
Dewa petir, Dewa Bumi dan Dewa kera dikejutkan oleh cerita Tainam Chun yang dapat menghindari efek momentum para Dewa. Mereka pun mencurigai bahwa dia adalah seorang keturunan Dewa.
Tainam Chun yang tidak tahu apa apa mengenai alasan dibalik reaksi aneh mereka hanya bisa menatap mereka dengan tatapan bingung.
Alasan Tainam Chun merasa bingung yaitu karena para Dewa dan Xiao Tian menatapnya terus menerus tapi tak mengatakan sepatah katapun. Sebenarnya mereka berbincang melalui telepati, karena masih ingin memastikan beberapa hal terlebih dulu.
"Bisa bertahan beberapa menit ketika momentum para Dewa sedang berlangsung memang membuktikan bahwa dia merupakan keturunan seorang Dewa,"
"Tapi ... ," ucap Wu Kong melalui telepati.
"Tapi apa?" tanya Dewa Bumi dan Xiao Tian sambil menoleh ke arah Dewa kera.
"Fakta bahwa dia tetap terkena efeknya ketika momentum tersebut sudah berlangsung lama, tidak boleh kita abaikan," sambung Dewa petir melalui telepati.
"Tentu saja kita tak boleh melupakan hal itu," pikir Dewa Bumi sambil memasang tampang terkejut.
"Bukankah kalian bilang tadi tidak diragukan lagi?"
"Kenapa sekarang malah jadi ragu ragu?" tanya Xiao Tian melalui telepati.
Ketika Xiao Tian sedang bertanya, Tainam Chun yang tidak tahan karena diabaikan sejak tadi memulai pembicaraan dengan berkata, "Ma ... maafkan aku jika aku lancang, tapi bisakah kali ...," belum sempat Tainam Chun menyelesaikan kalimatnya, Wu Kong dan semua orang menghentikan ucapannya dengan berkata, "Ssstttt,"
secara kompak mereka menempelkan telunjuk mereka ke bibir masing masing.
Setelah menyuruh Tainam Chun berhenti, mereka semua kembali saling lirik mengabaikan pertanyaan Tainam Chun.
"Jadi bagaimana, apakah dia keturunan seorang Dewa atau bukan?" tanya Xiao Tian melalui telepati.
"Tidak diragukan lagi kalau dia memang seorang keturunan Dewa. Hanya saja, kemungkinan besar dia bukanlah seorang keturunan murni," jawab Wu Kong melalui telepati.
"Maksudnya?" tanya Xiao Tian melalui telepati.
"Maksudnya kemungkinan besar kalau dia seorang keturunan manusia dan seorang Dewa. Bukan murni keturunan sepasang kekasih yang berada di alam Dewa," sambung Dewa petir melalui telepati dengan tampang serius.
Ketika Dewa petir menjelaskan situasinya, Dewa kera dan Xiao Tian mengingat sesuatu yang mengganjal dalam pikiran mereka. Sambil menatap ke arah Dewa petir mereka pun berkata, "Apakah kau ayah kandung Tainam Chun?"
"Pe ... pertanyaan macam apa itu!" teriak Dewa petir dengan kesal.
"Setahuku Tainam Chun punya tubuh petir yang cukup langka. Karena petir identik dengan dirimu maka tak ada salahnya kami mencurigaimu kan?" tanya Xiao Tian melalui telepati.
"Aku bahkan disuruh diam, dan mereka malah asik mengobrop melalui telepati. Satu satunya yang bisa kudengar dari mereka adalah teriakan Dewa petir barusan. Sebenarnya mereka sedang ngomongin apaan sih?" pikir Tainam Chun dengan tampang bingung.
Karena mulai bosan melihat Xiao Tian dan para Dewa berdebat tanpa bicara sepatah kata pun kepadanya, Tainam Chun pun berniat untuk pergi. Namun para Dewa langsung menghentikannya.
"Karena sepertinya kehadiran hamba tidak dianggap disini, maka hamba mohon undur diri," ucap Tainam Chun sambil memberi hormat, lalu berbalik arah untuk pergi.
Namun sebelum dia pergi, para Dewa menghentikan langkahnya dengan berkata, "Tunggu!"
"Haih," pikir Tainam Chun sambil menghela napasnya. Dia menghentikan langkahnya, lalu langsung berbalik menghadap Xiao Tian dan para Dewa.
"Apakah ada yang bisa hamba bantu?" tanya Tainam Chun sambil menahan rasa kesal dibalik senyumnya.
Ketika Tainam Chun berbalik, Xiao Tian dan Wu Kong langsung berkata, "Apakah kau anak dari Dewa petir?"
Belum sempat Tainam Chun menjawab,Dewa petir merespon pertanyaan tersebut secara spontan, dan terkejut ketika baru memahami apa yang mereka tanyakan.
"Iya apakah kau anak ... , eh .... ?,"
"Apa!"
"Kenapa kalian malah menanyakan hal itu!" bentak Dewa petir dengan kesal.
Disaat Dewa petir sedang mengungkapkan rasa kesalnya, Tainam Chun larut dalam pikirkannya. Didalam hati dia pun berkata, "Kenapa mereka tiba tiba saja berpikir bahwa aku putra dari Dewa petir?"
"Sebenarnya apa yang membuat mereka berdua menyimpulkan hal tersebut?"
Disaat Tainam Chun masih larut dalam pikirannya, Wu Kong kembali mengambil alih pembicaraan dengan berkata, "Kenapa kau malah terdiam?"
"Cepat jawab pertanyaan kami,"
Tainam Chun yang awalnya merasa mereka sedang mengira Dewa petir, hanya bisa menghela napasnya lalu berkata,
"Bagaimana mungkin aku menjadi putra Dewa petir. Aku kan sudah punya ayah sendiri,"
"Apakah kau yakin kalau kepala keamanan kebun Taizheng merupakan ayah kandungmu?" tanya Xiao Tian dengan serius. Wu Kong pun ikut menatap Tainam Chun dengan serius karena ingin tahu jawabnnya.
Sadar bahwa Xiao Tian sepertinya tak sedang bercanda, Tainam Chun pun mulai terlihat kesal. Dia begitu kesal karena pertanyaannya terdengar cukup menjengkelkan.
"Yang mulia maha raja Xiao Tian, ada apa dengan pertanyaan aneh ini?"
"Jawab saja pertanyaanku, aku tak memerlukan pertanyaan lain yang keluar dari mulutmu," sambung Xiao Xiao Tian dengan serius.
"Sejak kecil hingga sekarang, ayahku tak pernah berkata kalau aku bukan anak kandungnya. Dengan kata lain, setahuku aku memang anak kandungnya," jawab Tainam Chun dengan tampang serius.
"Apakah kau sangat yakin?" tanya Dewa kera sambil menatap tajam mata Tainam Chun.
"Tentu saja aku yakin," sambung Tainam Chun dengan tampang kesal.
"Sudah kubilang kan!"
"Dia itu tak mungkin putraku, aku ini sangat setia tahu!" ucap Dewa petir dengan tampang kesal.
Setelah mendengar pembelaan Dewa petir, Xiao Tian dan Wu Kong langsung memasang tampang tak percaya.
Disaat Wu Kong dan Xiao Tian masih meragukannya, dan Dewa petir kesulitan untuk membela dirinya. Dewa Bumi yang sejak tadi berdiam diri mulai mengangkat suaranya. Dan diluar dugaan ucapan yang keluar dariulutnya adalah sebuah pembelaan terhadap Dewa petir. Dejgan tampang yang cukup serius, dia pun berkata,
"Dewa petir berkata yang sebenarnya, aku berani jamin kalau Tainam Chun tak memiliki hubungan darah dengan dia sama sekali,"
Karena bingung dengan ucapan tak berdasar Dewa Bumi, Wu Kong langaung menatapnya dan berkata,
"Kenapa kau bisa seyakin itu?"
Tainam Chun yang tak bisa mendengar ataupun melihat Dewa Bumi, mengira kalau ucapan Wu Kong itu mengarah padanya. Meskipun kesal karena status orang tuanya diragukan, Tainam Chun mencoba menahan diri dengan menyembunyikannya menggunakan senyum palsu. Sambilmenahan rasa kesalnya, dia pun berkata,
"Maksudmu?"
"Ah, maaf aku tak sedang berbicara denganmu. Abaikan saja ucapanku yang barusan," ucap Wu Kong dengan mata yang terbuka.
"Oh," sambung Tainam Chun dejgan heran.
Disaat Tainam Chun sedang terdiam, Wu Kong pun kembali bertanya kepada Dewa Bumi. Namun kali ini dia menanyakannya melalui telepati karena takut Tainam Chun salah mengira lagi.
"Bisakah kau jawab pertanyaanku tadi?" tanya Wu Kong melalui telepati.
"Ternyata kau bisa lupa juga ya, Dewa kera. Dewa petir telah terkena kutukan darah iblis dari relik regenerasi sejak lama. Dian Zheng, dan Dian Peng putranya memiliki darah tersebut karena mereka merupakan keturunannya. Sedangkan Tainam Chun, tidak memiliki darah iblis sama sekali," jelas Dewa Bumi dengan serius.
Setelah mendengar penjelasan Dewa Bumi, Wu Kong pun mulai mengerti. Dia benar benar melupakan hal tersebut karena terlalu fokus terhadap tubuh petir Tainam Chun. Dan Dewa petir yang mendengar alasan masuk akal tersebut pun langsung membuka matanya lebar lebar seperti seseorang yang baru memahami sesuatu.
"Ah, benar juga!" pikir Dewa petir dan Dewa kera dengan mata yang terbuka lebar.
"Jika dia bukan keturunan dari Dewa petir maka ... ," pikir Dewa Kera, Dewa Bumi dan Xiao Tian sambil menatap ke arah Dewa petir.
Sambil menepuk Dewa petir mereka pun berkata, "Yang sabar ya,"
"Apa apaan dengan tatapan penuh rasa simpati kalian!" ucap Dewa petir dengan kesal.
"Kau masih tak memahami hal ini juga?"
"Jika dia bukan keturunan darimu yang berhubungan dengan manusia, maka kemungkinan dia adalah putra dari istrimu," jelas Wu Kong dengan tamoang serius.
"Tidak ... , istriku tak mungkin menghianatiku," pikir Dewa petir dengan tampang yang begitu Syok berat.
Meskipun mempercayai kesetiaan istrinya, Dewa petir tak bisa mengelak dari fakta bahwa Tainam Chun adalah keturunan Dewa dengan tubuh petir.
Untuk memastikannya dia pun berkata, "Apakah kau tahu siapa nama ibumu?"
"Qing Xu," jawab Tainam Chun dengan jelas.
"Qi ... Qing Xu?"
"Bukankah itu nama istriku?" pikir Dewa petir sambil berlutut dengan frustasi.
"Tidak, kalian semua pasti sekongkol untuk mengerjaiku kan?" tanya Dewa petir sambil mentapa ke arah Xiao Tian dan Wu Kong.
"Kami bahkan tak mengetahui nama asli istrimu. Bagaimana bisa kami mengerjaimu?" tanya para Dewa sambil menatap Dewa petir.
Setelah mendengar jawaban Wu Kong dan Dewa Bumi, Dewa petir pun bertambah Syok. Namun ketika pikiran buruk sedang mengacaukan hatinya, Xiao Tian berhasil menghiburnya dengan berkata, "Tenanglah, di dunia ini yang bernama Qing Xu bukan istrimu saja. Jadi jangan langsung berpikir kalau dia adalah putra istrimu,"
"Yah, Xiao Tian ada benarnya. Lagi pula Di alam semesta ini yang menjadi Dewa petir bukanlah kau seorang. Bukankah begitu Dewa kera?" tanya Dewa Bumi sambil menepuk pundak Dewa petir.
Ketika Dewa petir mulai berhenti frustasi, Wu Kong kembali menjatuhkan mentalnya dengan berkata, "Yah, kau memang benar Dewa Bumi. Tapi satu satunya Dewi petir di alam semesta ini yang bernama Qing Xu hanya istrinya saja. Dan aku berani jamin hal itu karena aku pernah berkenalan dengan yang lainnya," ucap Wu Kong sambil menatap Dewa Petir.
Setelah mendengar penjelasan Wu Kong, Dewa petir pun kembali kehilangan semangatnya. Dia langsung berjalan menjauh sambil memasang tampang frustasi. Ketika sudah berada cukup jauh, dia langsung berjongkok sambil menggambar lingkaran dan berkata, "Kenapa kau menghianatiku istriku,"
"Huhuhu,"
Melihat tingkah Dewa petir yang aneh, Tainam Chun pun berkata, "Apakah Dewa petir baik baik saja?"