Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 287 : Menjadi murid Xianlun


Xiao Tian pergi ke perguruan badai berduri untuk mendaftarkan diri menjadi murid disana. Sebelum mendaftar menjadi alkemis, dia harus menunggu hingga demonstrasi perwakilan murid dari ketiga tetua cabang alkemis selesai.


Setelah itu, ketiga tetua secara bergantian memilah calon murid yang tertarik untuk berguru pada mereka. Seperti biasa, selain kepada tetua Xia Ning dan tetua Xiang Ying, tak ada satupun penonton yang mau mengangkat tangan mereka pada saat giliran tetua Xianlun memilah murid.


Ketika kedua tetua lain memandang hina Xianlun dengan senyum sinis di wajah mereka, Xiao Tian mengangkat tangannya lalu berkata, "Apakah aku bisa menjadi muridmu, tetua Xianlun?"


Semua mata terarah kepadanya. Suasana hening pada saat giliran tetua Xianlun menawarkan bimbingannya, seketika ramai dengan gunjingan dan tawa para penonton dan calon murid kedua tetua.


"Apa orang itu bercanda?"


"Siapa dia?"


"Kenapa dia memakai topeng?"


"Dari suaranya, sepertinya dia seorang pria."


"Apakah pria bisa menjadi seorang alkemis?"


"Kudengar memang ada beberapa pria yang bisa menjadi alkemis, tapi itu sangatlah langka. Karena kebanyakan pria lebih fokus melatih kekuatan fisik dan kultivasi mereka.


Sangat sulit mencari pria yang mau menjadi alkemis, karena kebanyakan pria berpikir kalau meracik obat adalah pekerjaan wanita,"


"Aku tak bisa merasakan sedikitpun tingkat kultivasinya," gumam para penonton dan calon murid.


"Sepertinya tetua Xianlun kedatangan sampah yang lain," gumam para penonton sambil menatap ke arah Xiao Tian.


Setelah bergumam sambil menatap Xiao Tian, semua orang tertawa tanpa henti sambil menatap ke arah Xiao Tian.


"Kenapa kalian tertawa?" tanya Xiao tian dengan nada sedang.


Xiang Ying melompat hingga tepat berada di hadapan Xiao Tian, lalu menatap matanya dengan begitu tajam.


"Ini bukan permainan nak. Meski kami sedang mencari murid, bukan berarti kami menerima semua orang."


"Jangan pikir kau bisa masuk ke perguruan kami, hanya karena menjadi satu satunya orang yang mengajukan diri sebagai calon murid Xianlun."


"Perguruan kami tak menerima sampah, yang bahkan tak memiliki kultivasi sepertimu," ucap Xiang Ying sambil memandang rendah Xiao Tian.


"Pakaianmu begitu indah, wajahmu juga cukup mempesona. Tapi sayang kau tak bisa menjaga mulutmu," jawab Xiao Tian sambil menatap ke arah Xiao Tian.


"Aku hanya mengatakan sebuah kenyataan bahwa perguruan kami tak menerima sampah sepertimu," ucap Xiang Ying sambil mencoba memukul wajah Xiao Tian. Namun pukulannya berhasil di tahan dengan mudah oleh Xiao Tian, hanya dengan menggunakan satu tangan.


Tap


"Apa yang ... ?" ucap Xiang Ying dengan mata terbelalak.


"Jika aku sampah, maka harus kusebut apa dirimu?" tanya Xiao Tian sambil mempererat genggamannya.


Kreakk


"Menyakitkan, ini menyakitkan. Sebenarnya siapa pria bertopeng ini. Kenapa aku tak bisa melepaskan genggamannya dari tanganku. Padahal aku yakin kalau dia tak memiliki kultivasi sama sekali," pikir Xiang Ying sambil menahan rasa sakit.


"Menyingkirlah, kau tak layak untuk membuang waktuku," ucap Xiao Tian sambil mendorong mundur Xiang Ying hingga hampir menabrak pinggiran panggung. Namun Xia Ning menangkapnya sebelum itu terjadi.


"Kau tak apa, tetua Xiang Ying?" tanya Xia Ning.


"Aku tak apa, terimakasih karena telah menolongku tetua Xia Ning," ucap Xiang Ying sambil berusaha berdiri.


"Beraninya kau melukai tetua Xiang Ying!" bentak Xia Ning sambil mengeluarkan pedang dari cincin ruangnya.


Tetua Xia Ning melesat mendekati Xiao Tian, sambil menebaskan pedangnya ke arah leher Xiao Tian, namun serangan tersebut berhasil Xiao Tian tahan hanya dengan menggunakan satu buah jari telunjuk kanannya.


Kretakkk


"Mu ... mustahil!" ucap Xia Ning dengan mata terbelalak.


Saat Xia Ning masih dalam keadaan terkejut, Xiao Tian langsung menyerang balik dengan dorongan telapak tangan kanannya tanpa menggunakan kekuatan qi sedikitpun.


Tubuh Xia Ning terpental hingga menabrak Xiang ying yang masih berada di dekat pinggiran panggung.


Bruakkk


Xiang Ying terdorong mundur bersama tubuh Xia Ning hingga menghancurkan sebagian kecil pinggiran panggung.


"Si ... siapa kau sebenarnya?"


"Kenapa tubuhmu begitu keras, hingga tak bisa dilukai oleh pedangku," ucap Xia Ning sambil memegang luka di perutnya.


"Siapa aku, itu bukan urusanmu. Karena yang berhak bertanya soal diriku, hanya tetua Xianlun," ucao Xiao Tian sambil menatap Xia Ning.


"Jadi, apakah aku bisa menjadi muridmu?"


"Tetua Xianlun?" tanya Xiao Tian sambil menatap tetua Xianlun.


"Maafkan aku, aku tak bisa menerimamu sebagai muridku. Tapi kau tetap diterima di perguruan kami, dengan catatan harus pindah ke cabang lain," ucap Xianlun sambil menatap mata Xiao Tian.


"Cabang lain?" tanya Xiao Tian sambil menatap ke arah Xianlun.


"Ya, cabang lain. Kau bisa menyebutnya, cabang pendekar. Cabang perguruan yang dipenuhi oleh petarung berbakat sepertimu. Yang hanya fokus terhadap kultivasi dan kekuatan bertarung," jelas Xianlun dengan tatapan serius.


"Intinya kau tak menerimaku sebagai muridmu, benar kan tetua Xian ... lun?" tanya Xiao Tian sambil menatap ke arah Xianlun.


"Maaf, tapi ini memang aturannya. Orang yang terlahir dengan tubuh kuat sepertimu bukan hanya dirimu, dan kebanyakan dari mereka berguru di perguruan lain."


"Sangat sulit mencari petarung yang mau berguru di perguruan kami, jadi dari pada menyianyiakan bakatmu sebagai seorang calon oendekar hebat. Lebih baik kau utungkan niatmu untuk belajar alkemis," ucap Xianlun sambil menundukkan kepala.


"Maaf saja, aku tak tertarik menjadi seorang pendekar yang jago bertarung saja. Jika kau menolakku untuk menjadi muridmu, maka aku akan mencaei perguruan lain untuk melatih diriku," ucap Xiao Tian sambil membalikkan badannya. Lalu berjalan menjauhi panggung seakan ingin meninggalkan tempat itu.


"Tu ... tunggu!"


"Baiklah, akan kuterima kau untuk saat ini."


"Tapi dengan catatan. Jika nanti kau gagal menjadi seorang alkemis dalam bimbinganku, maka kau harus bersedia pindah ke cabang pendekar di perguruan kami," ucap Xianlun sambil sambil menatap punggung Xiao Tian.


"Baiklah, aku terima syaratmu itu," ucap Xiao Tian sambil membalikkan badannya menghadap ke arah Xianlun.


"Tian Ling, berikan semua pil yang telah kau murnikan tadi," ucap Xianlun sambil menyodorkan tangannya.


"Baik guru," ucap Tian Ling sambil melempar dua puluh pil yang telah dia murnikan. Pil pil itu terbang dengan teratur hingga mendarat tepat di telapak kanan Xianlun karena jalur lemparannya dikendalikan oleh kekuatan jiwa Tian Ling.


Tepat ketika baru memegang erat pil pil milik Tian Ling, Xianlun langsung menerbangkan pil pil itu hingga melayang ke hadapan Xiao Tian.


"Karena kau merupakan sati satunya murid baruku, maka semua pil itu adalah milikmu saat ini. Ingatlah agar tak menelan semua pil sekaligus, karena pil yang dimurnikan oleh Tian Ling selalu memiliki kandungan racun yang membuat efektifitasnya menurun."


"Jika kau menelan semuanya sekaligus, aku takut kau akan mati karena racun itu," ucap Xianlun sambil mengendalikan kekuatan jiwanya untuk menerbangkan pil pil Tian Ling.


"Terimakasih atas hadiah dan nasihatnya, guru," ucap Xiao Tian sambil memasukkan pil pil Tian Ling ke dalam cincin ruangnya.