Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 295 : Menuju celah neraka


Xiao Tian meninggalkan kamarnya untuk bergegas pergi menuju Celah neraka. Tempat dimana Patriach Bai menyimpan bahan herbal yang dia butuhkan.


Celah neraka terletak di wilayah terlarang perguruan. Perlu ijin khusus untuk melewati tempat tersebut, karena tak sembarang orang bisa memasuki tempat tersebut.


Eilayah itu mengeluarkan begitu banyak asap beracun yang sangat mematikan bagi para pendekar alam mortal. Hanya para pendekar alam naga yang diijinkan masuk.


Sedangkan menurut pengetahuan semua orang saat ini, satu satunya pendekar alam naga yang tersisa di perguruan tersebut hanyalah patriach Bai.


Oleh karena itu, saat Xiao Tian ingin memasuki wilayah terlarang itu. Para penjaga menghalanginya hingga membuatnya terpaksa untuk melawan.


Brukk


Brukk


Brukk


"Tempat terlarang, tapi hanya dijaga oleh pemdekar alam roh. Sebenarnya apa yang dipikirkan Patriach Bai," ucap Xiao Tian sambil berjalan menuju wilayah terlarang.


"Bukankah itu sudah jelas?"


"Dia melakukan ini karena tahu bahwa tak ada murid bodoh yang mau membunuh diri mereka sendiri, bukan?" tanyaDewa petir sambil menatap ke arah Xiao Tian.


"Maksudmu aku bodoh?" tanya Xiao Tian dengan tampang kesal.


"Bukan begitu, maksudku racun disana sangatlah kuat. Dan hanya Patriach Bai yang sanggup menahan racun tersebut. Para penjaga itu hanya hiasan untuk memperingati para murid agar tak terbunuh oleh asap beracun di wilayah terlarang," jelas Dewa petir sambil menatap ke arah Xiao Tian.


"Terserah kau saja," ucap Xiao Tian sambil mengeluarkan empat buah pil tingkat lima yang Xianlun racik sebelumnya.


Setelah mengeluarkan pil, Xiao Tian langsung menelan pil pil tersebut untuk memperkuat kekuatan jiwa serta ketahan tubuhnya terhadap racun.


Berkat pil pil itu, dia tak terkena efek racun sama sekali bahkan bisa bernapas normal seperti biasa.


"Oh, jadi ini caramu memasuki hutan beracun," ucap Dewa petir sambil terbang mengikuti Xiao Tian.


"Hebat kan?"


"Heheh," ucap Xiao Tian sambil tersenyum tipis.


###


Setelah masuk cukup dalam di wilayah terlarang, akhirnya dia mencapai tempat yang dia tuju.


Sebuah celah yang menjadi sumber utama penyebaran kabut beracun. Celah didaratan yang begitu luas dan dalam hingga dasarnya tak dapat dilihat. Berdasarkan ingatan Patriach Bai, bahan herbal yang Xiao Tian cari berada di dasar jurang itu. Jurang yang disebut sebagai celah neraka.


Jurang yang menjadi sumber asap beracun di wilayah terlarang. Untuk mengecek seberapa dalam jurang itu, Xiao Tian melemparkan sebuah batu ke dalam jurang tersebut.


Trakkk


"Aneh, aku baru melemparnya. Tapi kenapa langsung ada suara seperti telah menyentuh dasar jurang?" pikir Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.


Ketika Xiao Tian sedang bingung dengan apa yang baru saja dia dengar, seekor beast ular hijau raksasa yang terlihat menyeramkan muncul dari dalam celah jurang.


Sssstttt


"Apa kau yang melempar batu besar tadi?"


"Manusia?" tanya ular tersebut sambil menatap tajam mata Xiao Tian dengan mata merahnya.


"Ya tuhan, kenapa ular yang ingin kuhindari malah muncul di pagi hari?" pikir Xiao Tian sambil menelan ludah.


"Sttt, katakan padaku apakah kah yang melempar batu tadi ke kepalaku?" tanya ular raksasa itu sambil menatap tajam mata Xiao Tian.


"A ...aku tak sengaja, sungguh," ucap Xiao Tian sambil .engeluarkan keringat dingin.


"Kekuatan ular ini berada pada lapisan puncak pendekar alam naga. Aku harus mencari cara agar bisa menenangkan ular ini tanpa harus beradu kekuatan dengannya," pikir Xiao Tian dengan keringat yang bercucuran.


"Apa kau baru saja menjawab pertanyaanku?" tanya beast ular sambil menuipitkan matanya.


"Tentu saja, aku menjawab pertanyaanmu. Memangnya ada yang salah dengan itu?" tanya Xiao Tian sambil mengerutkan dahinya.


"Tentu saja ada, seharusnya manusia biasa tak akan bisa memahami bahasa Beast sepertiku. Siapa kau sebenarnya, manusia?" tanya beast ular sambil menyipitkan matanya.


"Tu ... tunggu, jadi kau memakai bahasamu?"


"Kupikir kau memakai bahasa manusia," ucap Xiao Tian dengan mata yang terbelalak.


"Kau bahkan tak menyadari bahwa kau sedang berbicara bahasa ular?"


"Benar benar aneh," ucap beast ular tersebut sambil menyipitkan matanya.


"Oh iya, apakah kadal di pundakmu itu berasal dari bangsa iblis?" tanya ular raksasa tersebut sambil menatap tajam mata Sunlong.


"Beraninya kau memanggilku kadal, dasar cacing kremi!" bentak Sunlong dengan tampang kesal.


"Bisakah kau jaga ucapanmu?"


"Kadal sialan!" pikir Xiao Tian sambil menutup mulut Sunlong.


"Bisakah kau berhenti berkata kasar?" ucap Xiao Tian sambil menyetrum roh Sunlong hingga pingsan.


"Ma ... maafkan temanku, dia memang agak kasar. Tolong jangan anggap serius ucapannya tadi," ucap Xiao Tian dengan wajah yang dipenuhi keringat dingin.


"Tenanglah, aku tak seseram penampilanku. Marah bukanlah sifatku, jadi kau tak perlu takut aku menyerangmu."


"Oh iya,"


"Kadal di pundakmu dari ras iblis kan?"


"Kenapa dia mengerti bahasaku?"


"Padahl bahasa para beast dan bahasa para iblis sangatlah berbeda."


"Hanya para Kaisar iblis saja yang mengerti bahasa beast, dan kalau diperhatikan dengan baik kadalmu itu memiliki kultivasi yang jauh dibawah larah kaisar iblis."


"Kenapa seorang iblis biasa, bisa memahami bahasaku?"


"Sebenarnya siapa kalian, dan apa tujuan kalian kemari?" tanya beast ular raksasa sambil menatap tajam mata Xiao Tian.


"Hahaha, marah bukan sifatmu kau bilang?"


"Setelah tak bertemu selama seribu tahun lamanya, ternyata kau bisa berubah hingga sejauh ini."


"Padahal seingatku, kau sangat mudah marah dan tak mau diganggu. Kau bahkan membantai satu buah kota hanya karena salah satu penduduknya tak sengaja mengganggu tidurmu,"


"Siapa yang telah membuatmu berubah seperti ini?"


"Yuan er sang ulang hijau?" tanya Sunlong sambil merubah wujudnya ke wujud naga merah.


"Su ... Sunlong?"


"Kaukah itu?" ucap Yuan er sambil merubah wujudnya ke wujud manusia.


Dia berubah menjadi seorang gadis cantik dengan rambut hitam yang cukup panjang hingga melebihi bahunya. Dia berpakaian serba hijau, sambil memakai selendang hijau yang cukup panjang.


"Akhirnya kau mengingatku juga,"


"Ular sialan," ucap Sunlong sambil menatap Yuan er.


"Aku senang mengetahui bahwa kalian saling mengenal, tapi bisakah kau singkirkan kakimu dari punggungku?"


"Dan tolong beritahu aku saat ingin merubah ukuran!" bentak Xiao Tian dalam keadaan tertindih kaki Sunlong.


"Pft, maaf," ucap Sunlong sambil mengangkat kakinya.


"Aku lupa kalau kota pernah terikat sebelumnya. Tadinya aku pikir karena diriku hanyalah sebuah roh tanpa raga, tubuhku tak akan menindihmu saat berubah ke wujud ini. Hehehe," ucap Sunlong sambil merubah tubuhnya ke wujud kadal.


"Rasakan itu, salah sendiri menyetrumku tanpa peringatan," pikir Sunlong sambil tersenyum tipis.


"Kadal sialan, aku tahu kau pasti sengaja," pikir Xiao Tian dengan tampang kesal.


###


"Kenapa kau bisa menjadi roh?" tanya Yuan er.


"Kau ingat manusia yang kuanggap teman ribuan tahun lalu?"


"Dialah yang membuatku menjadi seperti ini," ucap Sunlong sambil mengepal erat kedua tangannya.


"Ironis sekali ya?"


"Aku yang suka menyerang manusia, malah dibiarkan hidup karena aku hanyalah seorang Beast."


"Sedangkan kau yang selalu mencoba berteman dengan manusia, malah berakhir tragis di tangan mereka hanya karena terlahir sebagai seorang iblis."


"Jika aku belum bertemu dengannya, dan mendengar semua ceritamu ini. Maka aku pasti akan menganggap semua manusia jahat dan harus dibasmi," ucap Yuan er sambil menundukkan kepalanya.


"Tunggu dulu, apakah kau menjalin hubungan dengan seorang manusia?" tanya Sunlong sambil mengerutkan dahi.


"Hu ... hubungan kami tak sedalam itu," ucap Yuan er sambil tersipu malu.


"Begitu ya, aku mengerti," ucap Sunlong sambil tersenyum tipis.


"Maaf karena telah mengganggu reuni kalian, tapi bisakah salah satu dari kalian memperhatikanku sebentar saja?"


"Aku benar benar harus pergi dari sini secepatnya. Dan aku tak ingin pergi sebelum aku mendapatkan empat bahan herbal milik patriach Bai," ucap Xiao Tian yang mulai terbatuk batuk.


Disaat Xiao Tian, Sunlong dan Yuan er saling mengobrol, Dewa petir hanya bisa bengong karena tak paham apa yang mereka bicarakan. Itu semua karena Xiao Tian dan yang lainnya menggunakan bahasa ular yamg tak dimengerti oleh Dewa petir.


"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan!“


" Bisakah salah satu dari kalian menjelaskannya kepadaku?" teriak Dewa petir sambil memasang wajah kesal.