Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 251 : Pengorbanan putri Jia Li


"Lie Lie?" tanya putri Jia Li.


"Iya aku memanggilnya Lie Lie karena nama aslinya Lie Bao. Ada masalah?" tanya Huang Li sambil menatap putri Jia Li.


"Kemarilah, Lily. Eh Lie Lie" ucap Huang Li sambil memanggil raja iblis Lie Bao yang berada dalam kendalinya.


"Kau sengaja meledekku kan!" ucap putri Jia Li dengan kesal.


"Bweee," ucap Huang Li sambil menjulurkan lidah.


"Meski ukuran tubuh raja iblis Lie Bao saat ini cukup besar. Kita tak bisa membawa semua orang di atas punggungnya."


"Lagi pula istana es tak jauh dari sini ... ," Xiao Tian tiba tiba saja berhenti berbicara.


Dia merasakan sesuatu yang tak dapat dirasakan oleh orang lain. Perasaan diawasi seseorang yang tak dapat dia lihat.


Jantungnya berdegup begitu kencang setelah merasakan sebuah hawa membunuh yang hanya bisa dia rasakan.


Ketika melihat sekitar tiba tiba saja pandangannya menjadi gelap hingga tak dapat melihat siapapun.


Dia merasa seperti dipindahkan ke tempat gelap nan sunyi, dalam kesunyian itu terdengar sebuah suara dari belakang punggungnya.


"Kau kah manusia yang bernama Xiao Tian?" ucap suara misterius yang terdengar agak berat itu.


"Si ... siapa kau!"


"Tunjukkan wujudmu!" bentak Xiao Tian sambil menoleh ke kanan dan kiri.


"Percuma saja kau mencari, karena hanya aku yang bisa melihatmu dari sini," ucap suara misterius yang menggema di segala penjuru.


"Keluarlah dasar pengecut!" bentak Xiao Tian sambil menoleh ke belakang.


"Pengecut katamu?" ucap suara misterius itu sambil memancarkan hawa membunuh yang begitu kuat.


Xiao Tian yang awalnya bisa bergerak sesuka hati, tiba tiba saja tak bisa menggerakkan tangandan kakinya. Tangannya lurus ke samping kanan dan kiri, sedangkan kakinya berdempetan layaknya seseorang yang sedang terikat di sebuah salib.


Ketika Xiao Tian tak bisa menggerakkan tubuhnya satu jengkalpun, suara langkah kakiterdengar dari arah depannya.


Meski menggunakan penglihatan malam yang Wu Kong ajarkan, Xiao Tian masih belum bisa melihat musuh yang berjalan mendekat dari arah depan dengan jelas.


Ketika Xiao Tian masih terus memfokuskan matanya ke depan, tiba tiba saja orang misterius dengan topeng tengkorak putih yang menutupi wajahnya muncul tepat dihadapan Xiao Tian sambil membawa sebuah lentera gantung di tangankanannya.


"Selamat datang di alam ilusiku, Manusia," ucap Yon Heng sambil membawa lentera.


"Topeng tengkorak putih, pakaian serba hitam. Tak diragukan lagi, orang ini pasti Dewa Iblis Yon Heng."


"Apa tadi dia bilang alam ilusi?"


"Sial, tanganku dan kakiku tsk bisa digerakkan. Kalau begini aku tak bisa memanggil Dewa petir dan yang lainnya," pikir Xiao Tian dengan wajah yang dipenuhi keringat dingin.


"Begitu ya, jadi kau kemari bersama Dewa Petir dan beberapa Dewa Lain. Mungkinkah kau menyembunyikan mereka di ruang hampa?" tanya Yon Heng sambil mencoba meraih leher Xiao Tian.


Yon Heng berencana membunuh Xiao Tian di dalam alam ilusi dengan mencekik lehernya disaat masih tak berdaya.


"Sial ternyata dia bisa membaca pikiranku, aku harus lebih berhati hati dalam berpikir atau dia mengetahui semuanya," pikir Xiao Tian sambil mencoba memberontak.


"Percuma saja melawan, karena kau akan mati di ... ," belum sempat Yon Heng mencekiknya semakin kencang, roh Xiao Tian kembali ke raganya tepat di detik detik terakhir.


"Cih," ucap Yon Heng dengan nada kesal.


#Alam nyata


#Dimensi es


Xiao Tian membuka matanya begitu lebar seperti orang yang sedang terkejut. Keringat dingin mengalir deras di dahinya seperti baru bangun dari sebuah mimpi buruk.


"Hosh hosh hosh," napas Xiao Tian begitu terengah engah karena baru saja mengalami sensasi hampir mati. Jika bukan karena berhasil lolos dalam ilusi, dia pasti sudah mati di tangan Yon Heng tanpa bisa ditolong Wu Kong dan Dewa Petir.


Setelah kesadarannya sudah terkumoul dengan baik, Xiao Tian langsung melirik ke kanan, kiri, depan dan belakang. Yang dia lihat saat itu adalah para prajurit, jenderal Huang Chemg serta semua teman temannya sedang duduk santai diatas raja iblis Lie Bao.


Saat Xiao Tian masih mencoba memahami apa yang baru saja terjadi padanya, putri Jia Li yang selama ini memangkunya berinisiatif untuk menepuk punggungnya. Saat Xiao Tian menoleh ke arahnya, dia pun berkata,


"Kau tak apa, Yan Yan?" tanya putri Jia Li dengan tatapan wajah yang terlihat begitu khawatir.


"Aku tak apa apa, Lily. Hanya merasa agak pusing," jawab Xiao Tian dengan keringat dingin yang masih mengalir deras di dahinya.


"Syukurlah kalau begitu," sambung putri Jia Li sambil tersenyum tipis.


"Bisa aku bertanya padamu, Lily?" tanya Xiao Tian sambil menatap putri Jia Li.


"Tentu saja, memangnya apa yang ingin kau tanyakan padaku?" tanya putri Jia Li sambil menatap Xiao Tian.


"Berapa lama aku tak sadarkan diri?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


"Lebih dari satu bakar dupa," jawab putri Jia Li sambil menatap Xiao Tian.


"Kemana Taiwu dan yang lainnya?" tanya Xiao Tian sambil memegang dahinya karena merasa agak pusing.


"Huang Li duduk paling depan di atas kepala raja iblis Lie Bao sambil di dampingi Taiwu karena harus fokus mengontrol pikirannya."


"Sedangkan si Gendut dan Yang Lainnya berjalan di belakang ekor raja iblis Lie Bao karena takut dia kembali tersadar," jelas putri Jia Li sambil menatap Kaibo.


"Begitu ya?"


"Bisakah kau jelaskan apa yang terjadi sebelum aku tak sadarkan diri?" tanya Xiao Tian sambil menatap mata putri Jia Li.


"Saat itu kau habis menasehati Huang Li agar tak menyuruh semua orang menaiki punggung raja iblis Lie Bao karena takut dia kembali tersadar, kau juga ingin menjelaskan kalau istana es tak jauh lagi dari sini."


"Tapi sebelum menyelesaikan kalimatmu itu, kau tiba tiba saja menutup mata lalu pingsan tak sadarkan diri."


"Kami begitu panik karena hal itu, kami telah memberikanmu pil pemulih energi hingga menggoyang goyang tubuhmu begitu kencang demi menyadarkanmu. Tapi karena kau tak kunjung sadar juga, kami memilih berjalan menjauhi istana es sampai kau kembali tersadar."


"Semua sepakat mundur terlebuh dulu, karena jika kamu tak sadar juga, Dewa Petir, Wu Kong dan Wu Jing tak akan bisa ikut berperang," jelas putri Jia Li sambil memasang wajah frustasi.


Putri Jia Li berkata Demikian karena dia tahu, bahwa relik dimensi yang saat ini menjadi tekpat persembunyian Wu Kong dan yang lainnya tak akan bisa terbuka tanpa adanya campur tangan Xiao Tian.


"Jika pil dan menggoyangkan tubuh tak bisa menyadarkanku. Lalu apa yang bisa membuatku kembali tersadar?" tanya Xiao Tian sambil menyentuh dahinya karena masih merasa agak pusing.


"Apalagi kalau bukan pil suci yang masih tersisa di tanganku," jawab putri Jia Li sambil tersenyum tipis.


"Berapa banyak yang kau telankan padaku?" ucap Xiao Tian dengan mata yang terbelalak.


"Tak banyak, aku hanya memberikanmu semua yang masih tersisa di tanganku," jawab putri Jia Li sambil tersenyum tipis.


"Pil suci adalah satu satunya pil yang berguna untuk memperpanjang umurmu, kenapa kau berikan padaku tanpa pikir panjang?" ucap Xiao Tian dengan wajah yag terlihat frustasi.


"Tenanglah aku telah minum beberapa. Umurku saat ini masih tersisa sepuluh hari lagi. Setelah aku tiada nanti, hiduplah dengan damai bersama Huang Li," ucap putri Jia Li sambil tersenyum tipis.


"Gadis bodoh, mana mungkin aku menggantikanmu setelah kau melakukan hal seperti ini!" tegas Xiao Tian sambil mengepalkan kedua tangannya begitu erat.


"Aku tak akan membiarkanmu pergi begitu saja, aku pasti akan mendapatkan resep pil penambah umur untuk memperpanjang umurmu. Aku berjanji sebelum sepuluh hari terlewati. Aku akan mendapatkan resep itu bagaimana pun caranya," ucap Xiao Tian sambil menggertakkan giginya.


"Semoga saja itu bisa terjadi, ngomong ngomong rahasiakan ini dari semua orang ya, Yan Yan," ucap putri Jia Li sambil tersenyum tipis.


"Baiklah, aku akan merahasiakan semua ini dari semua orang. Untuk sementara kau tak boleh ikut berlatih di ruang hampa atau alam kekosongan lagi. Umurmu akan berkurang lebih cepat saat berada disana jadi tolong dengatkan ucanku yang ini, aku tak mau kehilanganmu lagi," ucap Xiao Tian dengan mata yang berkaca kaca.


"Dasar cengeng, hapus air matamu itu. Jangan sampai semua orang melihatnya," ucap putri Jia Li sambil tersenyum tipis.


"Sepertinya musuh telah mengetahui keberadaan Wu Kong dan yang lainnya, menyembunyikannya di dalam ruang hampa sama saja dengan bunuh diri. Jika Dewa iblis mengincarku lagi, maka habislah sudah," pikir Xiao Tian sambil menghapus air mata yang mulai mengalir di pipinya.