
Xiao Tian tak mengerti dengan apa yang haru saja terjadi. Hal yang terakhir dia ingat adalah para siluman harimau menghilang dari pandangan dan Kaibo telah hilang di bawa mereka. Semua ingatan itu adalah ilusi yang dibuat siluman harimau sebelumnya. Xiao Tian terkena ilusi tersebut karena menatap mata merah para siluman Harimau.
Ketika tersadar yang dia lihat adalah para siluman harimau yang berjatuhan dari atas udara dengan tubuh yang penuh luka.
"Apa mereka terluka karena perbuatanku?" pikir Xiao Tian.
Xiao Tian berjalan mendekati salah satu siluman harimau yang terjatuh di hadapannya.
Raut muka siluman harimau itu terlihat begitu ketakutan. Matanya melotot tak bida dipejamkan, dia terus berusaha menjauh dengan menyeret badannya kebelakang.
Semakin dekat Xiao Tian dengan tubuhnya, semakin kencang pula jantungnya berdetak. Keringat dingin mulai mengalir deras membasahi dahinya. Dengan badan yang gemetar ketakutan siluman harimau itu berkata,
"A ... ampun, jangan bunuh aku!"
"Aku akan melakukan apapun untukmu tuan, ampuni aku!
" Tolong ampuni nyawaku."
Saat Xiao Tian menatap ke arah siluman harimau yang lain. Para siluman harimau itu bersujud di hadapan Xiao Tian lalu berkata,
" Ampuni kami, jangan bunuh kami!"
"Kami akan melakukan apapun asalkan nyawa kami di ampuni."
"Baiklah, aku akan mengampuni nyawa kalian.
Tapi dengan satu syarat, bawa aku menemui pemimpin kalian." tegas Xiao Tian.
"Baik tuan." ucap para siluman harimau.
"Apa kita akan pergi sekarang?" tanya salah satu siluman harimau.
"Tidak tunggu sampai aku memintanya, aku ingin melihat keadaan teman temanku dulu." jawab Xiao Tian.
Xiao Tian mengobati luka di tubuh Kaibo dan naga hitam raksasa dengan memberi mereka pil pemulih energi beserta pil penambah darah.
"Syukurlah aku masih memiliki sisa obat-obatan untuk mereka, tapi jika terjadi sesuatu yang buruk lagi, aku tak akan berkutik. Karena tak punya stok obat yang tersisa." pikir Xiao Tian.
"Semoga pertarungan dengan Tailung tak akan memakan waktu lama dan menghabiskan banyak energi." pikir Xiao Tian.
Setelah menyembuhkan luka di punggung naga hitam raksasa dan menyembuhkan luka di tubuh Kaibo, Xiao Tian meminta para siluman harimau untuk membawa mereka menemui Tailung pemimpin siluman harimau.
Setelah berjalan cukup lama, para siluman harimau berhenti di sebuah kuil tua yang ada di tengah-tengah hutan bersalju.
Kuil tersebut di lengkapi oleh patung-patung harimau putih yang terlihat begitu mewah.
"Ketua Tailung ada di dalam kuil itu, masuklah kesana." ucap salah satu siluman harimau.
Xiao Tian melirik ke arah Dewa petir yang ada di sebelah kirinya dan berkomunikasi melalui telepati.
"Dewa Petir, apakah di dalam kuil itu terdapat aura siluman yang sama dengan siluman yang menculik putri Feng Yin waktu itu?" tanya Xiao Tian.
"Aku memang merasakan aura yang sama, hanya saja auranya tak sekuat waktu itu."
"Berhati-hatilah, suruh salah satu dari mereka masuk terlebih dulu, aku takut mereka menyiapkan sebuah jebakan." jelas Dewa Petir.
Setelah mendengar penjelasan Dewa Petir, Xiao Tian pun berkata.
"Apa di dalam kuil itu benar-benar ada pemimpin kalian?"
"Benar, kami tak berbohong."
"Kalau tak percaya masuklah sendiri." ucap salah satu siluman harimau.
"Sayangnya aku tak senaif itu, kau pergilah temui pemimpinmu dan bilang padanya kalau Xiao Tian ingin bertemu!" tunjuk Xiao Tian kepada salah satu siluman harimau.
"Aku?"
"Ta ... tapi, aku tak bisa." ucap siluman harimau yang Xiao Tian tunjuk.
"Kau tak ingin pergi?" Xiao Tian menatap siluman harimau itu dengan tatapan mengancam.
Karena takut dengan ancaman Xiao Tian, siluman harimau itu melangkah pergi menuju kuil dengan tubuh yang gemetar ketakutan.
Sementara itu Xiao Tian, Kaibo dan naga hitam versi kecil menunggu di luar kuil bersama para siluman harimau yang dijadikan sandera.
#Di dalam kuil siluman harimau putih.
"Sa ... salam ketua."
"Ini aku Taiping chen, ada sesuatu yang harus aku beritahukan kepadamu." ucap Taiping Chen.
"Kenapa tubuhmu penuh dengan luka?"
"Apa kakakku mengganggumu lagi?" tanya Tailung.
"Bu ... bukan itu, ada seorang manusia yang masuk ke wilayah kita, dia ditemani oleh seekor naga raksasa dan seorang iblis kecil." jelas Taiping Chen.
"Begitu ya, jadi kalian baru saja merampok mereka, katakan padaku apa kalian mendapatkan banyak barang berharga?"
"Seperti emas?" tanya Tailung.
"Kami tak mendapat apapun, kami dikalahkan oleh mereka." jawab Taiping Chen.
"Dikalahkan hanya oleh seorang manusia yang ditemani iblis kecil?"
"Apa kau sedang bercanda!" bentak Tailung.
"Ampun ketua, jangan bunuh aku!" Taiping Chen bersujud memohon pengampunan.
"Kau tahu kalau aku sangat tidak suka mendengar berita buruk, setidaknya setelah memberiku kabar buruk, siapkanlah beberapa emas untuk menenangkanku."
"Tapi kau tak membawa apapun kemari."
"Apa yang membuatmu selancang itu!" bentak Tailung sambil menyiapkan jurus mematikan di tangan kanannya, cahaya biru melingkar keluar menyelimuti tangannya tersebut.
"A ... ampun ketua!" teriak Taiping Chen.
Sebelum jurus Tailung mengenai Taiping Chen, terdengar suara teriakan Xiao Tian dari luar kuil.
"Tailung!"
"Keluarlah, aku tahu kau ada di dalam sana!"
Tailung membatalkan jurusnya lalu berkata.
"Kenapa kau tak bilang kalau manusia itu ada di luar kuil?"
"A ... aku tak bermaksud membawanya kemari, aku tak punya pilihan karena kami semua ditangkap dan dijadikan sandera." jelas Taiping Chen.
"Persetan dengan penjelasanmu, aku akan pergi keluar untuk menemui manusia sombong itu."
"Akan kubuat dia menyesal karena berurusan denganku." Tailung berjalan keluar kuil meninggalkan Taiping Chen.
#Di luar kuil siluman harimau putih.
Xiao Tian terus berteriak untuk memancing Tailung keluar dari kuil. Kaibo dan naga hitam versi mini, mengawasi para siluman harimau yang lain agar tak melarikan diri.
Setelah berteriak cukup lama, akhirnya Tailung keluar dari dalam kuil.
Dia memiliki bentuk tubuh persis seperti manusia, memakai pakaian yang berlapis emas dan bersenjatakan sebuah tombak emas yang selalu dia bawa kemanapun.
Wajahnya begitu tampan hingga bisa membuat para wanita tergoda, tangannya memiliki bulu putih keabu-abuan seperti anak buahnya, hanya saja memiliki jumlah jari dan telapak tangan seperti manusia. Dia memiliki dua buah taring agak panjang sehingga keluar dari mulutnya.
Tailung menatap ke arah Xiao Tian dengan tatapan mengancam.
"Apa kau manusia yang bernama Xiao Tian?"
"Kudengar dari para anak buahmu bahwa kau sangatlah kuat dan cerdas, tapi setelah kulihat dengan baik ternyata kau hanya seorang siluman bodoh yang bahkan tak bisa membedakan antara manusia dengan iblis." ledek Xiao Tian.
"Hahahah."
"Manusia yang lucu, kau bahkan tak gemetar ketakutan setelah melihat wajahku." ucap Tailung.
"Tak ada yang lucu dari ucapanku, yang lucu adalah kenyataan bahwa kau begitu bodoh sehingga menanyakan bahwa apakah aku manusia yang bernama Xiao Tian, menurutku itu adalah sebuah pertanyaan bodoh, karena aku satu satunya manusia disini, kalau aku bukan Xiao Tian yang tadi berteriak maka siapa lagi?" ledek Xiao Tian.
"Beraninya kau memanggilku bodoh!" bentak Tailung.
"Dewa petir, rasuki aku!" ucap Xiao Tian melalui telepati.
"Cih, kupikir kau mau melawannya sendiri." ucap Dewa Petir dengan sinis.
Tailung melempar tombak emasnya, Dewa petir merasuki Xiao Tian lalu mengeluarkan api putih ke arah tombak emas yang dilempar ke arahnya. Tombak tersebut meleleh dalam sekejap mata karena panasnya api putih.
"Tombak Emasku!"
"Tidak ... !"
"Beraninya kau!" teriak Tailung.
Tailung melesat begitu cepat, berlari mengelilingi Xiao Tian dan berusaha mencakarnya dengan kecepatan tinggi. Namun tak ada satupun serangan yang bisa mengenai Xiao Tian. Tailung mencoba mengenainya dengan teknik sinar biru, teknik mematikan yang sanggup membekukan apapun yang disentuh sinar itu.
Sayangnya semua usaha Tailung menjadi sia-sia karena Xiao Tian berhasil menangkis semua serangannya tanpa melangkah menjauh dari tempatnya berdiri.
Singkat cerita Xiao Tian menggenggam tangan kanan Tailung dengan erat sambil menghindari sinar biru yang ada di telapak tangannya.
"Kau mungkin cepat, dan kau mungkin kuat. Akan tetapi kau salah memilih lawan."Xiao Tian menyikut Tailung dengan keras hingga terpental mundur begitu jauh.
"Sial, dari mana asal kekuatan manusia ini?"
"Aku yakin sebelum beradu kekuatan, kekuatanya tidak jauh dari seorang pendekar jenderal petarung lapisan pertama. tapi kenapa sekarang kekuatannya melewati kekuatan seorang Dewa Petarung?"
"Ini merepotkan, apa yang aku perbuat hingga membuat marah seorang pendekar sakti seperti dia." pikir Tailung.
Melihat Tailung berhenti menyerang, Xiao Tian berkata.
"Kenapa kau berhenti menyerang?"
"Apa kau sudah menyerah?"
"Atau kau masih ingin melanjutkan pertarungan kita?"
"Aku jamin seranganku yang berikutnya akan melelehkan pakaian emasmu itu." ucap Xiao Tian.
"Cih ... , aku menyerah." ucap Tailung.
Dewa petir keluar dari tubuh Xiao Tian, Xiao Tian pun memiliki kesadarannya kembali.
"Baguslah kalau begitu." ucap Xiao Tian.
"Katakan padaku, apa yang tuan pendekar inginkan dariku hingga repot-repot datang kemari?" tanya Tailung sambil memberi hormat.
"Aku hanya ingin bertanya padamu, dimana kau menyembunyikan tubuh putri Feng Yin." jawab Xiao Tian.
"Feng Yin?"
"Aku tak pernah mendengar nama itu, aku tak pernah menculik manusia."
"Aku hanya merampas harta para manusia, lalu membunuh mereka jika mereka melawan."
"Tak ada alasan bagiku untuk menculik seorang manusia." jelas Tailung.
"Berhenti berbohong, aku merasakan aura siluman yang sama sepertimu waktu itu!"
"Kau pasti yang telah menculik putri Feng Yin!" bentak Xiao Tian sambil memegang kerah Tailung.
"Aku tak bercanda, mungkin siluman yang kau maksud adalah saudara kembarku."
"Dia memiliki aura yang sama denganku, tetapi aura siluman miliknya jauh lebih kuat dariku." jelas Tailung.
"Dia berkata jujur, seperti yang aku katakan padamu sebelumnya. Dia memang memiliki aura siluman yang sama, hanya saja tidak sekuat aura siluman penculik putri Feng Yin waktu itu." jelas Dewa Petir.
"Baiklah, aku percaya padamu."
"Kalau begitu, antarkan aku menemui saudara kembarmu itu. Aku akan membuat perhitungan dengannya!" ucap Xiao Tian sambil melepas kerah baju Tailung.
"Apa kau yakin?"
"Kau ingin berurusan dengan kakakku?"
"Dia memiliki hubungan dengan istana es. Jika kau berurusan dengannya, raja iblis Lanbing akan menghabisimu!" ucap Tailung.
"Aku tak perduli dengan siapapun yang akan menjadi lawanku. Baik seorang raja iblis maupun seorang Dewa sekalipun. Jika mereka mengganggu orang-orang yang aku sayangi, akan kuhabisi mereka tanpa ampun!" tegas Xiao Tian.