
Xiao Tian menghilang dari pandangan semua orang lalu muncul di wilayah dimana Dianzeng melatih para roh iblis.
Namun kemunculannya yang begitu tiba tiba dengan wajah asing yang terlihat seperti Tian Zong, membaut semua roh iblis begitu waspada. Mereka langsung menyerang secara bersamaan, namun aksi mereka dihentikan oleh Dianzeng yang masih bisa mengenali Xiao Tian meski rupanya telah berubah.
"Wah wah wah, belum apa apa mau maen asal tebas saja ya," ucap Xiao Tian sambil tersenyum.
"Kau lupa merubah wajahmu, Xiao Tian," ucap Dian Zeng sambil tersenyum tipis.
"Xi ... Xiao Tian?"
"Maksud guru, dia .... ," ucap para roh iblis sambil menelan ludah mereka secara bersamaan.
"Sepertinya mereka harus diajari cara untuk mengenali orang," ucap Xiao Tian sambil tersenyum tipis.
"Akan kuajarkan nanti, tapi sebelum itu bisakah kau katakan apa tujuanmu datang kemari?" tanya Dianzeng sambil tersenyum tipis.
"Tentu saja untuk mencari ayahmu, apakah dia ada bersamamu?" tanya Xiao Tian sambil menatap Dianzheng.
"Oh, jadi kau mencari dia ya?" ucap Dian Zeng sambil memasang wajah kesal.
Prok prok
Setelah bertepuk tangan sebanyak dua kali, delapan buah pintu coklat muncul di sebelah kanan dan kiri Dianzheng.
"Pintu apa itu?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Pintu itu menuju ke tempat teman temanmu berada, ayahku bilang dia ingin melihat perkembangan mereka. Kau mungkin bisa bertemu dengannya jika masuk ke salah satu pintu itu," ucap Dian Zheng sambil memasang wajah kesal.
"Ngomong ngomong kenapa kau terlihat kesal sejak aku bertanya soal ayahmu?" tanya Xiao Tian sambil menatap Dian Zheng.
"Bukan apa apa, akupun bingung akan hal itu. Padahal tak ada masalah antara kami, tapi entah mengapa belakangan ini aku merasa kesal setiap kali mengingat wajahnya," ucap Dian Zheng sambil memegang dahinya.
"Apakah ingatannya perlahan pulih?"
"Aku harus bertanya pada Dewa petir soal masalah ini. Jika tidak, aku takut Dian Zheng malah kembali ke jalan iblis," pikir Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Apa yang kau tunggu?"
"Pergilah, dan masuki salah satu pintu. Ruang hampa ini terlalu luas bagimu. Kau tak bisa melacak keberadaan mereka dengan kemampuanmu yang sekarang," ucap Dian Zheng sambil menatap mata Xiao Tian.
"Aneh sekali, padahal dia begitu penakut saat berada di jalan iblis. Kenapa saat ini dia menjadi begitu kuat bahkan melebihi diriku?"
"Mungkinkah itu karena dia telah menerima darah Dewa yang mengalir di tubuhnya?" pikir Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Apa yang kau tunggu?"
"Berhenti menatapku seakan kau ingin memakanku," ucap Dian Zheng sambil memasang wajah yang mual.
"Hei, aku masih normal. Aku tak akan memakanmu, baiklah aku akan pergi," ucap Xiao Tian sambil menghela napas.
"Oh iya, setelah aku menemui ayahmu. Bolehkan aku meminjam murid muridmu?" tanya Xiao Tian sambil menatap Dian Zheng.
"Oh ,"
"Bawa saja mereka, lagipula sejak awal kau yang telah membawa mereka kemari. Kalau kau ingin membawa mereka lagi, ambil saja," ucap Dian Zheng dengan tampang datar.
"Kalian dengar itu?"
"Tunggu aku kembali ya, kawan kawan?" ucap Xiao Tian sambil tersenyum.
Xiao Tian pun berjalan memasuki salah satu pintu dan lenyap dari pandangan semua orang.
"Sepertinya kalian sudah pandai menyerang orang ya," ucap Dian Zheng sambil tersenyum.
"Entah mengapa aku merasa tidak nyaman melihat senyuman guru," ucap medusa sambil menelan ludah.
"Sepertinya dia akan menghukum kita atas perlakuan kita tadi," ucap roh iblis buaya sambil memasang wajah takut.
"Berdoa saja semoga pangeran Xiao Tian segera kembali dan membawa kita pergi," ucap roh iblis kerbau sambil mengeluarkan keringat dingin.
"Apakah kalian sudah melupakan ajaranku?"
"Bukankah aku sudah bilang agar tak menyerang orang sembarangan!" bentak Dian Zheng sambilengeluarkan hawa membunuh.
"Ampun guru!" ucap para roh iblis sambil bersujud meminta ampunan.
#####
Di suatu tempat di ruang hampa
Xiao Tian melihat ke sekitar, namun tak merasakan hawa keberadaan Dewa petir sama sekali. Yang fia lihat saat itu hanyalah Putri Jia Li yang sedang fokua melatih teknik beladirinya bersama para golem es. Dia membuat ribuan golem es untuk dijadikan lawan tanding hanya dengan tangan kosong.
"Sepertinya Dewa petir tak ada disini, huft," pikir Xiao Tian sambil menghela napas.
Sunlong keluar dari cincin ruang saat Xiao Tian telah masuk ke dalam pintu Dian Zheng.
Sambil menahan lapar dia pun berkata,
"Bisakah kita makan terlebih dulu?"
"Aku sangatlah lapar saat ini," ucap Sunlong sambil memegang perutnya.
"Cari saja makan sendiri, aku tak punya makanan untuk seorang roh," ucap Xiao Tian sambil menatap Sunlong.
"Kau kan punya banyak kekuatan jiwa, berikan sedikit kepadaku jangan pelit!" bentak Sunlong dengan kesal.
"Apa itu caramu meminta bantuan kepada seseorang?" tanya Xiao Tian sambil menatap Sunlong.
"Kumohon ... ," ucap Sunlong sambil memasang wajah memelas.
"Baiklah, akan kuberikan sebagian kekuatan jiwaku kepadamu karena kau sudah bersikap baik," ucap Xiao Tian sambil memegang kepala Sunlong.
Xiao Tian menyalurkan kekuatan jiwanya ke arah kepala Sunlong, hingga membuatnya terisi penuh dan berhasil menerobos ke tahap petarung bintang lima.
"Kultivasimu benar benar rendah ya, sebenarnya apa yang para pembasmi iblis lakukan padamu sebelumnya?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
Ketika sedang asik menyerap kekuatan jiwa, Xiao Tian memutus aliran kekuatan jiwanya secara tiba tiba hingga membuat Sunlong bertanya tanya.
"Hei kenapa kau menghentikannya?"
"Kultivasi kita masih bagaikan langit dan bumi, jangan berhenti sebelum kultivasiku berguna untukmu," ucap Sunlong dengan kesal.
"Terlalu berbahaya bagi tubuh mungilmu jika aku memberikan kekuatan jiwa lebih dari ini. Lakukan saja secara perlahan. Sesuatu yang berlebihan itu todaklah baik," ucap Xiao Tian sambil tersenyum.
"Aku tak peduli, saat ini aku masih terlalu lemah. Lanjutkan saja!" ucap Sunlong sambil menatap Xiao Tian.
"Haih, bersabarlah. Aku yakin kau tahu alasanku menghentikan aliran kekuatan jiwa. Rohmu tak akan bisa bertahan lama jika memaksa untuk menyerap lebih dari ini. Lihatlah tubuhmu terlihat mulai memudar," ucap Xiao Tian sambil menatap tajam Sunlong.
"Tapi aku tak mau menjadi sampah terus menerus," ucap Sunlong dengan tampang kesal.
"Kekuatan jiwamu kan tak terbatas, tolong berikan lagi,"
"Aku yakin aku bisa menahannya," ucap Sunlong dengan napas terengah engah.
"Dasar pembohong, berhenti memaksakan diri. Kalau kau mau cepat menyusulku, bukan seperti ini caranya," ucap Xiao Tian dengan tampang kesal.
"Memangnya ada cara lain?" tanya Sunlong sambil menatap Xiao Tian.
"Menelan lautan jiwa seseorang, hanya itu cara tercepat dan paling aman," ucap Xiao Tian sambil menatap Sunlong.
Sunlong langsung menundukkan kepalanya setelah dia mendengar jawaban Xiao Tian, terlihaylt jelas bahwa dia memang tahu cara tersebut. Hanya saja tak yakin bahwa cara itu bisa dilakukan atau tidak.
"Aku tahu kalau itu memang bisa dilakukan. Tapi syarat untuk menembakkan lautan jiwa ke lautan jiwa orang lain adalah memiliki sebuah tubuh."
"Ada sih cara lainnya, namun cara itu juga agak mustahil untuk dilakukan. Aku harus benar benar menemukan orang yang mau beradu kekuatan mental denganku. Menemukan orang yang dengan suka rela menembakkan lautan jiwanya ke arahku hingga bisa kutelan habis tanpa sisa," ucap Sunlong dengan tangan yang terkepal.
"Percaya atau tidak, kau pernah berhasil memancing emosi seseorang hingga menelan habis lautan jiwanya. Tapi itu cerita lama yang lenyap karena relik menyebalkan milik Tian Zong," ucap Xiao Tian sambil memasang wajah kesal.
"Begitu ya, jadi kau pernah melihatku menelan kekuatan jiwa seseorang. Pantas saja kau tak meragukan kekuatan mentalku," ucap Sunlong sambil mengerutkan dahi.
"Karena sekarang semuanya dimulai dari nol, kita harus mencari korban lain untuk meningkatkan kultivasimu," ucap Xiao Tian sambil tersenyum tipis.
"Ngomong ngomong, apakah kau mau menyapa tuan putrimu?"
"Dia terlihat begitu fokus disana, hingga tak menyadari kehadiranmu," ucap Sunlong sambil menatap ke arah putri Jia Li.
"Biarkan saja, aku tak mau mengganggu latihannya. Lagi pula prioritas utama kita saat ini yaitu menemukan Dewa petir," ucap Xiao Tian sambil mengaktifkan teknik teleportasi.
"Teruslah berjuang, Lily," ucap Xiao Tian tepat sebelum dia menghilang.
Woosshhh
"Perasaanku saja, atau aku memang mendengar suara Yan Yan tadi?" pikir Jia Li sambil menoleh ke belakang.
###
Disuatu tempat dimana Dian Zheng melatih para roh iblis
"Yo, sepertinya kau belum menemukan ayahku. Cobalah cari di pintu yang lain," ucap Dian Zheng sambil menepuk tangannya.
Prok prok
"Perasaanku saja atau tempat ini mendadak sepi?"
"Kemana para roh iblis yang kau latih?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Mereka ada di belakangmu," ucap Dian Zheng sambil memasang wajah datar.
Saat Xiao Tian dan Sunlong menoleh ke belakang, mereka melihat para roh iblis pingsan dengan roh yang terlihat seakan habis terbakar hingga mengeluarkan asap.
"Sebenarnya apa yang dia lakukan pada mereka?" pikir Xiao Tian dan Sunlong sambil memasang wajah heran.
"Kenapa kalian diam?"
"Cepat lanjut cari di pintu yang lain, jangan hawatirkan mereka. Aku melatih mereka dengan baik kok. Aku jamin tak akan ada yang tewas," ucap Dian Zheng sambil tersenyum.
"Yah, secara teknis mereka memang sudah tewas kan," ucap Xiao Tian sambil menatap Dian Zheng.
"Bukan itu maksudku, aku akan memastikan roh mereka tetap utuh hingga kau siap membawa mereka kembali," ucap Dian Zheng sambil tersenyum tipis.
"Oh iya, apakah kadal kecil di pundakmu juga ingin kulatih?" tanya Dian Zheng sambil menatap Xiao Tian.
"Hehe." Sunlong lqngsung lenyap dari pandangan semua orang, dan bersembunyi ke dalam cincin ruang dengan reflek.
Woooshhh
"Sepertinya dia tidak mau, kau lanjutkan saja latihan murid muridmu," ucap Xiao Tian sambil menatap Dian Zheng.
"Ya sudah, kalau begitu cepatlah pergi. Aku tak bisa memulai latihannya jika ada orang lain diaini," ucap Dian Zheng sambil tersenyum.
"Baiklah sampai jumpa," ucap Xiao Tian sambil berjalan memasuki pintu yang lain.
####
"Nah, sekarang pengganggunya sudah pergi. Kita lanjutkan latihan berikutnya," ucap Dian Zheng sambil memasang senyum jahat.
"A ... ampun guru, kami sudah tidak sanggup lagi!" ucap para roh iblis sambil bersujud minta ampun.
"Heal!" ucap Dian Zheng sambil menyembuhkan luka semua roh secara bersamaan.
"Sekarang kalian tak memiliki luka, kira mulai lagi latihannya," ucap Dian Zheng sambil tersenyum tipis.
Jederrr
Duarrr
"Ampun guru!" teriak para roh iblis.