
Setelah kepergian pendekar itu, dan kematian raja Jia Xin, para prajurit kerajaan awan menghentikan serangannya, Xiao Tian berjalan meninggalkan kerajaan awan bersama rombongannya.
Melihat Xiao Tian dan si Gendut terlihat murung, Su Yan berusaha mencairkan suasana dan berkata. " Hei kenapa kalian terlihat sedih, bukankah kita berhasil mengetahui kemana tujuan kita berikutnya?"
Mendengar ucapan Su Yan, Xiao Tian menghentikan langkahnya dan berkata, "Perjalanan kali ini terlalu berbahaya, kalian tak perlu mengikutiku, kembalilah ke kerajaan petir dan katakan kepada ayahku, kalau aku mungkin tak akan pernah bisa pulang."
Plakk...
Mendengar ucapan Xiao Tian, Huang Li menampar wajah Xiao Tian dan berkata.
"Kau pikir kami siapa, hingga kau bisa mengusir kami seenaknya!"
"Kau pikir kau bisa menanggung semuanya sendiri!"
"Kalau pendekar itu tak datang, kita semua pasti sudah tiada!"
"Apa kau masih menganggap kami sebagai teman?"
"Teman macam apa yang meninggalkan temannya disaat temannya kesulitan!"
Tamparan yang di lampiaskan Huang Li, membekas di wajah Xiao Tian dan hatinya yang rapuh, dia saat ini baru menyadari, kalau dia memang tak bisa menanggung semuanya sendiri, dia memegang bekas tamparan itu dan terdiam.
"Kak Xiao Tian jangan khawatir, meski bahaya apapun yang akan kau hadapi nanti, aku berjanji akan terus mengikutimu." ucap Kaibo
Jingmi tak ingin kalah dengan kaibo, dia memegang tangan kiri Xiao Tian dan berkata.
"Ayah Xiao Tianku adalah orang hebat, dia tak pernah menyerah meski rintangan menghalanginya, Jingmi sangat bangga kepada ayah Xiao Tian, tak perduli apapun yang ayah Xiao Tian lakukan, Jingmi akan terus mengikuti, ayah Xiao Tian."
Mendengar ucapan Jingmi, Xiao Tian sedikit tersenyum, Melihat si Gendut diam saja , Su Yan menegurnya.
"Hei Gendut, setidaknya katakan sesuatu, aku tahu kau takut melawan kerajaan es, tapi apa kau tega membiarkan ketua pergi sendiri?"
Mendengar ucapan Su Yan si Gendut menjawab dengan senyum kecil.
"Hmm, meski kau tak mengatakannya aku akan tetap menuju kerajaan Es, meskipun boss melarangku aku akan pergi kesana sendiri, Karena aku memiliki masalah pribadiku sendiri dengan kerajaan Es.
Mendengar jawaban si Gendut, Su Yan merasa heran, karena si Gendut tak pernah bicara dengan begitu serius, karena penasaran, dia pun bertanya.
"Hei Gendut masalah pribadi macam apa yang bisa membuatmu begitu serius?"
Sambil mengepalkan kedua tangannya, si Gendut membuat ekspresi kesal dan marah yang sulit diungkapkan, dengan menahan amarahnya dia berkata. " Urus saja urusanmu sendiri."
Melihat ekspresi si Gendut, dia tahu ada masalah serius yang di sembunyikan si Gendut, karena tak ingin memperkeruh suasana, Su Yan memilih untuk diam.
Dengan hati yang telah mantap, Xiao Tian akhirnya mengijinkan mereka mengikutinya, dia memanggil naga hitam raksaksa yang pernah dia jinakkan, Tepat sebelum naga itu datang Xiao Tian berkata. " Teman-teman aku senang kalian sangat peduli padaku, aku hanya minta satu hal pada kalian, saat sampai disana, tolong jangan mati." Ucap Xiao Tian
Mendengar ucapan Xiao Tian semua orang pun tersenyum, tak lama setelah itu, Naga hitam raksasa menampakkan diri, Seperi biasa mereka menaiki naga itu untuk bepergian jauh, dengan posisi yang sama seperti sebelumnya, mereka duduk di atas punggung naga, Sedangkan Xiao Tian duduk seperti biasa, dia duduk di atas kepala naga hitam raksasa itu.
Sambil duduk di atas kepala naga, Xiao Tian menelan pil dan berkultivasi untuk memulihkan tenaganya, Dia menerobos hingga menjadi petarung perak bintang 9.
Jika berjalan kaki, mereka memerlukan waktu 5 bulan untuk sampai kesana, karena menaiki seekor naga hitam raksasa, mereka bisa sampai dalam waktu 1 bulan dengan kecepatan penuh.
Xiao Tian berencana meningkatkan kemampuannya ketika dalam perjalanannya, menurut perhitungan Xiao Tian, Seharusnya putri Jia Li belum sampai di kerajaan Es, dan dia bisa menyusulnya dengan kecepatan naga itu.
Setelah terbang seharian, Xiao Tian mendaratkan naganya dan bermalam di sebuah desa yang kebetulan dia temui, tentu saja dia mendarat jauh di tempat yang tak bisa dilihat para penduduk desa agar tak menakuti mereka.
Ketika ingin meninggalkan naga hitam itu di waktu malam hari, naga itu terus mengikutinya seakan dia takut ditinggal sendiri, melihat tingkah naga itu, Xiao Tian berkata.
" Diamlah disini, kalau kau mengikutiku nanti para penduduk akan ketakutan karena melihat tubuhmu yang begitu besar."
Mendengar ucapan Xiao Tian naga itu melangkah mundur, dan diluar dugaan tubuh naga itu memancarkan cahaya yang begitu terang, tubuh yang di bungkus cahaya terang itu perlahan mulai mengecil hingga seukuran seekor kadal.
Melihat naga itu dalam mode kadal yang begitu imut, Jingmi tak bisa menahan diri untuk memeluknya, dia pun berkata.
"Ayah Xiao Tian, karena dia bisa berubah menjadi seimut ini, aku boleh membawanya masuk ke dalam desa kan?"
"Kumohon..." Ucap Jingmi dengan wajah imutnya
Dengan wajah imutnya Jingmi menganggukkan kepala, dan mengacungkan jempolnya, dia pun berkata.
"Ok, aku berjanji akan merahasiakan identitas aslinya."
Xiao Tian tersenyum, dan membalikkan badannya, sambil berjalan menuju ke sebuah desa, Xiao Tian berkata. " Ingat ya, jangan ada yang berbuat onar di desa ini, kita kesini hanya untuk bermalam."
Dengan kompak semua orang menjawab, "Baiklah."
Xiao Tian dan rombongannya pergi measuki desa tak dikenal itu, melihat pakaian mewah yang digunakan Xiao Tian dan rombongannya, semua penduduk tak bisa memalingkan pamdangannya, belum lagi kecantikan yang Hung Li pancarkan dari wajahnya, membuat para pria disana tak bisa berkedip karena takjub dengan kecantikannya.
Mereka pikir semuanya akan berjalan lancar tanpa harus membuat keributan, akan tetapi semuanya diluar perhitungan, mereka dihadang oleh sekelompok berandalan yang ingin merampas harta mereka.
Sayangnya para berandal itu sedang sial, mereka tidak tahu kalau yang mereka hadapi adalah seorang kultivator, dalam sekejap ratusan orang dipukul hingga babak belur.
Dengan wajah yang begitu ketakutan, Pemimpin berandalan itu berkata.
"Ampun tuan, kami berjanji tak akan mengganggu kalian lagi."
Xiao Tian tak mengampuni mereka, dia menebas semua berandal itu dengan pedangnya, Xiao Tian adalah orang yang berhati-hati, dia tak ingin seseorang yang dia kalahkan menyusahkannya dimasa depan.
Melihat sikap Xiao Tian yang tak memberi kan ampunan, para penduduk pun merasa takut,
Xiao Tian berjalan memasuki sebuah penginapan. Xiao Tian dan rombongannya memperoleh sewaan gratis karena sang pemilik penginapan takut kepada Xiao Tian.
Xiao Tian pergi ke penginapan bukan untuk merampok, maka dari itu dia tetap membayar sewanya meski ditolak berkali-kali.
Karena Xiao Tian mengantuk, Akhirnya mereka semua pun tidur dikamar masing-masing.
Ketika mereka tertidur lelap, terdengar suara jeritan yang membuat Huang Li terbangun.
Jeritan itu terdengar seperti jeritan seorang gadis, hanya saja jeritan itu cuma bisa didengar Huang Li, meski Jingmi tidur bersama Huang Li di kamarnya, Jingmi tak mendengar apapun, makanya dia masih tertidur pulas.
"Tinggalkan desa ini!" Bunyi suara jeritan itu
Huang Li yang merinding ketakutan, mencoba menutup telinganya, tetapi anehnya jeritan itu malah terdengar semakin kencang, seakan-akan jeritan itu langsung terkirim ke pikirannya.
Jeritan itu terus menyuruh Huang Li untuk meninggalkan desa ini, karena ketakutan Huang Li berteriak "siapa kau!"
"Berhenti menggangguku!"
Teriakan yang di dengar Huang Li semakin kencang dan membuatnya semakin takut, dia tak bisa mengontrol dirinya, karena merasa takut dia pun menjerit." Kyaaaaa, siapapun tolong aku!'
Mendengar jeritan Huang Li, Jingmi pun terbangun dan menarik tangan Huang Li yang sedang menutupi telinganya, karena terganggu akan jeritanya, Jingmi pun berkata.
"Kak Huang Li berhentilah menjerit, ini sudah malam, apakah kak Huang Li bermimpi buruk?"
Ketika Jingmi menarik tangannya, Suara itu menghilang, dengan wajah yang ketakutan dia pun berkata pada Jingmi. " Apakah kau mendengar jeritan tadi?"
"Ya tentu saja, Kau menjerit begitu kencang." ucap Jingmi
"Maaf aku tak bermaksud mengganggu tidurmu, tapi jeritan yang kumaksud bukan jeritan ku, tapi jeritan yang berbunyi seperti seorang gadis yang berusaha menyuruh kita pergi." ucap Huang Li
Karena tak merasakan apapun, Jingmi berpikir kalau Huang Li hanya bermimpi, dia pun berkata, "Tenanglah, tak ada apapun disini, aku bisa merasakan kehadiran roh jahat jika memang ada disini, tidurlah mungkin kau hanya habis bermimpi buruk.
Huang Li mencoba bersikap tenang, dia pun tidur di samping Jingmi, dan berusaha memejamkan matanya, tapi ketika dia memejamkan matanya, suara itu kembali terdengar. " Pergilah dari sini!"
"Sayangi nyawamu, ajak semua temanmu pergi!"
Huang Li mencoba menutupi telinganya tapi suara itu malah semakin keras.
karena tak ingin mengganggu Jingmi, Huang Li memutuskan pergi ke kamar Xiao Tian.
"Sebenarnya siapa kamu?"
"Berhentilah berteriak di telingaku!" Ucap Huang Li sambil berjalan menuju kamar Xiao Tian