Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 324 : Melanjutkan latihan para alkemis terpilih


##


Ruang Hampa.


Array naga langit.


Sisi lain ruangan ilusi.


"Rambut kuning kecoklatan, memiliki aura beracun."


"Pakaian bermotif ular dengan dominasi warna ungu. Kalau tak salah, namamu Tian Ling kan?" tanya Xiao Tian sambil menatap mata Tian Ling.


"Benar sekali, namaku adalah Tian Ling. Satu satunya murid dari tetua Xianlun," ucap Tian Ling sambil memberi hormat.


Rambut hitam, pakaian bermotif teratai dengan dominasi warna merah muda. Kalau tak salah namamu adalah Ning Ying, benar kan?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


"Suatu kehormatan mendengar patriach mengenali hamba," ucap Ning Ying sambil memberi hormat.


"Pakaian berwarna merah darah, dengan motif bunga mawar. Rambut hijau yang terurai panjang melebihi bahu. Kalau tak salah namamu Yun Yun, benar kan?" tanya Xiao Tian sambil menatap Yun Yun.


"Suatu kehormatan mendengar patriach mengenaliku dengan baik," ucap Yun Yun sambil memberi hormat.


"Lalu siapa kalian berdua?" tanya Xiao Tian sambil menatap kedua murid alkemis yang berpakaian mirip Ning Ying dan Yun Yun.


"Namaku Bai Ling, dari keluarga Bai. Murid nomor dua dari tetua Xia Ning setelah Yun Yun," ucap Bai Ling sambil memberi hormat.


"Keluarga Bai?"


"Mungkinkah kau ada hubungannya dengan Bai bersaudara?" tanya Xiao Tian sambil menatap Bai Ling.


"Hmmm,"


"Mereka adalah sepupu hamba," ucap Bai Ling sambil memberi hormat.


"Hmm?"


"Sepertinya kau tak senang ketika aku menyebutkan nama mereka, apakah hubungan kalian tidak baik?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


"Tak apa, patriach hanya masalah keluarga," ucap Bai Ling sambil menundukkan pandangan.


"Maaf karena sedikit lancang patriach, tapi hamba harus meluruskan hal ini. Bai bersaudara mungkin memiliki nama depan Bai, tapi mereka sudah lama dibuang dari klan karena fakta bahwa mereka tak memiliki hubungan darah dengan klan kami telah terbongkar," ucap Bai Lu sambil memberi hormat.


"Pakaian merah muda dengan motif teratai. Kau pasti murid nomor dua dari Xia Ning, namamu ... ?" tanya Xiao Tian sambil menatap Bai Lu.


"Anda bisa memanggilku, Bai Lu," ucap Bai Lu sambil memberi hormat.


"Kau juga dari keluarga Bai?" tanya Xiao Tian sambil menatap Bai Lu.


"Begitulah," ucap Bai Lu sambil memberi hormat.


"Apa hubunganmu dengan Bai Ling?" tanya Xiao Tian sambil menatap Bai Lu.


"Kebetulan aku adalah kakaknya," ucap Bai Lu sambil memberi hormat.


"Apakah semua anggota keluarga bai memiliki rambut berwarna ungu?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


"Begitulah," ucap Bai Lu sambil menatap Xiao Tian.


"Kalau tak salah, rambut dari Bai bersaudara juga ungu, kenapa bisa mereka bukan merupakan keturunan keluarga Bai?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


"Tak hanya keluarga Bai kami saja yang memiliki rambut berwarna ungu, jadi warna rambut tidaklah menjadi patokan," ucap Bai Lu sambil menatap mata Xiao Tian.


"Yah memang benar sih, tapi kalau mereka bukan berasal dari keluargamu. Lalu dari mana mereka berasal?"


"Dan bagaimana ceritanya mereka bisa menyandang nama keluargamu?" tanya Xiao Tian sambil menatap mata Bai Lu.


"Dua puluh satu tahun yang lalu, Patriach kami datang membawa mereka ketika selesai mengasingkan diri untuk bertapa. Saat itu semua orang bingung bukan main, karena patriach menjelaskan bahwa mereka berdua adalah putra kandungnya."


"Sekilas wajah mereka memang mirip, jadi tak ada yang meragukan ucapan patriach. Justrul kabar tersebut membuat semua orang senang bukan main karena akhirnya klan memiliki penerus," jelas Bai Ling.


"Lalu kenapa mereka dibuang?"


"Apakah karena mereka payah dalam beladiri?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


"Payah?"


"Itu hanya julukan mereka saat ini, sebelumnya mereka adalah jenius tapi semua itu hancur hanya karena satu buah surat wasiat," ucap Bai Lu sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Surat wasiat?"


"Dari sia" tanya Xiao Tian sambil menatap Bai Lu.


"Dari mendiang patriach yang tewas karena racun aneh yang mematikan."


"Jika saja patriach tak menulis surat tersebut, mungkin kebenaran bahwa mereka bukanlah anak kandungnya tidak akan pernah terbongkar. Namun semua itu sudah ditakdirkan," ucap Bai Lu sambil menundukkan pandangan.


"Baiklah sekarang aku mengerti alasan mereka berada di kelas tingkat rendah. Lalu bagaimana dengan Xia Hu, apakah kau tahu alasan kenapa meridian dia rusak sebelumnya?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


"Kenapa anda bertanya soal Xia Hu kepadaku?" tanya Bai Lu sambil mengerutkan dahi.


"Kau kan murid dari bibinya, apakah Xia Ning tak pernah menceritakan alasan dibalik rusaknya meridian keponakannya kepadamu?" tanya Xiao Tian sambil menatap Xia Ning.


"Pernah sih, kalau tak salah alasan dia menjadi sampah yaitu karena gagal melatih teknik terlarang demi menjadi kuat lebih cepat," ucap Bai Lu sambil menyentuh dahinya.


"Teknik apa itu?" tanya Xiao Tian sambil menatap mata Bai Lu.


"Teknik penelan energi," ucap Bai Lu sambil menatap Xiao Tian.


"Memangnya apa yang coba dia telan hingga meridiannya hancur?" tanya Xiao Tian sambil menatap Bai Lu.


"Petir," ucap Bai Lu sambil menatap Xiao Tian.


"Berapa kultivasi dia saat itu?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


"Seorang petarung emas bintang tiga," jawab Bai Lu sambil menatap Xiao Tian.


"Aih, apa dia bodoh?"


"Dengan kultivasi selemah itu ingin menelan petir?"


"Baiklah, sudah cukup bincang bincangnya. Sekarang tunjukkan hasil latihan kalian!" ucap Xiao Tian sambil mengeluarkan tiga buah tungku.


"Tungku?"


"Bukankah kami berlatih tanpa tungku?" tanya Yun Yun sambil mengerutkan dahi.


"Meracik tanpa tungku adalah kartu as kalian, jadi jangan tunjukkan itu di saat turnamen sebelum keadaan mendesak," ucap Xiao Tian sambil menatap mata Yun Yun.


"Kami mengerti patriach," ucap para murid sambil memberi hormat.


"Baguslah kalau kalian mengerti, Sekarang kau raciklah pil tingkat tiga dengan efektifitas 140%. Jenis pilnya terserah kalian," ucap Xiao Tian sambil menatap Tian Ling.


"Hanya pil level 3?"


"Kami kan sudah bisa meracik pil level lima," ucap Tian Ling sambil mengerutkan dahi.


"Jangan lupakan tentang efektifitasnya, kau harus memgaturnya hingga sama persis seperti yang kukatakan," ucap Xiao Tian sambil menatap Tian Ling.


"Aku mengerti, patriach ingin mengetahui kemampuanku dalam mengontrol tingkat efektifitas. Tapi apakah itu mungkin?" pikir Tian Ling sambil menepuk dahinya.


"Kau buatlah pil tingkat lima dengan efektifitas 1%, jika lebih atau kurang dari itu maka tak akan ada yang boleh istirahat!" ucap Xiao Tian sambil menatap mata Bai Lu.


"Apakah ini tak berlebihan?"


"Satu persen katanya?"


"Bukankah ini sama saja membuang buang bahan berharga?" pikir Bai Lu sambil memegang dahinya.


"Kau raciklah tiga buah pil tingkat dua sekaligus dengan efektifitas yang beragam. Secara berurutan harus memiliki efektifitas, 10%, 20% dan 150%. Jika salah satu pil ada yang tak sesuai maka kau wajib mengulangnya dari awal," ucap Xiao Tian sambil menunjuk Yun Yun.


"Kenapa tugasku tiga kali lipat lebih berat dari yang lainnya?" pikir Yun Yun sambil menepuk dahinya.


"Oh iya, jangan lupa. Lakukan itu dengan menggunakan tungku!"


"Mengatur efektifitas tanpa tungku terlalu mudah untuk kalian karena telah mempelajari metodeku. Ini adalah tantangan terakhir dariku, jika kalian gagal maka jangan harap bisa meninggalkan tempat ini," ucap Xiao Tian sambil menatap mata Yun Yun.


"Bagaimana dengan kami berdua?" tanya Bai Ling dan Ning Ying.


"Kalian raciklah dua pil tingkat tujuh dengan efektifitas 200% dan 50% dengan sebuah tungku," ucap Xiao Tian sambil menatap Ning Ying dan Bai Ling.


"Kami hanya diajari sampai pil tingkat lima loh, bagaimana mungkin bisa meracik pil tingkat tujuh," ucap Bai Ling sambil memasang wajah tak percaya diri.


"Patriach pasti bercanda. Resep pil level tujuh kan bisa disebut sebagai harta karun tingkat kerajaan. Mana mungkin kami bisa meracik pil tanpa sebuah resep," pikir Ning Ying sambil menepuk dahi.


"Pelajari resep ini, lalu praktekkan secepat mungkin," ucap Xiao Tian sambil melempar dua buah gulungan dari balik pakaiannya.


"Pa ... patriach, apakah ini mimpi?" tanya Bai Ling dengan tubuh yang gemetaran.


Bai Ling langsung bersujud seketika dan berkata, "Meski itu sulit, hamba pasti akan terus mencobanya. Terimakasih atas bantuannya, patriach!"


"Ada apa dengan reaksinya itu?"


"Tidak mungkin kan kalau ini resep pil level tujuh?" pikir Ning Ying sambil membuka gulungan yang dia terima.


Ketika membuka gulungannya lebar lebar, Ning Ying langsung terdiam kaku, dan mulutnya menganga begitu lebar.


"Yang benar benar saja, ini benar benar resep pil level 7. Sepertinya aku tak salah memilih untuk menetap di sekte kecil yang hampir hancur ini. Tak kusangka aku bisa mendapatkan harta tingkat negara seperti ini," pikir Tian Ling dengan ekspresi terkejut.


"Oke sekarang tak ada keluhan lagi kan?"


"Pelajari itu, dan praktekkan secepat mungkin. Aku akan pergi selagi kalian berlatih," ucap Xiao Tian sambil mengaktifkan teleportasi.


"Tu ... tunggu!"


"Bagaimana dengan tungku-nya?"


"Tungkunya kan hanya ada tiga," ucap Bai Ling sambil menatap Xiao Tian.


"Hampir saja aku lupa," ucap Xiao Tian sambil mencabut dua helai rambutnya.


"Berlatihlah dengan giat," ucap Xiao Tian sambil melempar dua helai rambut ke udara.


Xiao Tian lenyap dari pandangan semua orang, lalu rambut yang dia lempar berubah menyerupai tungku level tiga milik ketiga tetua alkemis.


"Ra ... rambutnya berubah menjadi tungku!" teriak Bai Ling sambil menepuk bahu Ning Ying.


"Apakah dia benar benar patriach Tian Zong yang kami kenal?" ucap Tian Ling sambil mengerutkan dahi.


"Siapa peduli, aku tak mau ambil pusing lagi. Tak peduli siapapun jati dirinya, aku akan mengikutinya karena telah membantuku berlatih hingga ke tahap ini," ucap Bai Lu sambil tersenyum.


"Aku sependapat denganmu," ucap Yun Yun sambil menatap Bai Lu.


####


#Ruang hampa


#Bagian luar array naga langit


"Hei apa maksudmu memberikan resep tingkat tinggi pada mereka!" bentak Dewa petir sambil memasang wajah kesal.


"Kau kan sudah mewariskannya kepadaku, terserah aku dong mau dibagikan ke siapa," ucap Xiao Tian dengan tampang tak bersalah.


"Sudahlah, aku malas berdebat denganmu,"


"Tadinya aku berniat untuk memberikanmu resep pil level 10. tapi sepertinya itu tak akan aman jika ada di tanganmu," ucap Dewa petir dengan tampang kesal.


"Yah, jangan ngambek dong. Semua perbuatanku ada alasanya. Toh resep pil tujuh kan masih banyak yang belum kusebarkan," ucap Xiao Tian sambil memasang wajah tak bersalahnya.


"Belum?"


"Bukankah itu bermakna kalau kau akan menyebarkannya nanti!" bentak Dewa petir dengan kesal.


"Ayolah, aku hanya bercanda. Toh itu hanya harta tingkat kerajaan. Bukan harta tingkat kaisar atau harta tingkat negara," ucap Xiao Tian sambil menggaruk garuk kepalanya.


"Terserahlah, aku tak mau berdebat lagi denganmu," ucap Dewa petir sambil menepuk dahinya.