
Xiao Tian telah kehilangan kemampuan relik dimensi. Dia tak bisa membuka portal ruang hampa meski mencoba beberapa kali.
Melihat Xiao Tian terlihat panik Dewa mendekatinya lalu bertanya,
"Ada apa?"
"Kenapa kau tak mengaktifkan portalnya sekarang juga?"
"Cepatlah sebelum meteornya jatuh menimpa kita semua."
"Aku tahu maksudmu, sejak tadi aku mencobanya. Tapi portal ruang hampa tak bisa terbuka sedikitpun," ucap Xiao Tian melalui telepati.
"Bagaimana mungkin, kenapa itu bisa terjadi ... ," Dewa Petir menghentikan ucapannya. Ekspresinya mendadak tegang seperti habis melihat sesuatu yang menakutkan.
"Ada apa?"
"Kenapa kau terlihat tegang?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahinya.
"Lihatlah simbol aneh di tangan kirimu," ucap Dewa Petir sambil menatap punggung tangan Xiao Tian. Xiao Tian langsung menatap punggung tangan kirinya. Dia melihat sebuah lingkaran sihir yang terbentuk dari darah dengan simbol tengkorak di tengah tengahnya menutupi simbol bintang relik dimensi.
"Apa ini?" tanya Xiao Tian dengan mata yang terbelalak.
"Itu adalah sihir penyegel relik, sihir terlarang yang bisa mempercepat kematian penggunanya. Alasan dibalik kematian Huo Luan bukan karena tusukan pedangmu. Dia sengaja mengorbankan diri setelah terluka olehmu. Kemungkinan kedua, dia sengaja membuka cela agar kau masuk ke dalam perangkapnya. Apa kau lupa ucapannya ketika memanggil meteorit raksasa?" tanya Dewa Petir dengan tatapan serius.
Xiao Tian mencoba mengingat ucapan Huo Luan sebelum memanggil meteorit raksasa. Setelah mengingatnya dengan baik, dia pun mulai sadar bahwa kemenangannya itu bukan kemenangan yang sesungguhnya.
Huo Luan sengaja membuat pertahanannya seolah olah terbuka lebar, hingga membuat Xiao Tian tertarik untuk menyerangnya dalam jarak dekat.
Sejak awal yang dia incar bukan kemenangan mutlak. Tapi kematian semua orang yang ingin dia bunuh. Kebenciannya terhadap iblis benar benar melebihi rasa sayangnya terhadap nyawa sendiri, demi membasmi seluruh iblis dan komplotannya dia rela mengaktifkan sihir terlarang yang memerlukan nyawa sebagai bayarannya.
"Sial, sial !" Xiao Tian melihat telapak tangan kanan dan kirinya. Dia terkejut bukan main setelah melihat lingkaran sihir dengan lambang tengkorak yang sama, menutupi lambang relik es dan relik perak.
Lambang lambang relik biasanya hanya muncul ketika ingin digunakan. Munculnya semua lambang dengan lingkaran sihir di atasnya merupakan kejadian pertama yang Xiao Tian alami.
Dulu memang pernah terjadi penyegelan relik yang membuat semua reliknya tak dapat digunakan, tapi segel segel yang dulu malah membuat semua lambang menghilang dan tak muncul seperti saat ini.
"Apakah kau punya cara untuk menghilangkan simbol ini?" tanya Xiao Tian dengan mata terbelalak.
"Aku tak bisa melakukannya," ucap Dewa Petir.
"Bisakah kau teleportasikan kami semua seperti saat kau menteleportasikanku saat di pagoda iblis dulu?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahinya.
"Aku hanya bisa menteleportasikan orang orang yang aku sentuh. Saat ini aku hanya dalam wujud roh. Sedangkan kau berbeda dari yang lainnya, karena Kaisar langit memberikanmu kemampuan untuk melihat dan menyentuh roh para Dewa."
"Satu satunya jalan keluar dari situasi saat ini hanyalah membiarkanku merasuki tubuhmu. Agar bisa menteleportasikan semua orang ke tempat yang aman."
"Begitu ya, Kalau begitu rasuki saja aku." Xiao Tian terpaksa memakai salah satu kartu as-nya karena tak punya pilihan yang lain.
"Akhirnya kau menyerah juga. Baiklah, aku akan merasukimu sekarang juga. Ingatlah agar tak melawan saat aku masuk ketubuhmu!" Sebelum Dewa Petir memasuki tubuhnya, Xiao Tian menghentikannya dengan berkata,
"Tunggu!"
"Sebelum merasukiku ada hal yang ingin kukatakan padamu,"
"Aku ingin kau ... ," belum sempat Xiao Tian menyelesaikan kalimatnya, Dewa Petir Menutup mulut Xiao Tian dengan sihirnya sehingga membuatnya tak bisa mengatakan apapun.
"Sudahlah jangan banyak omong, aku bisa membaca pikiranmu. Jadi aku bisa memahami rencanamu sebelum kau mengucapkannya. Diam dangan jangan melawan oke!" ucap Dewa Petir sebelum memasuki tubuh Xiao Tian.
Xiao Tian bernapas lega dan langsung memasrahkan tubuhnya, aura Dewa mulai muncul di sekitar tubuh Xiao Tian sejak Dewa Petir merasukinya.
Ketika Aura Dewa muncul di sekujur tubuh Xiao Tian, Su Yan dan yang lainnya langsung melesat mendekati Xiao Tian.
"Tak kusangka kau masih menyembunyikan kekuatan sebesar ini, Guru," ucap si gendut sambil menepuk pundak Xiao Tian.
"Kenapa kau menyembunyikan kekuatan sebesar ini dari kami, Yan Yan?" tanya putri Jia Li sambil menatap punggung Xiao Tian.
Dengan nada kesal dia pun berkata, "Kenapa kau tak membiarkannya menggunakan relik dimensi saja!"
"Untuk sementara relik dimensi tak bisa digunakan. Karena itu aku terpaksa turun tangan," ucap Dewa Petir dengan tubuh Xiao Tian.
"Begitu ya, kalau portal ruang hampa tak bisa dibuka .... ,"
"Bagaimana cara kita pergi dari sini?" tanya Su Yan dengan mata terbelalak.
"Peganglah punggungku, aku akan menteleportasikan kalian semua," ucap Dewa Petir dengan memakai mulut Xiao Tian.
"Tunggu, sebenarnya siapa kau?"
"Kenapa Su Yan berkata seolah olah bicara dengan orang lain?" tanya Putri Jia Li dengan dahi yang dikerutkan.
"Penjelasannya nanti saja, meteor sudah terlalu dekat. Cepat sentuh punggungku dan jangan pernah melepasnya sebelum kuberi perintah!" bentak Dewa Petir dengan nada tinggi.
"Guru tak mungkin membentak putri Jia Li, sudah jelas kalau dia bukanlah guruku. Tapi siapa?"
"Sebenarnya ada berapa kepribadian yang ada di dalam tubuh guru?"
"Dulu kepribadian gelap yang melakukan segala cara demi mencapai tujuan. Sekarang kepribadian yang tak kalah kuat hanya saja aura yang keluar dari tubuhnya terasa begitu damai dan tekanan roh yang terpancar dari tubuhnya terasa jauh lebih tinggi dari yang waktu itu," pikir si Gendut sambil menyentuh punggung Xiao Tian.
Setelah semua orang menyentuh punggung Xiao Tian. Dewa Petir menteleportasikan mereka ke tepi laut yang masih bisa terkena dampak meteorit raksasa.
"Hei, apa kau gila!"
"Kenapa malah berteleportasi kemari?"
"Bagaimana jika bangsa leviant muncul?" tanya Su Yan dengan mata yang terbelalak.
"Tenanglah, justrul itu yang aku rencanakan.
Ingat baik baik, apapun yang terjadi jangan pernah lepaskan punggungku!" tegas Dewa Petir menggunakan mulut Xiao Tian.
Setelah beberapa Detik mereka berteleportasi, para bangsa leviant mulai muncul dari dalam lautan. Sirip ikan hiu terlihat begitu banyak dari tempat yang agak jauh.
Bentuk tubuh para Leviant kecil seperti ikan hiu dengan bentuk tubuh yang bisa berdiri tegak layaknya manusia.
Para bangsa leviant terus berenang menuju tepi laut. Mereka terlihat begitu banyak gingga menutupi seisi lautan.
"Puluhan, raturan, ribuan, puluhan ribu, sial jumlah mereka terlalu banyak!"
"Cepat kirim kami pergi Dewa Sialan!" bentak Su Yan sambil kencing berdiri.
"Hei apa kau kencing di celanamu?" tanya si Gendut sambil melirik ke arah Su Yan.
"Menyedihkan," ucap putri Jia Li sambil menatap Su Yan.
"Apa kalian tak merasakan hawa membunuh yang begitu kuat dari dalam lautan?" tanya Su Yan dengan kaki yang gemetar.
"Sepertinya kau jauh lebih peka dari semua orang. Tenanglah tak lama lagi kita akan berteleportasi ke tempat yang aman.
Satu, Dua ... tiga!" Dewa Petir berteleportasi tepat setelah para Leviant kecil hampir menyentuhnya.
Duarrrrrrr
Tepat ketika para Leviant telah mencapai tepi laut, meteorit raksasa menghantan daratan dan beberapa meter lautan.
Ketika membuka mata mereka, Su Yan dan yang lainnya berdiri diatas awan yang empuk tepat dimana mereka bisa melihat meteorit raksasa tanpa hawatir terkena dampak ledakannya.
"Hampir saja," ucap Su Yan dan yang lainnya sambil menatap ke arah daratan.