Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 536 : Keputusan Xiao Tian


Woosh! saat sedang berbicara dengan Su Yan seketika Xiao Tian mendapatkan gambaran mengenai letak relik yang tersisa. Relik warna berada di tangan kesadaran terakhir Blood Chameleon yang tersembunyi di daratan siluman.


Relik Waktu yang tersegel di dalam tubuh penatua Tianzong. Serta relik keabadian yang nampak tersembunyi di alam Langit. Awalnya Xiao Tian merasa bingung akan relik ke seratus yang seharusnya tak ada, namun kebingungannya menjadi semakin menjadi sejak menyadari fakta bahwa orang yang memegang relik ke seratus ialah gurunya sendiri.


"Bagaimana ini mungkin!?"


"Bukankah guru seharusnya tiada!?" Xiao Tian mengungkapkan kebingungannya tanpa tersadar.


"Apa kau sedang menyumpahiku?" Dewa petir yang baru datang menyusul terlihat memasang wajah kesal.


"Bukan kau ... ," Xiao Tian menyela dengan ragu.


"Lalu siapa?"


"Dewa kera!?" tanya Dewa petir dengan tampang tak serius.


"Dewa Obat sebelum diriku!" jawaban Xiao Tian mengejutkan semua orang yang masih memiliki ingatan mereka. Yaitu Dewa petir, ketiga naga suci dan Dua wujud Su Yan.


"Kau tak sedang bercanda kan?" Dewa petir seketika menjadi begitu serius karena pernah menjalin persahabatan dengan sang Dewa Obat. Meski begitu dia tak langsung menyimpulkan bahwa orang yang Xiao Tian maksud benar benar sahabatnya, secara dia tahu betul kalau sahabatnya telah tiada dan memerlukan seratus relik Kaisar iblis untuk membangkitkannya kembali.


"Meski terasa samar, aku memang merasakan kekuatan yang aktif dari salah satu esensi relik di tubuh Xiao Tian. Nampaknya relik yang aktif merupakan relik Vision yang dapat melihat segala hal hanya dengan memikirkannya saja."


"Tapi setahuku, relik tak akan aktif sendiri. Pasti ada yang memicu hal tersebut!" White Dragon nampak curiga. Namun tak dapat membuktikan kecurigaannya karena tak dapat mendeteksi avatar God Yin Yang yang tersembunyi jauh di dalam kolam roh beladiri Xiao Tian.


Saat semua mata sedang tertuju pada Xiao Tian, Taiwu yang baru saja datang menaiki naga birunya dengan maksud melapor kesuksesannya dalam memberantas anggota sekte pembasmi iblis, segera menyela dengan berkata,


"Apakah relik Vision benar benar dapat menunjukkan apapun yang terpikirkan oleh penggunanya!?" Sangat wajar bagi Taiwu tertarik dengan efek dari relik itu, semua karena sudah sejak lama dia kehilangan hal yang tak bisa dia abaikan sampai sekarang. Ibu kandung yang dibawa kabur oleh ras vampir yang mengatakan bahwa dia berasal dari sekte kegelapan.


"Tentu saja!" White Dragon menanggapi.


"Kalau begitu, bisakah anda cari tahu dimana para vampir menyembunyikan ibuku?" Taiwu menunduk dengan penuh harapan.


"Akan kucoba!" jawab Xiao Tian tanpa ragu. Dia memejamkan matanya sembari membayangkan wajah ibu dari Taiwu. Dan mendapat sebuah gambaran bahwa saat ini para Vampir sedang bersembunyi jauh di benua lain yang disebut dengan pulau kematian. Benua yang diselimuti oleh asap beracun yang terletak jauh disebrang lautan yang menjadi garis pembatas antara daratan siluman dan daratan Vampir. Jika daratan Vampir adalah ujung dari daratan baru yang terhubung dengan daratan elemen, maka daratan siluman serta tanah kematian merupakan pulau lain yang harus dicapai melewati lautan luas yang mengelilingi sebagian besar wilayah batas daratan vampir.


Melihat Xiao Tian terdiam cukup lama, Taiwu yang begitu penasaran kembali mengangkat suaranya dengan nada yang sopan. "Apakah anda berhasil menemukannya, yang mulia?"


Xiao Tian mengangguk tanpa ragu, dan Taiwu pun tersenyum cukup lebar. Jika teknik teleportasi tak tersegel mungkin Xiao Tian bisa mencapai pula tersebut dalam hitungan minggu, namun karena lenyapnya segala bentuk perpindahan jarak jauh, memerlukan waktu berbulan bulan untuk sampai kesana. Dan itupun harus dia lakukan tanpa istirahat sedikitpun. Xiao Tian yang menyadari fakta tersebut hanya bisa meminta Taiwu pergi bersama klonnya sembari menaiki naga biru untuk mempersingkat waktu. Sementara dirinya memfokuskan diri untuk membantu Su Yan lolos dari kematiannya.


"Menyebutku kakak dengan wujud dewasa itu ... , bukankah seharusnya kalian mengganti cara kalian memanggilku?" tanya Taiwu dengan maksud mencairkan suasana.


"Hehe, meskipun tubuh dan pikiranku sudah kembali dewasa seperti dulu, kami tak mau merubah cara kami memanggilmu," Kaibo yang paham akan maksud ucapan Taiwu turut mencoba mencairkan suasana dengan pura pura tak peka.


"Benar, kami tak mungkin menyebutmu dengan sebutan biasa karena dalam pikiran kami sudah tertanam bahwa kak Taiwu dalah kak Taiwu!" Jingmi memasang wajah polos sembari turut berusaha mengikuti rencana Kaibo dan Taiwu.


"Bukankah itu terlalu kejam?"


"Aku tak setua itu hingga harus dipanggil kak oleh iblis yang berumur ribuan tahun!" Taiwu berpura pura kesal dan berhasil mencairkan suasana.


"Untuk mencapai pulau kematian, kalian harus melewati daratan siluman yang kini dikuasai oleh suku albino dan sisa kesadaran dari God Blood Chameleon. Kalian yakin semua ini akan baik baik saja?" Xiao Tian kembali terlihat khawatir setelah menyadari fakta itu.


"Kalau begitu, kami juga akan ikut!" Huanran dan si Gendut menawarkan bantuan mereka.


"Jangan lupa sertakan kami juga!" Jenderal Tailong dan kedua saudaranya yang sempat mendengar apa yang direncanakan Taiwu menyela sembari melompat turun dari atas naga biru mereka.


"Karena semua orang akan pergi menuju pulau kematian, maka ijinkan kami mengikuti anda menuju ke kerajaan Api!" jenderal Huang Cheng beserta pasukannya menawarkan bantuan dari atas punggung naga biru yang telah ditaklukkan Taiwu.


"Bisakah anda pertimbangkan bantuan kami juga, yang mulia?" pasukan siluman yang menaiki iblis naga hijau mendarat satu demi satu dan turun sembari memberi hormat.


"Kerajaan Api tak sebesar itu, kami berenam saja sudah cukup."


"Lagi pula tak baik jika mengendurkan pertahanan kerajaan yang baru baru ini kita kuasai kembali!" tegas Xiao Tian dengan yakin.


"Itu ... ," semua orang nampak kecewa.


"Tiga naga suci, Xiao Tian Dewa petir dan dua Su Yan yang bisa dianggap satu. Memang benar kalian saja sudah lebih dari cukup untuk berurusan dengan sebuah kerajaan kecil seperti kerajaan Api, tapi sebagai seorang istri aku ... ," Liang Su nampak ingin membantu suaminya, namun Su Yan menentang keras keinginan istrinya itu. Semua demi kandungan yang berada di dalam perutnya.


"Keputusanku sudah final, kalian lakukan saja apa yang harusnya kalian kerjakan. Oh iya, selagi kami pergi, tolong jaga adik serta istriku," Xiao Tian memotong ucapan para siluman yang hendak mengangkat suara mereka kembali.


"Jika memang itu kehendak yang mulia maharaja, maka kami akan mematuhinya," raja siluman rubah beserta para bawahannya memberi hormat secara bersamaan.


Setelah tak ada lagi kata penolakan, Xiao Tian segera berbalik dan berkata, "Ayo kita pergi!"


"Hmmm!" ketiga naga suci, Dewa petir serta dua Su Yan mengangguk tanpa terkecuali.