajaan petir (bagian 2)


#Kerajaan petir


Jenderal Tailong tak bisa mengendalikan dirinya karena mencium aroma darah dari pangeran Bing Xuan Ho, Dewi petir mengarahkan telunjuknya kearah jenderal Tailong, dan tepat setelah itu, petir menyambar dari atas langit menuju arah yang ditunjuk Dewi petir.


Jederrrr


jenderal Tailong menghindari petir dari Dewi petir


"Hosh hosh hos(nafas terengah-engah) Hampir saja, jika tubuhku tak bisa kukendalikan tepat sebelum petir itu menyambar, aku akan tewas tersambar petir, apa petir itu berasal dari wanita itu?" pikir jenderal Tailong


Setelah memperperhatikan sekitar seluruh wilayah istana, jenderal Tailong dikejutkan oleh pemandangan yang terlihat, seluruh istana telah rata tersambar petir.


"Gila... apa wanita itu yang melakukannya?" pikir jenderal Tailong


"Hebat juga kau bisa menghindari petirku, dilihat dari kondisimu, kau masih belum bisa mengendalikan diri secara seutuhnya, seharusnya kau menghisap darah manusia didepanmu, agar bisa mengendalikan dirimu dengan benar." ucap Dewi petir


"Kalau aku melakukannya apa kau akan membiarkannya?" tanya jenderal Tailong


"Tentu saja aku akan menyambarmu bersama dengan manusia yang kau hisap darahnya." sambung Dewi petir


"Pertanyaan konyol, tentu saja Dewi tak akan pernah membiarkannya, walau begini dia masih membutuhkanku, ehhhh." ucap pangeran Bing Xuan Ho yang baru sadar akan jawaban Dewi petir


"Dewi, kenapa kau ingin menyambarku juga!" teriak pangeran Bing Xuan Ho


"Karena aku tak membutuhkanmu lagi, kau sudah mengantarku ke kerajaan petir, jadi urusan kita sudah selesai." ucap Dewi petir


"Hei kau yang disana!"


"Kenapa kau memanggilnya sebagai Dewi?" tanya jenderal Tailong


"Apa kau buta ya?"


"Lihat saja, wajahnya sangat cantik bagaikan seorang Dewi, makanya aku memanggilnya Dewi, setiap orang yang melihat wajahnya pasti akan lupa diri, sayangnya kekuatannya diluar jangkauanku, kalau aku lebih kuat darinya aku pasti sudah.." sebelum menyelesaikan kalimatnya Dewi petir berkata


"Sudah apa!" sambung Dewi Petir


"Sudah... sudahhlah lupakan saja hehehe." ucap pangeran Bing Xuan Ho


"Kuakui kau memang cantik, tapi aku tak tertarik dengan wajahmu, jadi jangan harap aku akan mengalah karena wajah cantikmu itu!" bentak jenderal Tailong


"Wah berani juga dia, setelah melihat seluruh istana rata, seharusnya dia tahu betapa kuatnya wanita itu." pikir pangeran Bing Xuan Ho


"Cih." ucap Dewi petir sambil mengeluarkan hawa membunuh


Dewi petir menargetkan hawa membunuh tingkat Dewa kepada jenderal Tailong, hingga hanya jenderal Tailong yang merasakan kengerian kekuatan Dewi petir.


"Sial kekuatan macam apa ini... , aku bahkan tak bisa bergerak, nafasku benar-benar sesak." pikir jenderal Tailong sambil memegang dadanya karena mulai kesulitan bernafas


"Luar biasa, kau masih bisa hidup bahkan setelah merasakan hawa membunuh yang begitu kuat dariku." ucap Dewi petir


"Aku kesulitan bernafas, dan rasa haus darah ini benar benar menyiksaku." ucap jenderal Tailong


Dewi petir mengarahkan telunjuknya kearah jenderal Tailong, dan ingin menyambarnya dengan sebuah petir, namun tepat sebelum petir menyambarnya salah seorang prajurit yang memiliki luka di tubuhnya , mendorong tubuh jenderal Tailong dengan begitu keras, hingga akhirnya prajurit itu tersambar oleh petir dari Dewi petir.


"Sepertinya aku akan mati disini, Taiwu maafkan ayah karena tak bisa membantumu mencari ibumu."


"Tolong lanjutkan perjuangan ayah, dan temukan ibumu bagaimanapun caranya."


"Selamat tinggal putraku."


pikir jenderal Tailong denga air mata yang mengalir di pipinya


Tap(Suara seorang prajurit melompat dari lubang penjara bawah tanah)


"Hiduplah jenderal!" ucap prajurit itu sambil mendorong jenderalnya memakai kedua tangan dengan sekuat tenaga


"Apa yang..." ucap jenderal Tailong yang terkejut akan dorongan prajuritnya


Bushh


Jederrrrr


"Aaaaaaa!" teriak prajurit itu


Jenderal Tailong terkejut karena dirinya berhasil selamat, dan yang paling mengejutkan dirinya adalah dia diselamatkan oleh salah satu prajuritnya yang bahkan tak dia kenal sama sekali.


"Dasar manusia bodoh, kenapa malah melindungi seorang vampir, membuang-buang waktuku saja." ucap Dewi petir


Dewi petir mengarahkan telunjuknya kearah jenderal Tailong, namun tepat sebelum petir menyambar, para prajurit dari penjara bawah tanah, melompat keatas dan berdiri di depan jenderal Tailong, menghalangi telunjuk Dewi petir, agar tak bisa menargetkan jenderal Tailong.


"Jangan berani melukai jenderal kami!" teriak para prajurit


"Kalian pikir dengan berdiri didepannya, bisa menghalangi petirku?"


"Aku mengarahkan telunjukku kepadanya, hanya untuk mengontrol kekuatanku, agar hanya dia yang terkena dampak, tapi jika kalian menghalangiku seperti ini, kaalian akan bernasib sama seperti semua vampir dan istana kerajaan petir." ucap Dewi petir


"Apa maksud ucapanmu, vampir?"


"Istana kerajaan petir?"


"Kami tak perduli apapun maksudmu, kami tak akan menyingkir dari sini!" teriak para prajurit


"Lihatlah keadaan sekitar." ucap Dewi petir


Para prajurit tak memperhatikan keadaan sekitar saat melompat, karena terlalu khawatir dengan nasib jenderal mereka, ketika mereka melihat kesekeliling, mereka dikejutkan oleh keadaan istana yang telah rata dengan tanah, vampir, bangunan disekitar, beserta semua mayat prajurit dan komandan prajurit, semuanya tak terlihat satupun, yang mereka lihat hanyalah tanah yang menghitam dan asap yang keluar dari tanah karena habis tersambar petir, semua banguan yang berdiri begitu kokoh sebelumnya, kini telah menjadi reruntuhan, tapi meski begitu nyali mereka tak berkurang, mereka telah bersumpah setia kepada jenderal Tailong, dan tak akan pernah meninggalkannya dalam keadaan apapun.


"Apa itu semua perbuatanmu!"


"Kau seharusnya hanya membasmi para vampir kenapa meratakan istana juga!"


"Nona, meski kau memiliki kekuatan jauh diatas kami, jangan pikir kau akan menakuti kami, meski kau menyambar kami hingga menjadi abu, kami tak akan pernah takut!" bentak para prajurit


"Apa yang kalian lakukan!"


"Bukankah aku sudah bilang agar menjauh dariku!" bentak jenderal Tailong


"Jenderal maafkan kami, kami tak bisa mematuhi perintahmu yang sekarang, kalau kau ingin menghabisi nyawamu sendiri, maka biarkan kami mati bersamamu!" ucap salah satu prajurit


"Tunggu apa lagi, cepat sambar kami!"


"Kami tak takut dengan kematian, kami tak takit dengan kekuatanmu, kami tak akan tertarik dengan kecantikanmu, siapapun yang ingin membunuh jenderal kami harus melangkahi mayat kami lebih dulu!" ucap para prajurit


"Kalian... , kenapa kalian begitu keras kepala.." ucap jenderal Tailong


"Bukankah kau juga sama?"


"Demi menahan rasa haus darahmu, kau meminta kami memborgolmu di penjara bawah tanah, tapi diluar dugaan petir malah menyambar ke atap penjara bawah tanah, dan membuatmu bisa melepaskan diri dari penjara bawah tanah." ucap salah satu prajurit


"Terserah kalian saja, kalau kalian ingin mati bersama-sama maka akan kukabulkan, semua yang melindungi seorang vampir, harus dihabisi." ucap Dewi petir


Dewi petir mengeluarkan hawa membunuh yang begitu kuat dan diarahkan kepada para prajurit yang menghalanginya, dia membuat para prajurit merasa sesak nafas, tapi mereka berhasil menahan hawa membunuh dari Dewi petir, karena tekad mereka yang begitu kuat. Sebenarnya dia bisa membunuh para prajurit dengan mengeluarkan hawa membunuh tingkat Dewa, tapi dia masih menahan diri agar tak mbuang banyak tenaga, tapi, diluar dugaan para prajurit masih bisa bertahan hidup, dan membuatnya semakin jengkel.


"Benar-benar keras kepala!" ucap Dewi petir yang merasa kesal karena hawa membunuhnya tak bisa membunuh para prajurit


Dengan kekuatan penuh dia ingin menyambar para prajurit dan jenderal Tailong hingga menjadi debu, tapi sebelum petir menyambar mereka , Tainam Chun melompat keluar dari dalam penjara bawah tanah, dan berteriak begitu kencang.


"Hentikan semua ini!"


"Kenapa kau begitu ingin menghabisi jenderal kami!"


"Apa kau tak takut dengan hukuman dari para Dewa!" teriak Tainam Chun


"Hahahahaha." Dewi petir tak bisa menahan tawanya


"Hukuman dari dewa ya... , asal kau tahu saja, aku adalah seorang Dewi."


"Derajatku sama seperti para Dewa." jawab Dewi petir


"Huaaaaa."


"Darah, aku butuh darah." ucap jenderal Tailong


"Apa yang baru saja kuucapkan, aku mulai diluar kendali lagi." pikir jenderal Tailong


Karena telah menjadi vampir, jenderal Tailong tak bisa mati meski merasakan hawa pembunuh tingkat Dewa, dan karena terdorong oleh rasa haus darah yang begitu menyiksa diri, jenderal Tailong berhasil bergerak dan berjalan mendekati prajurit penuh luka yang berada tepat didepannya.


"Darah.... darah.. berikan aku darah." ucap jenderal Tailong yang berjalan mendekati prajurit didepannya dengan air mata yang mengalir di wajahnya, karena putus dia ingin melawan rasa haus darahnya


"Lihatlah, dia bahkan bertingkah seperti para vampir, dia ingin menghisap darah prajurit yang berada di depannya." ucap Dewi petir


"Jenderal sadarlah, jangan sampai menjadi makhluk penghisap darah!" teriak Tainam Chun


"Sudahlah, semua itu percuma!" ucap Dewi Petir


Biar kuakhiri saja hidup kalian semua!" ucap Dewi petir


Jederrr


jederrr


Petir menyambar secara beruntun dari udara, petir itu menyambar kearah para prajurit dan jenderal Tailong, tapi ketika petir hampir menyentuh para prajurit dan jenderal Tailong, semua petir itu berbalik arah menuju Tainam Chun.


Jederrr


Srettt


Kreakkkk


kreakkk(Suara kilatan listrik)


Semua petir itu diserap oleh tubuh Tainam Chun , dan berubah menjadi energi listrik yang mengalir menyelimuti tubuh Tainam Chun..


"Apa yang terjadi?" ucap Dewi petir


Bersambung....


maaf ya lama heheh


sibuk banget.


jangan lupa like dan komen agar author tetap semangat.