
#Kota Shandian
Kota Shandian merupakan kota yang cukup ramai. Karena ingatan semua orang telah di rubah, dimana berdasarkan ingatan mereka reputasi Xiao Tian sangatlah luar biasa.
Pemuda jenius yang telah menjadi alkemis bintang tiga, penyelamat Huang Li dan merupakan putra mahkota yang menjadi panutan kerajaan. Karena fotonya tersebar luas di seluruh kota, tak ada yang tak dapat mengenalinya saat ini.
Xiao Tian menggunakan jubah Xian Yun untuk menyembunyikan identitasnya, dia tak ingin perjalanannya terhambat karena penduduk yang menghambat.
Namun meski sudah berhasil menutupi identitasnya, Xiao Tian tetap dihadang oleh seseorang. Pria berambut putih panjang, berjenggot putih dan bermata coklat. Memakai pakaian berwarna merah dengan lambang naga di belakang punggungnya. Melihat ciri khas tersebut Xiao Tian bisa mengenalnya dalam sekilas, dia adalah Huang Chao yang suka bertindak sesukanya.
"Jika kau ingin lewat, bukalah jubahmu itu terlebih dulu. Kalau menolak ... maka aku dan anak buahku akan .... ," belum sempat menyelesaikan kalimatnya, Xiao Tian mengeluarkan aura kuat yang di fokuskan kepada Huang Chao dan dua puluh bawahannya. Gelombang kekuatan dari pancaran aura tersebut langsung membuat semuanya pingsan tak berdaya.
Bruk bruk bruk
"Pengganggu," ucap Xiao Tian sambil mengaktifkan teknik teleportasi.
Xiao Tian telah menghilang dari pandangan penduduk kota Shandian, dan langsung sampai di depan gerbang istana.
Melihat kemunculan Xiao Tian yang secara tiba tiba membuat prajurit yang sedang bertugas mengawas di atas menara tak mempercayai apa yang sedang dia lihat. Dia terus mengucek-ucek matanya hanya untuk memastikan.
"Sejak kapan putra mahkota ada disana?"
"Dan jubah apa yang sedang dia pakai sekarang?"
"Kenapa dia berjalan menuju kemari?"
"Dan dimana naga hitam raksasanya?"
"Eh , ini bukan waktunya memikirkan itu semua. Aku harus menyuruh penjaga dibawah agar membukakan gerbangnya," pikir prajurit yang bertugas di menara pengawas.
Prajurit yang bertugas di atas menara itu langsung menatap ke bawah sambil berteriak,
"Putra mahkota telah mendekat, dia menuju istana!"
"Cepat buka gerbangnya!" teriak salah satu prajurit yang berjaga di atas menara pengawas.
."Apa?"
"Putra mahkota sudah sampai?"
"Bukankah dia pergi naik naga?"
"Kenapa kami perlu membuka gerbangnya?" pikir prajurit A.
"Kenapa kau bengong saja!"
"Cepat buka gerbangnya!" bentak prajurit di atas menara penjaga.
Saat Gerbang terbuka lebar, Xiao Tian langsung berjalan memasuki gerbang.
Para prajurit pun membuat dua buah barisan yang menyamping, mereka langsung membungkukkan badan tepat ketika Xiao Tian berjalan melewati mereka.
"Selamat datang di istana, putra mahkota" ucap para prajurit sambil membungkukkan badan.
"Hormat kami putra mahkota," ucap para prajurit.
Para prajurit membentuk barisan hingga sampai ke pintu istana. Sambutan yang benar benar beda dari biasanya. Semua itu terjadi karena Xiao Tian telah menunjukkan banyak pencapaian yang cukup luar biasa.
Meski di anggap jenius biasanya sambutannya tak semeriah ini.
Alasan mengapa perilaku prajurit berubah drastis hingga berinisiatif memberi penyambutan sedemikian rupa yaitu, karena mereka telah melihat kekuatan Xiao Tian yang telah melewati kekuatan raja Xiao Zhaoye.
Tak lama setelah memasuki istana, raja langsung menyambutnya dengan sehuah pelukan.
"Putraku, syukurlah kau tak apa. Kami begitu panik karena tak bisa menemukanmu dimanapun. Nagamu terlalu cepat dan yang paling merepotkan yaitu jejak dari kalian tak dapat terlacak oleh kekuatan qi milikku.
" Oh iya, dimana naga hitamnya?" tanya Xiao Zhaoye sambil melepas pelukannya.
"Naga itu ada di tempat yang aman dan tak mungkin mengganggu atau diganggu orang lain," jawab Xiao Tian.
"Oh iya, dari pada membahas naga. Aku jauh lebih ingin membicarakan hal penting denganmu, Ayah," sambung Xiao Tian sambil tersenyum tipis.
"Apa itu?" tanya Xiao Zhaoye sambil mengerutkan dahinya.
"Bisakah ayah kumpulkan sumber daya sebanyak mungkin?"
"Makanan, minuman dan sebagainya. Aku memerlukan semua itu untuk membantu mempercepat proses kenaikan kultivasi," jelas Xiao Tian sambil tersenyum tipis.
"Begitu ya, tenang saja. Anggap saja urusanmu itu telah beres," ucap Xiao
"Terimakasih, Ayah," ucap Xiao Tian sambil tersenyum tipis.
"Sama sama ... ," ucap Xiao Zhaoye sambil menatap mata Xiao Tian.
"Kalian dengar itu?"
"Cepat pergi dan cari persediaan makanan!"
"Oh iya, jangan lupa untuk menyimpannya di dalam cincin ruang#
" Ah baik," ucap para prajurit sebelum menghilang dari tangan .
"Baiklah, urusan persediaan telah selesai. Aku tinggal menjelaskan rencanaku pada ayah dan semuanya," pikir Xiao Tian di dalam hati.