
#Ruang hampa
#Jauh di sebelah utara tempat Xiao Hong dan yang lainnya berada.
Setelah mengumpulkan orang orang yang tak mereka kenal ke tempat yang cukup jauh mengikuti perintah Xiao Tian, para siluman rubah merah menyuruh Taiwu mengaktifkan array pembatas yang tertulis dalam gulungan.
"Array tingkat lima?"
"Apakah putra mahkota yang memberikan ini pada kalian?" tanya Taiwu sambil mengerutkan dahi.
"Ya, benar. Yang mulia menyuruhmu mengaktifkan ini untuk membatasi ruang gerak orang orang ini. Aku tak mengenal siapa sebenarnya mereka, tapi aku tak peduli. Perintah yang mulia maharaja Xiao Tian adalah mutlak. Jika dia meminta kita mengurung mereka di dalam array dan membuat ilusi seolah mereka masih berada ditempat terakhir mereka berlatih, maka lakukan saja dan tak perlu banyak tanya," ucap raja siluman rubah merah sambil menatap Taiwu.
"Sebenarnya aku juga ingin tahu siapa dan kenapa mereka dibawa kemari, tapi aku tak berani mempertanyakan perintah yang mulia," pikir raja siluman rubah merah sambilenghela napas.
"Array ini hanya bisa dilakukan oleh pendekar alam mortal. Padahal aku sudah berusaha menutupi kultivasiku, sudah kuduga tak ada yang bisa kusembunyikan dari putra mahkota," pikir Taiwu sambil membaca isi gulungan yang dia terima.
Setelah mempelajari gulungan ditangannya, Taiwu langsung mempraktikkan isi gulungan tersebut hingga berhasil menciptakan ruang pembatas yang bahkan tak bisa ditembus oleh seorang pendekar alam mortal lapisan puncak.
Bersamaan dengan itu para siluman rubah terus mengawasi orang orang yang tak sadarkan diri sambil menunggu mereka sadar. Mereka berencana membuat ilusi mata yang sanggup membuat orang yang melihat mata mereka langsung larut dalam ilusi buatannya.
Singkat cerita mereka pun berhasil membuat semua orang yang tak mereka kenal itu terjebak dalam ilusi mereka, hingga membuat mereka berpikir bahwa saat ini mereka berada di tempat terakhir kali berlatih bersama Xiao Tian.
"Ah kemana patriach pergi?"
"Kenapa kami bisa tertidur?" ucap Xia Hu sambil melihat sekitar.
"Bahkan para alkemis pun ikut tertidur, sepertinya itu ulah patriach yang memaksa kita istirahat," ucap murid lain dari cabang petarung.
"Guru, kau tidak apa?" tanya Tian Ling sambil mencoba membangunkan gurunya.
"Tak apa, aku hanya sedikit pusing," ucap Xianlun sambil mencoba bangkit dari tempatnya terbaring.
"Kalian semua baik baik saja?" tanya Xiang Ying sambil menatap murid muridnya.
"Kami tak apa guru," ucap para murid Xiang Ying sambil memberi hormat.
"Sepertinya patriach telah membuat kita tak sadarkan diri, tapi apa tujuannya?" pikir Xia Ning sambil memegang dahinya.
"Gawat guru!"
"Semua tungkunya menghilang!" teriak para murid Xia Ning sambil menunjuk ketempat yang dia pikir tungku Xia Ning berada sebelumnya.
"Apa patriach menipu kita demi tiga buah tungku?" tanya Xia Ning sambil menatap Xiang Ying.
"Tapi ini tak masuk akal, jika dia berniat demikian kenapa dia memberi harta yang lebih berharga dari pada tungku tungku itu?" tanya Xiang Ying sambil menatap Xia Ning.
"Jangan berburuk sangka, harta yang dia berikan terlalu tinggi jika hanya untuk merampas tungku saja. Kita tunggu saja sampai patriach kembali, mungkin dia sedang meningkatkan kualitas tungku kita atau semacamnya," ucap Xianlun sambil menatap kedua tetua.
"Cukup masuk akal, mungkin saja seperti itu. Untuk saat ini, kita lanjutkan saja latihan tanpa tungku sambil menunggu patriach kembali," ucap Xiang Ying sambil menatap Xianlun.
"Umm," ucap Xianlun dan Xia Ning sambil menganggukkan kepala.
Xia Ning dan kedua tetua cabang alkemis melanjutkan latihan mereka tanpa rasa ragu setelah bertukar pendapat, sedangkan para murid cabang petarung masih kebingungan dengan apa yang telah terjadi dengan mereka semua. Terutama Xia Hu yang bingung tentang seberapa lama dia tertidur sehingga merasa begitu segar bagaikan tertidur lebih dari tujuh jam lamanya.
Namun kebingungannya itu hilang seketika setelah melihat para murid petarung yang lain dan para alkemis melatih teknik yang ada di gulungan mereka dengan begitu fokus tanpa memikirkan hal lain.
#Bagian luar array pembatas
Taiwu duduk didalam lingkaran pola pengaktifan array. Dia mengeluarkan begitu banyak kekuatan jiwa sejak mengaktifkan array tersebut. Keringat dingin pun keluar dari tubuhnya karena hal itu. Melihat Taiwu sudah cukup kelelahan, Xiao Tian berniat menggantikannya untuk sementara.
"Array naga ilusi memang luar biasa merepotkan, untuk mengaktifkannya saja aku perlu menghabiskan seluruh kekuatan jiwaku," ucap Taiwu dengan napas yang terengah engah.
"Kerja bagus, Taiwu," ucap Xiao Tian yang tiba tiba muncul tepat di hadapan Taiwu.
"Salam putra mahkota," ucap Taiwu sambil memberi hormat.
"Dimana para siluman rubah merah?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Para siluman rubah merah berada di dalam array untuk menjaga teknik ilusi mereka," jawab Taiwu sambil menundukkan kepala.
"Begitu ya ... ,"
"Ini hadiahmu karena telah berjuang keras," ucap Xiao Tian sambil memberikan dua pil pemulih jiwa.
"Pil tingkat lima?"
"Terima saja, dan telan pil itu. Ini perintah," ucap Xiao Tian sambil menatap mata Taiwu dengan tatapan serius.
"Terimakasih, putra mahkota," ucap Taiwu sambil bersujud.
"Haih,"
"Kenapa kau selalu bereaksi berlebihan?"
"Bisakah kau bersikap seperti dulu?"
"Bukankah kita teman sejak kecil?" tanya Xiao Tian sambil menghela napas.
"Bagaimana mungkin aku bisa selancang itu, saat ini anda telah menjadi putra mahkota sedangkan aku hanyalah seorang mantan jenderal utama. Kita berdua berada di dunia yang berbeda jadi ... ," ucap Taiwu sambil bersujud.
"Bangunlah, dan tegakkan kepalamu. Aku mengerti ucapanmu tapi tak ada siapapun selain kita saat ini. Setidaknya bisakah kau singkirkan dinding pembatas status kita disaat tak ada orang lain?" tanya Xiao Tian sambil memegang pundak Taiwu dan mencoba mengangkatnya hingga dalam posisi duduk.
"Tapi ... ," ucap Taiwu sambil menundukkan kepala.
"Tak ada kata tapi, ini adalah perintah," ucap Xiao Tian sambil tersenyum.
"Baik, putra mahkota. Maksudku, pangeran Xiao Tian," ucap Taiwu sambil memberi hormat.
"Haih, sepertinya sulit menyuruhmu menghilangkan kata pangeran. Tapi itu lebih baik dari pada kau hanya memanggilku dengan sebutan putra mahkota saja," ucap Xiao Tian sambil menghela napas.
"Maafkan aku Pang ... , eh Xiao Tian," ucap Taiwu sambil menundukkan kepalanya.
"Sudahlah, pangeran pun tak apa. Kau tak perlu berusaha memanggil namaku," ucap Xiao Tian sambil menepuk dahinya.
"Oh iya, apakah kau masih kuat?"
"Jika sudah merasa tak kuat, biarkan aku menggantikanmu untuk sementara," ucap Xiao Tian sambil menatap Taiwu.
"Tidak perlu, aku masih kuat kok," ucap Taiwu sambil mengeluarkan keringat dingin.
"Kau pembohong yang bodoh Taiwu. Aku bisa melihat bahwa kau sudah tak sanggup. Cepat keluar dan biarkan aku mengendalikan array sebentar saja,"
"Ini perintah," ucap Xiao Tian sambil menatap tajam mata Taiwu.
"Baik pangeran," ucao Taiwu sambil melangkah keluar dari pola lingkaran pengaktif array.
"Telan pil yang kuberikan tadi, dan seraplah sambil bermeditasi. Katakan padaku kalau kau sudah pulih sepenuhnya," ucap Xiao Tian sambil menepuk pundak Taiwu.
"Baim pangeran," ucap Taiwu sambil menundukkan kepala.
Xiao Tian menggantikan Taiwu sebentar agar bisa memulihkan tenaganya kembali. Dia melakukan ini karena tahu bahwa tak semua orang semahir dia dalam mengendalikan array tingkat lima. Beberapa orang seperti Taiwu perlu energi lebih untuk menjaga kestabilan Array dengan segenap kekuatan mereka.
Setelah beristirahat cukup lama, Taiwu pun kembali segar seperti semula. Kekuatannya pulih total hingga tak terlihat lemas lagi. Sadar bahwa Taiwu sudah siap untuk mengambil alih arraynya lagi, Xiao Tian pun memanggilnya kembali untuk menggantikan posisinya.
"Apakah kau sudah benar benar pulih sekarang?" tanya Xiao Tian sambil menatap ke arah Taiwu.
"Ya, pu .. pangeran. Semua ini berkat dirimu," jawab Taiwu sambil memberi hormat.
"Kalau begitu gantikan posisiku untuk mengendalikan array ini lagi, karena aku masih punya urusan lain," jelas Xiao Tian sambil menatap mata Taiwu.
"Baiklah pangeran," ucap Taiwu sambil memberi hormat.
"Aku akan pergi ke dalam array, kau tetap diluar dan suruh orang lain menjauh dari array. Karena jika orang lain tak sengaja mendekati array pembatas mereka mungkin akan terluka akibat terkena serangan array naga ilusi," ucap Xiao Tian sambil membalikkan badannya.
"Baik putra mahkota," ucap Taiwu sambil memberi hormat.
"Haih, putra mahkota lagi ya?" ucap Xiao Tian sambil berjalan menuju array pembatas naga ilusi.
"Oh iya, selamat karena telah menjadi pendekar alam mortal lapisan ketiga," ucap Xiao Tian sebelum masuk sepenuhnya ke dalam array.
"Semua ini berkat bantuanmu, pangeran," ucap Taiwu sambil tersenyum.
###
Secara berurutan, tingkatan kultivasi setelah Dewa Petarung adalah, pendekar alam ilusi, pendekar alam roh, pendekar alam Beast, pendekar alam mortal, pendekar alam naga, pendekar alam fana, pendekar alam angin, pendekar alam langit, pendekar alam peri, pendekar alam surga, pendekar alam immortal, hingga pendekar alam Dewa.
Saat ini Xiao Tian telah mencapai pendekar alam naga lapisan puncak, sudah cukup kuat untuk menahan serangan empat jenderal pembasmi iblis secara bersamaan. Namun dia tak berani menunjukkan identitasnya sebelum seluruh orang yang dia sayangi juga berada pada tahap yang bisa melindungi diri mereka sendiri.
"Sebentar lagi, kami pasti akan kembali ke kerajaan petir," pikir Xiao Tian sambil memasuki array pembatas.