
Xiao Tian bersama Kaibo pergi ke arah selatan kerajaan Es sambil menaiki naga hitam raksasa. Mereka menuju ke Kediaman siluman harimau untuk membebaskan putri Jia Li dan Putri Feng Yin.
Xiao Tian duduk di punggung naga hitam raksasa karena belum yakin dengan kondisi tubuh Kaibo. Dia khawatir kalau kondisi Kaibo belumlah stabil karena baru saja tersadar dari belenggu labirin es. Dalam perjalanan menuju ke selatan, Kaibo bertanya kepada Xiao Tian.
"Kak Xiao Tian, sejak kapan putri Feng Yin ada ditangan siluman harimau?" tanya Kaibo.
"Sejak kemarin." jawab Xiao Tian.
"Sejak perang berakhir jenderal Feng Long mencari putri Feng Yin mati-matian. Dia tak memperdulikan kesehatannya demi menemukan tubuh putri Feng Yin. Apa Jenderal Feng Long tahu soal ini?" tanya Kaibo.
"Begitu ya, sepertinya aku harus meminta maaf kepada Jenderal Feng Long." jawab Xiao Tian.
"Apa maksud kak Xiao Tian?" tanya Kaibo.
"Selama ini, putri Feng Yin berada dalam perlinduganku. Tak ada yang mengetahui posisi putri Feng Yin selain diriku." jelas Xiao Tian.
"Lalu bagaimana dengan kak Huang Li dan ratu Feng Ping?"
"Apa mereka juga ada dalam perlindunganmu?" tanya Kaibo.
"Untuk Huang Li, aku tegaskan padamu kalau dia aman dan masih dalam genggamanku. Sedangkan ratu Feng Ping telah menjadi seorang Kaisar iblis."
"Aku tahu mungkin agak sulit di percaya, tapi itulah yang terjadi." jelas Xiao Tian.
"Aku percaya kok, lagi pula untuk apa kak Xiao Tian berbohong soal itu."
"Oh iya, bisakah kau tanyakan kepada Dewa Petir tentang segelku?"
"Jika bisa mintalah Dewa petir untuk membuka segel yang membelunggu tubuhku hingga tak bisa menjadi dewasa dan kehilangan banyak teknik tingkat tinggi." sambung Kaibo.
"Dewa Petir, kau mendengar itu kan?"
"Bisa kau jawab pertanyaanya?" tanya Xiao Tian.
"Jawabannya sama seperti dulu, sebelum mengalahkan sang pengguna segel, maka segel itu tak akan pernah terlepas."
"Segel itu dibuat oleh seorang pendeta tingkat tinggi. Aku tak tahu caranya membuka segel cahaya yang menempel pada tubuh Kaibo.
Hal itu juga berlaku pada tubuh Jingmi, hanya saja segel yang berada di tubuh Jingmi jauh lebih rumit sehingga tingkahnya jauh lebih kekanak-kanakan jika dibandingkan dengan Kaibo." jelas Dewa Petir.
"Bukankah pendeta yang menyerang Jingmi waktu itu telah tewas?"
"Kenapa segelnya tak hancur?" tanya Xiao Tian.
"Pendeta yang waktu itu, bukanlah pendeta yang membuat seluruh iblis menjadi anak-anak. Ada seorang pendeta yang bersembunyi di balik layar ketika kau ada disana."
"Entah apa yang dipikirkan pendeta itu, hingga tak mau menampakkan dirinya walau komplotannya telah kau bantai tanpa ampun." jelas Dewa Petir.
Xiao Tian mengulang semua perkataan Dewa Petir kepada Kaibo yang tak bisa mendengar ucapan Dewa Petir atau pun melihat roh Dewa Petir.
"Begitu ya, sudah kuduga pasti ada yang bersembunyi di balik layar."
"Soalnya waktu terjadi pembantaian di desaku, semua iblis dewasa yang ingin melawan para pendeta tiba-tiba saja mengalami penyusutan tubuh. Aku pun menjadi bocah berusia 5 tahun karena sebuah serangan yang tak bisa ku prediksi."
"Sebelum menjadi seorang bocah, aku merasa seperti sesuatu telah menusuk leherku."
"Entah benda apa yang merasuki tubuh kami, yang pasti setelah benda itu menusuk kami, tubuh kami berubah menjadi tubuh seorang bocah berusia lima tahun."
"Tak hanya tubuh kami yang mengecil, kesaktian kami pun menghilang tanpa sebab.
setelah semua bangsaku menjadi lemah, para pembasmi iblis membunuh bangsaku tanpa ampun. Mereka membunuh atas nama kebenaran, itulah yang terus mereka katakan."
"Sejak.saat itu aku sangat membenci manusia, terutama seorang pendeta dan pembasmi iblis." ucap Kaibo sambil mengepalkan tangannya.
"Begitu ya, lalu kenapa kau rela mati demi seorang manusia sepertiku?"
"Bukankah kau membenci manusia?" tanya Xiao Tian.
"Kau berbeda dengan manusia yang lain, Kau bukanlah manusia jahat yang menghina bangsa iblis."
"Aku memiliki banyak hutang budi kepadamu, sudah berapa kali nyawaku terancam dan kaulah yang selalu menolongku ketika hal itu terjadi.
" Jadi aku tak mungkin membencimu, kak Xiao Tian." jelas Kaibo.
Setelah Kaibo dan Xiao Tian berbincang begitu lama, Dewa petir memotong pembicaraan mereka.
"Suruh naga hitam mendarat, lokasi siluman harimau tidak jauh dari ini." ucap Dewa Petir.
Dewa Petir menjelaskan kepada Xiao Tian, bahwa alasan mengapa naga hitam harus mendarat secepat mungkin yaitu karena tak ingin para siluman harimau menyadari kehadiran mereka.
Xiao Tian menuruti perintah Dewa Petir tanpa mengeluh sedikitpun. Setelah mendarat ke daratan es, Xiao Tian melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki. Sedangkan naga hitam raksasa mengubah wujudnya menjadi mode mini agar tak ada yang ketakutan ketika melihat wujudnya.
Ketika sudah cukup lama berjalan kaki, mereka terhenti di sebuah jurang yang teramat dalam dan angin kencang menyelimuti bagian tepi jurang itu hingga tak mungkin untuk dilewati.
Ketika Xiao Tian dan Kaibo masih kebingungan harus kemana lagi, Dewa Petir mengucapkan sebuah mantra yang tak di mengerti oleh Xiao Tian. Setelah itu dia menatap badai angin yang menghalangi pandangan. terhitung lima menit sejak Dewa Petir selesai mengucapkan mantra, badai angin menghilang begitu saja dan jurang yang begitu dalam berubah menjadi hutan lebat yang bersalju.
Dewa Petir menjelaskan kepada Xiao Tian bahwa badai angin dan jurang tadi adalah ilusi yang dibuat siluman harimau untuk menyembunyikan lokasi mereka.
"Kenapa tiba-tiba muncul hutan bersalju?"
"Kemana perginya badai angin dan jurang tadi?" tanya Kaibo.
"Berhati-hatilah, aku merasakan hawa membunuh yang sangat banyak dari dalam hutan itu." jelas Dewa Petir.
"Aku mengerti." jawab Xiao Tian.
"Hei kau bicara dengan Dewa Petir lagi?"
"Setidaknya jawab pertanyaanku!" ucap Kaibo dengan kesal.
"Ssttt."
"Jangan berisik, kita harus memasuki hutan itu tanpa mengeluarkan suara sedikitpun." ucap Xiao Tian sambil menutup mulut Kaibo.
Kaibo dan Xiao Tian berjalan menuju hutan bersalju sesuai petunjuk Dewa Petir. Langkah demi langkah mereka lakukan dengan hati-hati tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Selain Dewa Petir tak ada yang bisa merasakan hawa membunuh yang dikeluarkan bangsa siluman.
"Aku memang pernah mendengar tentang kekuatan bangsa siluman dalam bersembunyi, tapi apa mereka memang sangat berbahaya hingga kita harus begitu berhati-hati." Kaibo tak bisa menahan diri karena merasa tak ada bahaya sedikitpun.
Ketika Kaibo baru saja berbicara, beberapa batu kecil di lempar ke arah Kaibo dengan kecepatan tinggi.
Xiao Tian menarik tubuh Kaibo dengan cekatan hingga batu tersebut tak mengenainya.
"Dasar anak nakal, lihat apa yang kau lakukan."
"Lokasi kita telah ditemukan." ucap Xiao Tian.
Ketika melihat ke sekitar, Kaibo baru menyadari di setiap batang pohon bersalju yang berada disekitarnya telah dihinggapi oleh bangsa siluman harimau. Mereka berwajah harimau, namun memiliki postur tubuh selayaknya manusia. Berbulu putih keabu-abuan, dan memakai pakaian layaknya manusia.
"Jadi itu bentuk siluman harimau?"
"Aku jadi teringat Tailung dari film Kungfu panda, mereka terlihat sama persis dengan Tailung. Dari cara mereka berdiri, bulu putih abu-abu mereka, hanya satu yang membedakan mereka dengan Tailung, mereka memakai baju." ucap Xiao Tian.
"Kak Xiao Tian kau ini sedang bicara apa?"
"Kungfu panda?"
"Tailung?"
"Film?" Kaibo bingung dengan ucapan Xiao Tian yang terdengar asing baginya.
"Lupakan saja, itu hanya cerita lama sebelum aku mengenal dunia ini."
"Anggap saja kalau aku sedang mengigau." jelas Xiao Tian.
"Majulah, Tailung!" teriak Xiao Tian.
Setelah mendengar kata Tailung, para manusia harimau terlihat semakin marah.
"Dari mana kau mengetahui nama pemimpin kami!" ucap salah satu siluman harimau.
"Itu bukan urusan kalian, aku datang kemari untuk mengambil kembali apa yang telah pemimpin kalian ambil dariku." jawab Xiao Tian.
"Tuan Tailung berhak memiliki apapun yang dia inginkan, tak ada manusia yang boleh mengambil barang mereka kembali." jawab salah satu siluman harimau.
"Sayangnya yang dia ambil bukanlah barang, dia menculik orang yang sedang aku lindungi." bentak Xiao Tian.
"Kami hanya mencuri barang, kami tak pernah melakukan penculikan."
"Kau pasti salah tempat, pergilah dari sini atau kalian akan mati!" ancam siluman harimau.
"Mencoba menipuku dengan berpura-pura tak tahu ya?"
"Aku yakin kalau putri Feng Yin berada di tangan siluman Harimau, dan putri Jia Li kalian kurung dalam istana es!" bentak Xiao Tian.
"Istana es?"
"Kami tak pernah meninggalkan hutan ini, istana es masih berjarak cukup jauh dari sini dan itu merupakan wilayah kekuasaan sekte iblis."
"Tempat ini tak pernah terjamah manusia sebelumnya, bagaimana caramu masuk ke wilayah kami?" tanya salah satu siluman harimau.
"Itu rahasia." jawab Xiao Tian.
"Kalau begitu, matilah dan biarkan rahasia kalian menjadi rahasia untuk selamanya."
"Semuanya serang!" ucap salah satu siluman harimau.
Ribuan siluman harimau berlari mendekati Xiao Tian dan rombongannya. Meski mereka hanya bersenjatakan cakar tajam, kecepatan langkah mereka tak bisa di remehkan.
Untuk mengantisipasi lawannya Xiao Tian memasang kuda-kuda sambil mengaktifkan teknik tempurung naga.
Dia mengaktifkan teknik tersebut untuk menahan serangan para siluman harimau. Sedangkan Kaibo menyiapkan pedang-pedangnya untuk bertahan sekaligus menyerang para siluman harimau.
bersambung...