
Xiao Tian kembali ke gedung pusat cabang petarung untuk menemui para tetua dan semua murid yang telah dia latih.
Mereka semua sudah duduk di tempat masing masing sambil menunggu kedatangan tiga sekte lain.
Para siswa biasa duduk di kursi penonton. Sedangkan lima murid pilihan duduk tepat dihadapan kursi Patriach yang akan Xiao Tian duduki nanti. Sedangkan Tian Bai duduk sejajar dengan para tetua karena sadar bahwa jabatan patriach sudah seharusnya dikembalikan kepada kakaknya karena telah kembali ke dalam sekte.
Saat itu Xiao Tian muncul di tengah arena ditemani oleh Sunlong yang merasuki tubuh dengan rupa seperti Xiao Tian.
Semua murid, serta tetua alkemis memberi hormat secara bersamaan lalau berkata,
"Selamat datang patriach Tian Zhong, selamat datang tuan Xiao Tian,"
Ketika para tetua alkemis beserta para murid memberi hormat, Tian Bai dan tiga penatua dari cabang petarung terdiam karena tak memahami situasi tersebut.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
"Kenapa penjahat yang paling dicari di daratan Xian Yun bisa ada disini?"
"Dan mengapa seluruh murid serta tetua cabang alkemis memberi hormat," pikir Tian Bai dengan tampang bingung.
"Apa apaan ini, kenapa penjahat nomor satu bisa ada disini?" ucap para penatua cabang petarung dengan mata yang terbelalak.
"Dewa petir?" ucap Xiao Tian melalului telepati.
"Aku mengerti," ucap Dewa petir melalui telepati. Dewa petir mengeluarkan gelombang ingatan untuk membungkam Tian Bai dan ketiga tetua yang masih terlihat kebingungan.
Setelah menerima gelombang ingatan mereka pun terdiam lalu meneteskan air mata setelah mengerti alasan dibalik kepergian Tian Zhong hingga memalsukan kematiannya.
"Kenapa kau baru memberitahuku saat ini kak?" tanya Tian Bai sambil menatap ke arah Xiao Tian yang memiliki rupa Tian Zhong.
"Ma ... maafkan kami karena telah berpikir bahwa kau pergi untuk kesenanganmu sendiri, maafkan kami patriach. Kami tak tahu bahwa tiga puluh tahun terakhir ini, kau memikul beban yang begitu berat seorang diri saja."
"Maafkan kami, patriach kami benar benar menyesal karena telah meragukanmu," ucap para tetua dengan tangis di wajahnya.
"Untuk saat ini, dunia belum mengetahui bahwa aku masih hidup. Dan akan seperti itu untuk selamanya. Kau kembalilah ke tempat dudukmu, karena aku tak akan menunjukkan wajahku secara terang terangan seperti sekarang lagi, ketika sekte lain sampai kemari," ucap Xiao Tian sambil memakai topeng Dewa berbentuk kucing ke wajahnya.
Tak lama setelah itu, tubuh yang Sunlong rasuki mulai terlihat memudar. Sadar akan hal tersebut, Sunlong pun berkata, "Sepertinya waktuku telah habis."
"Kuserahkan sisanya kepadamu," ucap Sunlong yang langsung melesat masuk ke dalam cincin ruang Xiao Tian, meninggalkan tubuh rapuh yang mulai terlihat lenyap dan memudar.
Sebelum semua orang melihat tubuh tiruannya memudar, Xiao Tian langsung menghilangkan tubuh tiruannya dengan menepuk pundak tubuh tersebut.
"Tuan Xiao Tian menghilang karena ingin melindungi kita dari tempat yang tak dapat dilihat oleh semua orang. Sedangkan aku akan menyamar menjadi salah satu tetua dari cabang petarung yang baru," ucap Xiao Tian sambil menatap ke arah para penatua.
"Aku mengerti, kak," ucap Tian Bai sambil beranjak pindah dari kursi para tetua ke kursi seorang patriach. Setelah Tian Bai berada di posisinya, Xiao Tian langsung melesat maju ke tempat yang Tian Bai duduki sebelumnya.
"Ingat baik baik, mulai sekarang tak ada yang boleh memanggilku patriach lagi. Kalian harus memanggilku dengan sebutan penatua Yan," jelas Xiao Tian melalui telepati yang bisa di dengar semua orang.
"Kami mengerti, penatua Yan, ucap para tetua dan murid secara bersamaan.
Tak lama setelah itu, sekte harimau emas datang dengan seluruh murid dan tetua mereka. Mereka berpakaian serba hitam dengan gambar kepala harimau berwarna emas di punggung mereka.
Patriach mereka bernama Jian Su, total tetua dari cabang petarung sepuluh orang dengan kultivasi rata rata mencapai pendekar alam naga lapisan ke empat. Sedangkan Jian Su berada di tingkat pendekar alam naga lapisan ke tujuh.
Kelima murid andalan mereka adalah, Yanlu si cakar emas. Xiang Yue si taring harimau, Li Bai sang pencabik mangsa dan Gu Lin sang dominator. Selain kelima orang tersebut, mereka juga memiliki sepuluh jenius lain yang memiliki kultivasi menacapai tingkat pendekar alam mortal lapisan ke lima.
Sedangkan tetua alkemis sekte tersebut berjumlah lima orang, dengan kultivasi rata rata mencapai tingkat pendekar alam roh lapisan puncak. Dan semua murid murid mereka sudah dipastikan telah menjadi alkemis bintang empat. Sedangkan para tetua telah menjadi alkemis bintang lima baru baru ini.
"Diantara para murid alkemis sekte harimau emas, ternyata tak ada yang menarik. Sepertinya hasil pertarungan alkemis akan tetap sama seperti sebelumnya," gumam Xiao Tian dengan topeng di wajahnya.
"Tak ada satupun pria diantara para alkemis, benar benar pemandangan yang indah," ucap Dewa petir sambil menatap para alkemis.
"Mata kuning menyala, hidung mimisan. Apakah dia meningkatkan matanya dengan kekuatan jiwa?" pikir Xiao Tian sambil melirik ke arah Dewa petir.
Xiao Tian iseng mencoba meningkatkan pandangan matanya seperti Dewa petir, Dengan kekuatan jiwa yang sangat penuh saat ini dia berinisiatif untuk menyalurkan kekuatan jiwa lebih banyak dari pada sebelumnya. Alhasil matanya tak hanya menjadi semakin tajam, dia bahkan bisa melihat menembus pakaian seseorang.
Terkejut akan pemandangan yang baru dia lihat, dia pun langsung menghentikan teknik mata dan memukul Dewa petir dengan sekuat tenaga.
Bukk
"Dewa kampret, beraninya kau menggunakan teknik mata untuk mengintip!" bentak Xiao Tian melalui telepati.
"Kenapa kau memukulku sekeras itu?"
"Aku kan hanya ingin tahu senjata apa yang mereka bawa," sambung Dewa petur sambil mengelap mimisan di hidungnya.
"Oh benarkah?"
"Kalau begitu, apakah kau bisa mengatakan senjata berbahaya apa yang mereka bawa?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Tak ada senjata yang oerlu di khawatirkan, mereka semua bukanlah pengguna relik ataupun pusaka tingkat tinggi," jelas Dewa petir sambil menatap mata Xiao Tian.
Setelah memasuki gedung tersebut, sekte harimau emas langsung melesat ke tempat mereka dengan aura yang terlihat mendominasi.
Tak lama setelah itu, Patriach Sekte naga bersayap masuk membawa sepuluh orang tetua dari cabang petarung, dan tujuh orang tetua dari cabang alkemis. Di belakang para tetua terdapat ratusan murid alkemis, dan ratusan murid petarung.
Diantara mereka semua terdapat lima murid yang sangat mencolok. Shan Ye dengan pedang hiram di tangannya, Zhong Ye dengan dua buah knuckle di tangannya dan Chu bersaudara yang terkenal dengan kesadisan mereka hingga sering kali disebut sebagai trio sadis. Demi menahan amukan dan rasa haus darah mereka, Jingnan dan para tetua sepakat untuk merantai dan memborgol tangan mereka dengan rantai serta borgol emas yang mampu menetralkan kekuatan mereka. Mereka semua berpakaian serba hitam dengan corak naga bersayap di dada kanan dan bagian belakang pakaian mereka.
Dan yang terakhir, sekte singa perak yang sangat sulit dikalahkan dari waktu ke waktu. Berbeda dengan sekte lainnya, semua murid disana benar benar layak disebut sebagai seorang jenius. Mereka memiliki Lima belas orang tetua dari masing masing cabang dengan kultivasi rata rata mencapai tingkat pendekar alam naga lapisan puncak. Sedangkan patriach mereka yang bernama Lian Ting telah menjadi pendekar alam fana lapisan pertama.
Disamping Lian Ting terdapat satu orang utusan kerajaan yang memiliki kultivasi di atas pendekar alam naga. Namanya adalah jenderal Chen Li, kultivasinya telah mencapai pendekar alam fana lapisan kelima. Kehadirannya menjadi sebuah alarm bagi semua orang. Karena meski terlihat sendiri, utusan kerajaan tak sesederhana yang terlihat. Terdapat banyak pasukan bayangan yang bertugas membantunya secara diam diam, jika para sekte tiba tiba berniat menghianati kerajaan dengan mengeroyoknya.
Karena merasa tak sendirian, jenderal Chen Li sangat angkuh dan terkesan memandang rendah semua sekte. Melihat tampang angkuhnya, Xiao Tian hanya bisa tertawa di dalam hati. Semua karena pasukan yang bertugas menjaganya, telah lama dihabisi oleh para siluman rubah merah.
"Karena semuanya sudah berkumpul, maka aku serahkan sisanya kepada Jenderal Chen Li untuk menjelaskan peraturan baru turnamen kali ini," ucap Tian Bai sambil menatap ke arah jenderal Chen Li yang telah berada di posisinya.