Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 298 : Kejadian kemarin malam


Xiao Tian telah menandai seluruh wilayah perguruan untuk dijadikan titik teleportasinya.


Teknik teleportasi milik Xiao Tian bisa digunakan untuk dua hal. Pertama teleportasi jarak jauh atau dekat ke wilayah yang telah di tandai dan kedua teleportasi jarak dekat ke tempat yang bisa dia lihat secara langsung.


Setelah menandai seluruh wilayah perguruan, Xiao Tian berteleportasi ke dalam kamar patriach Bai. Hingga membuatnya terkejut bukan main karena Xiao Tian muncul di ruangan yang telah dia kunci rapat rapat itu.


"Ma ... master?"


"Bagaimana bisa kau ada disini?" tanya Patriach Bai sambil mengeluarkan keringat dingin.


"Aku bersembunyi di kamarku, sambil menunggu master mengetuk pintu kamarku."


"Semua ini kulakukan untuk menghindari amarahnya, berdasarkan instingku saat di wilayah terlarang tadi dia sangatlah marah hingga membentakku melalui telepati," pikir Patriach Bai dengan napas terengah engah.


"Tian Bai," ucap Xiao Tian.


"I ... iya master!" ucap Patriach Bai sambil memberi hirmat dengan tubuh gemetaran.


"Kapan turnamennya dimulai?"


"Aku harus menyelesaikan urusanku disini dan pergi sesegera mungkin," ucap Xiao Tian dengan topeng yang masih dia pakai.


"Se ... sebelum itu, aku harus menceritakan ini padamu. Seorang peserta turnamen harus menunjukkan wajah mereka, karena anda memakai topeng aku takut hal ini tak disetujui oleh para tetua," ucap Patriach Bai sambil menundukkan kepalanya.


"Kenapa kau baru memberitahuku?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


"Ma ... maaf, saat itu aku terlalu senang karena anda mau membantuku. Waktunya sudah terlalu mendesak saat ini, sudah tak mungkin lagi bagi kita untuk melatih orang lain untuk menggantikanmu."


"Maafkan aku karena baru mengatakannya sekarang, master," ucap Patriach Bai sambil membungkukkan badannya.


"Berdasarkan ucapanmu terdapat dua buah turnamen yang harus kuikuti. Apakah tak masalah menjadikanku sebagai perwakilan dua buah cabang perguruan?" tanya Xiao Tian sambil menatap mata Patriach Bai.


"Meski tak pernah terjadi sebelumnya, tak pernah ada larangan bagi seorang murid untuk mewakili dua buah cabang perguruan."


"Yang jadi masalah saat ini, apakah para tetua akan menyetujuimu yang baru menjadi murid tetua Xianlun."


"Dan apakah anda mau melepas topengmu itu," ucap Patriach Bai sambil memberi hormat.


"Semoga master mau membuka topengnya, aku sangat membutuhkan bantuannya. Selain itu, sudah lama aku ingin melihat wajah master," pikir Patriach Bai sambil memberi hormat.


"Melepaskan topeng bukanlah masalah bagiku," ucap Xiao Tian sambil melepas topeng yang dia kenakan.


Patriach Bai yang tadinya menundukkan kepala, langsung mengangkat kepalanya setegak mungkin hingga bisa melihat jelas wajah dibalik topeng tersebut.


Dan saat topeng tersebut benar benar lepas, Patriach Bai terkejut bukan main. Semua karena wajah di balik topeng itu ternyata benar benar mirip dengan wajahnya.


"Bu ... bukankah itu wajahku?" ucap Patriach Bai sambil melangkah mundur dengan mata yang terbelalak.


"Benar sekali, ini adalah wajahmu," ucap Xiao Tian dengan suara yang mirip dengan Patriach Bai.


"Bahkan dia bisa meniru suaraku," pikir Patriach Bai dengan mata yang terbelalak.


Ketika Patriach Bai masih terkejut dengan apa yang dia lihat, Xiao Tian terus merubah wajahnya dari menyerupai Xianlun, Xia Ning, para penjaga wilayah terlarang, hingga berhenti di wajah aslinya.


"Bagaimana menurutmu kemampuanku ini?" tanya Xiao Tian sambil menggunakan wajah aslinya.


"Lu ... luar biasa. Aku tak menyangka kalau master bisa meniru semua suara dan rupa orang orang. Kalau begini ceritanya, master tak perlu menghadiri proses seleksi. Aku bisa membuat pingsan salah satu murid terpilih dan menyuruh master menyamar menjadi dirinya. Ini semua sempurna," pikir Patriach Bai sambil tersenyum senang.


"Anda benar benar hebat, master."


"Meski sangat disayangkan karena aku tak bisa melihat wajah aslimu, rasa hormat ini menjadi semakin tinggi karena kemampuanmu benar benar diluar perkiraanku. Terimakasih karena mau menunjukkan teknik perubah wajah di hadapanku, master," ucap Patriach Bai sambil memberi hormat.


"Ini bukan seni perubah wajah belaka, aku juga bisa merubah gaya rambut, suara serta seluruh bagian wajahku."


"Aku menyebut ini teknik perubah rupa," ucap Xiao Tian sambil tersenyum tipis.


"Oh iya, bisakah kau ceritakan apa yang kau bicarakan dengan Tian Zong tadi malam?" tanya Xiao Tian sambil menatap mata Patriach Bai.


"Jadi master tahu tentang pertemuan kami semalam ya?"


"Kalau master bertanya hal lain, mungkin akan kuceritakan. Sedangkan masalah tadi malam, aku tak akan menceritakannya meski nyawaku taruhannya," ucap Patriach Bai sambil menundukkan kepalanya.


"Dewa petir, baca pikirannya!" ucap Xiao Tian melalui telepati.


"Dengan senang hati," ucap Dewa petir sambil tersenyum tipis.


Dewi petir membaca pikiran Patriach Bai sesuai permintaan Xiao Tian. Dan yang dia dapatkan sesuai dengan perkiraannya.


#Kemarin malam ketika Xiao Tian baru menyadari kehadiran Tian Zong berkat insting tajam Sunlong


"Jadi kau masih disekitar sini ya, patriach zong," ucap Patriach Bai sambil menatap ke arah Tian Zong dengan tampang kesal.


"Kemana saja kau selama ini?"


"Kenapa kau bersembunyi dari semua orang?"


"Karena anda menghilang sekte kita jadi semakin terpuruk hingga dilarang menggunakan sebutan sekte lagi."


"Dan hari ini sekte kita akan benar benar dibubarkan jika kalah dalam turnamen empat sekte. Sekte yang semakin terpuruk hingga harus mengganti sebutan sekte menjadi perguruan ini ... ,"


"Akan dibubarkan karena dirimu, Patriach Tian Zong!" teriak Patriach Bai dengan kesal.


"Re ... relik Kaisar iblis?" ucap Patriach Bai dengan mata yang terbelalak. Dan tubuh yang terjatuh lemas dengan lutut yang menyentuh tanah pertama kali kemudian diikuti oleh kedua telapak tangannya. Dia terlihat begitu syok karena tahu, dengan terikat dengan sebuah relik dia akan diburu untuk dihabisi oleh sekte pembasmi iblis.


Dan jika kenyataan itu diketahui oleh sekte pembasmi iblis, mereka akan memburu semua orang yang berhubungan dengannya agar bisa menangkap Tian Zong. Oleh kerena itu, demi kebaikan semua orang, Tian Zong mengasingkan diri dari semua orang.


"Dimana saja kau selama ini?"


"Ba ... bagaimana bisa relik Kaisar iblis terikat denganmu?"


"Kenapa kau tak memberitahuku sebelumnya?"


"Apakah kau masih menganggapku sebagai seorang adik?"


"Kenapa kau menanggung semua beban ini seorang diri, kakak?" ucap Patriach Bai dengan air mata yang mengalir begitu deras.


"Senang rasanya mendengarmu memanggilku dengan sebutan kakak, maaf karena telah pergi terlalu lama. Ini semua demi menaikkan kultivasi serta mengamankan kalian dari ancaman sekte pembasmi iblis. Ngomong ngomong apakah kau bisa merahasiakan pertemuan kita dan semua yang aku ceritakan tadi dari semua orang?" tanya Patriach Zong sambil memasang wajah sedih.


"Tenang saja kakak, aku pasti akan menyegel ingatan tentang hari ini agar tak bisa diketahui orang lain dengan menggunakan teknik yang kakak ajarkan sebelum kau pergi," ucap Patriach Bai sambil mencoba menghapus air matanya.


"Kau bisa mengandalkanku, kakak," ucap Patriach Bai sambil mengeluarkan air mata.


#########


Masa sekarang


"Huhuhu, benar benar menyedihkan. Meski sudah mengira bahwa itulah yang terjadi. Tapi mendengar dan melihat apa yang dia pikirkan sangat ini benar benar sangat menyedihkan," ucap Dewa petir sambil mengeluarkan begitu banyak air mata.


"Apa kau sudah mendapatkan apa yang aku mau?" tanya Xiao Tian melalui telepati.


"Sudah," ucap Dewa petir sambil mengacungkan jempolnya.


"Kalau kau tak mau memberitahuku, baiklah."


"Aku akan pergi ke gedung alkemis untuk menyelesaikan beberapa urusan. Temui aku jika seleksinya sudah selesai," ucap Xiao Tian sambil menatap mata Patriach Bai.


"Baik master, terimakasih atas pengertiannya," ucap Patriach Bai sambil menundukkan kepalanya.


"Maafkan aku master, bagaimanapun Tian Zong adalah kakakku. Meski aku menghormatimu, aku tak ingin membiarkan nyawanya dalam bahaya. Apalagi itu bisa membahayakan nyawa seluruh murid juga," pikir Patriach Bai sambil menundukkan kepalanya.


Xiao Tian menghilang dari pandangan Patriach Bai, lalu muncul di ruangan pribadinya.


#Gedung alkemis Xianlun


#Kamar Xiao Tian


"Katakan apa yang kau dapatkan dari pikirannya," ucap Xiao Tian sambil menatap Dewa petir.


"Heheh, wani piro," ucap Dewa petir sambil memasang wajah yang menyebalkan.


"Jangan bercanda, aku sedang serius saat ini!" ucap Xiao Tian sambil memasang wajah kesal.


"Aku tak bercanda, kau harus membayarku atas konstribusiku kali ini," ucap Dewa petir dengan tampang serius.


"Apa yang kau mau?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahinya.


"Liburan, aku ingin menemui istriku selama seharian penuh. Sehari saja tanpa perlu mengawalmu, saat ini aku tak sebebas dulu. Dan pekerjaan ini benar benar melelahkan, bisakah kau menyetujui permintaan ini?"


"Tenang saja, nanti akan ada Dewa yang menggantikanku.


" Entah Wukong, Nacha atau Dewa yang lainnya. Tapi syarat agar aku mendapat cuti, aku harus mendapatkan persetujuanmu. Bisakah kau pergi ke kuil Kaisar langit dan memohon kepadanya?"


"Heheh, tolonglah," ucap Dewa petir sambil memasang wajah memelas.


"Baiklah, tapi hanya satunhari ya. Meski Dewa yang lain jauh lebih berguna dari pada dirimu, aku belum akrab dengan mereka. Tidak asik rasanya jika aku tak bisa membentak seorang Dewa lagi bukan?" ucap Xiao Tian dengan santainya.


"Jadi kau membutuhkanku hanya karena ingin terus merasakan sensasi membentak seorang Dewa yah, Huft," ucap Dewa petir sambil menghela napas.


"Mau bagaimana lagi, memang itu kenyataannya. Aku belum pernah mendengar, Dewa terkonyol, terkocak dan terjorok sepertimu kan?" ucap Xiao Tian sambil tertawa lepas.


"Kau ... kau ... , jadi ini yang kau pikirkan tentangku?" ucap Dewa petir sambil menunjuk Xiao Tian.


Sunlong keluar dari cincin ruang, lalu berkata, "Sudahlah jangan diambil hati, aku yakin Xiao Tian hanya bercanda."


"Meski kau memang konyol, jorok, mesum, dan tak tahu malu, kau tetap teman kami."


"Sunlong ... ," ucap Dewa petir sambil berkaca kaca.


"Sunlong benar, aku cuma bercanda tadi. Kami benar benar membutuhkanmu, jadi kalau sudah habis waktunya cepat kembali ya," ucap Xiao Tian sambil menepuk pundak Dewa petir.


"Xiao Tian ... , terimakasih karena telah mengandalkanku. Ini benar benar membuatku terharu, huhuhu," ucap Dewa petir sambil menangis haru.


"Hei kau mengatakannya dengan serius?" ucap Sunlong dengan menggunakan bahasa ular.


"Tentu saja tidak, jika Wukong yang menggantikannya aku akan meminta Kaisar langit menggantikannya secara permanen," ucap Xiao Tian dengan menggunakan bahasa ular.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanya Dewa petir.


"Tidak ada, ahahhahaha," ucap Sunlong dan Xiao Tian sambil tertawa lebar.