
Lian Ting terlihat mati kartu karena tak diperbolehkan untuk melampiaskan amarahnya.
Semua orang langsung bergosip satu sama lain karena kejadian tersebut, hingga membuat Lian Ting merasa semakin kesal.
Namun penghinaan itu belum berakhir sampai disitu, Tian Zhong yang menyimpan rasa kesal terhadap Lian Ting mencoba terus membuatnya kesal dengan berkata,
"Kenapa kau diam saja?"
"Apa murid dari sektemu tak memiliki nyali sama sekali?"
"Apakah kau mau mengabaikan tantangan dari anak bernama Xia Hu itu?" ucap Tian Zhong sambil menatap ke arah Lian Ting.
"Sial, kenapa tak ada yang membelaku sama sekali?"
"Kenapa para penatua diam saja?" pikir Lian Ting sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Berhenti memojokkan patriach kami!"
"Sekte singa perak bukanlah sebuah lelucon yang bisa kau hina terus menerus, jenderal!" ucap Feng Guan sambil menatap tajam mata Tian Zhong.
"Itu benar, kau harusnya tak memperlakukan sekte kami seperti ini. Walau bagaimanapun kami adalah juara pertama di turnamen turnamen sebelumnya," teriak Feng Sun dengan tampang kesal.
"Ya benar, ini sudah keterlaluan. Hanya karna kekalahan dalam turnamen cabang alkemis saja perilaku berubah drastis seperti ini. Ini benar venar tak adil!" teriak para murid secara bergantian.
"Ya, ini benar benar tak adil!" teriak para siluman yang menyamar menjadi tetua alkemis dan tetua petarung sambil mengangkat tangan mereka.
"Diam!" ucap Tian Zhong sambil mengeluarkan tekanan seorang pendekar alam fana lapisan kelima.
Seketika suasa pun menjadi hening kembali, dengan tatapan yang menghina Tian Zhing pun berkata, "Jangan mencari keributan denganku, atau kerajaan akan menghapuskan sekte kalian," ucap Tian Zhong sambil menjentikkan jarinya.
Wooshhh
Tap tap tap tap
Ratusan siluman rubah merah yang menyamar menjadi prajurit bayangan memunculkan diri mereka di berbagai macam penjuru. Melihat hal tersebut, Lian Ting pun langsung naik pitam, "Apa maksud semua ini, jenderal!"
"Mereka semua adalah anjing setiaku, dan siap menerkam sekte manapun termasuk sektemu jika aku mau. Jadi selagi turnamennya dimulai jangan pernah berani macam macam denganku," jawab Tian Zhong dengan tampang serius.
"Beraninya kau menyebut pasukan bayangan kerajaan sebagai anjing setiamu, mereka itu mematuhimu karena kau menjabat sebagai seorang jenderal. Jadi jangan kau pikir mereka itu adalah anjing anjingmu. Membawa mereka kemari, sama halnya dengan menggali kuburanmu sendiri," ucap Lian Ting dengan senyum di wajahnya.
"Dari mana asal kepercayaan dirimu itu, berasal ha?" tanya Tian Zhong sambil menatap mata Lian Ting.
"Apakah kau tahu dari mana pasukan bayangan berasal?" tanya Lian Ting sambil mengerutkan dahinya.
"Tentu saja aku tahu," jawab Tian Zhong sambil membalas tatapan Lian Ting.
"Dasar pembohong!"
"Kalau kau tahu, kau tak akan berani memanggil mereka untuk memojokkanku!"
"Asal kau tahu saja ya, pasukan bayangan dibentuk oleh pamanku!"
"Dan sudah dipastikan bahwa mereka setia terhadap aku dan pamanku."
"Melayani kerajaan dan jenderal sepertimu hanyalah sebuah kedok belaka untuk mempermudahku masuk kembali ke istana suatu hari nanti," ucap Lian Ting dengan senyum sinis diwajahnya.
"Oh ... ," ucap Tian Zhong sambil memasang wajah datar.
"Beraninya kau bersikap begitu tenang setelah tahu identitasku, kalian semua cepat habisi dia!" teriak Lian Ting sambil menunjuk ke arah Tian Zhong.
Shuutt shutt shutt
Beberapa pasukan bayangan melemparkan tombak mereka. Namun bukannya ke Tian Zhong, tapi malah ke arah Lian Ting hingga membuatnya hampir tak sempat mengelak.
Cleb cleb cleb
Tombak tombak menancap tepat di hadapan kaki Lian Ting, jika terlambat menghindar tombak tersebut pasti akan mengenai perutnya.
"Apa maksud semua ini!" teriak Lian Ting dengan kesal.
"Kami tak menerima perintah dari seorang putri buangan sepertimu," ucap para siluman rubah merah yang menyamar menjadi pasukan bayangan.
"Apa yang terjadi pada mereka?"
"Apakah Chen Li mencuci otak semua pasukan khusus yang pamanku buat tanpa sepengetahuanku," pikir Lian Ting dengan mata terbelalak.
"Patriach, keadaan ini terlalu berbahaya. Lebih baik kita jalani turnamen dan ikuti aturannya saja," ucap Sunlong yang menyamar menjadi penatua Feng.
"Ucapan mereka ada benarnya juga," pikir Lian Ting sambil menghela napas.
"Jadi, bagaimana?"
"Apakah masih mau melanjutkan?" tanya Tian Zhong sambil memancing emosi Lian Ting.
"Ti ... tidak. Aku tak ingin melanjutkan keributannya. Maaf karena aku sudah membuat keributan tadi," ucap Lian Ting sambil mengepalkan kedua tangannya.
Mendengar ungkapan maaf dari mulut Lian Ting membuat semua orang terkejut.
"Ternyata wanita yang angkuh seperti Lian Ting pun bisa membungkukkan badan sambil mengucap kata maaf dihadapan orang yang lebih kuat darinya,"
"Ini benar benar turnamen yang paling berkesan dalam hidupku," gumam Patriach Sun Yu sambil tersenyum.
"Baiklah kalau begitu, kumaafkan ketidak sopananmu tadi karena walau bagaimanapun kau adalah seorang putri. Tapi tantangan tetaplah tantangan, apakah kau mau menerimanya atau mau menolak?" tanya Tian Zhong sambil menatap Lian Ting.
"Tentu saja aku terima," ucap Lian Ting dengan tampang kesal.
"Feng Guan, turun dan berilah pelajaran kepada anak bernama Xia Hu itu!"
"Siksa dia agar bisa dijadikan sebagai contoh bagi yang lain. Buktikan kepada semua orang bahwa sekte kita tak bisa diremehkan," ucap Lian Ting melalui telepati.
"Baik, patriach," jawab Feng Guan sambil mengedipkan kedua matanya.
Feng Guan melompat ke bawah arena untuk mewakili sekte singa perak.
Tap
"Majulah!"
"Sesuai aturan lama, ketika dua murid dari sekte yang berbeda berpijak di dalam satu arena . Maka saat itu pula turnamennya dimulai," ucap Feng Guan sambil menatap mata Xia Hu.
"Kau yang meminta," ucap Xia Hu sambil melesat cepat dengan kecepatan tinggi mengelilingi arena.
"Bersembunyi dibalik kecepatan ya?"
"Dengan kecepatan seperti itu, kau pikir bisa kabur dari penglihatanku?" ucap Feng Guan sambil melesat secepat kilat hingga bisa muncul tepat dihadapan Xia Hu yang sedang berlari.
Xia Hu menabrak Feng Guan yang tiba tiba muncul tepat dihadapannya hingga membuat dia terpental menabrak dinding arena.
Duakkk
Kretakk
"Apa yang ... ," ucap Lian Ting dan para tetua daei tiga sekte besar dengan tampang terkejut.
"Feng Guan adalah seorang pendekar alam mortal lapisan ketiga, seharusnya dia tak bisa terlempar mundur karena tertabrak tubuh seorang sampah. Kecuali yang menabraknya memiliki kekerasan tubuh diatas pendekar mortal lapisan ketiga," pikir Lian Ting dengan tampang kesal.
"Padahal aku sedang pemanasan tadi, kenapa malah kalah karena tak sengaja ku tabrak. Apakah kekuatan murid sekte singa perak hanya sampai segini saja?"
"Lemah sekali," ledek Xia Hu sambil menghela napas.
"Mengalahkan musuh hanya dengan menabraknya, benar benar cara unik untuk mempermalukan musuh,"
"Kerja bagus, Xia Hu," ucap penatua Xia Meng dengan senyum di wajahnya.
"Selamat kepada Xia Hu karena telah menang berturut turut. Silahkan tantang lagi sekte yang ingin kau tantang," ucap Tian Zhong dengan rupa Chen Li.
"Aku menantang sekte singa perak sekarang dan untuk seterusnya. Sampai mereka mengaku kalah dan menjadi peringkat terbawah," ucap Xia Hu dengan tampang serius.
"Aku suka semangatmu itu nak," ucap Tian Zhong sambil menepuk pundak Xia Hu.
Setelah memberi ucapan selamat atas kemenangan Xia Hu, Tian Zhong kembali menoleh ke arah sekte singa perak dan kembali memandang sinis patriach mereka sambil berkata,
"Apa kalian dengar itu?"
"Selagi Xia Hu ada di tengah lapangan, kalian harus terus menerima tantangannya. Jika tidak maka sekte kalian akan dianggap kalah saat itu juga," ucap Tian Zhong dengan senyum sinis diwajahnya.
"Sebenarnya apa kesalahanku terhadap Chen Li?
" Kenapa sikapnya berubah drastis seperti ini?"
"Bahkan pasukan bayangan pamanpun ikut berperilaku aneh, apakah mereka dalam kendali seseorang?" pikir Lian Ting dengan tampang frustasi.