Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 405 : Diluar rencana


Setelah berhasil keluar dari dalam gua tersembunyi, Xiao Tian dan Dewa petir memimpin semuanya untuk keluar dari perbatasan hutan bersiul.


Ketika telah sampai di perbatasan terluar hutan bersiul, Xiao Tian memanggil para naga yang bersembunyi dengan berkata, "Keluarlah!" (Dalam bahasa naga)


Sejak awal para naga tak ikut masuk lebih dalam ke hutan karena Xiao Tian meminta mereka agar menunggu di perbatasan luar hutan saja.


Alasan Xiao Tian menyuruh para naga tak ikut masuk, yaitu karena takut sayap mereka terluka disaat menghadapi para iblis penghuni hutan.


Para naga bersembunyi diantara semak semak dengan tubuh versi mini mereka. Selain pandai bersembunyi, para naga juga pandai menyembunyikan hawa keberadaan. Karena itu tak ada iblis yang menyerang mereka sama sekali.


Ketika mendengar Xiao Tian memanggil dalam bahasa naga di daerah perbatasan terluar, para naga pun keluar dari persembunyian mereka.


Wooshhh


krasak krasak, pemimpin naga biru dalan versi mininya keluar dari semak semak yang cukup lebat. Diikuti oleh naga hitam yang langsung melesat terbang ke pelukan Xiao Tian dengan begitu girang. Disaat sudah berada di pelukan Xiao Tian, naga hitam versi mini menjilati wajahnya hingga membuat Xiao Tian merasa geli. Naga hitam terlihat begitu senang karena dapat melihat tuannya dapat kembali dengan selamat.


"Hei hentikan itu, ahhaha," ucap Xiao Tian tertawa geli.


"Syukurlah sepertinya semua naga baik baik saja," ucap Dewa petir sambil menghela napas.


Ketika Dewa petir bernapas lega, Su Yan teringat sesuatu hal yang mengganjal di dalan pikirannya. Yaitu bagaimana caranya menghubungi teman teman yang telah berpencar di dalam hutan. Karena tak tahu apa yang harus dia lakukan, Su Yan pun memutuskan untuk meminta saran kepada Dewa petir.


"Oh iya, bagaimana cara kita menghubungi yang lain?"


"Bukankah kita sudah berpencar cukup jauh sekarang?"


"Syarat telepati kan minimal kita bisa melihat orang yang ingin kita ajak telepati," sambung Su Yan dengan tampang serius.


"Kata siapa kalau kita harus melihat untuk bertelepati?"


"Xiao Tian bahkan bisa bertelepati sambil menutup matanya," jawab Dewa petir dengan tampang serius.


"Benarkah itu?" sambung Jingmi dengan penuh semangat.


"Itu mah belum seberapa, Dewa petir bahkan bisa bertelepati dengan orang orang yang dia inginkan meski terpisah jarak sejauh apapun," sambung Xiao Tian sambil melirik ke arah Dewa petir.


Setelah mendengar penjelasan Xiao Tian semuanya langsung menatap ke arah Dewa petir dengan penuh penasaran.


"Benarkah itu?" semua orang menatap ke arah Dewa petir.


"Ya begitulah," jawab Dewa petir dengan begitu bangga.


"He ... hebat ...," semua orang terpesona dengan keahlian Dewa petir.


"Bagus, pujilah terus Dewa ini. Hahaha," Dewa petir terlihat bersemangat.


"Haih ... ," Xiao Tian memasang tampang datarnya.


Dewa petir yang paham akan maksud Xiao Tian langsung melaksanakannya tanpa banyak bertanya. Sambil memejamkan matanya, dia berusaha untuk merasakan hawa kebaradaan Si Gendut dan yang lainnya. Ketika sudah menandai hawa keberadaan mereka, Dewa petir pun mulai menyampaikan pesan yang ingin Xiao Tian sampaikan.


"Berkumpullah ke perbatasan hutan bersiul, saatnya kita pulang," ucap Dewa petir melalui telepati.


Tak lama kemudian, suara jenderal Tailong terdengar jelas di dalam kepala Dewa petir. Dari caranya menjawab, terdengar jelas bahwa dia dan Taiwu menolak untuk kembali karena belum mendapat informasi yang cukup.


"Maafkan aku Dewa petir, kami tak bisa pulang sekarang. Tolong katakan pada yang mulia bahwa Taiwu dan para siluman rubah merah akan menetap lama disini," jawab jenderal Tailong melalui telepati.


"Aku mengerti, akan kusampaikan pada Xiao Tian nanti," jawab Dewa petir dengan serius.


Tak lama setelah Dewa petir menyampaikan pesannya kepada jenderal Tailong, terdengar suara Dian Zheng yang merespon telepati Dewa petir. Dia menceritakan bahwa dia juga tak bisa ikut karena sesuatu hal yang mendesak.


"Aku dan Kaibo juga tak bisa pulang sekarang ayah. Jangan khawatir, sekarang kami telah resmi menjadi anggota sekte pelindung iblis. Selama kami berpura pura dipihak mereka, semuanya akan aman. Jadi, tolong sampaikan kepada Xiao Tian bahwa kami tak bisa pulang sekarang," jawab Dian Zheng melalui telepati.


Ketika Dewa petir sedang panik dengan jawaban putranya, terdengar suara si gendut di dalam pikiran Dewa petir.


"Kau kah itu, Dewa petir?"


"Tolong sampaikan kepada guru, bahwa aku dan Huanran mungkin tak bisa kembali lagi,"


"Karena kami telah .... ," si Gendut terdiam secara tiba tiba ketika masih belum sempat menyelesaikan kalimatnya.


"Hoi gendut, kau dan Huanran kenapa!"


"Cepat jawab aku!" teriak Dewa petir melalui telepati dengan tampang panik.


Melihat ada yang tidak beres dengan ekspresi Dewa petir, Xiao Tian langsung menepuk punggungnya dan berkata,


"Hei ada apa dengan ekspresimu?"


"Kenapa kau terlihat begitu panik?" tanya Xiao Tian dengan penuh rasa khawatir.


"Si gendut dan Huanran telah ... ," belum sempat Dewa petir menyelesaikan kalimatnya, Xiao Tian melesat cepat memasuki hutan bersiul lagi dengan naga hitam yang masih merangkul di pundaknya. "Tunggu aku gendut!" pikir Xiao Tian dengan kesal.


"Haishh," Dewa petir menghela napas, lalu membuat kloning dirinya dari sebuah petir biru.


Disaat kloningnya telah tercipta, Dia pun melesat mengejar Xiao Tian sembari meninggalkan kloningnya.


"Tunggu!" Dewa petir melesat maju mengejar Xiao Tian.


Ketika semua orang ingin melesat mengimuti Xiao Tian, kloning Dewa petir menghalangi mereka dengan berkata, "Diam disitu!"


"Kalian hanya akan jadi beban jika ikut mengejar."


Kloning Dewa petir menahan Su Yan dan para siluman yang ingin membantu penyelamat merekadengan menekankan aura yang begitu mendominasi.