
Semua pasukan telah berkumpul dan siap menyerbu dimensi es. Agar para Dewa sesat tak kabur sebelum penyerangan berlangsung. Dewa Petir, Wu Jing dan Wu Kong masuk ke dalam ruang hampa sambil mencoba membujuk Dian Zheng kembali ke jalan yang benar.
#Ruang Hampa
Dian Zheng masih terbaring lemas karena diikat kuat kuat di dalam ruang hampa tanpa diberi makanan sedikitpun. Meski menahan lapar begitu lama, dia tak bisa mati sesuai ucapan Kaisar langit sebelumnya.
"Ironis sekali, setelah lama mendapatkan kebebeasan. Aku akhirnya merasakan kembali siksaan yang sama ketika aku masih kecil dulu. Rasa lapar ini, ruang kosong tanpa seorang pun yang bisa kuajak ngobrol. Tak kusangka kalau aku akan merasakan kembali sensasi ingin mati ini berkat ayah yang selama ini telah kuanggap meninggal."
"Eh salah, maksudku seorang ayah yang menganggap putranya telah meninggal," ucap Dian Zheng sambil melirik ke arah Dewa Petir.
"Maafkan aku nak, aku tak punya pilihan lain selain membawamu ke ruangan ini. Bangsa iblis belum bisa dihargai di alam para Dewa. Banyak dari mereka yang berbuat kejahatan hingga menutupi perbuatan baik para bangsa iblis yang lain."
"Meski kau putra seorang Dewa, kau memiliki kelainan berupa hawa iblis yang tak bisa kontrol dengan baik. Memiliki hawa iblis saja bisa membuat seorang Dewa ditolak menghuni alam Dewa. Semua doskriminasi itu terjadi berkat Dewa iblis Yon Heng yang telah menghianati kepercayaan para Dewa," ucap Dewa Petir sambil menatap Dian Zheng.
"Tak peduli apapun yang kau katakan, aku akan tetap menganggap Dewa Iblis Yon Heng sebagai guru sekaligus orang tuaku. Jadi jangan pernah mencoba meracuni pikiranku dengan berbicara buruk tentangnya, sejak dulu kalian bangsa Dewa tak pernah menyukai suku iblis sedikitpun."
"Jika kalian mencoba menghentikanku dari berbuat keji, maka penggal saja kepalaku!"
"Aku akan terus berbuat kejahatan selagi memiliki nyawa. Jika aku lepas dari sini maka hal pertama yang kulakukan adalah mengobrak abrik ras manusia yang merupakan musuh sekaligus mangsa dari para iblis. Meski aku terlahir dari perut seorang Dewi. Aku selalu dianggap sebagai putra iblis, dari pada menahan luka dengan menerima hinaan hinaan mereka. Lebih baik aku menerima semua hinaan tersebut dengan menjadi apa yang diinginkan semua orang."
"Aku adalah raja iblis Dian Zheng tak dapat mati dan tak terkalahkan. Jika suatu hari nanti aku lolos dari sini dan mendapatkan kekuatan yang melebihi para Dewa Dewi, aku bersumpah akan mengobrak abrik istana langit dan membasmi seluruh Dewa Dewi yang pernah menghinaku sebelumnya!" teriak Dian Zheng dengan tampang kesalnya.
"Dia sudah tak tertolong, hapus saja ingatannya agar Kaisar langit tak memberinya hukuman mati," ucap Wu Kong sambil menepuk pundak Dewa Petir.
"Sabar Dewa Petir, berdoalah semoga putramu bisa kembali menganggapmu sebagai ayahnya swtelah proses penghapusan ingatan selesai," ucap Wu Jing sambil menatap Dewa Petir.
"Terima kasih karena telah mencoba menghiburku," ucap Dewa Petir sambil tersenyum tipis.
"Bersiaplah untuk melupakan jatidirimu, Dian Zheng ... , putraku," ucap Dewa Petir sambil menyentuh dahi Dian Zheng.
"Apa yang kau lakukan?"
"Singkirkan tangan kotormu itu dari dahiku!"
"Lepaskan tanganmu dari dahiku, tidak!" ucap Dian Zheng sambil mencoba memberontak.
Dia memberontak karena tahu bahwa ingatnya sedang dihapus satu percatu dengan paksa. Karena tak memiliki cadangan tenaga yang banyak, Dian Zheng menutup matanya begitu rapat sejak ingatannya benar benar menjadi kosong tak menyisakan satupun ingatan yang sanggup membuatnya ingat kembali.
Setelah Dian Zheng membuka matanya, hal pertama yang dia katakan adalah, "Siapa kalian?" tanya Dian Zheng sambil menatap Wu Jing dan Dewa Petir.
"Apa kau benar benar melupakanku?" tanya Dewa Petir sambil menatap Dian Zheng.
"Memangnya siapa kau?"
"Apa kau mengenal siapa aku?"
"Bisakah kau jelaskan padaku apa yang sedang terjadi disini?"
"Maaf, aku tak bermaksud lancang. Percaya atau tidak, aku adalah ayah kandungmu. Kau diikat karena suka mengamuk tanpa alasan setiap kali moodmu begitu jelek.
"Begitu ya?" ucap Dian Zheng sambil menundukkan kepalanya.
"Kenapa tak kau berikan ingatan palsu kepadanya ketika belum sadar?" ucap Wu Kong melalui telepati.
"Aku tak ingin menipu putraku secara terus menerus. Menghapus ingatannya untuk memperkuat hubungan ayah dan anak ketika masih belum mengingat semuanya lagi, merupakan cara terakhirku untuk mendapatkan kembali kepercayaan Dian Zheng," ucap Dewa Petir melalui telepati.
#Alam nyata
Para siluman harimau menjelaskan kepada Xiao Tian bahwa dia bisa membuka portal menuju dimensi es ditempat manapun yang dia inginkan hanya dengan menyerap dua kunci dimensi es yang telah berada di tangan kanannya.
Setelah mengetahui jalan pintas menuju Dimensi es tanpa perlu menuju ke atas menara es, Xiao Tian mencoba melakukan apa yang telah diajarkan para siluman harimau untuk membuka portal menuju dimensi es di tempat yang dia inginkan.
Xiao Tian menutup matanya sambil membayangkan dua kunci dimensi es yang telah terikat dengannya. Tepat setelah kedua kunci dimensi es muncul di kedua telapak tangannya, Xiao Tian menyilangkan kunci tersebut sambil berkata, "Tigres glaciar!"
Setelah mengucapkan mantra yang diajarkan para siluman harimau, sebuah portal merah besar yang terhubung dengan dimensi es muncul menutupi gerbang istana.
"Kenapa portalnya berwarna merah?" ucap Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Warna merah pertanda bahaya atau peringatan akan adanya penyusup di istana es. Warna merah gelap yang saat ini kita lihat merupakan bukti, bahwa istana es telah dikuasai oleh sekte iblis yang masuk secara paksa tanpa meminta ijin pada pemilik kunci dimensi es," jelas salah satu siluman harimau sambil memberi hormat kepada Xiao Tian.
"Begitu ya, baiklah karena gerbangnya telah terbuka lebar. Ikutlah bersamaku menuju dimensi es!" ucap Xiao Tian sambil berjalan masuk di garis paling depan.
Setelah Xiao Tian memasuki portal merah itu, Jenderal muda Taiwu beserta teman teman Xiao Tian yang lain ikut berjalan masuk ke dalam gerbang meninggalkan ketiga jenderal utama yang berjalan mengikuti mereka tepat di belakangnya. Sedangkan raja Xiao Zhaoye berdiam diri menjaga istana, ditemani oleh Tainam Chun beserta beberapa prajurit jenderal Huang Cheng yang menetap untuk menjaga istana selagi semuanya pergi.
Raja tak ikut pergi karena harus menjaga Xiao Hong yang sedang hamil muda. Dia terpaksa mengawasi Xiao Hong agar istrinya itu tak ikut pergi berperang melawan sekte iblis.
Setelah semua orang pergi memasuki portal merah, Huang Li keluar dari balik tiang penyangga istana. Selama ini dia mendengar ucapan Xiao Tian dan kawan kawannya sambil bersembunyi di balik sela sela bangunan. Karena hawa kehidupannya belum cukuo stabil Xiao Tian tak dapat mengenali Huang Li yang bersembunyi di balik tiang istana.
"Teganya kalian berperang tanpa melibatkanku."
"Hanya karena kultivasi mereka lebih tinggi saja, mereka berani meninggalkanku. Lihat saja nanti akan kubuat mereka terkejut setelah melihatku bertarung sebagai seorang pria," ucap Huang Li dengan tampang kesal.
Ketika raja Xiao Zhaoye berjalan memasuki istana, Huang Li keluar dari persembunyiannya lalu menghipnotis para prajurit agar tak menghalanginya. Menelanjangi salah satu prajurit istana lalu memakai pakaiannya untuk dijadikan sebagai penyamaran. Setelah selesai mempersiapkan diri, dia meninggalkan para prajurit yang masih terhipnotis lalu pergi menyusul Xiao Tian dengan memasuki portal dimensi es yang belum tertutup rapat.
Ketika Huang Li memasuki portal tersebut, portal itu perlahan menciut lalu menghilang dari pandangan semua orang. Bersamaan dengan menghilangnya Huang Li, para prajurit yang terhipnotis tersadar dari pengaruh teknik Huang Li tanpa sadar apa yang telah terjadi kepada mereka. Satu satunya hal aneh yang membuat mereka bingung adalah salah satu teman mereka yang kehilangan pakaiannya ketika
tersadar dari efek hipnotis.
#Dimensi es
Huang Li keluar dari portal merah di saat saat terakhir, para prajurit mengabaikan eksistensinya karena Huang Li menyembunyikan kultivasi aslinya yang telah mencapai tingkat Dewa petarung bintang lima sejak tak sengaja menelan relik legendaris waktu sekte iblis menyerang kerajaan Angin.
"Syukurlah semuanya mengabaikanku, dengan begini penyamaranku tak akan terbongkar," ucap Huang Li di dalam hati.