
Xiao Tian memasuki tangga rahasia yang telah dia temukan. Tangga tersebut mengarah ke ruang bawah tanah dimana para siluman harimau perak menyimpan pil suci beserta mayat Dewa Obat yang mereka agungkan.
Setelah menuruni anak tangga ke seribu, Xiao Tian akhirnya sampai ke sebuah ruangan yang sangat luas. Ruangan tersebut dipenuhi ratusan peti besar yang di kunci rapat. Tembok atau tepi ruangan tersebut dihiasi banyak lubang kecil yang berukuran sekecil kuku jempol tangan manusia dewasa. Sedangkan atapnya dihiasi oleh lubang-lubang yang berukuran sebesar kepalan tangan manusia dewasa.
Xiao Tian mencoba membuka paksa peti-peti tersebut satu per satu dengan menggunkan pedangnya. Setiap peti dikunci dan di gembok dengan rapat. Xiao Tian menggunakan pedang untuk menghancurkan gembok-gembok tersebut.
Ketika dia membuka peti pertama dia tak menemukan apapun. Saat membuka peti kedua, ribuan anak panah menghujani tubuhnya dari lubang-lubang yang berada di setiap tepi ruangan.
"Mainan seperti ini tak akan bisa melukaiku." Xiao Tian mengeluarkan gelombang kekuatan di sekitar tubuhnya, mementalkan ribuan anak panah yang melesat ke arahnya.
Setelah hujan anak panah berhenti, Xiao Tian mencoba membuka peti yang ketiga. Sama halnya seperti peti yang kedua, peti yang ketiga juga hanyalah sebuah peti kosong yang memicu sebuah jebakan. Tepat setelah Xiao Tian membuka peti tersebut, semburan api muncul dari atas atap ruang bawah tanah. Semburan api tersebut menyembur keluar dari lubang-lubang di atas atap. Untuk melindungi diri dari semburan api, Xiao Tian mengendalikan tanah untuk menciptakan tembok pelindung yang berbentuk lingkaran.
Tembok tersebut melingkar menutupi seluruh bagian tubuh Xiao Tian beserta empat buah peti yang berukuran besar. Tiga buah peti sudah Xiao Tian buka sedangkan yang satunya belum dia buka.
Awalnya Xiao Tian ingin menunggu semburan api berhenti. Namun, karena durasi semburan api sangatlah lama, dia memutuskan untuk membuka peti yang ke empat.
"Aku tak punya banyak waktu lagi, aku harus menemukan pil suci secepat mungkin." Xiao Tian berjalan mendekati peti ke empat lalu menebas gembok yang mengunci peti tersebut menggunakan pedangnya.
Setelah gemboknya terlepas, Xiao Tian membuka peti yang keempat. Saat peti tersebut terbuka, sebuah lubang muncul tepat di bawah kakinya hingga membuatnya terjatuh masuk ke dalam lubang.
Lubang jebakan yang berhasil menjebak Xiao Tian, mengarah ke sebuah ruang yang begitu dalam dan gelap gulita. Xiao Tian mengaktifkan teknik tempurung naga untuk berjaga-jaga jika dia terjatuh ke sebuah benda tajam dan berbahaya.
Ketika menyentuh dasar dari ruangan tersebut, Xiao Tian mengetahui bahwa tempat dia terjatuh merupakan tempat yang berair.
Kedalaman air di dasar ruangan gelap itu mencapai lutut Xiao Tian. Ketika masih berpikir tentang cara keluar dari ruangan tersebut, terdengar banyak suara cipratan air yang berasal dari segala arah.
Untuk melihat keadaan sekitarnya, Xiao Tian mengeluarkan bola api merah di tangan kanannya. Bola api tersebut menerangi ruangan yang gelap gulita itu. Dia melirik ke kanan dan ke kiri untuk melihat keadaan sekitar. Semuanya aman terkendali karena sejauh mata memandang hanya air yang dia lihat.
Setelah menyalakan bola api, Xiao Tian bisa melihat dengan jelas bahwa ruangan tersebut sangatlah luas. Saking Luasnya sejauh mata memandang dia tak bisa melihat atap maupun ujung ruangan tersebut. Kini dia benar-benar seperti berada di tengah-tengah lautan yang begitu luas. Hanya saja bedanya air di ruangan itu tidak sedalam air lautan.
Tak hanya luas, ruangan itu juga sangatlah sunyi. Tak ada satupun suara yang bisa dia dengar. Suara percikan air yang awalnya Xiao Tian dengar dengan jelas saat masih gelap gulita menghilang ditelan oleh cahaya bola api merah yang melekat di tangan kanannya.
"Kemana perginya suara tadi?"
"Kenapa suasana ruangan mendadak hening ketika aku menyalakan bola apiku?" pikir Xiao Tian.
Xiao Tian memutuskan untuk berjalan berkeliling ruangan sembari mencari jalan keluar dari ruangan itu. Sepanjang jalan suasana ruangan tersebut begitu sunyi dan sepi. Satu-satunya penerang ruangan adalah bola api di tangan Xiao Tian.
Setelah berjalan tanpa tahu arah dalan jangka waktu yang cukup lama, suara cipratan air terdengar kembali. Namun kali ini terdengar jelas di belakang Xiao Tian. Dengan sigap Xiao Tian berbalik arah lalu melemparkan bola apinya ke arah suara tersebut.
Woosshh
Bola api tersebut terus melesat dengan kecepatan tinggi, namun tak mengenai apapun hingga cahaya dari bola api tersebut tak dapat Xiao Tian lihat lagi.
"Tak ada suara ledakan yang terdengar, pertanda bahwa bola api itu tak menabrak sesuatu. Aku harus melempar bola api secara acak untuk mengetahui ujung dari ruangan aneh ini." Xiao Tian mencoba melemparkan bola api merah ke segala arah, namun tak ada satupun yang menabrak ujung dari ruangan tersebut.
"Apa-apaan ini?" Xiao Tian mengepalkan kedua tangannya.
"Menyebalkan."
"Ini bukan saatnya bagiku untuk terjebak di ruangan bodoh ini." Xiao Tian mulai merasa putus asa karena tak tahu harus berjalan kemana. Satu-satunya jalan yang dia ketahui adalah menuju ke atap dimana dia terjatuh.
sedangkan kini naga hitam tidak sedang bersamanya.
Untuk terbang tinggi keatas Xiao Tian memerlukan naga hitam raksasa untuk terbang menuju ke atas atap ruangan itu. Dia tahu betul bahwa ruangan tersebut memiliki atap yang begitu tinggi sejak saat dia terjatuh karena terkena perangkap di dalam lubang jebakan.
Ketika sudah cukup lama berjalan sambil mencari ujung dari ruangan itu, tiba-tiba saja Xiao Tian tak bisa menggerakkan tubuhnya.
Suara cipratan air terdengar jelas dari arah belakang punggung Xiao Tian. Semakin lama suara tersebut terdengar semakin dekat pula suara percikan air yang dia dengar.
Xiao Tian mencoba melawan dengan sekuat tenaga, hingga ia berhasil menggeser tubuhnya sedikit demi sedikit.
Setelah menguras cukup banyak tenaga untuk bergerak, akhirnya dia berhasil membalikkan badannya dan melihat ke sumber suara tersebut.
"Baaaa!" Tiba-tiba saja tempat kosong yang tak bersuara itu muncul Dewa Petir tepat dihadapan wajah Xiao Tian.
Xiao Tian mendadak terkejut bukan main akibat kemunculan Dewa Petir yang tidak dia sangka. Ditambah lagi penerangan yang dia miliki saat ini, hanyalah sebuah bola api merah yang ada di tangan kanannya.
"Dasar Dewa Sialan!"
"Kenapa kau mengejutkanku!" bentak Xiao Tian dengan wajah yang dipenuhi keringat dingin karena terkejut bukan main.
"Harusnya kau berterima kasih padaku, aku kemari untuk menolongmu tahu!" sambung Dewa Petir.
"Menolongku?"
"Dari apa?" tanya Xiao Tian.
"Dari waktu tentunya, mau sampai kapan kau berdiam diri di anak tangga ke seribu?" tanya Dewa Petir.
"Anak tangga ke seribu?"
"Aku kan sudah lama melewati anak tangga tersebut dan sudah memasuki ruangan dengan ribuan peti berukuran besar." Xiao Tian mencoba mengingatkan Dewa Petir bahwa dia telah melewati tangga ke seribu.
"Dasar bodoh, sejak tadi kau terjebak oleh ilusi. Semua yang kau alami tadi hanyalah ilusi belaka, cepatlah bangun dan ambil semua pil yang berada di depanmu!" bentak Dewa Petir.
Setelah Dewa Petir berkata bahwa semua yang Xiao Tian alami merupakan ilusi, akhirnya dia kembali ke alam nyata dan benar saja ternyata kakinya masih menginjak di anak tangga ke seribu. Pemandangan di depan matanya berbeda dengan pemandangan yang dia lihat pertama kali, disana ada dua buah peti besar yang berukuran dua kali lipat manusia dewasa.
Menurut ucapan Dewa Petir, salah satu dari peti itu berisikan pil suci. Benar saja saat Xiao Tian membuka peti yang sebelah kanan dia melihat ribuan pil suci di dalam peti tersebut.
Dengan sigap Xiao Tian menyimpan pil pil suci itu yang berjumlah sekitar empat ribu buah pil suci. Dia menyimpan ribuan pil suci ke dalam cincin ruangnya.
Meski sudah mendapat apa yang telah dia inginkan, Xiao Tian masih cukup penasaran dan ingin mencoba membuka peti yang satunya. Sudah jelas bahwa peti tersebut adalah peti yang menyimpan tubuh dari orang yang disebut sebagai Dewa Obat oleh para siluman harimau.
Terlihat jelas dimana peti tersebut dikunci oleh sepuluh buah gembok dan diikat oleh sepuluh buah rantai emas yang terlihat begitu mengkilap dan melingkar dari ujung ke ujung.
Xiao Tian mengeluarkan pedang dari cincin ruangnya, lalu menggunakan itu untuk meghancurkan gembok dan rantai-rantai emas yang mengunci peti tersebut satu persatu.
Sratttt
Srattt
Dewa Petir tak menghentikan Xiao Tian karena dia juga penasaran dengan wajah dari seseorang yang disebut sebagai Dewa Obat oleh para siluman harimau.
Setelah berusaha keras Xiao Tian akhirnya berhasil membuka peti yang menyimpan tubuh Dewa Obat para siluman harimau.
"Apa yang ...." Dewa Petir terkejut setelah melihat Xiao Tian membuka peti tersebut.
Bersambung....