
Sejak Dewa Petir menyambarkan petir putih untuk menyerang pelempar tombak hitam, Semua orang di dalam rumah terbangun kecuali si Gendut yang masih terbaring pingsan.
Orang pertama yang terbangun akibat suara sambaran petir putih yaitu Jingmi dan putri Jia Li, diikuti oleh Taiwu dan Su Yan yang membuka mata mereka secara bersamaan.
Naga hitam pun ikut terbangun, hanya saja dia bisa merasakan bahwa suara petir tersebut bukanlah hal buruk. Insting kuatnya mengatakan kalau Xiao Tian tidaklah kenapa kenapa. Karena naga hitam hanya bergerak berdasarkan insting, dia pun kembali tertidur di pelukan Jingmi yang sedang membuka matanya.
Karena Jingmi memiliki sifat seperti seorang anak kecil, dia tak berani mengecek suara itu sendirian. Hal pertama yang dia lakukan adalah menoleh ke arah putri Jia Li yang tidur tepat di sampingnya. Setelah melihat putri Jia Li juga membuka matanya, Jingmi pun berkata,
"Apa kak Jia Li mendengar suara petir itu?" tanya Jingmi sambil memeluk naga hitam versi mini yang tertidur disampingnya.
"Ya, aku mendengar itu," jawab putri Jia Li sambil terbaring di samping Jingmi dengan mata yang terbelalak menatap langit langit ruangan.
"Apa yang harus kita lakukan?"
"Bukankah sekarang giliran ayah Xiao Tian berjaga diluar?" tanya Jingmi sambil menatap wajah putri Jia Li.
Mendengar ucapan Jingmi, putri Jia Li pun bangkit dari tempatnya tertidur. Dia langsung mengangkat badanya hingga dalam posisi duduk, lalu langsung berdiri sambil menatap Jingmi. Ketika sudah berdiri tegak, putri Jia Li menuodorkan tangannya ke arah Jingmi yang masih berbaring di tanah.
"Bangunlah dan bergabung dengan yang lain, aku merasakan firasat buruk tentang suara petir itu," ucap Putri Jia Li berdiri sambil mengulurkan tangan kanannya.
"Tunggu, naga hitam masih tertidur. Aku bangunkan dia dulu. "Jingmi menggoyang-goyang tubuh naga hitam versi mini sambil berbisik, "Naga hitam bangunlah."
Ketika sedang mencoba membangunkan naga hitak yang telah tertidur pulas, Huanran tiba tiba saja muncul di belakang punggung putri Jia Li dan langsung berkata,
"Percuma saja kau bangunkan naga itu, naga hitam sangat kelelahan karena telah menghabiskan banyak tenaga saat melawan naga hijau raksasa "
Setelah mendengar suara Huanran, putri Jia Li langsung menoleh ke belakang. Dia terkejut bukan main karena meski Huanran dalam mode cantiknya, dia tetaplah seorang roh gentayangan. Karena ini merupakan pertama kalinya Putri Jia Li melihat seorang roh gentayangan, wajah Putri Jia Li pun langsung membiru karena merasa takut.
Bagaimana pun Huanran adalah hantu atau roh gentayangan. Kemunculannya yang secara tiba-tiba di dalam gelapnya ruangan membuat putri Jia Li merasa ketakutan. Karena tenggelam dalam rasa takut yang teramat dalam, Alhasil dia pun langsung menutup mata dan terjatuh menghantam tanah hingga tak sadarkan diri.
Sedangkan Jingmi yang telah mengetahui soal Huanran tak merasa takut sedikitpun.
Namun dia tak menangkap putri Jia Li saat ingin terjatuh pingsan karena tubuhnya terlalu berat bagi Jingmi.
"Aih kenapa dia malah pingsan?" tanya Huanran dengan wajah datarnya.
Huanran merasa bingung dan tak bersalah, semua itu karena dia sudah memakai wujid cantiknya. Dia pikir tak akan ada manusia yang takut saat melihat wujudnya yang cantik bak seorang Dewi. Namun dugaannya itu salah, karena jaraknya yang terlalu dekat dan kemunculannya yang tiba tiba di dalam gelapnya ruangan, bisa membuat semua orang terkejut.
"Itu karena kemunculanmu yang tiba-tiba," jawab Jingmi dengan wajah kesal.
"Begitu ya?" tanya Huanran sambil menatap Jingmi.
"Gara-gara kau, kak Jia Li pingsan. Sekarang aku harus bagaimana?" ucap Jingmi sambil menepuk dahinya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Huanran sambil menatap Jingmi dengan tatapan penuh rasa bersalah.
Namun Jingmi terdiam saja seperti orang yang kebingunan. dia merasa bingung dan tak tahu harus melakukan apa karena tak mungkin menggendong naga hitam dan putri Jia Li seorang diri.
Sadar bahwa Jingmi merasa bingung akibat ulahnya, dia pun merasuki tubuh putri Jia Li sehingga bisa menggerakkan tubuhnya.
Setelah merasuki tubuh putri Jia Li, Huanran pun berkata,
"Sudah tak perlu bingung, dengan begini kau tak perlu menggendong tubuh berat putri Jia Li."
"Apa kau tahu?"
"Jika ayah Xiao Tian mendengarmu berkata hal buruk tentang fisik kak Jia Li, mungkin dia akan menghapus keberadaanmu," ucap Jingmi sambil menatap putri Jia Li yang telah dirasuki Huanran.
"Jika Xiao Tian tahu soal ini, berarti dia mendengarnya dari mulutmu. Aku akan mengganggumu terus jika menceritakan semua ini kepada Xiao Tian," ancam Huanran sambil mengeluarkan hawa membunuh.
"Cih, kau pikir aku takut!" ucap Jingmi sambil memelototi Huanran.
Huanran merasa kesal dengan tingkah Jingmi yang berani menentangnya, dia pun kembali memelototi mata Jingmi sambil mengeluarkan hawa membunuh. Akan tetapi bukannya ketakutan, Jingmi malah membalasnya dengan tatapan dingin berlapis hawa kematian.
Meski kultivasi Jingmi terlihat seperti anak kecil dan memiliki kultivasi dibawah Huanran, dia memiliki pengalaman hidup yang jauh lebih banyak dari Huanran. Semua itu karena umur asli Jingmi jauh lebih tua jika dibandingkan dengan Huanran yang baru berumur dua puluh tiga tahunan.
Demi menutupi rasa takutnya, dia pun mencari alasan dengan menoleh ke kiri sambil berkata,
"Cih, sudahlah jangan perpanjang masalah ini!"
"Aku malas berdebat dengan anak kecil."
"Jangan panggil aku anak kecil tante, aku ini jauh lebih tua darimu!" bentak Jingmi dengan kesal.
"Tan .. te?" Huanran memasang wajah kesal, namun dia berusaha menahan amarahnya karena takut terhadap kekuatan tersembunyi Jingmi.
"Ya tante, ada masalah dengan caraku memanggilmu?" tanya Jingmi sambil mengeluarkan hawa kematian.
"Ah tak apa, kau bebas memanggilku dengan sebutan apapun. Tapi akan menjadi aneh jika seseorang berusia ribuan tahun memanggilku dengan sebutan tante," ucap Huanran sambil mencoba berdalih.
"Haih kau ini, aku bahkan memanggil ayah Xiao Tian dengan sebutan ayah. Padahal umurnya saja tidak sampai setengah dari umurku. Aku memanggilnya ayah karena aku menghormati kekuatanya," jelas Jingmi sambil menggendong naga hitamnya.
"Aku mengerti, jadi kau memanggilku tante karena menghormatiku juga?" tanya Huanran sambil menoleh ke arah Jingmi.
"Tentu saja bukan," jawab Jingmi.
"Lalu kenapa kau memanggilku dengan sebutan tante?" tanya Huanran sambil menatap Jingmi.
"Tentu saja karena kau memang layak dipanggil dengan sebutan tante," jawab Jingmi dengan tatapan yang menjengkelkan.
"Bocah sialan ... ," ucap Huanran di dalam hati sambil mengepalkan kedua tangannya.
Setelah puas meledek Huanran, Jkngmi pun bertanya,
"Ngomong-ngomong kenapa kau meninggalkan mas Endutmu?"
"Tak ada alasan lain, aku kan seorang wanita. Maka harus tidur di tempat wanita juga," Jelas Huanran dengan tampang datarnya.
"Oh ... , bukannya kau bisa tidur di cincin ruang mas Endutmu?" tanya Jingmi sambil menatap mata Huanran.
"Heheh, aku bosan tidur disana terus," ucap Huanran sambil memegang kepalanya.
"Haih, ada ada saja," ucap Jingmi sambil menepuk dahinya.
#Sisi pria
Taiwu telah terbangun dari tidurnya, diikuti oleh Su Yan yang juga terbangun karena suara petir yang memekakkan telinga.
Saat Taiwu ingin langsung melesat pergi keluar rumah, Su Yan memegang kakinya sambil berkata,
"Tunggu, kau mau kemana?"
"Jangan pergi keluar, aku punya firasat buruk."
"Kau ini, aku harus keluar untuk mengecek keadaan pangeran Xiao Tian. Kalau takut peluk saja tubuh si gendut yang ada di sebelah kananmu itu," ucap Taiwu dengan tatapan kesal.
"Tapi ... " belum sempat Su Yan menyelesaikan kalimatnya, Taiwu berkata, "Kau ingin ikut melihat keluar?"
"Ah, tidak perlu."
"Aku akan menjaga tubuh si Gendut. Silahkan pergi duluan saja." Su Yan melepaskan kaki Taiwu dan kembali terbaring di samping si Gendut.
#Atap rumah
Xiao Tian dan Sunlong sedang menertawakan keadaan Dewa Petir. Mereka tak bisa menahan tawa mereka meski mencoba menut mulut. Karena kesal menjadi bahan tertawaan Sunlong dan Xiao Tian, Dewa Petir pun memukul bagian atas kepala mereka hingga benjol.
Bukk bukk
"Aduhh!" teriak Sunlong dan Xiao Tian.
"Kalian ini benar-benar menjengkelkan!"
Wajah Dewa Petir terlihat begitu kesal, dia menatap mereka dengan tatapan dingin seakan ingin memukul mereka berkali-kali.
Tak lama setelah Xiao Tian berteriak, Taiwu telah keluar rumah dan melompat ke atas atap untuk memeriksa keadaan Xiao Tian.
"Apa kau baik-baik saja pangeran?" tanya Taiwu dengan wajah panik.
"Tak terjadi apa-apa kok," ucap Xiao Tian sambil menutupi kepala benjolnya dengan kedua tangan.
"Syukurlah kalau begitu, kupikir terjadi sesuatu padamu. Ngomong-ngomong apa kau mendengar suara petir barusan?" tanya Taiwu sambil menatap Xiao Tian.
"Oh suara itu ya, itu berasal dari petir putih yang menyambar tebing tinggi di sebelah barat," jawab Xiao Tian sambil menunjuk ke arah tebing tinggi yang telah menjadi sebuah kawah yang dalam.
Setelah menyadari bahwa tebing tinggi di sebelah barat telah menghilang, Taiwu pun semakin panik. Ini pertama kali baginya melihat dampak besar yang diakibatkan oleh sebuah sambaran petir.
Biasanya petir alami hanya bisa membelah sebuah pohon menjadi dua, dan tak akan membuat sebuah tebing tinggi menghilang hingga menjadi sebuah kawah yang dalam.
"Apanya yang baik-baik saja. Tolong jelaskan padaku, sebenarnya apa yang terjadi ketika aku sedang tertidur," ucap Taiwu sembari melihat ke arah yang Xiao Tian tunjuk.
"Sudah kubilang tak ada yang terjadi," jawab Xiao Tian sambil menutupi benjol di kepalanya.
"Lalu kenapa kau menutupi kepalamu sejak tadi?" tanya Taiwu.
Karena penasaran dengan tingkah Xiao Tian, Taiwu mencoba menyambar kedua tangan Xiao Tian, namun karena perbedaan kultivasi yang teramat tinggi dia tak bisa mengikuti gerakan Xiao Tian yang selalu menghindarinya.
"Ayolah Taiwu, tolong berhenti mencoba menyentuh tanganku. Sudah kubilang kepalaku baik-baik saja." Xiao Tian berkata sambil berjalan menghindari Taiwu.
Ketika Xiao Tian dan Taiwu sedang kejar kejaran di atas atap, Sunlong dan Dewa Petir menonton mereka sambil duduk santai.
"Kenapa tak dia tunjukkan saja benjol dikepalanya itu," ucap Sunlong sambil menonton Xiao Tian.
"O iya, kenapa kau malah duduk santai disampingku?" tanya Dewa Petir.
"Memangnya tidak boleh?" tanya Sunlong.
"Apa kau lupa dengan kalung perak di lehermu itu?" tanya Dewa Petir.
"Mungkin sekarang rantai perak telah menghilang, tapi rantai itu akan kembali muncul setelah kalian berjarak lebih 20 meter," jelas Dewa Petir.
Seketika wajah Sunlong membiru, Melihat Xiao Tian semakin berjalan mundur menjauh darinya.
"Kenapa kau tak bilang dari tadi?"
"Sampai Jumpa," ucap Dewa Petir sambil tersenyum lebar.
"Apa maksudmu?" tanya Sunlong.
Ketika melirik ke arah Xiao Tian dia paham maksud ucapan Dewa Petir. Ternyata Xiao Tian melompat menuruni atap demi menghindari Taiwu. Karena jarak mereka sudah lebih dari 20 meter, rantai perak di telapak tangan Xiao Tian pun muncul kembali hingga terhubung dengan leher Sunlong.
"Sial, kalau begini terus aku bisa mati tercekik," ucap Sunlong dengan keringat dingin di wajahnya.
"Tenanglah kau tak akan mati tercekik. Karena kau kan sudah mati dan menjadi roh," jawab Dewa Petir dengan muka datarnya.
"Dewa sialan," belum sempat mengungkapkan semua kekesalannya, rantai perak menyeretnya mundur Sunlong hingga terjatuh dari atas atap rumah.
Demi melindungi lehernya agar tak tercekik rantai, Sunlong pun memegang rantai perak dengan kedua tangannya.
"Bisakah kau diam, pangeran?"
"Tolong tunjukkan padaku apa yang terjadi dengan kepalamu!" teriak Taiwu sambil mengejar Xiao Tian yang terus berlari menjauh.
"Sudah kubilang tak ada yang terjadi." Xiao Tian terus menghindari Taiwu sambil menutupi benjolan di kepalanya. Dia berlari memutari rumah buatannya. Namun terpojok karena naga biru yang muncul tiba-tiba di belokan rumah buatannya. Tangan di atas kepalanya pun terlepas ketika tak sengaja menabrak naga biru. Karena tak ada yang menutupi benjolan di kepalanya, Taiwu pun bisa melihat benjolan besar di atas kepala Xiao Tian.
"Astaga!"
"Apa yang terjadi dengan kepalamu pangeran!" teriak Taiwu dengan panik.
"I ... ini bukan apa-apa, kepalaku hanya terjatuh dari atap akibat tak sengaja tertidur saat sedang berjaga," jawab Xiao Tian sambil melirik ke kiri.
Meski sedikit tidak percaya dengan jawaban Xiao Tian, Taiwu tak membahas lagi benjolan di kepala Xiao Tian. Satu satunya hal yang dia ingin tahu adalah petir macam apa yang sanggup melenyapkan sebuah tebing tinggi dalam hitungan detik.
Melihat Taiwu terdiam dan tak bertanya hal macam-macam lagi, Xiao Tian pun merasa tenang.
"Syukurlah dia tak menanyakan soal petir putih kepadaku, aku kan tidak bisa menceritakan mengenai keberadaan Dewa Petir kepadanya," pikir Xiao Tian.
"Hoo, begitu ya. Tumben kau memikirkan kewajibanmu untuk menutupi keberadaanku" sambung Dewa Petir yang tiba-tiba muncul di sampingnya.
Karena tidak sedang bengong, Xiao Tian tak terkejut dengan kemunculan tiba-tiba Dewa Petir. Dia justrul lebih terkejut mengenai Dewa Petir yang telah membaca pikirannya.
"Apa kau baru saja membaca pikiranku?" ucap Xiao Tian sambil mengerutkan dahinya.
"Sunlong telah kehilangan kekuatannya, dia tak bisa lagi menghalangiku untuk membaca pikiranmu," Jelas Dewa Petir.
"Sialan kalau begini terus aku harus mencari cara untuk mengembalikan kekuatan Sunlong," pikir Xiao Tian.
"Coba saja sendiri, yang pasti aku tak akan membantumu menolong kadal kecil itu. Ngomong-ngomong soal kadal kecil, sebaiknya kau cepat minta maaf padanya," jelas Dewa petir sambil melirik ke arah Xiao Tian.
"Kenapa aku harus minta maaf pada Sunlong?" tanya Xiao Tian melalui telepati sambil mengerutkan dahinya.
"Lihatlah dan amati baik-baik keadaanya," jawab Dewa Petir sambil menunjuk ke belakang Taiwu.
Setelah mendengar ucapan Dewa Petir, Xiao Tian pun langsung menoleh ke belakang Taiwu.
Dia terkejut bukan main setelah melihat Sunlong tergeletak tak berdaya. Tubuhnya dipenuhi luka, dan tak bergerak sedikitpun.
Sadar bahwa keadaan buruk yang menimpa Sunlong saat ini merupakan kesalahannya, Xiao Tian pun langsung berlari mendekati Sunlong dengan tampang paniknya.
Akan tetapi sebelum berhasil mendekati Sunlong, Taiwu memegang tangan Xiao Tian saat lewat ke samping kiri Taiwu.
"Mau kemana kau pangeran?" tanya Taiwu sambil memegang pergelangan tangan Xiao Tian.
"Bisakah kau lepaskan tanganku sekarang juga?"
"Aku ada urusan yang begitu penting, tolong jangan halangi aku," ucap Xiao Tian dengan tampang panik.
"Urusan penting macam apa yang sanggup membuatmu terlihat begitu panik?" tanya Taiwu sambil mengerutkan dahinya.
"Bisakah kau tahan Taiwu sebentar saja?" tanya Xiao Tian melalui telepati sambil melirik ke arah Dewa petir yang berada di samping kanannya.
"Wani piro ... ," ucap Dewa Petir dengan tampang menyebalkannya.
"Aku tak sedang bercanda, tolong lakukan sekarang!" ucap Xiao Tian melalui telepati dengan begitu kesal.
"Iya iya, jangan marah dong. Aku kan cuman bercanda," ucap Dewa Petir dengan tampang cemberutnya.
"Cepat lakukan!" ucap Xiao Tian melalui telepati sambil menatap Dewa Petir dengan tatapan jengkel.
"Iya, akan kutahan dia untuk beberapa menit. Sisanya terserah padamu," ucap Dewa Petir sambil menatap Xiao Tian.
Dewa Petir melayang ke sisi kananTaiwu lalu menotok punggung Taiwu dengan jari telunjuk berlapis qi putih.
Setelah ditotok oleh Dewa Petir, Taiwu pun terdiam kaku dan Xiao Tian langsung melepaskan genggaman Taiwu lalu berlari mendekati Sunlong yang terluka parah.
"Maaf karena membuatmu menunggu begitu lama, Sunlong," ucap Xiao Tian sambil meraba roh Sunlong yang mulai terlihat transparan.
Melihat tubuh Sunlong semakin memudar, Xiao Tianpun semakin panik dan tak tahu harus apa. Dia melirik ke arah Dewa Petir sambil menatapnya dengan tatapan serius.
"Haih ... ,"
"Iya, jangan khawatir aku akan membantumu."
"Aku hanya akan membantu mengembalikan wujudnya agar tak transparan, sisanya kuserahkan padamu," ucap Dewa Petir sambil menghela napas.
Setelah berkata akan menolong Sunlong, Dewa Petir langsung menempelkan telapak tangan kanannya ke tubuh Sunlong yang semakin meredup. Sambil menyentuh tubuh Sunlong dia pun berkata, "Teknik pemulih arwah, Soul recovery!"
Setelah Dewa Petir menyebutkan mantranya, sinar putih menyebar daei telapak tangan Dewa Petir hingga menyelimuti seluruh tubuh Sunlong. Sinar tersebut hanya muncul dan menghilang dalam sekejap mata. Meski begitu sinar tersebut beitu ampuh dalam mengembalikan tubuh Sunlong.
Ketika sinar tersebut menghilang, tubuh Sunlong pun kembali normal dan tak transparan seperti sebelumnya.
Meski begitu, luka di tubuhnya belum sembuh sepenuhnya, Sunlong masih tak sadarkan diri dan terbaring di atas tanah.
"Sisanya kuserahkan padamu," ucap Dewa Petir sambil menarik kembali tangannya.
"Terimakasih, Dewa Petir," ucap Xiao Tian sambil menatap Dewa Petir.
Setelah Dewa Petir memulihkan tubuh Sunlong yang terlihat transparan, Xiao Tian pun melanjutkaj oengobatan Sunlong dengan menggunakan teknik akupunturnya. Dia melapisi jarum akupunturnya dengan kekuatan roh agar bisa menyentuh roh Sunlong yang transparan.
Setelah menancapkan beberapa jarum emas berlapis kekuatan roh, Sunlong pun kembali tersadar.
Saat pertama kali tersadar, kepala Sunlong terasa begitu pusing dan sakit bukan main. Karena hal tersebut dia pun memegang kepalanya cukup lama sambil berdiri dengan sempoyongan. Meski Sunlong telah kembali tersadar, dia masih memiliki beberapa luka karena Xiao Tian belum memiliki kekuatan roh yang cukup untuk memulihkan Sunlong sepenuhnya.
"Kau tak apa?" tanya Xiao Tian sambil menatap Sunlong dengan tatapan penuh rasa bersalah.
"Tak apa matamu!"
"Aku hampir mati gara gara kecerobohanmu tahu!" bentak Sunlong dengan kesal.
"Iya, aku minta maaf. Sungguh aku tak sengaja menarikmu begitu kencang. Saat aku berlari aku terlalu fokus menghindari Taiwu dan melupakanmu," ucap Xiao Tian sambil menatap Sunlong.
"Sudahlah, aku tak mau membahasnya lebih lama. Cepat pangggil Dewa Petir untuk menyembuhkanku, dia yang paling bertanggung jawab atas kondisiku yang saat ini," sambung Sunlong dengan tampang kesal.
#####
Terimakasih karena sudah menyempatkan diri untuk membaca novel sederhanaku ini.
Jangan lupa like, komen dan vote ya biar author makin semangat update.
Komentar dan like kalian adalah penyemangatku.
Maaf kalau belum bisa nulis dengan terjadwal.
Karena author punya dunia nyata yang harus diurus.😁😁