Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 127 : Emosi Dewi petir


#Kerajaan petir


Tubuh Dianzeng diselimuti oleh petir hitam dan tekanan ki yang sangat kuat, kekuatannya jauh meningkat drastis hingga mencapai tingkat illusory realm/ alam ilusi lapisan puncak.


Raja iblis Lanbing terkejut melihat peningkatan kekuatan raja iblis Dianzeng, mulutnya tersenyum lebar, dengan semangat yang membara berkata,


"Adik Dianzeng, kupikir kau adalah yang terlemah, sejak kapan kau bisa sekuat ini?"


"Sejak kapan kau mencapai tingkat alam ilusi?"


"Petir hitam apa itu?"


"Kenapa petir itu mengeluarkan hawa iblis?"


"Bukankah kau hanya memiliki petir kuning?"


"Bukankah kau..?


tanya Lanbing yang berdiri agak jauh dibelakang Dianzeng.


Mendengar Lanbing si pemalas berubah menjadi begitu bersemangat dan banyak bertanya, Dianzeng memotong ucapanya dengan nada yg agak ketus.


" Kak Lanbing, bisakah kau berhenti bertanya?"


"Tidak seperti biasanya kau terlihat begitu bersemangat."


"Apa kau salah makan hari ini?"


"Fokus saja pada misinya, dan simpan semua pertanyaanmu itu." ucap Dianzeng.


"Cih, baiklah." ucap Lanbing.


Tainam Chun menatap kearah Dewi petir yang berdiri disampingnya, dengan penuh kecemasan dia berkata.


"Dewi... apa kau menangis?"


"Apa iblis itu benar-benar anakmu?."


"Aku tak tahu kenapa aku menangis, tapi perlu aku tegaskan, kalau dia bukanlah anakku, aku seorang Dewi, dan suamiku adalah seorang Dewa, tak mungkin bagiku melahirkan seorang anak iblis." jawab Dewi petir sambil mengepalkan tangannya.


Meski bicara dengan nada yang meyakinkan, Dewi petir sebenarnya memiliki keraguan didalam hatinya. Hatinya kali ini benar-benar terasa begitu kacau, dia merasakan hal yang sudah lama hilang dari dirinya.


Selama ini Dewi petir tak mengetahui apa itu rasa bahagia, apa itu rasa sedih, emosinya telah lama menghilang.


Tak bisa tersenyum, tertawa, apalagi menangis, hatinya sedingin es hingga tak memahami arti penting kehidupan, selalu memasang ekspresi datar bagaikan robot, tak memiliki rasa simpati hingga tega membunuh orang yang dia anggap mengganggu, dia hanya melakukan hal yang benar baginya dan lebih mementingkan urusan pribadinya, dimatanya nyawa makhluk lain hanyalah sebutir debu.


Rasa sedih, rasa sakit di dalam hati, air mata yang terus mengalir melewati pipinya membuatnya merasa begitu heran, karena ini merupakan pertama kalinya dia merasakan hal seperti itu.


Sejak lahir Dewi petir tak memiliki emosi selain amarah, hal yang baru dia rasakan kali ini membuatnya bingung.


"Ada apa sebenarnya ini, aku tak mengenal iblis ini, aku baru bertemu untuk pertama kalinya dan ini adalah pertama kalinya aku turun ke bumi."


"Kenapa aku merasa tak asing dengan wajahnya, kenapa hatiku terasa begitu sakit ketika mendengar dia tak mau mengakuiku lagi sebagai ibunya, bukankah memang benar kalau aku bukan ibunya?" pikir Dewi petir sambil mengepalkan tangannya.


Tainam Chun memberi perintah kepada para prajurit yang tersisa untuk membawa mayat jenderal Tailong ketempat yang aman. Akan tetapi ketika para prajurit membawa mayat jenderal Tailong, raja iblis Lanbing melesat mendekati mereka dengan kecepatan tinggi.


Sambil terbang dengan begitu cepat, raja iblis Lanbing menggenggam sebuah kapak yang muncul tiba-tiba tepat disekitar telapak tangannya.


Dengan kapak ditangannya raja iblis Lanbing berusaha menebas kepala para prajurit yang ingin pergi membawa mayat jenderal Tailong pergi. Namun sebelum kapak tersebut berhasil menebas para prajurit, Tainam Chun menendang mundur raja iblis Lanbing dengan teknik kaki petirnya.


Wooshhh


Duarr


Meski Lambing terlempar mundur karena ledakan kaki petir, tubuhnya tak terluka sedikitpun. Lanbing hanya terlempar mundur beberapa meter, sedangkan kampaknya masih dia genggam dengan erat.


Tainam Chun berdiri tepat didepan para prajurit untuk melindungi mereka dari serangan raja iblis Lanbing.


"Kalau kau ingin membunuh mereka, langkahi dulu mayatku." ucap Tainam Chun.


"Cih." ucap raja iblis Lanbing dengan raut wajah yang sedikit kesal.


Lanbing memutar-mutar kampaknya dengan satu tangan, lalu menempelkan kapaknya ke pundak kanannya. Dia memegang kampak tersebut dengan begitu kencang hingga kampak tersebut mengeluarkan sinar merah.


"Tinggalkan mayat itu, dan pergilah dari sini jika kalian ingin hidup." ucap Lanbing.


"Meski tubuhnya telah tak bernyawa, kami tak akan meninggalkannya begitu saja!" ucap para prajurit.


"Kalau begitu, bergabunglah dengannya di neraka!" ucap Lanbing sambil melempar kampaknya ke arah para prajurit.


Kapak yang dilempar oleh raja iblis Lanbing berputar-putar kearah para prajurit, Tainam Chun memusatkan kekuatan ki nya tepat disekitar telapak tangan kanannya. Dia memusatkan ki untuk menciptakan sebuah senjata yang terbuat dari kekuatan ki, karena dia memiliki elemen petir, senjata yang berhasil dia buat adalah pedang petir.


Dengan menggenggam erat pedang petir ditangannya, Tainam Chun berusaha menangkis kapak merah yang dilemparkan raja iblis Lanbing, saat kapak merah dan pedang petir bersentuhan ledakan yang dahsyat membuat Tainam Chun terpental menjauh hingga menghantam para prajurit yang berada dibelakangnya, sedangkan kapak raja iblis Lanbing berputar kembali kearah pemiliknya seperti boomerang yang selalu kembali ke tempat orang yang melemparnya.


Tap(Raja iblis Lanbing menangkap kembali kampak yang telah terbang kembali kearahnya)


Tainam Chun dan para prajurit yang tersisa mengalami luka yang begitu parah karena ledakan tersebut. Dengan luka yang begitu parah mereka semua berusaha berdiri dengan tegak.


"Tainam Chun, kenapa kau tak membagi tubuhmu lagi?"


"Bukankah kau memiliki teknik membagi tubuh yang sangat luar biasa?" tanya para prajurit.


"Aku sudah kehabisan banyak tenaga karena melawan jenderal Tailong sebelumnya, dan ini sudah mulai pagi, aku juga belum sempat tidur sejak tadi malam."


"Pertarungan ini sangat mustahil kita menangkan." ucap Tainam Chun.


"Kalau tahu mustahil, seharusnya kalian menyerah saja, berhenti membuang-buang waktuku manusia." ucap raja iblis Lanbing.


***************


Raja iblis Dianzeng melesat begitu cepat hingga tak bisa dilihat dengan mata telanjang. kecepatannya diluar nalar melebihi kecepatan para Dewa petarung, hanya para pendekar tingkat tinggi yang bisa menyamai kecepatannya.


Dewi Petir bergerak dengan kecepatan yang sama sambil mencoba mengenali raja iblis Dianzeng dan mencari tahu alasan dibalik emosi aneh yang baru saja dia alami.


Wooshhh


wooshhh


Trang


Trang


Duarrr


Mereka bergerak begitu cepat hingga gerakan mereka tak bisa dilihat dengan jelas, para prajurit yang melihat kearah mereka hanya bisa melihat beberapa benturan petir hitam dan petir putih yang bertabrakan terus menerus di atas udara, benturan tersebut banyak terlihat diudara karena mereka memang bertarung sambil terbang dengan kecepatan tinggi diatas udara.


Karena merasa pertarungan terlalu memakan banyak waktu, Dewi petir meningkatkan kekuatannya, menghantam Dianzeng dengan kekuatan yang jauh diatas raja iblis Dianzeng.


Dianzeng terpental begitu jauh hingga menghantam daratan.


Duarr....


Daratan yang dia hantam menjadi sebuah kawah yang amat besar.


"Maaf aku tak punya banyak waktu untuk mengurusi iblis rendahan sepertimu." ucap Dewi petir dengan wajah datarnya.


"Gila... jadi itu alasan kenapa guru menyuruh Dianzeng yang mengatasi Dewi petir."


"Kalau aku yang melawan Dewi petir, mungkin aku akan tewas dalam hitungan detik." ucap Lanbing sambil melirik kearah Dewi petir yang masih melayang jauh diatas langit.


Meski jarak pertarungan Dewi petir dan raja iblis Dianzeng agak jauh dari tempatnya, Lanbing masih bisa melihat dan merasakan betapa kuat dan menakutkannya kekuatan ki Dewi petir.


"Hahahahahah."


"Apakah hanya itu saja kemampuanmu ibu!"


"Ah maaf maksudku, Dewi petir." ucap Dianzeng sambil berusaha berdiri.


"Kenapa kau begitu keras kepala, sebenarnya apa tujuanmu melawanku, kenapa aku merasa tak asing denganmu, dan kenapa kau harus mengaku sebagai putraku?" tanya Dewi Petir.


"Jawabannya ada pada dirimu sendiri, berhentilah berpura-pura kalau kau tak mengenaliku!" teriak Dianzeng.


bersambung....


# terima kasih untuk semua yang masih setia membaca novel ini


jangan lupa like, dan kirim komentar, agar author tetap semangat, jangan lupa pula kirim vote jika berkenan..