
Xia Hu dan beberapa murid cabang petarung, pergi ke wilayah cabang alkemis untuk memanggil para tetua dan murid dari cabang tersebut.
Sambil menunggu mereka datang, Xiao Tian menulis metode penyulingan serta beberapa resep pil pemulih kekuatan jiwa.
Setelah menunggu cukup lama, Xia Hu kembali bersama para murid cabang petarung yang dia latih sebelumnya.
"Salam, patriach," ucap Xia Hu sambil memberi hormat.
"Hormat kami, Patriach," ucap para murid cabang petarung sambil memberi hormat.
"Apakah tugas yang kuberikan sudah kalian lakukan?" tanya Xiao Tian sambil menatap tajam Xia Hu.
"Semua sudah selesai, para tetua cabang alkemis serta murid murid mereka kini sedang menunggu diluar ruangan," ucap Xia Hu sambil memberi hormat.
"Suruh mereka masuk!" ucap Xiao Tian dengan nada serius.
"Baik, Patriach," ucap Xia Hu sambil memberi hormat.
Xia Hu keluar ruangan untuk memanggil para alkemis masuk, tak lama setrlah itu mereka pun masuk dan memberi hormat secara bergantian.
"Xia Ning memberi hormat kepada patriach," ucap Xia Ning sambil memberi hormat.
"Xianlun memberi hormat kepada patriach," ucap Xianlun sambil memberi hormat.
"Xiang Ying memberi hormat pada patriach," ucap Xiang Ying sambil memberi hormat.
"Hormat kami, patriach Tian Zong," ucap para murid alkemis sambil memberi hormat.
"Apakah diantara kalian ada yang tahu alasan aku memanggil kalian kemari?" tanya Xiao Tian sambil menatap tajam para tetua alkemis.
"Ampun patriach, kami tidak tahu," ucap para tetua sambil menundukkan kepala.
"Apakah kalian membawa tungku yang biasa kalian gunakan untuk berlatih?" tanya Xiao Tian sambil menatap tajam para tetua.
"Ampun patriach, tungku hamba rusak dan sedang dibawa tetua Xia Meng untuk diperbaiki saat ini. Jadi hamba tak bisa membawa tungku yang dimaksudkan," ucap Xia Ning sambil memberi hormat.
"Haih, Kupikir tungku itu sudah dibereskan," pikir Xiao Tian sambil menepuk dahinya.
"Xia Hu!" ucap Xiao Tian sambil menatap ke arah Xia Hu yang saat ini sedang berjongkok sejajar dengan para murid alkemis.
"Apakah ada yang bisa saya bantu, Patriach?" tanya Xia Hu sambil memberi hormat saat menghadap ke Xiao Tian.
"Pergilah ke gedung tetua Xia Meng, dan minta tungku peracik tetua Xia Ning darinya. Bilang ini perintah dariku!" ucap Xiao Tian sambil menatap tajam Xia Hu.
"Baik, Patriach," ucap Xia Hu sambil memberi hormat. Setelah itu dia berjalan menuju keluar ruangan, namun Xia Ning menghentikannya dengan berkata,
"Tunggu!"
"Kakakku orang yang sangat berhati hati, dia tak akan memberikan tungkuku ke orang lain tanpa adanya pendukung. tunjukkan token milikku ini padanya, dia pasti akan memberikannya tanpa ragu," ucap Xia Ning sambil melempar token perak berlambang naga.
"Terima kasih, tetua Xia Ning," ucap Xia Hu sambil memberi hormat.
"Token?"
"Aku baru ingat aku tak memiliki token orang tua itu, sepertinya besok aku harus menemuinya lagi agar identitas ini tak terbongkar," pikir Xiao Tian sambil menatap ke arah Xia Hu.
"Maaf atas kelancanganku patriach, bukannya meragukan kewenanganmu. Hanya saja aku sangat tahu bagaimana sifat kakakku, dia tak akan memberikan tungku milikku ke sembarang orang tanpa adanya pendukung sama sekali. Hamba yakin anda pun tahu akan hal itu," ucap Xia Ning sambil memberi hormat.
"Ampun patriach, hamba tak berani. Lagipula token anda terlalu berharga dan hanya ada satu satunya. Sedangkan tokenku dibuat secara masal untuk para murid murid yang kupercaya. Tokenmu sangatlah berharga dan tak bisa digunakan untuk mengakses semua fasilitas. Aku khawatir itu disalah gunakan untuk kepentingan tertentu," ucap Xia Ning sambil memberi hormat.
"Sepertinya aku tak perlu memberi alasan, hehe," pikir Xiao Tian sambil tersenyum tipis.
"Benar benar pemikiran yang hebat. Baiklah sudah cukup basa basinya. Sambil menunggu tungku tetua Xia Ning datang, keluarkan tungku kalian terlebih dahulu. Xiang Ying, Xianlun!" ucap Xiao Tian sambil menatap tajam kedua tetua.
"Baik, patriach!" ucap Xianlun dan Xiang Ying sambil memberi hormat.
Xianlun dan Xiang Ying mengeluarkan tungku mereka dari dalam cincin ruang. Tungku tingkat tiga yang biasa mereka gunakan untuk berlatih terlihat sama karena memang dibuat dan dibeli dari orang yang sama. Tungku besar dengan corak naga yang melingkari tungku tersebut.
"Apakah kalian membawa seluruh sumber daya yang kalian miliki?" tanya Xiao Tian sambil menatap tajam mata para tetua.
"Semuanya ada dalam cincin ruang kami, patriach," ucap Xianlun, Xiang Ying dan Xia Ning sambil memberi hormat.
"Bagus, pelajari ini dan praktekkan sekaramg juga!" ucap Xiao Tian sambil melempar dua buah gulungan metode penyulingan ke arah Xiang Ying dan Xianlun.
"Kau pun juga, pelajari hal ini baik baik," ucap Xiao Tian sambil melempar gulungan metode penyulingan ke arah Xia Ning.
Xia Ning, Xianlun dan Xiang Ying langsung terkejut bukan main setelah melihat isi gulungan tersebut. Ketika belum sempat mengungkapkan rasa terkejutnya, Xiao Tian memberi mereka gulungan lain yang berisikan catatan berbagai macam resep yang berfungsi untuk memulihkan kekuatan jiwa.
"Ini ... ,"
"Pa ... patriach?"
"Dari mana anda mendapat metode penyulingan legendaris dan resep pil tingkat tinggi?"
"Sebenarnya apa saja yang terjadi padamu saat menghilang dari tempat ini?" tanya para tetua alkemis dengan mata terbelalak.
"Meski bahan bahannya tak masuk akal, resep ini layak untuk dicoba. Tapi tungku kami hanyalah tungku tingkat tiga. Dan kebanyakan resep di gulungan ini adalah resep tingkat lima, apakah patriach sudah memikirkan hal ini?" ucap Xianlun sambil mengerutkan dahi.
"Kau hanya membaca sebagian kecil gulungan metode penyulingan, dan mengatakan bahwa resep tersebut mustahil kalian praktekkan?" tanya Xiao Tian sambil menatap tajam Xianlun.
"Apa maksud ucapan patriach?"
"Hanya melihat sekilas saja aku tahu kalau metode yang tertulis bisa mengurangi penggunaan kekuatan jiwa dan menaikkan efektifitas pil. Aku jadi penasaran, mungkinkah ada hal lain yang belum aku pahami?" pikir Xianlun sambil membuka gulungan lebar lebar. Xia Ning dan Xiang Ying juga melakukan hal yang sama karena memiliki pemikiran sama seperti Xianlun sebelumnya.
"Ini kan ... ," ucap ketiga tetua dengan mata terbelalak.
"Mulai sekarang kami bersumpah setia kepada patriach, terimakasih atas anugrah yang kau berikan kepada kami," ucap ketiga tetua sambil memberi hormat.
"Apa yang terjadi dengan guru dan kedua tetua yang lain?" pikir Tian Ling sambil mengerutkan dahi.
"Mereka bereaksi semakin berlebihan. Mungkinkah metode yang tertulis melebihi metode legendaris?" pikir Tian Ling sambil mengerutkan dahi.
"Ini lebih dari harapanku, tak hanya memberi kami metode tingkat legendaris. Patriach bahkan memberikan metode tingkat Dewa. Tak kusangka patriach akan memberikan metode selangka ini. Berdasarkan sejarah, hanya metode para Dewa saja yang bisa meningkatkan tigkat kualitas tungku. Sama seperti apa yang dia praktekkan dalam demonstrasi sebelumnya. Aku begitu mengaguminya saat pertama kali melihat patriach menggunakan metode itu, dan saat ini metode tersebut diberikan begitu saja bagai hal yang biasa baginya. Aku jadi penasaran, berapa banyak rahasia yang dimiliki patriach saat ini dan seberapa kuat kultivasinya sekarang. Dengan adanya patriach, ketiga sekte yang lain tak akan bisa menjatuhkan sekte kami lagi," pikir Xia Ning sambil tersenyum tipis.
"Metode penyulingan yang dibuat khusus untukku saja sudah membuatku sangat terkejut. Dengan metode ini aku bisa mengajari Tian Ling cara menekan racunnya agar tak memperngaruhi efektifitas pil. Tubuh beracun milik Tian Ling sedikit berbeda dari pada milikku, karena racunnya lebih kuat hingga bisa membuat pil yang dia racik menjadi beracun dan tak baik jika dikonsumsi lebih dari satu. Aku sudah bertanya ke para master alkemis yang berkunjung ke daratan ini, tapi tak ada yang tahu cara untuk menetralkan racun di tubuh Tian Ling. Sebenarnya apa yang dialami patriach saat dia pergi dari sekte, dewa mana yang berbaik hati mengajarinya begitu banyak metode legendaris ini," pikir Xianlun sambil mengerutkan dahi.
"Hehhe, Dewa mana lagi kalau bukan aku," ucap Dewa petir sambil membanggakan diri.
"Kenapa kau tersenyum sendiri?"
"Apa kau sudah gila?" ucap Xiao Tian melalui telepati.
"Enak saja, kau yang gila. Bwee!" ucap Dewa petir sambil menjulirkan lidahnya.