
#Gedung alkemis Xianlun
#Ruang meracik obat
Xiao Tian masuk ke dalam ruang peracik obat, sedangkan Sunlong masuk ke dalam cincin ruang karena merasa bahwa orang yang akan dia temui bukanlah orang sembarangan.
"Berhati hatilah, sepertinya orang yang akan kita temui bukanlah orang yang sembarangan," ucap Dewa petir sambil menepuk pundak Xiao Tian.
"Kalian berdua tetaplah di luar pintu, dan jangan biarkan orang luar mengetahui tentang pertemuan kami," ucap Xiao Tian sambil memegang daun pintu.
"Baik, master," ucap Xianlun sambil memberi hormat.
"Kenapa guru memanggilnya master?" pikir Tian Ying sambil mengerutkan dahi.
Tanpa menghiraukan Tian Ling yang tak merespon ucapannya, Xiao Tian langsung membuka pintu lalu menutup pintu tersebut rapat rapat. Dia juga melapisi pintu tersebut dengan kekuatan jiwa yang sempat dia pulihkan dengan bantuan pil yang Xianlun racik sebelumnya. Alasan mengapa Xiao Tian melapisi pintu keluar tersebut dengan kekuatan jiwanya yaitu untuk mencegah orang luar mendengar percakapan mereka dan mencegah agar orang lain tak dapat membuka pintu tersebut.
setelah memasuki ruangan peracik dan menutup pintu rapat rapat, Xiao Tian melihat pria tua dengan pakaian serba hitam bercorak naga, sedang bersemedi di dekat tungku tingkat tiga sambil menutup matanya.
"Apakah kau master muda yang dibicarakan oleh Xianlun?" ucap Patriach Bai sambil membuka matanya secara perlahan.
"Status," ucap Xiao Tian dalam hati.
"Pendekar alam naga lapisan ke enam," ucap Xiao Tian sambil menatap ke arah Patriach Bai dengan topeng yang masih terpasang.
"Seperti yang diharapkan dari seorang master, kau bahkan bisa membaca tingkat kultivasiku hanya dengan sekali lihat," ucap Patriach Bai sambil tersenyum dan memberi hormat.
"Entah mengapa aku merasa seperti sedang berhadapan dengan tuan Xian Yun. Dia benar benar mirip dengannya. Terlepas dari topeng dan suaranya yang terlihat dan terdengar berbeda, sisanya masih sama persis. Terutama jubah serta tingkat kultivasi yang tak dapat dirasakan sama sekali."
"Sama halnya dengan apa yang aku rasakan saat bertemu dengan tuan Xian Yun, aku juga merasakan hal yang sama saat bertemu dengan master muda ini."
"Kultivasi mereka berdua sama sama tak bisa dibaca," pikir Patriach Bai sambil memberi hormat.
"Jika bukan karena gelang Dewa, aku pasti tak akan tahu tingkat kultivasinya."
"Syukurlah gelang Dewa bukan sebuah relik, jadi aku masih bisa menggunakannya meski tanda terkutuk milik orang tua itu menyegel semua relikku. Dengan begini, aku bisa melakukan apa yang Xian Yun lakukan sebelumnya. Yaitu berpura pura kuat dengan menyembunyikan kultivasi," pikir Xiao Tian sambil tersenyum di balik topengnya.
"Salam master, maaf jika kedatanganku mengganggu jam istirahatmu," ucap Patriach Bai sambil memberi hormat.
"Xianlun lah yang telah menolongmu, bukan diriku," ucap Xiao Tian sambil menatap mata Patriach Bai.
"Aku tahu itu, tapi master juga berkontribusi dalam hal tersebut karena telah mengajari Xianlun meracik pil untuk menyembuhkanku.
Dengan kata lain, master secara tak langsung telah menyelamatkanku juga," ucap Patriach Bai sambil memberi hormat.
"Selain Xianlun dan Tian Ling, apakah ada yang tahu bahwa kau pergi kemari untuk menemuiku?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Tak ada. Bahkan Penatua Zhao yang sangat kupercayai pun, tak tahu tentang dimana dan sedang apa aku saat ini," ucap Patriach Bai sambil memberi hormat.
"Begitu ya?"
"Lalu apa tujuanmu kemari?"
"kau kemari bukan untuk mengucapkan berterima kasih saja bukan?" tanya Xiao Tian sambil menatap mata Patriach Bai.
"Selain untuk berterima kasih kepada master, aku mempunyai satu permintaan yang egois. Apakah master mau menjadi penatua di perguruan kami?" tanya Patriach Bai sambil memberi hormat.
"Maaf, aku tak ingin terikat dengan perguruan manapun. Jadi dengan berat hati aku harus menolak permintaanmu ini," jawab Xiao Tian sambil menatap mata Patriach Bai.
"Begitu ya, sayang sekali. Padahal aku sangat mengharapkan anda bisa menetap sekaligus mengajari murid di perguruan ini. Tapi mau bagaiman lagi, aku juga tak mungkin bisa memaksamu," ucap Patriach Bai sambil memberi hormat dengan tampang kecewa. Dia menghela napas sambil menundukkan kepala karena tak tahu lagi harus melakukan apa.
"Kalau sudah selesai, aku akan pergi ke ruanganku untuk beristirahat," ucap Xiao Tian sambil membalikkan badan hingga menghadap ke pintu keluar.
"Tu ... tunggu!"
"Jika master tak mau terikat dengan perguruan ini, maka tak apa. Tapi bisakah kau membantuku sekali lagi?"
"Besok akan diadakan turnamen empat sekte, dan kami harus memenangkan turnamen tersebut agar perguruan kami tidak kekurangan murid," ucap Patriach Bai sambil memberi hormat.
"Turnamen empat sekte besar?" ucap Xiao Tian sambil menghentikan langkahnya.
"Ya, seperti yang diketahui semua orang. Perguruan ini didirikan oleh sekte besar dengan nama yang tak jauh berbeda dengan nama perguruan ini. Nama lain perguruan ini yaitu sekte badai berduri," jelas Patriach Bai sambil memberi hormat.
"Turnamen empat sekte dilakukan setiap empat tahun sekali. Dan sekte kami sudah kalah selama dua kali berturut turut. Hingga sekte kami harus menggunakan nama perguruan dan menghilangkan kata sekte untuk selamanya."
"Besok adalah turnamen terakhir yang bisa kami ikuti, jika kami gagal lagi. Maka kami terpaksa harus membubarkan perguruan kami dan membiarkan murid murid kami direbut oleh sekte yang menjadi pemenang turnamen," jelas Patriach Bai dengan tampang kesal hingga mengepal erat kedua tangannya.
"Bubarnya perguruan ini, tak ada urusannya denganku. Untuk apa aku repot repot membantu kalian?" tanya Xiao Tian sambil berdiam diri di tempatnya berdiri.
"Tolong, setujuilah permintaan egoisku ini. Master," ucap Patriach Bai sambil bersujud dengan penuh air mata.
"Gingseng naga, embun berduri, jamur es dan batu asap. Berikan itu padaku sekarang juga, maka akan kupertimbangkan permintaanmu ini," ucap Xiao Tian sambil berdiri membelakangi Patriach Bai.
"Bahan bahan itu tak bersamaku saat ini, aku menyimpannya di celah neraka karena tak tahu cara mengolah keempat bahan tersebut,"
"Selain aku, tak ada yang mengetahui bahwa aku menyimpannya di tempat terkutuk itu. Namun terlalu berbahaya pergi kesana di malam hari, jadi kusarankan agar mengambilnya besok pagi saja," ucap Patriach Bai sambil menatap punggung Xiao Tian.
Xiao Tian membalikkan badannya, lalu berjalan mendekati Patriach Bai. Sambil menepuk kedua pundak Patriach Bai, dia pun berkata, "Tatap mataku,"
Patriach Bai menatap Xiao Tian tanpa rasa ragu, disaat itu pula semua ingatan Patriach Bai berhasil tersalin ke otak Xiao Tian.
Setelah merasa bahwa informasi yang dia dapatkan sudah cukup berguna, Xiao Tian langsung menyingkirkan tangannya dari pundak Patriach Bai.
"Kembalilah ke tempatmu, ini sudah cukup larut malam. Untuk bahan bahan yang kuinginkan tadi, biar aku yang mengambilnya sendiri. Sedangkan turnamen yang kau bicarakan, aku sendiri yang akan menjadi pesertanya. Jadi kau tak perlu khawatir lagi, Tian Bai," ucap Xiao Tian sambil berdiri tegak menghadap Patriach Bai yang duduk dengan kaki yang ditekuk.
"Te ... terimakasih master Xian Yun," ucap Patriach Bai sambil bersujud dengan penuh air mata.
Karena Patriach Bai belum juga pergi dan masih bersujud dengan penuh air mata, Xiao Tian berinisiatif berjalan pergi meninggalkan ruangan peracik.
Kreakk
Brukk
"Kalian masih disini?" tanya Xiao Tian sambil menatap Xianlun dan Tian Ling.
"Ka ... kami ... hanya menjalankan perintahmu," ucap Tian Ling sambil memainkan jari jarinya dengan tampang yang terlihat panik.
"Huft, syukurlah dia tak memergokiku saat sedang mencoba menguping," pikir Tian Ling sambil mengeluarkan keringat dingin.
"Apa aku boleh menemui patriach sekarang, Master?" tanya Xianlun sambil memberi hormat.
"Tentu saja, tapi Tian Ling harus ikut bersamaku. Karena dia harus mengantarku ke kamar tidurku," ucap Xiao Tian sambil menatap mata Xianlun.
"Ka ... kamar?" ucap Tian Ling dengan muka memerah.
"Ada apa denganmu?"
"Jangan pikirkan hal lain, aku baru satu hari disini. Dan belum mengenal betul semua ruangan di gedung ini. Bukankah wajar jika aku memintamu mengantarku?" tanya Xiao Tian sambil menatap tajam mata Tian Ling.
"Ba ... baik!" ucap Tian Ling sambil menundukkan kepalanya.
Tian Ling mengantar Xiao Tian menuju ke kamarnya, sedangkan Xianlun memasuki ruang peracik untuk melihat kondisi patriach Bai. Dan saat baru membuka pintu, dia terkejut bukan main karena melihat Patriach Bai sedang bersejud dengan berlinang air mata.
"Pa ... patriach!"
"Anda tidak apa apa?" tanya Xianlun sambil berlari mendekati Patriach Bai.
"Tuan Xian Yun masih hidup, dia masih hidup. Xianlun, apakah kau mendengarku?"
"Tuan Xianlun masih hidup!" ucap Patriach Bai dengan wajah yang di penuhi air mata.
"Kenapa anda berpikir begitu?"
"Sadarlah patriach, kau telah diperdaya olehnya."
"Dia memakai ingatan tuan Xian Yun untuk mengelabuimu. Sebenarnya dia bukan tuan Xian Yun tapi ... , uhuk uhuk." Xianlun terbatuk batuk disertai dengan muntah darah sebelum dia menyelesaikan kalimatnya.
"Ada apa ini?"
"Kenapa dadaku terasa sesak?"
"Apakah ini efek bola sinar hitam ditubuhku?" pikir Xianlun sambil nerusaha menahan rasa sakit, namun dia tak sanggup menahannya dalam waktu yang lama sehingga dia pun terjatuh pingsan.
"Xi ... Xianlun!"
"Apakah kau baik baik saja?" ucap Patriach dengan tampang yang begitu panik.
Ketika memperhatikan tubuh Xianlun baik baik, Patriach Bai menemukan sebuah jarum berlapis kekuatan qi di belakang leher Xianlun.
"Jadi kau masih ada disekitar sini ya, Patriach Tian Zhong," ucap Patriach Bai sambil mencabut keluar jarum di leher Xianlun.
Tap tap tap
"Kau masih mengenali jarumku ya, Tian Bai," ucap Tian Zhong yang baru menunjukkan diri melewati pintu ruangan meracik.