
"Mau kemana kau?" tanya Xiao Tian tepat ketika Meng Yi berjalan melewatinya.
"Aku akan pergi untuk menjemput ibu dan saudari satu klanku," jawab Meng Yi sambil menghentikan langkahnya.
"Bagaimana dengan pemakaman para pria dari keluargamu?" tanya Xiao Tian dengan nada serius.
"Memang sangat disayangkan karena tak bisa menyaksikan pemakamannya, tapi menyelamatkan nyawa yang masih hidup jauh lebih penting saat ini. Maaf atas kelancanganku, dan terimakasih atas bantuannya selama ini. Jika berkenan tolong bantu aku sekali lagi dengan mengurus pemakaman para pria dari keluargaku. Kumohon .. ," ucap Meng Yi sambil meneteskan air mata.
"Baiklah kalau begitu, tapi ngomong ngomong apa kau yakin hanya memerlukan bantuan dalam bentuk pemakaman keluargamu saja?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Ya, aku sangat yakin. Aku tak ingin anda terlibat terlalu jauh dalam masalahku. Lagipula, aku masih bisa mengurus diriku sendiri," jawab Meng Yi sambil melanjutkan langkahnya.
Melihat Meng Yi nekad pergi seorang diri, Bai Qian, Bao Si dan para pelayan Meng Yi langsung menarik tangan serta pakaian Meng Yi untuk meminta ijinnya agar dibolehkan ikut pergi menuju tempat perbudakan. Namun Meng Yi menolak bantuan mereka karena tak ingin mereka terkena bahaya.
" Terlalu berbahaya jika Nona muda pergi seorang diri, biarkan kami ikut juga," ucap para pelayan sambil menarik tangan Meng Yi.
"Ijinkan kami ikut juga," ucap Bai Qian dan Bao Si.
"Tidak boleh!"
"Aku tak ingin melibatkan kalian lebih dalam lagi. Dari pada ikut denganku, lebih baik kalian pergi ke keluarga besar kalian. Mereka pasti sedang pusing mencari keberadaan kalian sekarang," ucap Meng Yi dengan tampang khawatir.
"Meski kau menolak bantuan kami, kami akan tetap mengikuti nona muda secara diam diam," ucap para pelayan sambil memegang tangan Meng Yi.
"Ya, kami akan memaksa ikut dari belakang," ucap Bao Si dan Bai Qian sambil menatap Meng Yi.
"Haih, kalian ini. Baiklah kalau begitu," ucap Meng Yi sambil menghela napas.
Kesal dengan tingkah sok kuat Meng Yi dan teman temannya, Xiao Tian pun berkata,
"Dengan kemampuan kalian yang pas pasan seperti itu, datang ke tempat perbudakan sama saja dengan menyerahkan diri menjadi seorang budak."
"Apa kalian yakin tak membutuhkan bantuanku?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Tidak, aku tak mau merepotkanmu lebih dari ini."
"Aku tahu kok bagaimana kuatnya penjaga tempat perbudakan itu."
"Makanya aku tak berniat pergi kesana seorang diri. Aku berencana untuk meminta bantuan tiga keluarga besar yang bergabung dengan aliansi perdagangan," jelas Meng Yi sambil menatap mata Xiao Tian.
"Bagaimana jika ketiga keluarga besar itu menolak untuk membantumu?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Tidak mungkin!"
"Keluarga Bai milikku tak mungkin seperti itu!" ucap Bai Qian sambil memasang tampang kesal.
"Keluarga Bai ya?"
"Rasanya aku pernah mendengar nama keluarga itu, tapi kapan ya?" pikir Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Keluarga Bao ku juga tak sekejam itu," ucap Bao Si sambil menatap mata Xiao Tian.
"Jika kalian seyakin itu. Maka aku tak akan ikut campur lagi. Pergilah," ucap Xiao Tian sambil menghela napas.
"Kalau begitu, kami mohon undur diri. Terimakasih atas bantuannya tuan penyelamat," ucap Bao Si sambil memberi hormat.
Bai Qian, Bao Si dan Meng Yi pergi meninggalkan Xiao Tian dengan terburu buru. Mereka menyerahkan pemakaman para pria kepada Xiao Tian sepenuhnya.
Setelah semua orang pergi, Xiao Tian mencabut salah satu rambutnya dan merubahnya menjadi tubuh tiruan.
Sisi lain Xiao Tian merasuk dalam tubuh tersebut sesuai permintaan Xiao Tian.
"Kau tahu apa tugasmu kan?" tanya Xiao Tian sambil menatap tubuh tiruannya.
"Aku mengerti," ucap sisi lain Xiao Tian sambil tersenyum.
Sisi lain Xiao Tian pergi mengikuti Meng Yi dan teman temannya secara diam diam mengikuti arahan Xiao Tian.
"Paman Lian Ting akan datang kembali esok hari, aku harus menyusun rencana untuk membereskannya secepat mungkin," pikir Xiao Tian sambil mengerutkan dahinya.
Xiao Tian membuka kembali portal ruang hampa dan mengeluarkan paksa para penghuninya untuk membahas satu hal penting.
"Salam putra mahkota," ucap para prajurit dan jenderal kerajaan petir sambil memberi hormat.
"Salam guru," ucap si gendut dan Huanran sambil memberi hormat.
"Salam putra mahkota," ucap Taiwu sambil memberi hormat.
"Hormat kami, putra mahkota," ucap Huang Li, putri Jia Li, Su Yan, dan Liang Su sambil memberi hormat.
Huang Li dan yang lainnya memberi hormat secara formal karena mereka merasa bahwa kedudukan Xiao Tian saat ini sudah cukup tinggi. Dan akan aneh rasanya jika mereka tak membungkuk sendirian.
Saat itu selain raja dan ratu kerajaan petir, tak ada yang berani mengangkat kepala mereka sebagai bentuk rasa hormat mereka kepada Xiao Tian.
Ketika semua orang masih memberi hirmat kepadanya, Xiao Tian berjalan ke arah raja Xiao Zhaoye lalu berkata, "Salam ayah,"
"Kau tak perlu membungkuk pada ayahmu ini putraku, bangunlah dan katakan apa keperluanmu. Kau tak mungkin memanggil kami tanpa sebuah alasan kan?" tanya raja Xiao Zhaoye sambil menepuk pundak Xiao Tian.
"Sebenarnya aku sedang dalam jalan buntu saat ini, musuhku sekarang tak bisa kulawan seorang diri. Aku memerlukan bantuan semua orang untuk melancarkan rencananya."
"Jika ayah berkenan, apakah aku bisa meminta bantuan kalian?" tanya Xiao Tian sambil menatap wajah ayahnya.
"Kau ini bagaimana, tentu saja kau boleh meminta bantuan kami kapanpun. Ngomong ngomong kapan kita kembali ke kerajaan?" tanya Raja Xiao Zhaoye sambil menatap mata Xiao Tian.
"Kita belum cukup kuat saat ini, jadi lebih baik kita bergerak secara diam diam terlebih dulu," jawab Xiao Tian sambil menatap mata ayahnya.
"Begitu ya, padahal ayah sudah tak sabar untuk menghajar sekte sialan itu," ucap raja Xiao Zhaoye sambil memasang tampang kecewa.
Ketika Xiao Tian dan raja Xiao Zhaoye sedang berbincang, Ratu Xiao Hong memotong pembicaraan dengan berkata,
"Urusan perang besar, bisa kita bicarakan lain kali. Tapi bagaimana dengan rencana pernikahanmu?" tanya ratu Xiao Hong sambil menatap mata Xiao Tian.
"I ... itu ... ,"
"Bukankah sekarang belum waktunya?"
"Perjanjiannya kan tiga bulan sejak pertunangan dilaksanakan," ucap Xiao Tian sambil menggaruk garuk kepalanya.
"Ini sudah lebih dari tiga bulan. Apakah kau tak memperhatikan perut ibu yang mulai sedikit membesar?" tanya Ratu Xiao Hong sambil mengelus elus perutnya.
"Berdasarkan waktu di alam nyata, seharusnya pernikahan akan digelar satu bulan lagi. Jadi ... ," belum sempat Xiao Tian menjelaskan alasannya, Xiao Hong memotong pembicaraan dengan berkata,
"Jadi apa?" tanya Xiao Hong dengan tampang kesal.
"Menikah sekarang dan menikah nanti sama saja bukan?"
"Atau kau memang tak memiliki perasaan kepada putri Jia Li?" tanya ratu Xiao Hong sambil memasang tampang kesal.
"Ibumu sedang dalam mode cerewet, lakukan saja permintaannya," ucap raja Xiao Zhaoye melalui telepati.
"Haih, ya sudahlah," ucap Xiao Tian sambil menghela napas.
"Kalau begitu lakukan pernikahannya sekarang juga," ucap Xiao Hong sambil menatap mata Xiao Tian.
"Kita berada di dalam penjara bawah tanah loh, dan diatas sana terdapat tumpukan mayat yang telah membusuk. Mana mungkin aku menikah disini. Kita lakukan besok saja ya?" ucap Xiao Tian sambil menatap Xiao Hong.
"Tak boleh, ibu maunya sekarang!" bentak Xiao Hong sambil memasang tampang kesal.
"Sebenarnya siapa yang mau nikah sih?" pikir Xiao Tian sambil menepuk dahinya.
"Ibu berbicara dengan cukup keras, Lily pasti mendengar hal ini. Tapi kenapa dia diam saja sejak tadi?" pikir Xiao Tian sambil menghela napas.
"Bagus ibu mertua, tak sia sia aku curhat padamu setiap kali beristirahat latihan," pikir putri Jia Li sambil tersenyum.