
Tainam Chun dibuat bingung oleh pertanyaan aneh yang dilontarkan Xiao Tian dan para Dewa. Dan dia semakin bingung setelah melihat Dewa petir begitu frustasi setelah mendengar nama ibunya.
Karena tak tahu apa yang terjadi dia pun bertanya, "Sebenarnya ada apa sih!"
Tainam Chun berteriak cukup kencang sehingga membuat semuanya kembali terfokus kepadanya.
Sadar bahwa Tainam Chun belum mengerti situasinya, Xiao Tian pun meminta ijin kepada Dewa kera Sun Wu Kong untuk menceritakan kondisinya.
Sambil menatap serius ke arah Wu Kong, dia pun berkata, "Apakah aku boleh menceritakannya?"
"Tentu," angguk Wu Kong sambil menatap Xiao Tian.
Setelah mendapat persetujuan Dewa Kera Sun Wu Kong, Xiao Tian pun langsung menatap Tainam Chun dengan serius. Dengan wajah yang cukup serius dia pun berkata,
"Ada kemungkinan bahwa kau adalah keturunan seorang Dewa."
"Dan kemungkinan besar Dewi petir adalah ibu kandungmu,"
Ketika mendengar kata Dewi petir, Tainam Chun langsung teringat kejadian di kerajaan petir saat vampir generasi keempat menyerang dulu. Kejadian dimana dia pertama kali bertemu dengan Dewi petir yang telah menyelamatkan hidupnya.
Dia ingat betul waktu yang dia habiskan bersama Dewi petir ketika mereka tersadar di tengah hutan obat. Berdasarkan ingatannya, Dewi petir pernah memberikan hadiah sebelum kepergiannya. Dan hadiah tersebut adalah liontin emas berlogo petir yang dia simpan ke dalam cincin ruang.
Tanpa pikir panjang, dia keluarkan liontin tersebut dan berkata, "Apakah Dewi petir yang kau maksud adalah Dewi yang memiliki liontin ini?" tanya Tainam Chun sambil menunjukkan liontin emasnya.
Karena merasa tak asing dengan benda yang Tainam Chun tunjukkan, Dewa petir pun kembali terkejut. Sedangkan para Dewa malah terus mengomporinya dengan berbisik, "Wah sepertinya kau benar benar dihianati."
"Dia bahkan memiliki liontin istrimu,"
"Ti ... tidak salah lagi. Itu adalah kalungnya. Kalung yang pernah kuberilan di ulang tahun pernikahan kami yang ke seribu. Dia memang tak pernah mau memakainya, tapi dia tak mungkin memberikannya kepada orang asing begitu saja, kan?"
pikir Dewa petir dengan tampang kesal.
"Darimana kau mendapatkan itu?" tanya Dewa petir dengan tampang serius.
"Oh, aku menerima ini dari Dewi petir. Memangnya kenapa?" tanya Tainam Chun sambil menatap liontin emasnya.
"Habis sudah kepercayaanku, dia bahkan memiliki liontin milik istriku," pikir Dewa petir sambil menepuk dahinya dengan wajah frustasi.
"Apakah kau punya lukisan wajahnya?" tanya Wu Kong dengan serius.
"Tidak, aku tak memiliki kenangan apapun tentangnya. Setiap kali aku bertanya kepada ayahku tentang seperti apa ibuku, dia pasti menjawab ibuku cantik dan sudah lama berada di surga. Dan aku tak akan bisa menggapainya sampai kapanpun,"
"Dia selalu berkata kalau ibuku telah tiada, dan tak ada satupun petunjuk tentangnya," jawab Tainam Chun sambil mengerutkan dahinya.
"Sudah ada disurga bukan hanya bermakna telah tiada, itu juga bisa berarti berada di alam Dewa," jelas Wu Kong dengan serius.
"Apakah maksudmu kalau ibuku benar benar?" Tainam Chun mengingat kembali masa ketika dia dan Drwi oetir tersadar di hutan obat.
#Hutan obat kerajaan petir
Saat itu, dia sedang membawa terbang Tainam Chun yang sedang terluka parah. Dan memiliki tujuan untuk menanyakan asal usul dibalik tubuh petirnya. Namun karena kondisi fisiknya kurang menguntungkan, dia malah terjatuh pingsan karena menabrak sebuah pohon besar.
Taizheng dan para bawahannya kebetulan menemukan mereka berdua. Dan langsung bergegas membawanya ke bangunan di tengah hutan obat untuk diobati.
Saat Tainam Chun tersadar untuk pertama kalinya, dia melihat Dewi petir yang masih dalam keadaan pingsan. Dia terbaring di kasur yang terpisah, namun masih dalam ruangan yang sama.
Saat itu, ruangan sedang kosong karena para tabib dan ayah dari Tainam Chun disibukkan oleh para pengungsi dari luar istana.
Selang beberapa lama setelah Tainam Chun memandangi Dewi petir, dia pun tersadar dan langsung menatapnya dengan betkata, "Dimana kita?"
Wajahnya terlihat begitu panik hingga Tainam Chun mencoba menenangkannya dengan berkata,
"Jangan khawatir, ini adalah rumahku. Kita akan aman disini,"
Ketika mendengar kalau tempat dia terbaring adalah rumah Tainam Chun, Dewi petir pun langsung tersenyum.
Tak lama kemudian dia oun berkata, "Dimana ayahmu?"
"Aku ingin bicara kepadanya," Dewi petir bangkit dari kasurnya dan duduk menghadap Tainam Chun.
Belum sempat Dewi petir mendaoatkan jawabn Tainam Chun, Taizheng memasuki ruangan dan berkata, "Huft, suasana diluar benar benar merepotkan. Untung saja putraku bisa kuselamatkan,"
Ketika melihat Taizheng masuk, Tainam Chun langsung berkata, "Ayah?"
"Ah, kau sudah sadar ya?"
"Katakan padaku, penjahat mana yang telah memukulimu sampai seburuk itu" Taizheng menatap Tainam Chun dengan tampang serius.
Sebelum Tainam Chun merespon ucapannya, Dewi petir memotong ucapannya dan berkata, "Bisakah kita berbicara empat mata?"
"Ah, tentu," ucap Taizheng dengan wajah yang memerah.
Setelah mendengar pertanyaan Dewi petir, Taizheng langsung lupa diri. Dia menatap wajah putranya dan berkata,
"Bisakah kau keluar dari kamar sekarang?"
"Ayah, aku kan baru sembuh,"
"Aku belum bisa berja ... ," belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Taizheng menatap Tainam Chun dengan tatapan penuh amarah dan berkata, "Berhenti berbohong, lukamu tak terlalu parah hingga bisa membuatmu tak bisa berjalan. Cepat keluar, aku ingin berbicara empat mata dengannya!" bentak Taizheng dengan kesal.
"I ... iya," Tainam Chun bergegas pergi keluar ruangan dengan tampang kesal.
"Dasar orang tua sialan, tak bisakah perhatian kepada putra kandungnya sendiri!" pikir Tainam Chun sambil melangkah pergi.
Ketika Tainam Chun melangkah pergi, wajah Taizheng semakin memerah. Dalam hati dia berkata, "Ya tuhan, wanita ini begitu cantik bagaikan seorang Dewi. Bagaimana bisa Tainam Chun bersikap biasa saja di depan kecantikan seperti ini."