
"Untuk sementara jauhi Su Yan saat kepribadiannya yang lain sedang muncul," ucap Dewa petir sambil memegang pundak kiri Xiao Tian.
"Sebenarnya apa yang terjadi dengan tubuh Su Yan?" tanya Xiao Tian.
"Akan ku jelaskan nanti, untuk sekarang jagalah jarak darinya." Tak lama setelah Dewa petir menjawab pertanyaan Xiao Tian, Taiwu datang sambil menaiki naga biru.
Dia melompat ke bawah mendekati Xiao Tian lalu memberi hormat kepada Xiao Tian.
"Salam pangeran, maaf karena pergi begitu lama tanpa memberitahumu."
"Kemana saja kau selama ini?" tanya Xiao Tian.
"Hamba berkeliling lembah naga, mencari makanan sambil mengawasi sekitar untuk memastikan keamanan semua orang. Hamba kemari saat melihat kereta kuda datang mendekat. Tapi sepertinya kerata itu bukan berasal dari musuh, bisakah kau menjelaskan siapa yang mengendarai kereta itu?" tanya Taiwu.
"Oh, kereta itu dikendarai oleh istri Su Yan. Dia kemari untuk menyusul Su Yan yang pergi tanpa permisi," jelas Xiao Tian.
"Begitu ya, aku baru tahu kalau dia mempunyai seorang istri. Ngomong-ngomong dimana mereka?" tanya Taiwu.
"Mereka berada di dalam kereta kuda. Mulai sekarang kita akan pergi sambil menaiki kereta kuda untuk menghemat tenaga. Bisakah kau ubah naga biru ke versi mini?" tanya Xiao Tian.
"Entahlah aku tak pernah mencobanya."
Taiwu menatap naga biru, lalu berkata, "Apakah kau bisa mengecilkan ukuran tubuhmu?"
Naga biru menganggukkan kepalanya, lalu dalam sekejap merubah ukurannya ke versi mini. Melihat naga biru yang terlihat imut, Jingmi langsung melempar naga hitam dari pelukannya, lalu berlari mendekati naga biru.
Ketika Jingmi mengelus-elus kepala naga biru yang dia gendong, naga hitam merasa kesal. Saat ingin menyingkirkan naga biru dari pelukan Jingmi, naga hitam terkejut saat melihat roh kadal merah yang ada di pundak kanan Xiao Tian.
Dia menyemburkan api biru ke arah Sunlong yang berada di pundak Xiao Tian.
Wooshh
Sunlong menghindari serangan naga hitam dengan melompat ke atas kepala Xiao Tian.
"Apa yang?"
Setelah membuat Sunlong pergi dari pundak kanan Xiao Tian, naga hitam mendarat di pundak kanan Xiao Tian sambil menatap roh Sunlong.
Grrrrr
"Apa?"
"Kau ingin mengajakku hertarung?"
"Apa kau lupa dengan leluhurmu ini!" Sunlong berusaha mengancam naga hitam, namun naga hitam tak merasa takut karena saat ini Sunlong tak memiliki aura Kaisar iblis.
"Ada apa dengan naga hitam?"
"Apa dia bisa melihat Sunlong?" tanya Xiao Tian.
"Dia juga terikat perjanjian roh denganmu. Maka otomatis dia juga bisa melihat roh Sunlong. Hanya saja dia tak mengenali Sunlong karena bentuknya yang sekarang," jelas Dewa Petir.
"Tak mengenali?"
"Memangnya mereka pernah bertemu jauh sebelum hari ini?" tanya Xiao Tian melalui telepati.
"Awal mereka bertemu adalah saat mata kalian saling bertatapan dulu. Naga hitam tunduk padamu karena merasakan hawa keberadaan Sunlong yang begitu mendominasi."
"Dia langsung menghormatimu karena menganggapmu sebagai leluhurnya," jelas Dewa Petir.
"Begitu ya, hmm," sambung Xiao Tian.
Setelah berbincang-bincang, Semua orang masuk ke dalam kereta kuda yang dibawa Liang Su. Mereka juga memakan buah-buahan yang Taiwu dapatkan saat berkeliling lembah naga.
Taiwu bertugas mengendalikan kereta kuda, sedangkan Jingmi duduk di samping kanan putri Jia Li yang masih dirasuki oleh Huanran.
Mereka duduk di barisan yang sama dengan Xiao Tian. Saat itu hanya Kaibo yang duduk dibarisan yang berbeda. Dia duduk di barisan kiri paling depan.
Sedangkan Xiao Tian duduk di barisan kanan paling depan sambil memangku tubuh si Gendut. Dia juga memberikan perawatan khusus terhadap luka dalam si Gendut dengan menggunakan teknik akupuntur miliknya. Perlahan tapi pasti, keadaan si gendut mulai membaik.
Awalnya Su Yan duduk di ujung barisan kanan paling belakang sambil memangku kepqla liang Su. Namun saat melihat Xiao Tian duduk di barisan kanan paling depan. Dia langsung pindah sambil menggendong tubuh Liang Su ke barisan kiri yang paling depan.
Saking inginnya duduk berhadapan dengan Xiao Tian, dia menyuruh Kaibo untuk minggir.
Karena kesal dengan Su Yan, Kaibo pun berkata. "Kenapa kau menyuruhku minggir?"
"Tempat duduk di barisan kiri kan masih cukup luas. Kenapa harus menyuruhku minggir?"
Mendengar ucapan Kaibo, Su Yan menatapnya dengan senyuman sambil memancarkan aura yang mendominasi dari mata kuningnya.
"Tolong jangan membantahku, aku ingin duduk di tempat paling depan karena Liang Su memerlukan udara sejuk seperti si Gendut."
Setelah menatap mata Su Yan, Kaibo langsung minggir tanpa membantah. Seakan-akan dia telah terkena hipnotis.
Setelah membuat Kaibo minggir, akhirnya Su Yan duduk berhadapan dengan Xiao Tian.
Ketika duduk saling berhadapan, dia terus menatap Gelang dewa di tangan kiri Xiao Tian.
Sadar bahwa Su Yan selalu menatap gelang Dewa miliknya, Xiao Tian pun berusaha menutupi gelang tersebut dengan memasukkan tangannya ke dalam pakaiannya.
Ketika gelang Dewa tertutupi pakaian, Su Yan beralih memandang ke arah Sunlong yang tidur santai di atas kepala Xiao Tian. Dia hanya tertarik pada Sunlong dan gelang Dewa, Dia bahkan mengabaikan naga hitam yang duduk santai di pundak kiri Xiao Tian.
Meskipun naga hitam terus menatapnya sejak duduk berhadapan dengan Xiao Tian, dia tetap mengabaikannya seakan menganggap bahwa naga hitam tidak ada.
Naga hitam yang tak berhenti menatap Su Yan karena merasakan ancaman dari aura emas yang keluar dari tubuh Su Yan .
Sedangkan Sunlong yang terus di tatap oleh Su Yan mulai kesal karena merasa sirih dengan tatapan Su Yan.
Su Yan tak menjawab atau merespon ucapan Sunlong. dia hanya tersenyum saat mendengar teriakannya.
"Dasar gila, dimarahin malah tersenyum." Sunlong memasang wajah juteknya.
"Bukankah aku sudah bilang untuk menjauhinya, kenapa kau malah duduk bersebrangan dengannya?" tanya Dewa Petir.
"Mau bagaimana lagi, aku harus merawat si Gendut. Lagi pula dia sendiri yang pindah ke tempat yang bersebrangan denganku. Sepertinya sisi lain Su Yan tertarik dengan Sunlong dan gelang Dewa, sebenarnya apa yang dia mau dengan benda-benda ini?" tanya Xiao Tian.
Belum sempat Dewa Petir menjawab pertanyaan Xiao Tian, tiba-tiba saja kereta kuda berhenti.
Karena merasa ada yang aneh, Xiao Tian membuka tirai pada kereta kuda. Sambil menatap Taiwu yang bertugas mengendalikan kereta kuda, Xiao Tian pun berkata,
"Ada apa?"
"Kenapa kau menghentikan keretanya?"
"Kita telah dihadang pangeran," jawab Taiwu.
Mendengar jawaban Taiwu, Xiao Tian pun langsung berdiri dari tempat duduknya. Disaat dia ingin pergi keluar, Taiwu mencegahnya dengan berkata,
"Tak usah ikut campur, biar hamba yang menghabisi mereka semua."
"Bisakah kau berhenti bersikap formal?"
"Aku sudah menganggapmu sebagai temanku, kita kan seumuran. Yerkadang kau formal terkadang kau sangat akrab. Sebenarnha maumu apa?" tanya Xiao Tian.
"Maafkan ketidak sopananku yang lalu pangeran. Mulai sekarang hamba akan bersikap lebih formal," sambung Taiwu.
"Aih, benar-benar orang yang keras kepala. Disuruh jangan formal, malah berjanji untuk bicara formal." Xiao Tian menepuk wajahnya karena merasa heran dengan Taiwu.
"Apa kau masih tidak bisa memahami pengawalmu sendiri?" Tanya Dewa Petir.
"Apa maksudmu?" ucap Xiao Tian melalui telepati.
"Ada prajurit bawahan ratu Xiao Hong yang mengawasi kita, mereka akan turun tangan jika keadaan memburuk. Kau cukup duduk manis dan melihat Taiwu beraksi. Lagipula musuh kali ini hanyalah bandit biasa." Dewa Petir duduk dengan santai di samping Xiao Tian.
"Sudahlah biarkan saja Taiwu yang menangani, lagipula mereka hanyalah kelompok taring naga. Lebih baik kau mengurus si Gendut yang terluka," sambung Sunlong.
"Benar kata naga kecilmu, tetaplah disini dan jaga si Gendut. Biarkan Taiwu yang mengurus semuanya. Lagipula dia kan seorang grand master petarung lapisan puncak," sambung Su Yan yang duduk dihadapan Xiao Tian.
"Naga kecil?" tanya Kaibo yang duduk didekat kaki Liang Su.
"Maksudmu naga hitam?" tanya Jingmi yang masih memeluk naga biru versi mini.
"Tidak maksudku naga merah yang duduk di atas kepala Xiao Tian," jawab Su Yan.
"Sejak kapan kau memanggilnya Xiao Tian?"
"Lagi pula tak ada naga merah di kepala ayaj Xiao Tian," sambung Jingmi.
"Ah maaf aku lupa, aku kan biasa memanggilnya ketua," ucap Su Yan sambil memegang kepalanya.
Mendengar ucapan Su Yan, Jingmi langsung berdiri sambil menghunuskan pedang milik putri Jia Li ke arah leher Su Yan.
"Katakan siapa sebenarnya dirimu!"
"Tolong singkirkan pedang tajam itu!" Su Yan menatap Jingmi dengan mata kuningnya.
Seketika Jingmi langsung menjatuhkan pedangnya. Tak lama setelah itu Su Yan berkata, "Tidurlah." Tiba-tiba saja Jingmi langsung kembali ketempat duduknya, lalu teridur sambil menutup matanya rapat-rapat.
Melihat sesuatu yang aneh terjadi pada Jingmi, Kaibo langsung menatap Su Yan dengan kesal, "Apa yang kau lakukan pada Jingmi!"
"Kau juga tidurlah." Su Yan melakukan hal yang sama pada Kaibo, sehingga Kaibo ikut tak sadarkan diri.
Sedangkan Huanran yang sedang merasuki putri Jia Li tak berani bergerak sedikitpun daro tempat duduknya. Dia merasa gemetar ketakutan saat melihat tatapan Su Yan.
"Sebenarnya siapa dia, kenapa aku tak punya nyali untuk menggerakkan tubuhku?"
Meski Huanran tak melakukan apapun, Su Yan melemparkan bola sinar emas yang berukuran seperti biji salak ke arah tubuh putri Jia Li. Ketika bola tersebut merasuki putri Jia Li, Huanran langsung terlempar masuk ke dalam cincin ruang si Gendut. Sedangkan tubuh putri Jia Li terjatuh hingga menindih kaki Jingmi.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Xiao Tian.
"Tenanglah, aku tak melakukan hal buruk pada mereka. Karena bagaimanapun mereka juga teman temanku," ucap Su Yan.
"Apa yang kau inginkaj dariku?" tanya Xiao Tian.
"Tidak banyak, aku menginginkan gelang Dewa dan roh kaisar iblis yang ada di atas kepalamu." Mendengar ucapan Su Yan, Xiao Tian langsung mengepalkan kedua tangannya. Namun dia mencoba menahan diri karena takut tak dapat mengontrol dirinya lagi jika memaksa bertarung.
"Kenapa kau menginginkan gelang Dewaku?" tanya Xiao Tian.
"Itu rahasia," jawab Su Yan dengan tatapan dinginnya.
#####
Terimakasih karena sudah menyempatkan diri untuk membaca novel sederhanaku ini.
Jangan lupa like, komen dan vote ya biar author makin semangat update.
Komentar dan like kalian adalah penyemangatku.
Maaf kalau belum bisa nulis dengan terjadwal.
Karena author punya dunia nyata yang harus diurus.😁😁