
Xiao Tian telah kembali ke kerajaan petir dengan gulungan teleportasi.
Tentunya dia ditemani oleh Dewa petir dan Sunlong yang memeganginya sejak di luar ruang hampa.
Suasana disana terasa begitu sepi, karena memang tak ada satu pun orang yang tersisa.
Sambil menghela napas dia pun berpikir,
"Huft, aku tak menyangka kalau kerajaan petir bisa dikosongkan seperti ini. Dan semua terjadi karena aku masih terlalu lemah,"
Ketika Xiao Tian masih sibuk melihat lihat area sekitar, Dewa petir menepuk punggungnya lalu berkata,
"Bisakah aku bertanya padamu sebentar?"
"Tentu saja, katakan saja apa yang kau ingin tanyakan. Akan kujawab jika aku tahu jawaban dari pertanyaanmu," sambung Xiao Tian sambil melirik ke arah kanan.
"Pada saat menulis teknik beladiri sebelumnya, bisakah kau jelaskan darimana sumber kekuatanmu itu?"
"Kau mengalami luka dalam, seharusnya tak bisa mengeluarkan kekuatan jiwa sebanyak itu. Bisakah kau jelaskan semuanya?" tanya Dewa petir sambil memegang pundak Xiao Tian.
"Jadi bukan kau yang memberinya kekuatan jiwa?" tanya Sunlong yang duduk di atas kepala Xiao Tian.
"Untuk apa aku bertanya, jika itu aku yang melakukanya?" sambung Dewa petir sambil melirik ke arah Sunlong.
"Jarang sekali melihatmu seserius ini, aku jadi takut. Pantas saja hari ini aku merasa tidak enak sejak pagi, ternyata terjadi sebuah keajaiban dunia dimana Dewa terkoplak telah tercerahkan," sambung Sunlong sambil menatap Dewa petir.
"Siapa yang kau panggil Dewa terkoplak, ha!" bentak Dewa petir sambil berusaha memukul Sunlong.
Tapi belum sempat pukulannya mengenai Sunlong. Dewa petir menghentikan pukulannya, setelah mendengar Xiao Tian berkata, "Mereka telah tiba."
"Siapa?" tanya Dewa petir.
"Pembasmi iblis," ucap Sunlong sambil mengerutkan dahi.
"Kenapa hanya aku yang tak merasakan hawa kehadiran mereka?" ucap Dewa petir sambil mengerutkan dahi.
"Mungkin karena kau merasuki melebihi batas waktu yang ditentukan. Dan kau juga telah menggunakan sebagian besar kekuatan jiwamu untuk mentransfer teknik teknik itu," jelas Xiao Tian dengan tampang serius.
"Masuk akal," sambung Dewa petir sambil mengerutkan dahi.
"Lebih dari ratusan orang dengan tingkat kekuatan pendekar alam mortal sedang menuju kemari. Sepertinya mereka telah merasakan hawa kehadiran kita. Apa keputusanmu?" tanya Sunlong sambil menatap ke bawah.
"Bukankah sudah jelas?"
"Untuk saat ini kita harus kabur dulu," ucap Xiao Tian sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Tapi energi qi milikmu sudah habis, ditambah lagi kau juga terkena luka dalam yang membuatmu kesulitan untuk mengumpulkan kekuatan jiwamu. Bagaimana cara kita kabur?" tanya Dewa petir sambil mengerutkan dahi.
"Dengan cara yang sama seperti yang kulakukan saat ingin membuat ribuan buku itu," jelas Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Apa itu?" tanya Dewa petir dengan penasaran.
#Alam pikiran Xiao Tian
"Untuk apa kau datang kemari?"
"Apakah sudah waktunya aku mengamuk?" tanya sisi gelap Xiao Tian.
"Berhenti bersandiwara, aku sangat yakin kau sudah tahu apa tujuanku kemari," ucap Xiao Tian sambil menatap sisi gelapnya.
"Cih, ini kedua kalinya kubiarkan kau menggunakan kekuatanku. Dan tak akan ada yang ketiga hingga kau penuhi janjimu padaku," ucap sisi gelap Xiao Tian sambil menghela napas.
"Terimakasih atas kerja samanya, kalau begitu aku akan kembali ke tubuh utamaku," ucap Xiao Tian dengan roh yang mulai memudar.
#Alam nyata
Dewa petir dan Sunlong menjadi begitu panik karena melihat Xiao Tian menutup mata dalam keadaan berdiri dalam waktu yang cukup lama. Mereka tak tahu, bahwa saat itu, roh Xiao Tian sedang masuk ke alam pikirannya sendiri untuk meminta bantuan sisi gelapnya.
Saat semuanya masih sangat panik, karena Xiao Tian tak merespon panggilan mereka. Tiba tiba saja Xiao Tian kembali membuka mata dengan kekuatan jiwa yang langsung meningkat pesat.
Sadar karena kekuatan sementaranya saat itu sudah bisa dipakai untuk melarikan diri, dia pun tersenyum sambil berkata,
"Masuklah ke dalam cincin ruangku," ucap Xiao Tian dengan senyum tipis di wajahnya.
"Aku tak tahu apa rencanamu, tapi karena keadaan mendesak dan aku tak bisa membantumu untuk sementara waktu. Maka aku akan melakukan apa yang baru saja kau katakan.
"Aku tunggu kau di dalam cincin ruang, kadal jelek," ucap Dewa petir sebelum masuk ke dalam cincin ruang Xiao Tian.
"Teknik teleportasi jarak jauh, aktifkan!" ucap Xiao Tian sambil mengepal erat kedua tangannya.
Tepat ketika Xiao Tian baru menghilang dari tempatnya berdiri. Pasukan pembasmi iblis baru tiba di lokasi.
"Menghilang," ucap Ming Chun setelah mendarat ke tempat Xiao Tian berdiri sebelumnya.
"Benar benar tempat yang sepi, aku tak merasakan hawa keberadaan satu orang pun disini," ucap Ming Dao suku albino lain yang mendarat tepat di belakang Ming Chun.
"Sepertinya kita terlambat lagi," ucap Ming Xi sambil memasang wajah kesal.
"Padahal kita sudah jauh jauh kemari. Dan membawa begitu banyak pasukan. Ternyata orang yang kita buru malah berhasil melarikan diri lagi. Bahkan tak meninggalkan satu orang pun yang bisa kita jadikan sandra," ucap Ming Ze sambil menghela napas.
"Cari penghuni kerajaan ini, kemungkinan mereka bersembunyi di sekitar kerajaan. Atau jika mereka pergi carilah ke segala arah!"
"Berdasarkan bau kehidupan yang kucium, seharusnya mereka belum pergi jauh dari sini!" ucap Ming Shuang sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Siap tuan!" ucap para pasukan sambil memberi hormat. Setelah itu mereka langsung menyebar ke segala penjuru untuk mencari orang orang dari kerajaan petir.
"Jangan harap bisa lari dari kami, pangeran Xiao Tian," ucap Ming Shuang sambil mengepal erat kedua tangannya.
#Daratan Xian Yun
"Hachu!"
"sepertinya ada yang membicarakanku," ucap Xiao Tian sambil mengelap hidungnya.
Tak lama setelah Xiao Tian berteleportasi, Dewa petir segera keluar dari cincin ruang kemudian berkata,
"Sebenarnya apa yang kau pikirkan!"
"Bukannya pergi ke wilayah yang jauh dari musuh. Kau malah pergi ke salah satu markas mereka!"
"Apa kau ingin mati!" tanya Dewa petir dengan tampang kesal.
"Justrul karena aku tak ingin mati, makanya aku datang kemari," sambung Xiao Tian dengan tampang serius.
Xiao Tian langsung mengeluarkan topeng Dewa yang dia simpan di dalam cincin ruang dalam waktu cukup lama. Kemudian mengeluarkan jubah Xian Yun yang telah dia rampas sebelumnya.
Sambil memakai kedua benda itu, dia pun berkata, "Dengan ini identitas dan kultivasiku tak akan diketahui lagi."
"Aku sudah kehabisan energiku, tak bisa melakukan hal lain selain menasehatimu. Bahkan aku sekarang sedang tak bisa membaca pikiranmu. Karena aku tak tahu apa yang di dalam pikiranmu saat ini, aku hanya bisa berkata. Berhati hatilah dan jangan bertindak gegabah. Tempat ini bukanlah tempat dimana kau bisa bertindak seenaknya," ucap Dewa petir sambil memasang wajah serius.
"Aku tahu itu, saat ini semua jenderal pembasmi iblis sedang berkumpul di daratan ini. Mereka pasti sedang berjaga karena takut aku menyerang daratan ini lagi. Karena memang cuman pasukan iblis di daratan ini yang masih memiliki kultivasi di bawah rata rata. Meski begitu, aku tak bisa menyinggung mereka untuk sekarang. Karena luka dalamku harus di sembuhkan terlebih dulu," ucap Xiao Tian melalui telepati.
"Kenapa kau mengatakannya melalui telepati?" tanya Dewa petir sambil menatap Xiao Tian.
"Aku merasa seperti ada seseorang yang sedang mengawasiku," ucap Xiao Tian melalui telepati.
Ketika Xiao Tian masih melihat lihat ke sekitar, tiba tiba saja ada orang yang menepuk punggungnya lalu berkata, "Apa kau punya makanan?"
Suaranya seperti pria tua, tapi kemunculannya yang tak bisa dirasakan membuat Xiao Tian sedikit gemetaran.
"Tentu, aku punya beberapa kantung makanan. Apakah kau menginginkannya," jawab Xiao Tian sambil mengeluarkan keringat dingin.
"Tentu saja aku mau, tapi sebelum itu bisakah kau tatap kedua mataku?" tanya pria tua itu.
Xiao Tian membalikkan badannya, dan yang dia lihat saat itu adalah seorang pria tua dengan pakaian compang camping bak seorang pengemis.
"Apakah dia seorang ahli yang bersembunyi?"
"Benar benar tak bisa dipercaya. Penampilannya benar benar menipu mata. Aku harus bersikap seperti biasa agar dia tak curiga kalau aku mengetahui bahwa dia merupakan seorang ahli," pikir Xiao Tian sambil mengeluarkan lima buah kantung makanan.
"Aku hanya memerlukan satu, kau tak perlu memberikan semua kantung makananmu," ucap pria tua itu sambil mengambil salah satu kantung makanan Xiao Tian.
"Kau bisa mengambil semuanya, aku masih punya banyak. Kalau begitu aku pergi dulu," ucap Xiao Tian sambil berjalan pergi meninggalkan pria tua itu.
"Jaga ularmu itu baik baik, anak muda,"
ucap pria tua itu sambil menatap ke arah punggung Xiao Tian.
"U .. ular?"
"Apa maksudmu?" tanya Xiao Tian sambil menghentikan langkahnya.