
"Syukurlah anda datang, Patriach Bai sedang dalam keadaan sekarat belakangan ini. Setiap tengah malam dia selalu berteriak kesakitan akibat racun yang terus bertambah kuat setiap harinya. Jika bukan karena obat Xianlun dia pasti sudah tewas saat ini."
"Meski anda hanyalah seorang petarung yang tak mengerti alkemis, bisakah kau temui adikmu saat ini?" ucap tetua Xia Meng sambil menundukkan kepala.
"Dimana Xianlun saat ini?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Dia sedang menghadiri acara demonstrasi pemurnian pil, apakah aku perlu memanggilnya?" tanya Xia Meng sambil memberi hormat.
"Tak perlu, aku yang akan menjemputnya kesana," ucap Xiao Tian dengan nada serius.
"Anda tak perlu repot repot kesana, Pateiach. Biar aku yang kesana dan memanggilnya untukmu," ucap Xia Meng sambil memberi hormat.
Jika kau ingin membantuku, maka bawakan tungku tingkat tiga untukku. Akan kutunggu kau dan tungku tersebut di tempat demonstrasi.
"Tungku ya?"
"Kebetulan aku membawanya di dalam cincin ruang, cuman agak sedikit rusak dan retak- retak di beberapa sisi," ucap Xia Meng sambil menggaruk garuk kepalanya.
"Bagus, kalau begitu kita langsung menuju ke tempat Xianlun," ucap Xiao Tian sambil menjentikkan jarinya.
"Apanya yang bagus dari tungku yang rusak?"
"Patriach Bai benar benar sulit dimengerti setelah menghilang cukup lama," pikir Xia Meng dengan tampang bingung.
Xianlun, Xiang Ying dan Xia Ning ingin memulai demonstrasi, namun Xia Meng menghentikan mereka dengan melompat ke atas panggung.
"Hei apa yang kau lakukan disini?" tanya Xia Ning dengan tampang kesal.
"Aku benci pria yang suka mengganggu sebuah acara penting tanpa alasan yang jelas, katakan padaku apa alasanmu kemari atau aku akan memutuskan hubungan kita," ucap Xiang Ying dengan tampang kesal.
Tap
Xiao Tian mendarat ke tengah panggung hingga membuat fokus semua orang berpindah kepadanya.
Sadar bahwa yang hadir saat itu sangat mirip dengan Patriach mereka yang telah lama menghilang, para tetua beserta murid mereka langsung memberi hormat sambil berkata, "Hormat kami patriach Tian Zong."
"Xia Meng, keluarkan tungkunya!" ucap Xiao Tian dengan nada tinggi.
"Baik, Patriach!" ucap Xia Meng sambil mengeluarkan tungku level tiga yang retak retak dari cincin ruangnya.
"Bukankah itu tungku yang aku suruh perbaiki?"
"Kenapa dia malah membawanya kesini?" pikir Xia Ning sambil menepuk dahinya.
"Dimana diantara kalian yang bernama Xianlun?" ucap Xiao Tian sambil berpura pura tak mengenal Xianlun.
"Itu hamba, Patriach," ucap Xianlun sambil memberi hormat.
"Jika ada, maka masukkan semua bahan itu ke dalam tungku ini," ucap Xiao Tian sambil menyentuh tungku tersebut hingga mengeluarkan sinar emas yang menyilaukan mata. Semua retakan menghilang seketika, dan tingkatan tungku tersebut berubah menjadi tungku level lima.
Xianlun melakukan apa yang Xiao Tian suruh tanpa rasa ragu, semua karena dia berpikir bahwa orang dihadapannya itu adalah seorang Patriach.
"Berkumpul!" ucap Xiao Tian sambil mengalirkan kekuatan jiwanya ke dalam tungku hingga mengikat seluruh bahan herbal yang sudah ada di dalamnya.
Untuk mempercepat proses peleburan, Xiao Tian mengaktifkan api biru yang cukup besar di bawah tungku itu. Saat semua bahan berhasil dilebur menjadi satu, dia memadatkan pil tersebut dengan kekuatan jiwanya hingga berhasil membuat satu buah pil level 6 dengan efektifitas 190 persen.
"Bagaimana mungkin tungku tingkat tiga menghasilkan pil level enam?"
"Ini benar benar menakjubkan," ucap Xiang Ying dengan mata yang terbelalak.
"Tolong bimbing kami, Patriach!" ucap para tetua dan murid mereka sambil memberi hormat kepada Xiao Tian.
"Berikan ini pada adikku, dan bilang bahwa dia harus menelannya secepat mungkin. Meski saat ini dia belum sekarat, pil ini akan melindungi penggunanya dari berbagai jenis racun," jelas Xiao Tian sambil melempar pil di tangannya.
Tap
"Baik, Patriach," ucap Xia Meng sambil memberi hormat.
"Bubarkan Demonstrasinya, dan ikuti aku menuju ke gedung Xianlun!" ucap Xiao Tian dengan tampang tenang.
"Baik, Patriach," ucap semua tetua dan muridnya sambil memberi hormat.
Setelah sampai dilokasi, Xiao Tian mengajarkan kepada ketiga tetua mengenai metode meracik yang cocok dengan elemen mereka. Xianlun diberikan metode penetral racun. Sedangkan Xia Ning dan Xiang Ying diajari metode pengendalian api dan kayu untuk mempercepat proses pemurnian pil.
Setelah para tetua berhasil meracik pil level lima dengan keefektifan yang cukup tinggi, mereka langsung bersujud kepada Xiao Tian sambil berkata, "Terimakasih atas bimbinganmu patriach," ucap Xianlu sambil memberi hormat.
Saat semua masih bersujud menghadap Xiao Tian, Patriach Tian Bei datang ke gedung peracik lalu langsung memeluk tubuhnya dengan begitu erat.
"Kakak, ternyata itu benar benar kau. Kupikir aku tak akan bisa melihat wajahmu lagi," ucap Tian Bai sambil memeluk Tian zong dengan begitu erat.
"Apa kau sudah menelan pilnya?" tanya Xiao Tian sambil menepuk punggung Tian Bai.
"Pil apa?" tanya Tian Bai sambil mengerutkan dahi.
"Tentu saja pil yang ada di tangan Xia Meng," ucap Xiao Tian sambil menghela napas.
"Oh pil itu, aku sudah menelannya. Ngomong ngomong apa sih fungsi pil itu?"
"Kenapa kau menyuruhku untuk menelannya?" tanya Patriach Bai sambil mengerutkan dahi.
"Itu berfungsi untuk menekan racun di tubuhmu. Jika kau memang benar benar sudah menelan pilnya, maka mulai sekarang kau tak akan menderita setiap tengah malam lagi," ucap Xiao Tian sambil menatap mata Tian Bai.
"Benarkah itu?" Tanya Tian Bai dengan dahi yang dikerutkan.