
Naga hitam raksasa yang sedang tertidur membuka matanya ketika Xiao Tian berjalan mendekatinya. Setelah membuka matanya , naga itu langsung menatap kearah Xiao Tian , dan berlari menuju kearahnya.
Melihat naga tersebut bangkit dan berlari menuju kearah Xiao Tian, putri Feng Yin gemetar ketakutan karena posisi dia berada tepat disamping kanan Xiao Tian.
Putri Feng Yin gemetar ketakutan karena ini pertama kali baginya melihat seekor naga hitam raksasa dalam keadaan hidup. Selama ini dia tak takut akan naga tersebut karena mengira naga hitam itu telah mati.
Karena dihantui rasa takut yang sangat luar biasa, Putri Feng Yin pingsan ketika naga hitam berada tepat dihadapannya.
Xiao Tian mengelus langsung menangkap tubuh putri Feng Yin yang terjatuh karena pingsan.
"Aih ... kenapa malah pingsan?"
"Bukannya dia sudah menghabiskan waktu selama 1 bulan lebih bersama naga hitam?"
"Wanita memang aneh, apa kau tahu alasannya?" tanya Xiao Tian kepada Dewa Petir yang berada disebelah kirinya.
"Entahlah, tanyakan saja padanya saat dia sadar." jawab Dewa Petir.
"Ngomong-ngomong apa kau bisa mengembalikan tubuhnya seperti semula?"
"Dia terlihat begitu kurus kering, kalau ratu Feng Ping tahu bahwa putrinya telah menjadi kurus kering karena aku, dia pasti akan marah." ucap Xiao Tian.
"Tenang saja Kau tak akan pernah dimarahi oleh ratu Feng Ping."
"Aku punya cara untuk mengembalikan penampilannya kembali seperti semula."
jawab Dewa Petir.
"Benarkah?" tanya Xiao Tian.
Dewa Petir mentransfer energi qi nya kepada putri Feng Yin, lalu mengaktifkan lingkaran sihir disekitar tubuhnya. Lingkaran sihir tersebut mengelilingi tubuh Feng Yin dan mengeluarkan cahaya biru yang menyilaukan mata. Cahaya tersebut perlahan merubah tubuh kurus kering milik putri Feng Yin berubah menjadi berisi secara perlahan. Dewa Petir terus merapalkan mantra hingga tubuh putri Feng Yin kembali normal seperti sedia kala.
Xiao Tian dibuat kagum oleh kemampuan Dewa Petir yang ditunjukkan tepat dihadapannya. Setelah Dewa Petir telah mengembalikan tubuh putri Feng Yin seperti semula, Xiao Tian teringat soal ratu Feng Ping. Dia baru sadar bahwa tubuh ratu Feng Ping tak ada di ruang hampa.
Melihat Xiao Tian melirik kesana kemari seperti sedang mencari sesuatu, Dewa Petir langsung menegurnya.
"Hei apa yang sedang kau cari?"
"Aku sedang mencari tubuh ratu Feng Ping."
"Bukankah dia seharusnya ada di ruang hampa?" tanya Xiao Tian.
"Apa kau lupa?"
"Dia telah menjadi seorang kaisar iblis."
jawab Dewa petir.
"Ta ... tapi, bukankah kaisar iblis yang waktu itu berwajah dan bertubuh seperti seorang pria?" tanya Xiao Tian.
"Meski memiliki tubuh seperti seorang manusia berjenis kelamin pria, tubuh itu bukanlah tubuh aslinya."
"Kaisar iblis memiliki kemampuan untuk bertransformasi, dengan kata lain dia mampu merubah penampilan sesukanya."
"Tidak salah lagi, kalau kaisar iblis yang waktu itu merubah tubuh ratu Feng Ping menjadi tubuh seorang pria." jelas Dewa Petir.
"Lalu apakah kita bisa menolong ratu Feng Ping?" tanya Xiao Tian.
"Untuk sekarang tidak bisa."
"Kau harus memperkuat kultivasimu terlebih dulu, bukan hanya itu kau juga harus pergi ke kerajaan Es terlebih dulu."
"Cegah bocah nakal itu agar tak memasuki wilayah kekuasaan Naga Putih!" sambung Dewa Petir.
Meski sebenarnya Xiao Tian memiliki banyak pertanyaan yang belum terjawab, dia berhenti bertanya kepada Dewa Petir karena tahu mengejar Kaibo merupakan prioritas utama untuk saat ini.
Untuk mencegah hal yang sama terulang kembali, Xiao Tian menggendong tubuh putri Feng Ping dan membawanya keatas punggung naga hitam raksasa. Setelah itu dia meletakkan tubuh putri Feng Yin keatas pangkuannya agar tak jatuh saat naga hitam mulai terbang.
Jika Topeng bencana masih ada didekatnya, mungkin Xiao Tian akan menitipkan tubuh putri Feng Ping kepadanya. Tapi sayangnya Topeng bencana sudah lama pergi menjauh dan tak mungkin dikejar.
Karena waktu yang mendesak, Xiao Tian tak punya pilihan lain selain membawa putri Feng Yin bersamanya untuk mempersingkat waktu dalam mengejar Kaibo.
Naga hitam raksasa terus terbang dengan kecepatan tinggi menuju ke kerajaan Es.
Detik demi detik, menit demi menit telah berlalu namun tak ada satupun tanda-tanda tentang keberadaan Kaibo.
Xiao Tian terus melanjutkan perjalanannya menuju kerajaan Es sambil memperhatikan daratan untuk mencari Kaibo.
Setelah terbang begitu jauh, Xiao Tian menghentikan naga hitam dan menyuruhnya mendarat untuk melihat sesuatu.
Dia telah melihat sebuah kereta kuda kerajaan Awan yang terlihat utuh namun tak bergerak sedikitpun. kuda di depannya pun terlihat begitu lemas.
Bau busuk yang tercium begitu menyengat menusuk hidung Xiao Tian hingga membuatnya hampir muntah-muntah. Dengan menggunakan teknik pengendali elemen, Xiao tian menyaring udara disekitar hidungnya agar bisa bernapas seperti biasa.
Setelah berhasil bernapas seperti biasa, Xiao Tian berjalan mendekati kereta tersebut untuk mencari sumber bau busuk itu. Setelah melihat kedalam kereta kuda itu, dia melihat mayat seorang kusir yang telah membusuk digerogoti oleh belatung. Melihat hal tersebut dia langsung berlari keluar dan muntah-muntah karena merasa jijik.
Setelah menenangkan dirinya, Xiao Tian kembali masuk kedalam kereta tersebut untuk mencari petunjuk tentang putri Jia Li.
Sayangnya disana tak ada satupun petunjuk mengenai keberadaan putri Jia Li.
Setelah selesai menggeledah kereta kuda tersebut, Xiao Tian keluar lalu memberi makanan serta minuman kepada dua ekor kuda yang terbaring lemas dibagian depan kereta tersebut.
"Andai aku tahu bahasa seekor kuda, mungkin aku bisa bertanya pada kalian tentang apa yang terjadi pada penumpang kereta kuda ini." Gumam Xiao Tian sambil mengelus kedua ekor kuda yang terikat di bagian depan kereta kuda itu.
Xiao Tian melirik kearah Dewa Petir dan menanyakan soal putri Jia Li. Dewa Petir menggelengkan kepala karena tak tahu tentang apa yang terjadi dengan putri Jia Li.
"Bukankah kau seorang Dewa!"
"Kenapa kau tak bisa mengetahui hal sederhana seperti ini!" bentak Xiao Tian.
"Diamlah!" bentak Dewa Petir.
"Kenapa kau menyuruhku diam!"
"Apakah kau tak terima dengan ucapanku!" bentak Xiao Tian.
"Sudah kubilang diam!" bentak Dewa Petir sambil melirik kearah kiri.
Xiao Tian merasa kesal karena melihat Dewa petir melirik kearah kanan dan kiri seperti mencari sesuatu.
"Ada apa sebenarnya denganmu?"
"Aku ada didepanmu, apa yang sedang kau cari?" tanya Xiao Tian.
"Siluman."
"Aku merasakan aura siluman." jawab Dewa Petir.
"Siluman?"
"Makhluk apa itu?" tanya Xiao Tian.
"Gawat, kembali keatas punggung naga hitam!" teriak Dewa Petir dengan panik.
"Cih." Xiao Tian menahan emosinya yang meluap karena melihat Dewa Petir terlihat serius. Dia berlari menuju naga hitam raksasa yang berada agak jauh di belakang kereta kuda tersebut.
Naga hitam raksasa sedikit menjauh dari kereta tersebut, karena tak kuat menahan bau busuk mayat kusir yang tercium begitu menyengat disekitar kereta kuda itu.
Setelah sampai dipunggung naga hitam, Xiao Tian tak melihat apapun di atas punggung naga hitam raksasa. Dia menjadi sangat terkejut karena tak melihat tubuh putri Feng Yin dimanapun.
Karena tak tahu harus berbuat apa dia pun bertanya kepada Dewa Petir.
"Dewa Petir, apa kau tahu dimana tubuh putri Feng Yin?"
"Apakah dia terbangun lalu berlari?" tanya Xiao Tian.
"Terlambat sudah." sambung Dewa Petir.
"Apa maksudmu?" tanya Xiao Tian.
"Siluman telah membawa pergi tubuh putri Feng Yin." jawab Dewa Petir.
"Siluman?"
"Sebenarnya makhluk macam apa yang sedang kau bicarakan sejak tadi!"
"Apakah siluman itu juga yang menculik putri Jia Li?" tanya Xiao Tian.
"Kemungkinan besar iya." sambung Dewa Petir.
"Kalau begitu aku harus mencari siluman itu, katakan dimana siluman itu berada!" bentak Xiao Tian.
"Hilang, siluman itu sudah menghilang, entah teknik apa yang digunakan siluman tersebut hingga tak bisa aku deteksi keberadaannya."
"Untuk kali ini lanjutkan saja perjalananmu menuju kerajaan Es, dan abaikan soal putri Feng Yin serta putri Jia Li."
"Jika dunia hancur mereka juga tidak akan bisa selamat, prioritas kita saat ini adalah mengejar Kaibo!" tegas Dewa Petir.
"Cih." Xiao Tian terpaksa menuruti perintah Dewa Petir, karena keadaan yang begitu mendesak.
Dengan berat hati Xiao Tian melanjutkan perjalanan menuju ke kerajaan Es sambil menahan emosi yang meluap-luap dalam dirinya.