Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 259 : Ingatan semua orang


#Ruang singgasana


Xiao Tian duduk di samping kanan raja Xiao Zhaoye, sedangkan ratu Xiao Hong duduk di sebelah kiri suaminya.


Saat itu selain para siluman, semua jenderal serta teman Xiao Tian hadir di singgasana.


Melihat tak ada bangsa siluman disana, Xiao Tian pun bertanya tanya di dalam hatinya.


Semua orang duduk di samping kanan dan kiri dengan posisi yang menghadap karpet merah yang memanjang dari ujung ruangan hingga mencapai tangga kecil menuju singgasana raja.


Su Yan dan semua teman Xiao Tian duduk di kursi yang berjejeran di kanan. Sedangkan para jenderal duduk di deretan kursi sebelah kiri.


Saat itu Taiwu berada di karpet tersebut sambil memberi hormat kepada keluarga kerajaan untuk melapor bahwa dia mengumpulkan semua orang atas perintah pangeran Xiao Tian.


"Salam putra mahkota, semua orang telah aku kumpulkan sesuai perintah anda. Jika masih ada permintaan lain, tolong katakan padaku," ucap Taiwu sambil memberi hormat.


"Apa kau yakin ini sudah semuanya?"


"Mana para bangsa siluman?"


"Bukankah aku bilang padamu untuk memanggil mereka juga?"


tanya Xiao Tian sambil menatap Taiwu.


"Ma ... maaf pangeran, hamba memang sempat mendengarnya. Tapi kupikir anda sedang bercanda. Lagipula, apa itu bangsa siluman?" tanya Taiwu sambil mengerutkan dahi.


"Apa-apaan ini?"


"Kau tak mungkin lupa tentang mereka juga kan?"


"Mereka kan yang telah membantu kita membantai dua klan penghianat kerajaan, bagaimana bisa kau melupakan itu!" bentak Xiao Tian sambil menatap Taiwu dengan kesal.


"Putraku ... , klan penghianat mana yang kau maksud?"


"Lagipula tidak hanya Taiwu yang tak mengenal bangsa siluman, aku juga tak tahu apapun tentang hal tersebut. Apakah kepalamu habis terbentur sesuatu?" tanya raja Xiao Zhaoye sambil mengerutkan dahi.


Xiao Tian menatap ke arah Su Yan dan yang lainnya untuk memeastikan, namun mereka menggelengkan kepala sama seperti yang para jenderal lakukan saat Xiao Tian menatap ke arah mereka.


"Apa kau baik baik saja, Yan Yan?" tanya putri Jia Li sambil mengerutkan dahi.


"Sialan, kenapa Dewa kera merubah ingatan mereka sejauh ini," pikir Xiao Tian sambil mengepalkan tangan.


"Apa kalian semua yakin, kalau diantara kalian tak ada yang pernah mendengar tentang bangsa siluman sedikitpun?" tanya Xiao Tian dengan tatapan serius.


"Sial, apa ketua telah menyadari statusku yang sesungguhnya?"


"Seharusnya tak ada yang tahu kalau aku seorang siluman selain Liang Su yang masih melupakan jati dirinya sendiri," pikir Su Yan sambil mengepalkan tangan.


Karena melihat semua orang terdiam sambil menggelengkan kepala, Xiao Tian pun mengganti pertannyaannya.


"Baiklah kalau begitu, akan ku ganti pertanyaannya. Apakah diantara kalian ada yang tahu tentang klan Jiang dan klan Lin?" tanya Xiao Tian untuk memastikan apa saja yang telah Wu Kong rubah dalam ingatan semua orang.


"Klan Jiang?"


"Klan Lin?"


"Kami tak pernah mendengar adanya klan tersebut," ucap jenderal Huang Cheng sambil mengerutkan dahinya.


"Kejadian apa saja yang telah mereka lupakan?" tanya Xiao Tian melalui telepati.


"Simplenya seperti ini. Keberadaan klan Jiang dan klan Lin telah dihapus dari ingatan semua orang. Jadi kejadian pembantaian mereka pun seakan tak pernah terjadi."


"Semua peristiwa yang dipicu oleh para Dewa sesat pun seakan tak pernah terjadi. Bahkan keberadaan sekte iblis pun sudah dilupakan oleh semua orang di daratan elemen," jelas Dewa petir melalui telepati.


"Dalam ingatan mereka hanya terukir seluruh pencapaianmu yang luar biasa sejak kecil hingga diakui sebagai putra mahkota. Kau juga mengajari semua temanmu yang kau temui sewaktu berguru di sekte gunung api. Dan perlu kutegaskan lagi, keberadaan topeng bencana pun sudah dilupakan semua orang. Yang diingat saat ini hanyalah ratu Xiao Hong yang sederhana dan tak pernah menunjukkan kekuatan aslinya."


"Kejadian mengeringnya air laut dianggap sebagai bencana alam belaka. Oh iya, ingatlah hal ini baik baik, selain di daratan elemen ingatan orang orang tak ada yang dirubah. Jadi para siluman yang berasal dari dimensi es, masih mengingat semuanya. Mungkin dalam waktu dekat mereka akan mengunjungimu."


"Oh iya, para pembasmi iblis juga berasal dari luar daratan elemen. Jadi jangan turunkan kewaspadaanmu, karena mereka masih menaruh dendam karena kau telah membasmi seluruh pasukan elit serta melindungi Kaibo dan Jingmi yang identitasnya tak diketahui oleh semua orang kecuali kau tentunya," jelas Dewa petir melalui telepati.


"Terlalu banyak yang berubah, sialan," pikir Xiao Tian sambil mengepalkan tangan.


"Putraku, apakah ada hal lain yang ingin kau katakan pada kami?" tanya Xiao Zhaoye sambil menatap Xiao Tian.


"Tak ada, selain putri Jia Li tak ada yang boleh mengikutiku ke dalam ruang latihan. Karena ada hal penting yang harus kubicarakan dengannya," ucap Xiao Tian sambil menyudahi pertemuan.


"Baiklah kalau begitu, kami pamit undur diri," ucap para jenderal sambil memberi hormat.


"Guru, bisakah kau ajarkan lagi teknik berpedang kepadaku?" tanya si Gendut.


"Pelajari saja seluruh buku teknik pedang surgawi yang aku berikan padamu. Jika kau sudah menguasainya hingga tahap puncak maka akan kuberikan teknik lain," ucap Xiao Tian sambil tersenyum tipis.


"Baiklah kalau begitu, aku akan berjuang keras," ucap si Gendut dengan penuh sangat.


"Kau beruntung mas endut," ucap Huanran sambil memegang pundak si Gendut.


"Andai Liang Su bisa sedekat itu denganku," ucap Su Yan sambil menatap Huanran.


"Cih," ucap Liang Su sambil memalingkan wajah ketika Su Yan menatapnya.


"Apa Jingmi boleh ikut?" tanya Jingmi sambil menatap Xiao Tian.


"Kau main saja sama Kaibo dulu ya, Ayah Xiao Tian mau berbicara sama kak Jia Li dulu. Oh iya ajak juga Huang Li bersamamu," ucap Xiao Tian sambil mengelus kepala Jingmi.


"Ehmm," ucap Jingmi sambil menganggukkan kepala.


"Ayo kak Huang Li, ajak aku berkeliling wilayah klan Huang," ucap Jingmi sambil menarik tangan Huang Li.


"Baiklah," ucap Huang Li sambil menghela napas.


#Ruang latihan


"Kenapa kau hanya mengajakku kemari?" tanya putri Jia Li.


"Apakah kau ingat berapa hari lagi umurmu?"


tanya Xiao Tian sambil menatap putri Jia Li.


"Ya ... Yan Yan?"


"Dari mana kau tahu tentang penyakitku?" tanya putri Jia Li dengan tampang panik.


"Begitu ya, jadi di dalam ingatannya. Kejadian buruk akibat pil suci dan sebagainya digantikan oleh ingatan bahwa umur pendeknya akibat sebuah penyakit," pikir Xiao Tian sambil menatap putri Jia Li.