Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 271 : Huanran dan rahasianya


Bukannya mengejar Dewa petir atau mencari para prajurit serta jenderal Huang Cheng, Xiao Tian memilih kembali ke alam nyata untuk menjemput Taiwu dan yang lainnya.


"Huft, biarlah mereka mencariku di ruang hampa. Aku ingin ... ," belum sempat Xiao Tian pergi, Dewa petir tiba tiba saja berada tepat di hadapan Xiao Tian.


"Mau pergi kemana?" tanya Dewa petir yang muncul secara tiba tiba tepat di hadapannya.


"Eh Copot!" ucap Xiao Tian dengan jantung yang berdetak kencang.


"Bisakah kau berhenti mengagetkanku!" bentak Xiao Tian dengan tampang kesalnya.


"Santai kawan, santai. Semua bisa kita bicarakan dengan damai," ucap Dewa petir sambil menepuk pundak Xian Tian.


"Damai matamu!" ucap Xiao Tian sambil mencoba memukul Dewa petir, namun tangannya menembus roh Dewa petir sehingga tak bisa membalas tepukan Dewa petir.


"Ayo pukul aku, ayo!"


"Sampai ayam jago beranak pun aku sangat yakin bahwa kau tak akan bisa menyentuhku, heheheheh," ucap Dewa petir sambil memasang wajah konyolnya.


"Kenapa bisa begini?"


"Jurus apa yang sedang kau gunakan?"


"Kenapa kau bisa menyentuhku tapi aku tidak bisa?"


"Kau bahkan bisa muncul di hadapanku tanpa melewati portal terlebih dulu," tanya Xiao Tian dengan napas terengah engah karena dia terus menerus mencoba memukul Dewa petir yang terus meledeknya.


"Ingin tahu?"


"Wani piro ... ," ucap Dewa petir sambil meledek Xiao Tian.


"Bisakah kau berhenti mengatakan bahasa dari alam semesta pertama!"


"Kau benar benar menjengkelkan saat mengatakannya tahu!" ucap Xiao Tian sambil membentak Dewa petir.


"Aih, kau harusnya bangga karena memahami bahasa yang tak dimengerti oleh orang orang di alam semesta ini. Bahkan Huanran pun tak malu si gendut dengan sebutan mas," ucap Dewa petir dengan tampang seriusnya.


"Setelah kau mengatakan hal tersebut, aku jadi kepikiran soal Huanran. Apa kau tahu dari mana dia mendapatkan kata mas?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


"Percaya atau tidak, dia sama seperti dirimu," jelas Dewa petir.


"Maksudmu?"


"Dia juga seseorang yang telah bereinkarnasi dari alam semesta lain?" tanya Xiao Tian sambil menatap mata Dewa petir.


"yap benar sekali," jawab Dewa petir.


"Kalau dia juga seorang yang telah bereinkarnasi dari alam semesta lain sepertiku, kenapa dia bisa mati dengan mudah di usia yang sangat muda?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


"Sangat muda?"


"Asal kau tahu saja, umurnya ratusan tahun di atasmu. Tak hanya umur yang jauh berada di atasmu, dia bahkan memiliki tingkat kekuatan yang tak kalah tinggi."


"Huanran telah menjadi seorang pendekar alam Langit jauh sebelum menikah dengan si Gendut."


"Namun kultivasinya lumpuh hanya karena bertarung dengan seseorang," jelas Dewa petir.


"Siapa?" tanya Xiao Tian.


"Seseorang yang nama aslinya belum di ketahui oleh semua orang di planet ini. Seseorang yang jauh lebih mengerikan dari pada kaisar iblis serta pendiri sekte pembasmi iblis sekalipun. Dia adalah guru dari gurunya pendiri sekte pembasmi iblis. Orang kedua yang tak boleh kau singgung untuk saat ini," jelas Dewa petir.


"Orang kedua?"


"Siapa orang pertama?" tanya Xiao Tian dengan tatapan penasaran.


"Tentu saja Dewa iblis Yong Heng. Dia terlalu berbahaya bagimu, karena Wu Kong yang telah melewati tingkatan seorang pendekar alam Dewa saja masih belum bisa melumpuhkan kultivasi Yong Heng secara penuh."


"Dia terlalu berbahaya namun begitu pandai menyembunyikan diri. Terakhir ku ingat Dewa kera tak memerlukan kloningnya saat menghajarnya di alam para Dewa. Namun perkembangannya menjadi begitu cepat setelah selang ribuan tahun menghilang dari pelacakan langit."


"Secara berurutan, tingkatan kultivasi setelah Dewa Petarung adalah, pendekar alam ilusi, pendekar alam roh, pendekar alam Beast, pendekar alam mortal, pendekar alam naga, pendekar alam fana, pendekar alam angin, pendekar alam langit, pendekar alam peri, pendekar alam surga, pendekar alam immortal, hingga pendekar alam Dewa.


Dan di atas kultivasi seorang pendekar alam Dewa masih ada beberapa tingkatan lagi hingga menuju pendekar alam budha."


"Ingatlah, kekuatanmu saat ini masih jauh dari aman. Seorang pendekar alam roh sepertimu bisa dihancurkan kapan dan dimana saja. Jadi janganlah berpuas diri," ucap Dewa petir dengan tampang seriusnya.


"Iya iya aku mengerti, ngomong ngomong apakah kepalamu terbentur?"


"Kenapa kau mendadak seserius ini?" tanya Xiao Tian sambil mencoba menepuk pundak Dewa petir. Namun tangannya tembus begitu saja.


"Bukankah sudah kubilang percuma saja mencoba menyentuhku?"


"Aku hanyalah sebuah kloning roh Dewa petir yang disimpan di dalam cincin ruangmu. Kau hanya bisa menyentuh roh utamaku. Sedangkan roh kloning sepertiku tak akan pernah bisa kau sentuh."


"Aku terpaksa menjelaskan semua ini kepadamu karena hanya roh utama yang bisa merasukimu. Aku tak bisa melakukan apapun selain menyentuh dan berbicara padamu," jelas Dewa petir.


"Pantas kau terlihat begitu serius. Tenang saja dengan teknik teleportasi aku pasti aman," jawab Xiao Tian.


"Jangan terlalu membanggakan teknik tersebut. Ada banyak hal yang bisa membuat teknik itu tak berguna, seperti relik penetral sihir, jimat pembatal sihir dan masih banyak lagi. Jika kau tak waspada dan tak mendengarku saat ku suruh pergi, maka jangan salahkan aku jika kau tiada lagi," sambung Dewa petir dengan tatapan serius.


Xiao Tian langsung tersenyum tipis melihat Dewa petir begitu serius melindunginya. Meski tahu bahwa yang di depannya hanyalah kloning roh Dewa petir, namun dia sangat menghormatinya karena jauh lebih serius dari pada roh utamanya. Meski di awal awal dia tak kalah koplak dengan roh utamanya.


Tadinya mereka berbicara sambil berhadap hadapan. Namun setelah berbicara panjang lebar, akhirnya mereka memutuskan untuk berbincang bincang sembari berjalan menuju istana kerajaan petir.


Mereka mengobrol melalui telepati karena tak ingin ada yang tahu apa yang sedang mereka bicarakan.


"Bisakah kau beritahu umur asli Huanran?"


"Kenapa wajah dan tubuhnya masih terlihat muda, dan bagaimana bisa dia mengenal si gendut?"


"Bukankah menurut cerita si gendut, Huanran hanyalah gadis yatim piatu yang tak berdaya?"


"Jika dia memang seorang pendekar alam langit, bagaimana bisa dia melupakan semuanya hingga mau menikahi si Gendut yang saat itu hanyalah orang biasa."


"Dan satu hal lagi, si Gendut juga pernah bilang kalau pangeran Bing Xuan Ho yang telah merebut istrinya. Namun kenapa tubuhnya bisa ada di pagoda iblis?"


"Aku sangat yakin bahwa tubuhnya itu dirasuki oleh iblis saat itu."


"Tolong jawab semua pertanyaanku itu," tanya Xiao Tian melalui telepati.


"Pertanyaanmu itu begitu banyak, aku tak bisa menjawab semuanya. Meski aku tahu jawaban dari pertanyaan pertanyaanmu itu, aku tak bisa menjawab semua itu sekarang."


"Karena kau akan mengetahuinya sendiri suatu saat nanti. Satu satunya yang bisa kujawab saat ini yaitu umur Huanran saja. Dia telah mencapai dua ratus dua puluh dua tahun, dengan kata lain dua ratus tahun di atas usiamu," jelas Dewa petir.


"Du ... dua ratus dua puluh dua tahun!"


"Dengan umur setua itu, apakah dia bisa punya anak dari pernikahannya dengan si Gendut?" tanya Xiao Tian.


"Dia memiliki tubuh unik yang diimpikan semua wanita. Tubuh yang tak akan pernah menua tak peduli selemah apapun kultivasi pemilik tubuhnya. Tubuh yang abadi dan tak akan pernah membusuk meskipun terpisah dari rohnya. Dan yang paling membuat orang sangat menginginkan tubuhnya yaitu, tubuh penghasil pendekar sakti."


"Tubuhnya setara dengan tubuh para immortal sejak lahir, dan dia berhenti menua sejak berusia dua puluh tahun."


"Semua orang memanggil tubuhnya dengan sebutan tubuh immortal Yin."


"Itu saja yang bisa kujelaskan padamu, jangan menanyakan hal yang lain lagi. Karena aku tak ada waktu lagi," ucap Dewa petir dengan tubuh yang mulai memudar.


"Hai kau terlihat semakin memudar, apa yang terjadi?" tanya Xiao Tian.


"Sebagai seorang kloning seharusnya aku tak banyak bicara agar bisa bertahan lebih lama. Karena aku telah memberitahumu begitu banyak imformasi, maka aku akan menghilang dan kembali bersatu dengan roh utamaku. Ingatlah jaga dirimu baik baik saat aku tak ada, Xiao Tian," ucap Dewa petir sambil tersenyum tipis.


"Akan kuingat semua kata katamu itu," sambung Xiao Tian sambil membalas senyuman Dewa petir.


Tak lama setelah itu kloning roh Dewa petir menghilang dari pandangan Xiao Tian. Saat itu Xiao Tian masih di wilayah klan Huang dan kebetulan tak ada orang yang melihatnya saat sedang tersenyum ke kanan sambil melihat ke arah kloning roh Dewa petir yang saat ini telah menghilang.


Setelah kloning roh Dewa petir benar benar menghilang, Xiao Tian pun melanjutkan perjalanan menuju istana.