
"Bisakah kau berhenti menatap punggungku dengan tatapan aneh?"
"Aku merasa terganggu," ucap Xiao Tian sambil berjalan menaiki anak tangga.
"Maaf ketua, aku hanya kagum padamu. Ternyata kau telah berkembang begitu jauh hingga bisa menjadi seorang grand master petarung tingkat puncak," jawab Su Yan dengan kagum.
"Kau salah, sebenarnya aku telah menjadi seorang Dewa Petarung. Akan tetapi tak bisa menggunakan seluruh kemampuanku karena suatu alasan yang tidak kuketahui," jelas Xiao Tian sambil berjalan maniki anak tangga.
"Waw seorang Dewa Petarung?"
"Aku benar benar telah tertinggal jauh, saat ini aku masih seorang petarung tingkat emas lapisan puncak," sambung Su Yan sambil berjalan menaiki anak tangga.
Ketika mendengar ucapan Su Yan, Xiao Tian pun berhenti melangkah. Alhasil Su Yan yang saat itu tak memperhatikan jalan menabrak punggung Xiao Tian dengan tak sengaja.
"Kenapa kau berhenti, Ketua?"
"Kenapa berhenti katamu?"
"Bisa bisanya kau bertanya dengan begitu santai," ucap Xiao Tian dengan kesal.
Dia menengok ke arah Su Yan dengan wajah yang terlihat begitu kesal. Sambil menarik kerah bajunya dia pun berkata,
"Sebenarnya apa yang ada di pikiranmu!"
"Beraninya kau datang kemari dengan kemampuan yang di bawah rata-rata!"
"Apa kau tidak sayang dengan nyawamu sendiri!"
"Aku tahu kalau aku memang lemah. Tapi istriku berada di tangan mereka."
"Aku tak mungkin membiarkanmu pergi seorang diri hanya untuk menyelamatkannya."
"Bagaimanapun, menyelamatkan Liang Su adalah kewajibanku sebagai seorang suami. Lagipula dia menjadi seperti ini karena ucapanku yang sedikit keterlaluan."
"Awalnya aku menjaga jarak darinya agar sisi lainku tak leluasa merasuki diriku. Dia selalu berbuat sesukanya setiap kali aku berdekatan dengan Liang Su."
"Aku mau datang kemari karena sisi lainku telah berjanji agar tak sembarangan memakai tubuhku lagi," jawab Su Yan dengan wajah seriusnya.
"Kau tak perlu melanjutkan perjalanan ini, cukup serahkan urusan istrimu kepadaku. Aku akan menyelamatkannya untukmu. Jadi diamlah disini dan tunggu aku kembali," ucap Xiao Tian dengan tatapan dinginnya.
"Maafkan aku ketua, kali ini aku tak akan menuruti perintahmu."
"Meski aku lemah, jika aku tak mengikutimu sejak awal, mungkin kau tak akan sanggup memasuki pagoda ini."
"Apa kau lupa dengan apa yang terjadi padamu saat menaiki anak tangga di luar pagoda?" tanya Su Yan dengan tatapan dinginnya.
Setelah mendengar ucapan Su Yan, Xiao Tian pun tak sanggup berkata apa apa.
Dia melepaskan kerah baju Su Yan lalu berkata, "Aku akui kau cukup hebat saat berada di luar pagoda."
"Aku sempat berpikir bahwa kekuatanmu sebagai keturunan serigala suci telah bangkit sejak melihatmu berhasil menolongku."
"Tapi semua keraguanku mulai muncul sejak pedang yang kau pakai terpotong menjadi dua."
"Dan keraguanku telah terbukti sejak kau mengatakan tingkatan kekuatanmu."
"Kau boleh mengikutiku, tapi tolong sadarlah akan batasanmu." Xiao Tian membalikkan badannya, lalu berjalan meninggalkan Su Yan.
"Tenanglah, aku akan membuktikan bahwa aku bisa menjaga diriku sendiri." Su Yan berjalan mengikuti Xiao Tian.
#Tingkat kedua pagoda iblis
Xiao Tian dan Su Yan telah sampai di pagoda tingkat dua. Disana mereka bertemu dengan Liang Su yang sedang berdiri menatap mereka. Terdapat kalung hitam berukuran sedang yang melingkar di lehernya. Tapi Su Yan tak memperhatikan itu. Satu satunya yang ada dipikirannya saat itu ialah istrinya telah berada di hadapannya dan ingin segera memeluk dan membawanya pulang.
"Li ... Liang Su?" Su Yan memandang Liang Su dengan tatapan terkejut. Sejak melihatnya berada tepat di hadapan mata, Su Yan pun langsung berlari mendekati istrinya.
Akan tetapi, bukan sebuah pelukan yang dia dapatkan. Melainkan sebuah pukulan keras yang mendarat ke perutnya.
Bukkkk
Su Yan terpental hingga menabrak dinding pagoda.
"Kenapa?"
"Kenapa kau memukulku?" tanya Su Yan.
"Kenapa kau bilang?"
"Itu adalah balasan atas perlakuan bejadmu terhadapku!" ucap Liang Su dengan tatapan kesal.
"Aku memang pantas dipukuli. Jika kau memang ingin melampiaskan amarahku maka pukuli saja aku," ucap Su Yan sambil mencoba berdiri.
"Dengan senang hati," ucap Liang Su dengan mata yang berubah menjadi mata seekor ular.
Sejak mata ularnya bangkit, hawa iblis pun mulai menyelimuti tubuh Liang Su.
"Hawa iblis?" ucap Xiao Tian sambil menatap Liang Su.
"Sepertinya kekuatan iblisnya telah kembali, dan semua itu berkat kalung hitam yang melingkar di lehernya," ucap Sunlong.
"Jadi kau memang seorang iblis, awalnya aku tak percaya kalau kau adalah seorang iblis," ucap Su Yan.
"Tak percaya katamu?"
"Bagaimana mungkin orang yang menyegel kekuatanku, tak tahu mengenai identitasku!" Liang Su mengarahkan telapak tangannya ke arah Su Yan dengan wajah yang penuh emosi. Di tengah telapak tangannya itu muncul sebuah lubang hitam yang mengeluarkan ular ular kecil yang terus memanjang hingga mendekati Su Yan.
Kecepatan serangannya begitu luar biasa, hingga dalam hitungan detik bisa hampir mengenai Su Yan yang jaraknya cukup jauh dari tempatnya berdiri. Xiao Tian memotong ular ular itu menjadi beberapa bagian, dengan memakai pedang hitam yang dia bawa.
Sejak terkena tebasan pedang hitam, bagian tubuh ular itu mulai menghitam dan terus merambat hingga mendekati telapak tangan Liang Su. Akan tetapi Liang Su menutup lubang hitam tepat sebelum tangannya bersentuhan dengan racun yang hampir menyentuhnya.
"Kau ... ,"
"Bagaimana bisa kau menguasai pedang hitam pagoda iblis?" ucap Liang Su sembari menatap Xiao Tian.
"Pe ... pedang pagoda iblis?" ucap Sunlong dengan tubuh yang gemetar.
"Kenapa kau terlihat ketakutan?" tanya Xiao Tian sambil melirik Sun Long melalui telepati.
"Tak apa, aku hanya sedikit terkejut setelah mendengar nama pedang yang kau pegang."
"Aku pernah mendengar bahwa pedang itu hanya bisa dipakai di dalam pagoda iblis, dan hanya para iblis tingkat tinggi atau penguasa pagoda yang bisa menahan kekuatan pedang itu. Tapi melihatmu menundukkannya dengan begitu mudah, membuatku takjub sekaligus takut. Aku takut pedang itu akan mengamuk dan mencoba mengendalikanmu seperti waktu di tingkat pertama pagoda iblis," jelas Sunlong.
"Tenanglah, jika itu terjadi lagi. Mungkin aku bisa menundukkannya seperti waktu itu," jawab Xiao Tian melalui telepati.
"Walau begitu, kusarankan padamu agar tak bergantung pada pedang itu. Jangan gunakan terlalu sering. Karena semakin tinggi tingkat pagoda yang kau naiki, maka semakin tinggi pula kekuatan pedang yang kau pegang," ucap Sunlong sambil melirik ke arah Xiao Tian.
"Beraninya kalian mengobrol disaat aku sedang bertanya!" Liang Su menyerang Xiao Tian dan Sunlong dengan mengeluarkan ular dari lubang hitam yang muncul di kedua telapak tangannya.
Ketika hampir mendekati Xiao Tian dan Sunlong, tiba-tiba saja Su Yan muncul tepat dihadapan mereka dan memotong ular ular itu dengan bermodalkan pedang patah berlapis qi. Dia mengayunkan pedangnya dengan begitu cepat hingga gerakannya tak dapat diikuti oleh mata telanjang.
Sambil memotong ular tersebut, dia berlari mendekati Liang Su lalu mencengkram lehernya yang dilingkari kalung hitam pagoda iblis.
"Kau ... !" Liang Su terkejut dengan gerakan Su Yan yang begitu cepat.
"Senang bertemu denganmu lagi, Liang Su," ucap Su Yan dengan mata kuning keemasannya.
"Lepaskan dia, kau tahu bahwa Su Yan begitu mencintainya. Jika kau melukainya, Su Yan pasti tak akan memaafkanmu!" bentak Xiao Tian.
"Tenanglah, aku tak mungkin membunuh istriku sendiri. Kami hanya sedang bermain-main. Benarkan istriku?" ucap Su Yan sambil menatap Liang Su.
"Berhenti bermimpi!"
"Aku bukanlah istrimu!" ucap Liang Su sambil mencoba melepaskan pegangan Su Yan. Akan tetapi lubang hitam tak bisa muncul dari telapak tangannya sejak tangan Su Yan melingkar tepat di lehernya.
Ketika Xiao Tian ingin ikut campur dengan pertarungan Su Yan, terdengar suara seseorang yang terlintas di pikirannya.
Dan suara itu berasal dari Su Yan yang sedang berada di alam pikirannya sendiri.
"Tenanglah ketua, sisi lainku bertindak atas ijin dariku. Sejak pertama kali aku melihat Liang Su di pagoda tingkat dua, dia terus mencoba merasukiku. Namun tak bisa sama sekali."
"Pergilah dan selamatkan Dewa kesayanganmu. Saat ini Dewamu telah disandra oleh musuh, kan?" tanya Su Yan lewat telepati.
"Dari mana kau mengetahui kalau aku di dampingi oleh seorang Dewa?" tanya Xiao Tian melalui telepati.
"Aku mengikutimu sejak kau bilang tak tahu mengenai keberadaan Liang Su."
"Dan tanpa sengaja mendengarmu menjerit seperti ingin menggapai seseorang yang berada di lingkaran sihir yang entah muncul dari mana. Dan teriakan yang kudengar saat itu adalah, Dewa petir," jelas Su Yan melalui telepati.
"Baiklah, kalau begitu aku akan pergi lebih dulu. Kuserahkan urusan Liang Su padamu. Awasi sisi lainmu agar tak bertindak sesukanya lagi," sambung Xiao Tian melalui telepati.
Xiao Tian pergi menaiki tangga menuju ke pagoda tingkat tiga. Sedangkan Su Yan masih memegang erat leher Liang Su.
Setelah Xiao Tian pergi meninggalkan Su Yan, Hawa iblis Liang Su berubah menjadi semakin kuat. Tubuhnya mulai mengeluarkan sisik, lalu perlahan mulai berubah menjadi ular iblis yang berukuran raksasa.
Karena tangan Su Yan hanya berukuran sebesar tangan manusia pada umumnya, genggamannya pun terlepas. Sedangkan kalung hitam Liang Su ikut membesar mengikuti ukuran tubuh barunya.
Ketika Liang Su ingin menelan Su Yan, Su Yan melompat mundur untuk menjaga jarak.
"Akhirnya aku bisa kembali ke wujudku yang awal."
"Matilah, dan terimalah pembalasanku manusia!" Liang Su menyemprotkan racun ke arah Su Yan. Namun Su Yan menahannya dengan menghindari racun tersebut dengan melompat ke kiri dan ke kanan.
"Hahahah, kalung hitam memang luar biasa. Tak hanya mencegahmu menyerap kekuatanku. Aku bahkan berhasil menghisap seluruh kekuatan iblis yang telah kau serap," ucap Liang Su sambil menyemburkan racun ke arah Su Yan.
#####
Terimakasih karena sudah menyempatkan diri untuk membaca novel sederhanaku ini.
Jangan lupa like, komen dan vote ya biar author makin semangat update.
Komentar dan like kalian adalah penyemangatku.
Maaf kalau belum bisa nulis dengan terjadwal.
Karena author punya dunia nyata yang harus diurus.😁😁