Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 45 : Menuju kerajaan Awan


Setelah mendengar kabar bahwa putri Jia Li dipaksa pulang oleh Raja Jia Xin, Xiao Tian tak bisa menahan diri untuk segera menolongnya, dia pergi keluar kerajaan atas ijin ayahnya.


Letak kerajaan awan ada di sebelah barat kota shanlong, dia pergi ditemani Huang Li dan beberapa prajurit, awalnya Xiao Tian menolak di kawal prajurit, tetapi karena Huang Li memaksa ikut , atas permintaan jenderal Huang Cheng , Xiao Tian menerima pengawalan 10 prajurit dari keluarga Huang.


Tentu saja Kaibo dan ketiga temannya juga ikut menemani perjalanan Xiao Tian, setiap menit Si Gendut selalu melihat cincin ruangnya, seperti menantikan hantu di dalam cincin itu keluar.


Su Yan yang merasa terganggu dengan hantu itu, mencoba mengusirnya dengan segala cara, ketika tiba di kota Shandong(Kota sebelum kota Shanlong, letaknya di sebelah timur kota Shanlong), Su Yan mengatakan permintaanya kepada si Gendut.


Karena si Gendut pernah kalah taruhan kemarin, si Gendut tak bisa menolak permintaanya itu. Ketika Xiao Tian sedang mengunjungi tempat lelang di kota Shandong, Su Yan mengajak Si Gendut pergi berkeliling.


"Hei Gendut ikut aku sebentar. " ucap Su Yan sambil menarik si Gendut pergi


"Ada apa sih?" jawab si Gendut keheranan


"Ikuti saja aku, Kau harus menuruti permintaanku karena kalah taruhan, aku akan menunjukkan apa yang aku minta." ucap Su Yan sambil menarik Si Gendut


Si Gendut menuruti Su Yan karena ingat taruhan kemarin, dia juga penasaran dengan apa yang akan Su Yan minta, sampai di sebuah tempat sepi, Su Yan menariknya masuk ke sebuah bangunan yang bertuliskan pengusir roh jahat.


Si Gendut memahami apa maksud Su Yan, awalnya dia tak mau menurutinya, karena dia merasa kenal dengan roh yang ada di dalam cincinnya, tetapi dia juga mulai berpikir, siapa tahu dengan mengusiknya roh itu akan keluar, dia pun menuruti Su Yan dengan hati yang mantap.


Ketika masuk ke dalam tempat itu, suasananya begitu horror, tempatnya begitu gelap, mereka dikejutkan dengan penampakan pengurus tempat itu yang tiba-tiba muncul di depan mereka, dengan memakai sebuah topeng seram dia muncul saat lampu ruangan dinyalakan.


"Hei sepertinya akan ada lagi korban yang tertipu dengan orang tua itu." ucap Para warga diluar


"Aaaaaa hantu!" Teriak Su Yan dengan wajah yang dipenuhi keringat dingin karena kemunculan pria tua itu yang tiba-tiba.


Si Gendut yang tak terlalu percaya hantu awalnya, dan sudah pernah melihat hantu asli yang lebih seram darinya, memukul pria tua itu tanpa rasa takut sedikitpun.


Bukkkk


"Woi udah tua masih aja suka nakutin orang!"


"Kau pikir ini lucu apa!" Teriak Si Gendut sambil memukul pria tua itu


Pria Tua itu membuka topeng seramnya, Dengan hidung yang mimisan karena habis dipukul si Gendut hingga terjatuh, pria tua itu mengatakan hal yang diluar dugaan. "Tehe." ucap Pria tua itu dengan bersikap sok imut


"Tehe matamu!"


"Sadar akan usiamu kakek tua!"


"Berhenti berlagak sok imut!"


"Woi Su Yan sepertinya dia hanya penipu, Kita pergi saja dari sini." ucap si Gendut yang merasa kesal


Dengan wajah yang serius, pria tua itu berdiri mendekati mereka dan menepuk pundak Su Yan, dia berusaha merubah pandangan Su Yan dan si Gendut, dia meyakinkan mereka dengan bersikap misterius, dengan wajah yang serius dia berkata. "Anak muda maaf karena aku telah mengerjaimu tadi, aku hanya ingin mengetes nyali kalian, dan mengetes trauma yang kalian alami."


"Aku yakin kalian kemari untuk mengusir roh jahat, apa kalian diganggu roh jahat baru-baru ini?"


"Apakah kalian merasa jelek karena dijauhi banyak wanita, dan mereka takut ketika melihatmu?"


"Apakah kalian pernah pingsan karena melihat hantu wanita yang begitu menakutkan?" ucap Pria tua itu dengan wajah yang begitu serius


"Ba...bagaimana kau tahu semua itu, ternyata kau memang seorang ahli." ucap Su Yan dengan wajah terkejut, karena merasa yang dikatakan pria tua itu memang pernah terjadi.


"Jadi kali ini tebakanku benar ya?"


"Padahal aku cuma ngarang saja."


"Tehe." ucap Pria tua itu dengan wajah sok imut


Pletak


Mendengar jawabanya Si Gendut semakin kesal, dia memukul Pria tua itu dan memarahinya. " Woi berhenti mempermainkan kami!"


"Kau pikir kau itu imut apa!"


"Berhenti mengatakan Tehe!" teriak Si Gendut dengan wajah kesal


"Ehm dia pasti hanya bercanda untuk mencairkan suasana, jangan terlalu impulsif Gendut." ucap Su Yan berusaha meyakinkan si Gendut


"Ehm seperti yang diharapkan darimu anak muda, Kau berpikiran lebih cerdas dibandingkan si gendut ini, Aku hanya mencoba mencairkan suasana." Ucap Pria tua itu dengan wajah serius


"Katakanlah apa masalah kalian dan kenapa menemuiku, Tehe!" ucap pria tua itu dengan wajah sok imut


Su Yan menahan si gendut yang ingin memukul pria tua itu. si Gendut merasa kesal dengan tingkah pria tua itu hingga ingin memukulnya, tapi Su yan menahannya karena percaya pada omongan pria tua itu.


"Hei Lepaskan aku, aku ingin memukul pria tua ini!"


"Dia berlagak sok imut, dan tak sadar akan umurnya!"


"Biarkan aku memukulnya!" teriak Si Gendut sambil berusaha melepaskan pegangan Su Yan


"Diamlah dan dengarkan kakek tua ini, apa kau lupa dengan permintaanku?"


"Aku ingin kau menuruti semua perkataan pria tua ini, Apa kau lupa janji dari taruhan itu?." Ucap Su Yan sambil meyakinkan si Gendut


Si Gendut tak bisa mengelak, karena kalah dalam taruhan kemarin. dia terpaksa menuruti permintaan Su Yan.


"Kakek tua bisakah kau bantu kami mengusir roh jahat di dalam cincin miliknya?" ucap Su Yan


"Ehm itu mudah, si Gendut itu cukup menari diluar sambil mengucapkan mantra."


"Aku akan mempraktekkan tariannya, sambil mengatakan mantranya." ucap pria tua itu


dia mengulanginya hingga tiga kali


Su Yan menganggapnya dengan serius, dia meminta si Gendut mempraktekkannya, si Gendut pasrah karena dia kalah taruhan.


"Su Yan akan kubalas kau 10 kali lipat setelah ini selesai." ucap Si Gendut


Si Gendut membungkukkan badanya dan menggoyangkan pantatnya, dengan keras dia mengatakan mantranya "Aku gendut, bosan hidup, jangan dekati aku dut dut."


Para warga yang lewat tertawa akan kejadian itu, Salah satu bocah bertanya kepada ibunya karena merasa heran. "Ibu apa yang dilakukan paman itu?"


"Jangan dilihat nanti matamu rusak, dia hanyalah pria bodoh yang telah ditipu orang tidak waras, kalau besar nanti jangan jadi seperti dia ya." ucap ibu bocah itu


Dengan wajah yang menahan malu si Gendut terus mengatakan mantranya sambil menggoyangkan pantatnya. "Aku gendut, bosan hidup, jangan dekati aku dut dut."


"Sial sampai berapa lama aku harus mengatakan semua ini pria tua!" teriak si Gendut


"Karena kau berteriak, kau harus mengulanginya lagi hingga 2 jam." ucap Pria tua itu dengan wajah serius


"Tehe." ucap Pria tua itu dengan wajah sok imut


"Brengsek, pria tua ini mempermainkanku." pikir si gendut


"Semangat aku mendukungmu Gendut!" ucap Su Yan


Tak lama kemudian dari cincin ruang itu keluar sesosok hantu menakutkan.


"Beraninya kalian mempermalukan mas endutku!" teriak hantu itu dengan mode seramnya


Melihat hantu yang menakutkan, pria tua dan Su Yan langsung pingsan ketakutan. "Ha...hantu!" teriak mereka sebelum pingsan


"Ha..hantu!" teriak para warga yang melihat kejadian itu, semua warga disana lari ketakutan


"hahahah pengusir hantu macam apa kau ini, Masa pengusir hantu takut dengan hantu." ucap Hantu wanita itu


Si Gendut dengan wajah kesal memandangi hantu itu.


Hantu itu kembali ke mode cantiknya, dia berubah menjadi berwajah seperti seorang dewi yang turun dari surga.


Si Gendut tak terkejut atau terpesona dengan kecantikannya, dia malah terlihat kesal dan berteriak kepadanya. " Kau ini kenapa baru keluar sekarang!"


"Aku sangat menghawatirkanmu tahu!"


"Kupikir kau lenyap di dalam cincin ruangku!"


"Syukurlah kau baik-baik saja." ucap Si Gendut sambil meneteskan air mata


"Mas endut kok nangis, maaf deh kalau aku lama munculnya, Habis takut mas endut lari dariku, aku gak mau menakuti mas endut, dan juga gak mau diusir mas endut." ucap hantu wanita itu dengan mode cantiknya


"Apakah kau sudah mengingat sesuatu?"


"Apakah kau ingat namamu?"


"Apakah kau bisa katakan penyebab kematianmu?" tanya Si Gendut sambil menghapus air mata di wajahnya


"Aku tak mengingat apapun, aku hanya merasa kalau aku mengenal mas endut."


"Entah kenapa kalau dekat dengan mas endut aku merasa nyaman." ucap hantu wanita itu


"Katakan padaku kalau kau mengingat sesuatu." ucap di Gendut


"Oke mas endut , tehe." ucap hantu wanita itu dengan nada sok imut


Mendengar kata tehe mengingatkan dia dengan hal memalukan yang dia lakukan.


si Gendut menyuruh hantu itu berhenti mengatakan tehe.


"Ehm tolong jangan ucapkan kata tehe didepanku lagi, Itu mengingatkanku akan masa kelamku, o iya ingatlah mulai sekarang namamu Huanran, aku akan memanggilmu dengan nama itu."


"Dan kalau bisa, cukup aku yang bisa melihatmu." ucap si Gendut dengan wajah yang memerah karena masih merasa malu akan kejadian tadi


"Ok mas endut, mulai sekarang aku akan menggunakan mode tak terlihat, hanya mas endutku yang boleh melihatku." ucap hantu itu dengan wajah senang


"Baiklah kalau kau sudah mengerti, ngomong-ngomong kenapa kau tak melepuh saat keluar dipagi hari?" tanya Si Gendut


"Karena disini terkena bayangan dari bangunan itu, aku hanya melepuh jika terkena sinar matahari, selagi tak terkena sinar matahari secara langsung, aku akan tetap aman." ucap Huanran


"Baiklah kalau begitu masuk ke cincin ruang dulu, aku ingin membawa Su Yan menghadap boss, karena kalau dia pingsan disini dan urusan boss selesai, nanti dia kebingungan mencari kami." Ucap Si Gendut


Huanran masuk kembali ke cincin si gendut, si Gendut menggendong Su Yan dan membawanya ke tempat pelelangan untuk dilelang, eh untuk menghadap Xiao Tian.


Sesampainya di tempat lelang Xiao Tian selesai dengan urusannya, dia habis menjual beberapa pil untuk ditukarkan dengan senjata agar Su Yan dan si Gendut bisa menjaga diri mereka, dia memberikan pedang agar mereka tak bertarung dengan tangan kosong lagi, Karena menurut ucapan dewa petir, kalau dia mengejar putri Jia Li pasti akan menghadapi kematian.


Oleh karena itu dia memberikan perlengkapab senjata kepada para teman-temannya. setelah semuanya sudah siap, Xiao Tian melanjutkan perjalanannya menuju kota Shanlong.


Sampai disana dia meminta bahan obat yang pernah dia minta dulu, tapi belum sempat mengambilnya karena mengikuti turnamen.


Setelah urusannya selesai, dia keluar dari wilayah kerajaan petir menuju kerajaan awan,


apakah Xiao Tian bisa membawa putri Jia Li kembali ke sisinya?


Bersambung..