
Garis susunan seratus jiwa mulai bersinar satu persatu sejak para murid mulai menyalurkan kekuatan jiwa mereka.
Tubuh para murid memerah karena suhu tubuh yang terus berubah semakin tinggi.
Xia Hu dan keempat murid yang ada dalam pusat lingkaran juga mengalami kenaikan suhu tubuh, hanya saja suhu tubuh mereka jauh lebih tinggi bahkan hingga mengeluarkan asap dan warna kulit yang begitu merah menyala.
Sedangkan Xiao Tian yang duduk di lingkaran pusat susunan seratus jiwa menerima efek samping yang luar biasa. Tak hanya tubuh yang memerah akibat suhu tubuh yang melonjak tajam, asap tebal serta kulit yang terkelupas sedikit demi sedikitpun melengkapi rasa sakitnya.
Namun itu semua bukanlah hal yang paling membuatnya tersiksa, karena saat ini hal yang paling membuatnya tersiksa yaitu luka dalam yang terus semakin parah hingga semua organ dalamnya terasa sakit bagai ditusuk ribuan pedang. Dan hal yang paling parahnya, dia harus menahan hal tersebut tanpa mengeluarkan suara sedikitpun. Jika dia bersuara sedikit saja, maka kematianlah yang akan menjadi akhirnya.
Xiao Tian yang sadar akan hal tersebut hanya bisa menahan rasa sakit tersebut sambil menelan pil pemulih jiwa yang dia dapatkan dari para alkemis untuk mengurangi rasa sakitnya.
Meski tak sepenuhnya mengurangi rasa sakit yang dia alami, pil tersebut tetaplah berguna karena bisa menstabilkan kekuatan jiwanya.
Para murid cabang petarung pun melakukan hal yang sama seperti Xiao Tian, mereka menelan pil pemulih jiwa saat rasa sakit yang mereka alami sudah tak bisa ditahan lagi.
Meski efeknya hanya sepuluh menit saja, namun itu tetaplah berguna karena bisa menambah sedikit tingkat kesuksesan susunan tersebut.
Susunan tersebut akan otomatis terhenti setelah diaktifkan selama satu jam, namun akan kembali aktif setelah lima menit terlewati. Lima menit tanpa rasa sakit itu Xiao Tian manfaatkan sebagai jeda untuk meminta pil pemulih jiwa dari para alkemis lagi, semua agar dia dan murid muridnya sanggup melewati lima putaran susunan seratus jiwa.
Berbeda dengan formasi susunan bintang enam, susunan seratus jiwa benar benar menyiksa penggunannya dan tak bisa dijeda sesuai keinginan. Jika sudah dimulai, maka harus dituntaskan saat itu juga. Jika ada yang keluar dari susunan disaat jeda lima menit terlewati maka beban atau rasa sakit yang seharusnya diterima orang yang keluar itu akan diterima oleh para murid yang masih berada di dalam susunan. Sedangkan orang yang memaksa keluar dari susunan teesebut akan mengalami kerusakan meridian dan berpotensi untuk menjadi sampah selamanya.
Namun berkat tekad semua murid yang sangatlah tinggi, tak ada yang mau keluar untuk menghindari rasa sakit di putaran berikutnya.
Setelah menerima pil tingkat lima dari para alkemis, merekapun bersiap untuk melanjutkan putaran berikutnya.
Terdapat lima putaran dalam susunan tersebut, dimana putaran pertama akan merekonstruksi ulang kulit para petarung agar menjadi lebih keras dari biasanya.
Putaran kedua berfungsi untuk merombak susunan tulang orang orang yang ada di dalam susunan seratus jiwa. Dimana tulang tulang mereka akan hancur sedikit demi sedikit dan akan tumbuh tulang baru yang lebih kokoh. Namun tentu rasa sakit ketika pergantian tulang sangatlah luar biasa, itulah mengapa pil pemulih jiwa para alkemis sangatlah diperlukan demi menekan rasa sakit yang ada.
Di putaran ketiga semua murid akan mengalami sakit perut yang luar biasa hingga memuntahkan darah hitam yang melambangkan kotoran serta racun di tubuh mereka. Rasa sakit yang dialami di putaran ini sangatlah bervariasi, semakin tinggi kultivasi seseorang maka semakin sakit pula rasa sakit yang mereka rasakan.
Di putaran keempat semua yang ada disusunan tersebut akan mengalami perbaikan meridian dan otot otot bagian dalam. Saat putaran ini selesai, semua luka dalam yang diterima akibat putaran putaran sebelumnya akan hilang seperti tak terjadi apa apa.
Setelah putaran keempat terlewati, tiba saatnya putaran kelima. Dimana kultivasi semua orang di dalam susunan seratus jiwa akan dipaksa naik setinggi mungkin.
Kenaikan paksa sebuah kultivasi akan memberikan dampak rasa sakit yang jauh lebih mengerikan dari putaran sebelumnya.
Berdasarka urutan rasa sakit, seratus murid yang bersemedi di garis temu akan mengalami kenaikan paksa hingga tingkat pendekar alam ilusi. Mereka yang sebelumnya hanyalah seorang grand master petarung dipaksa naik puluhan lapisan hingga menjerit dan batuk darah meski telah menelan puluhan pil tingkat lima sekaligus.
Sedangkan para murid yang berada di lima lingkaran pusat, dipaksa naik ke tingkat pendekar alam mortal lapisan puncak. Dan rasa sakit yang mereka terima tentunya sangatlah luar biasa. Bagaikan disiram oleh magma panas dari ujung kaki hingga ujung kepala.
Sedangkan Xiao Tian yang menjadi pusat utama susunan tersebut, mendapatkan rasa sakit sepuluh kali lipat dari tersiram magma panas. Dia harus menahan sambaran tujuh petir kesengsaraan yang memaksanya untuk menembus tingkat pendekar alam naga lapisan puncak.
Duarrr duarr duarr
"Aku harus bisa menahan ini, aku tak boleh gagal dan menjadi sampah lagi," pikir Xiao Tian sambil menahan sambaran petir yang terus menyerangnya secara bergantian.
Saat itu mereka sedang berlatih di bawah tanah cabang petarung, namun petir tersebut tetap sampai kepadanya hingga membuat lubang di atas atap ruangan. Sontak, para murid alkemis yang tadinya sedang mengumpulkan bahan meracik diluar gedung langsung berlari ke ruang bawah tanah untuk melihat apakah master mereka baik baik saja.
Meski begitu, latihannya belum benar benar selesai. Semua karena pondasi tubuh mereka belum sesuai dengan kultivasi yang baru. Dengan tubuh yang belum terbiasa dengan kultivasi terbaru, mereka harus kembali berkultivasi untuk memupuk pondasi tubuh. Jika hal ini tak dilakukan hanya kecepatan saja yang mereka dapatkan, sedangkan kekuatan mereka masih sama seperti kultivasi lama mereka.
Untuk menaikkan kekuatan tubuh, Xiao Tian dan para murid cabang alkemis memerlukan banyak kekuatan qi dan kekuatan jiwa. Semua murid paham akan hal tersebut, begitu pula para alkemis yang meracik sambil melihat latihan mereka.
"Apakah semuanya baik baik saja?" ucap para murid yang baru memasuki ruang bawah tanah dengan napas yang terengah engah.
"Kenapa kalian baru datang sekarang?"
"Gara gara kalian semua bahan langka telah habis kami gunakan!" bemtak Xiang Ying sambil memasang wajah kesal.
"Maafkan kami guru. Tapi ... ," ucap salah satu murid Xiang Ying.
"Tapi apa?" tanya Xiang Ying sambil memasang wajah kesal.
"Semua bahan yang biasanya mudah ditemukan bagai rumput liar itu, benar benar tak bisa ditemukan dimanapun. Entah siapa yang telah memungut bahan bahan tersebut. Padahal kami paham betul bahwa tak ada yang pernah menganggap bahan bahan itu sebagai harta sebelumnya," ucap salah sati murid Xiang Ying sambil membungkukkan kepala.
"Apakah kalian juga sama?" tanya Xia Ning sambil menatap murid muridnya.
"Ampun guru, kami juga tak menemukan bahan bahan itu dimanapun," ucap para murid Xia Ning sambil memberi hormat.
"Aneh sekali, bukankah orang orang sini tak menganggap bahan bahan itu sebagai harta?"
"Kenapa bisa terjadi seperti ini?"
"Padahal niat awalku adalah melatih para murid alkemis dengan menyuruh mereka meracik bahan bahan yang cukup sulit itu," pikir Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Jika kau ingin melatih keterampilan para alkemis, beri saja mereka resep pil penetral racun yang ditelan oleh Tian Bai. Berikan semua langkahnya agar mereka bisa melatih diri mereka sendiri disaat kau fokus memupuk pondasi," ucap Dewa petir sambil menepuk pundak Xiao Tian.
"Tumben kau memberi saran yang bagus. k
Kalau kau serius seperti ini terus dan berhenti bertindak konyol mungkin aku akan memanggilmu dengan sebutan guru lagi," ucap Xiao Tian sambil melirik ke arah Dewa petir melalui telepati.
"Memangnya kapan aku bertindak konyol?" ucap Dewa petir sambil mengupil.
"Lalu apa yang sedang kau lakukan sekarang?"
"Bukankah kau saat ini hanyalah seorang roh?" tanya Xiao Tian melalui telepati.
"Aku memang seorang roh, memangnya kenapa?" tanya Dewa petir sambil mengupil.
"Memangnya apa yang kau coba keluarkan dari hidungmu!"
"Seorang roh tak mungkin memiliki kotoran hidung, tolong berhenti merusak pemandanganku!" teriak Xiao Tian dengan tampang kesal melalui telepati.
"Aih, suka suka aku dong. Meski tak ada kotoran di hidungku, mengupil adalah hobiku. Dan ini adalah salah satu caraku untuk melatih teknik legendaris milikku," ucap Dewa petir sambil mengupil.
"Haih ... , terserah kau saja!" ucap Xiao Tian melalui telepati sambil menghela napas.