
Setelah lulus dari ujian alam roh, Xiao Tian memasuki portal emas yang muncul tepat di belakang punggungnya.
Setelah memasuki portal tersebut, dia pun kembali ke alam nyata. Hal pertama yang dia lihat di alam nyata yaitu tubuhnya yang terlihat begitu tegang dan gemetaran seperti sedang menahan sakit yang teramat luar biasa. Dia juga melihat Sunlong yang masih memandang tubuhnya seperti krang yang sedang merasa cemas.
Melihat Sunlong memiliki rasa khawatir terhadap keadaanya, Xiao Tian pun tersenyum tipis sambil meneteskan air mata.
Dia memandang Sunlong begitu lama karena ingat kalau hari ini mungkin hari terakhir dia bertemu Sunlong.
Ketika Xiao Tian masih memandang Sunlong dengan air mata yang mengalir di wajahnya, Dewa kera Sun Wukong yang saat itu berdiri di belakang tubuh Xiao Tian menegur Xiao Tian melalui telepati.
"Apa yang sedang kau lakukan?"
"Cepat masuk ke dalam tubuhmu sebelum waktumu habis!"
"Kau sudah kehilangan cukup banyak darah, jika kau terus begini kau akan tetap mati meski telah lulus ujian alam roh," ucap Dewa Kera Sun Wukong lewat telepati.
"I ... iya, maaf aku terlalu terbawa suasana," ucap Xiao Tian sambil menghapus air matanya.
Setelah menghapus air matanya. Xiao Tian langsung melanjutkan langkahnya untuk masuk kembali ke dalam tubuh fisiknya.
Tepat ketika sudah berjarak dua langkah dari Xiao Tian, portal emas yang menjadi penghubung antara alam roh dan alam nyata.
Ketika roh dan tubuh Xiao Tian menyatu, sebuah cahaya perak berbentuk rantai muncul dari telapak tangan Xiao Tian. Rantai tersebut terus memanjang hingga terhubung dengan leher Sunlong.
Ketika sudah mencapai leher Sunlong, rantai perak tersebut langsung hancur dan menmenghilang dari pandangan semua orang. Ketika telah kembali ke tubuhnya, Xiao Tian langsung memegang dadanya yang terasa begitu sesak.
Dengan napas yang terengah engah, Xiao Tian langsung melirik ke arah Sunlong sambil tersenyum tipis. Setelah tersenyum kepada Sunlong dalam waktu yang cukup singkat, Xiao Tian langsung tumbang karena tak kuat menahan rasa sakit yang dia derita.
Meski rohnya tidak terluka, fisiknya mengalami luka dalam yang luar biasa. Karena itu dia kehilangan kesadarannya hingga terjatuh menghantam tanahsecara perlahan.
Sunlong yang saat itu berada di pundak kanan Xiao Tian langsung panik setelah melihat Xiao Tian pingsan.
Dia mengeluarkan begitu banyak keringat dingin karena merasa khawatir dengan keadaan Xiao Tian.
Sambil melompat ke hadapan Xiao Tian dia pun berkata, "Bertahanlah, aku akan menangkapmu!"
Sunlong melompat turun ke hadapan Xiao Tian dengan tujuan agar bisa menangkap tubuhnya yang tak berdaya. Akan tetapi karena kontrak mereka telah terlepas, Sunlong tak bisa menyentuh tubuh Xiao Tian lagi.
Tepat ketika raga Xiao Tian terjatuh ke arahnya, Sunlong tak bisa menangkap tubuh Xiao Tian karena dalam wujud roh yang telah bebas dari ikatan kontrak.
Ketika dia telah menembus tubub Xiao Tian, Sunlong pun sadar bahwa kontraknya telah berhasil dilepaskan. Dia benar benar telah mencapai kebebasan.
Seharusnya dia merasa senang, tapi hatinya merasakan kebimbangan.
"Kenapa aku merasa ada sesuatu yang hilang?"
"Seharusnya aku merasa senang karena ikatan kontrak roh bela diri telah terlepas."
"Xiao Tian telah pingsan, apakah aku harus menunggunya kembali tersadar?" pikir Sunlong dengan penuh rasa bimbang.
"Tenanglah, kau tak perlu khawatir. Dia akan baik baik saja. Aku akan membangunkannya sekarang juga, jadi menyingkirlah dari dekat tubuh Xiao Tian," ucap Sun Wu Kong sambil menatap Sunlong.
Mendengar ucapan Sun Wukong, Sunlong mulai terasa lebih lega. Dia pun langsung berjalan menjauhi tubuh Xiao Tian hingga berjarak dua langkah orang dewasa dari tempat tubuh Xiao Tian terbaring lemas.
Ketika Wu Kong berjalan mendekati Xiao Tian, Sunlong menahannya agar tak menyambuhkan Xiao Tian sebelum dia pergi.
Sambil membuang wajahnya karena tak sanggup mengatakan kata perpisahan kepada Xiao Tian, Sunlong berkata, "Tunggu!"
"Jangan sadarkan dia sebelum aku pergi menjauh!"
"Apa kau tak ingin berpamitan?"
tanya Dewa Petir yang saat itu berada di belakang tubuh Wu Kong.
"Aku tak perlu berpamitan dengan seorang manusia. Sampai jumpa Dewa Tengik," ucap Sunlong sambil berlari menjauh.
Setelah Sunlong pergi Xiao Tian tersadar dari pingsannya berkat bantuan Dewa Kera Sun Wu Kong. Ketika kesadarannya belum terkumpul secara penuh, Xiao Tian melirik ke kanan dan kekiri seperti sedang mencari sesuatu.
"Apa yang kau cari?" tanya Dewa Petir.
"Dimana Sunlong?" tanya Xiao Tian dengan keadaan setengah sadar.
"Dia telah pergi entah kemana," ucap Dewa Petir.
"Kenapa kalian baru menyadarkanku sekarang?" tanya Xiao Tian sambil menatap Dewa Petie dan Dewa Kera Sun Wu Kong.
"Sunlong bersi keras menyuruh kami agar tak menyadarkanmu saat itu, kami hanya menghormati keputusannya," jawab Wu Kong sambil menatap Xiao Tian.
"Begitu ya ... ," Xiao Tian menundukkan kepalannya sambil mengepalkan kedua tangannya begitu lama. Melihat Xiao Tian terlihat begitu frustasi, Dewa kera Sun Wukong menepuk pundak Xiao Tian sambil berkata, "Tenanglah, kalian tak akan berpisah dalam waktu yang lama."
"Maksudmu?" tanya Xiao Tian sambil menatap Wu Kong dengan tatapan heran.
Ketika Wu Kong ingin menjelaskan ucapannya, efek sihir terlarang telah habis. Sebuah lingkaran sihir muncul di bawah kakinya, lalu tubuh Wukong bersinar begitu terang dan berubah menjadi Su Yan dalam sekejap mata. Su Yan muncul sambil memakai penutup mata berwarna hitam yang menutupi mata kirinya begitu rapat.
"Su Yan?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahinya.
"Ketua?" ucap Su Yan dengan mata kanan yang terbelalak. Su Yan langsung memeluk Xiao Tian sambil menangis tersedu sedu hingga membasahi kedua pipinya.
"Syukurlah kau tak apa apa, aku sangat takut saat melihat musuh di pagoda tingkat lima memiliki kekuatan yang jauh diatas nalar manusia,"
"Syukurlah sihirnya bekerja dengan baik," ucap Su Yan sambil memeluk Xiao Tian begitu erat.
"Bagaiman caramu memanggil Dewa Kera Sun Wu Kong?"
"Darimana kau belajar mantra sihir tersebut?"
"Dan kenapa para Dewa mengatakan kalau sihir tersebut merupakan sihir terlarang?"
tanya Xiao Tian sambil mendorong Su Yan mundur.
"Karena mantra tersebut perlu sebuah pengorbanan," ucap Su Yan sambil tersenyum tipis.
Xiao Tian terkejut mendengar jawaban Su Yan. Dan yang paling membuatnya terkejut adalah penutup mata kiri berwarna hitam yang Su Yan pakai. Setelah mendengar ucapan Su Yan, Xiao Tian bisa memahami apa yang telah Su Yan korbankan demi memanggil Dewa Kera Sun Wu Kong.
Meski tahu Su Yan telah mengorbankan matanya, Xiao Tian tetap menarik paksa penutup mata milik Su Yan demi memastikan kebenarannya.
Ketika penutup mata tersebut berhasil dia tarik, Xiao Tian terkejut bukan main melihat bola mata Su Yan yang telah menghilang.
"Su Yan ... ,"
"Matamu ... ?"
"Apa kau mengorbankan matamu demi menyelamatkanku?" tanya Xiao Tian dengan mata yang terbelalak.
"Tenanglah ketua, ini hanyalah salah satu mataku yang sudah tidak berguna lagi. Aku masih memiliki mata kanan untuk melihat banyak hal," ucap Su Yan sambil menepuk pundak Xiao Tian.
"Maafkan aku ... , semua karena aku masih terlalu lemah. Jika aku tidak lemah hal seperti ini tak akan terjadi padamu, maafkan aku Su Yan," ucap Xiao Tian sambil menundukkan kepalanya.
"Sudahlah, jangan dipikirkan. Anggap saja itu balasan atas apa yang telah kau lakukan padaku selama ini,"
"Meski pengorbananku tak seberapa, setidaknya aku bisa menyelamatkanmu sesekali," ucap Su Yan sambil tersenyum tipis.
"Terimakasih, Su Yan ... ," ucap Xiao Tian sambil menundukkan kepalanya.
"Sudahlah, jangan merenung terus. Kaibo dan yang Liang Su pasti bisa kita rebut kembali. Untuk sekarang kita fokus menyelamatkan Huang Li terlebih dulu, oke." Su Yan menepuk punggung Xiao Tian dua kali, lalu mengambil kembali penutup mata yang Xiao Tian renggut darinya.
"Kau benar, kita harus pergi sekarang," ucap Xiao Tian sambil berusaha bersikap tegar.