
Dewa Erlang dan kelima klon Xiao Tian telah sampai di tempat Xiao Tian berada. Mereka nampak lelah, namun tak memiliki luka yang berarti. Darah yang membasahi pakaian serta tubuh mereka bukanlah darah dari luka pertarungan, melainkan berasal dai darah para blood Chameleon dan genangan darah yang yang menggenang di sepanjang perjalanan.
"Naga hitam" Dewa Erlang berlari mendekati naga hitam yang tergeletak dan berdaya dan yang pertama kali dia lihat.
Sementara itu, salah satu dari kelima klon Xiao Tian segera mengambil tubuh Xiao Tian yang tergeletak. Mereka paham betul dimana tubuh Xiao Tian berada, karena pikiran dan kesadaran mereka terhubung.
Sedangkan Naga hitam dalam keadaan tak sadarkan diri hingga tak dapat memperingatkan kondisi Xiao Tian kepada Dewa Erlang ataupun Kaisar Langit.
Dalam keadaan setengah sadar, Xiao Tian yang sedang digendong salah satu klonnya menatap ke arah punggung Dewa Erlang dan berkata, "Apakah naga hitam baik baik saja?"
"Tentu, dia hanya mengalami luka fisik saja. Tak ada luka dalam yang berarti," jawab Dewa Erlang.
"Syukurlah," selang beberapa detik, Xiao Tian pun kehilangan kesadarannya.
"Apakah Xiao Tian baik baik saja?" tanya Dewa Erlang panik.
"Fakta bahwa kami tak menghilang, adalah bukti bahwa Xiao Tian asli masih hidup," jawab salah seorang klon Xiao Tian dengan serius.
"Bukankah tubuh tiruan seharusnya menghilang jika pengguna teknik sedang tak sadarkan diri?" tanya Dewa Erlang Heran.
"Jangan samakan kami dengan tubuh tiruan. Sama seperti Ego dari Blood Chameleon, kami juga merupakan bagian dari pikiran Xiao Tian. Selagi otaknya masih bekerja, dan dia tidak membatalkan tekniknya. Maka kami akan terus ada hingga kami kehabisan kekuatan ataupun dibunuh oleh seseorang," jawab salah seorang klon dengan tersenyum.
"Sungguh teknik yang luar biasa, apakah Dewa kera yang mengajari teknik ini?" tanya Dewa Erlang dengan antusias.
Kloning Xiao Tian tak menjawab, tetapi hanya menyodorkan tangannya untuk dipegangi Dewa Erlang. Dan tepat setelah Dewa Erlang meraih tangannya, Kloning Xiao Tian pun segera berteleportasi ke luar tubuh Blood Chameleon
Duarr!!!!
Ledakan yang cukup kencang hingga menciptakan hujan darah dan gumpalan gumpalan daging kecil dari Blood Chameleon terjadi begitu saja.
Ledakan darah dan gumpalan gumpalan daging tersebut menandung zat asam yang dapat melelehkan banyak hal, demi melindungi diri mereka, kelima kloning Xiao Tian menyatukan kekuatan untuk menciptakan bola pelindung berlapis Aura Dewa.
"Ledakan yang mengerikan, untung saja kau menteleportasikan tubuh kami," ucap Kaisar Langit dan Dewa Erlang secara bersamaan.
"Oh iya, ngomong ngomong, Kemana perginya puluhan klon yang kalian panggil sebelumnya?" tanya Dewa Erlang yang heran setelah melihat betapa kosongnya wilayah di dalam barrier.
"Kami sudah membatalkan teknik pemanggilan mereka. Akan buruk bagi kami, jika klon kami menghilang karena terluka hingga tiada," jelas klon Xiao Tian sembari tersenyum.
....
Wooshh!!!! Barrier pembatas seketika bersinar menyilaukan. Memaksa kelima klon Xiao Tian dan tubuh gabungan Dewa Erlang bersama Kaisar Langit untuk menutup mata.
Mereka juga melihat para Dewa Dewi yang lenyap menjadi korban, kembali hidup seperti tak terjadi apa apa.
'Meskipun itu hanya setengah dari kekuatan Blood Chameleon, fakta bahwa mereka masih selamat saja sudah merupakan keajaiban. Tapi nampaknya, aku terlalu meremehkan manusia yang bernama Xiao Tian itu. Tak hanya berhasil bertahan, dia bahkan sanggup memusnahkan setengah dari Ego sang Blood Chameleon tanpa bantuanku.' Naga hitam menatap tubuh Xiao Tian yang berada di atas langit dari kejauhan.
"Nampaknya aku terlalu meremehkan muridku," ucap Wukong dengan bangga.
"Sejak kapan dia menjadi muridmu?"
"Sudah jelas dia selamat karena akulah gurunya!" guam Dewa Petir dengan bangga.
"Ngomong ngomong siapa ya, yang terkena kendali Kaisar iblis Jian untuk kedua kalinya?" ledek Wukong.
"Ya ... yang jelas itu bukan aku," jawab Dewa Petir sambil berpura pura tak tahu.
"Ha?" Para Dewa Dewi disekitar mereka menatap Dewa petir dengan tatapan datar.
Sementara itu, disaat kelima kloning Xiao Tian mulai turun dari atas langit. Kaisar Langit kembali mengambil alih kendali tubuh dari Dewa Erlang, dan berkata, "Ingat, jangan ucapkan hal yang macam macam kepada istriku melalui telepati atau hal lainnya. Jika tidak, aku akan menguburmu saat berhibernasi,"
'Aku mengerti,' gumam Dewa Erlang di dalam hati.
'Kenapa dia harus kembali sih?'
'Gagal sudah rencanaku untuk meminang yang baru,' pikir Kaisar Langit kesal.
"Hai istriku ... !" Kaisar Langit turun dari langit untuk mendekati istrinya dengan memasang wajah gembira.
"Suamiku ...!" Istri Kaisar Langit meringankan tubuhnya untuk mendekati Kaisar Langit.
"Istriku ... ," Kaisar Langit meneteskan air mata buayanya.
Seketika, Ratu Langit atau istri dari Kaisar Langit merubah ekspresi imutnya menjadi geram dan berkata, "Apa maksudmu dengan meminang yang baru!"
"Ga ... gawat, aku lupa memblokir pikiranku agar tak terbaca oleh istriku," Kaisar Langit nampak panik dan segera terbang menjauh.
"Berhenti kau tua bangka!"
"Jangan harap kau bisa lolos dariku!" Ratu Langit melesat begitu cepat dengan bola petir di kedua lengannya.
" A ... ampuni aku istriku!" Kaisar Langit melesat pergi secepat yang ia bisa.