
Setelah mengajari semua orang selama beberapa jam, akhirnya batas waktu untuk merasuki Xiao Tian telah mencapai batasnya.
Dewa petir yang saat itu tak menyangka bahwa ada batas waktu untuk merasuki Xiao Tian akhirnya terpental keluar dari tubuh Xiao Tian hingga terjatuh menghantam tanah.
Brukk
"Aduh, kenapa aku terpental keluar?"
"Padahal Xiao Tian kan belum memaksa untuk mengambil alih kesadarannya," pikir Dewa petir sambil menatap ke arah Xiao Tian.
"Kenapa Aku kembali ke tubuhku?"
"Apakah Dewa petir sudah selesai dengan urusannya?" pikir Xiao Tian sambil mengerutkan dahi.
"Tidak, aku belum selesai melatih semuanya. Aku terpental keluar sendiri dari tubuhmu tanpa sebab yang aku ketahui," ucap Dewa petir melalui telepati.
"Bukankah kau memiliki jatah untuk merasukiku dua kali dalam sehari?"
"Kalau begitu rasuki saja aku," sambung Xiao Tian melalui telepati.
Ketika Dewa petir mencoba merasuki Xiao Tian lagi, sebuah sinar putih menghalanginya masuk ke tubuh Xiao Tian. Bahkan sinar tersebut juga sanggup mendorong mundur roh Dewa petir berkali kali.
"Ada apa ini?" pikir Dewa petir.
"Putra mahkota, apakah anda baik baik saja?" tanya Taiwu dan teman temannya.
"Kenapa kau melamun ditengah tengah latihan, Yan Yan?" tanya putri Jia Li sambil mengerutkan dahi.
"Apakah kau benar benar tak bisa merasukiku lagi, Dewa petir?" ucap Xiao Tian melalui telepati.
"Aku tidak sedang bercanda, sepertinya ini adalah batasanku. Aku baru ingat kalau batas durasi maksimum aku merasukimu hanyalah empat jam dalam sehari. Sedangkan batas maksimal untuk merasuki tubuhmu hanyalah dua kali dalam sehari."
"Dengan kata lain, aku hanya bisa merasukimu empat jam dalam sekali rasuk. Atau membagi jam untuk dua kali rasuk," ucap Dewa petir melalui telepati.
"Kenapa kau baru mengatakan hal sepenting ini?" bentak Xiao Tian melalui telepati.
"Bagaimana mungkin aku menceritakannya padamu, kalau aku saja baru mengingatnya sekarang," jawab Dewa petir sambil menghela napas.
"Cih, kau ini. Lalu apa yang harus kulakukan pada semuanya?"
"Mereka terus bertanya mengenai kelanjutan metode latihanmu," ucap Xiao Tian melalui telepati.
"Tak ada pilihan lain, selain mentransfer metodenya melalui kepalamu."
"Sama seperti dulu, ini mungkin akan terasa sakit. Berusahalah agar tak menjerit. Atau semua orang akan curiga terhadapmu, mengerti?" tanya Dewa petir sambil menempelkan telunjuknya ke dahi Xiao Tian.
"Aku mengerti. Tapi bisakah kau tunggu aba abaku?"
"Karena aku ingin menotok titik suaraku agar tak dapat mengeluarkan suara meski berusa menjerit sekuat tenaga," ucap Xiao Tian melalui telepati.
"Aku hampir lupa kalau kau seorang mantan dokter ahli akupuntur di duniamu sebelumnya. Baiklah, aku akan menunggu aba abamu," ucap Dewa petir sambil menarik kembali jari telunjuknya dari dahi Xiao Tian.
"Yan Yan apa kau baik baik saja?"
"Kenapa kau mengabaikan kami sejak tadi?" tanya putri Jia Li sambil berjalan mendekat.
"Mundurlah Lily!"
"Aku tak apa apa. Sisa latihannya akan diambil alih Dian Zheng terlebih dulu. Untuk sementara aku akan berkultivasi untuk menerobos ke tahap berikutnya," ucap Xiao Tian dengan tampang serius.
"Mundurlah tuan putri, jangan sampai kau mengganggu proses penerobosan putra mahkota. Ini memang kadang terjadi di waktu yang tak bisa diduga. Aku pun pernah mengalami penerobosan disaat berada di tengah tengah medan perang, hingga terpaksa mundur dan berhenti menyerang untuk memperkuat pondasi kultivasiku," ucap jenderal Tailong sambil menepuk pundak putri Jia Li.
"Baiklah, jenderal," ucap putri Jia Li sambil menghela napas.
Setelah mendengar alasan Xiao Tian, semua mata tertuju pada Dian Xheng yang sedang duduk bersantai di atas batu besar yang telah dia ciptakan menggunakan teknik misteriusnya.
"Apa lihat lihat!"
"Tak bisakah kalian biarkan aku bersantai sebentar saja?" ucap Dian Zheng dengan tampang judesnya.
"Aku sedang malas saat ini. Jadi jangan gannggu dan memaksaku untuk mengajari kalian, mengerti?" ucap Dian Zheng sambil menjentekkan jarinya.
Tepat ketika dia menjentikkan kedua jarinya, sekumpulan tanah melayang layang di sekitar tubuhnya. Kemudian tanah tanah tersebut menyatu hingga membentuk sebuah lingkaran besar yang menutupi seluruh tubuh Dian Zheng.
"Bukankah di tempat ini tak ada tanah sama sekali?"
"Bagaimana bisa dia mengendalikan tanah tanpa adanya tanah?" ucap jenderal Taizhong dengan mata terbelalak.
"Tanah adalah elemen dasarku dengan kedua saudaraku, jika kami berhasil mempelajari teknik aneh dari orang ini ... ," ucap jenderal Taifeng di dalam hati.
"Maka salah satu kelemahan kami sebagai seorang pendekar berelemen tanah ... ," ucap jenderal Tailong di dalam hati.
"Pasti bisa diatasi!" ucap ketiga jenderal utama di dalam hati mereka masing masing.
Ketika semua orang terfokus pada Dian Zheng, Xiao Tian menotok titik suara serta indra perasannya agar tak bisa merasakan sakit serta tak akan mengeluatkan suara disaat Dewa petir memulai pemindahan tekniknya.
Setelah merasa sudah siap, dia pun berkata,
"Lakukanlah sekarang."
"Menotok indera perasa hanya membuatmu tak bisa merasakan sakit untuk sementara, dan teknik yang ku transfer bukanlah teknik yang sembarangan. Ketika aku selesai mentransfer teknik ini, maka indera perasamu akan kembali terbuka secara paksa."
"Dan rasa sakit yang kau alami akan jauh lebih menyakitkan dari yang seharusnya. Apa kau siap akan hal itu?" tanya Dewa petir sebelum menempelkan jari telunjuknya.
"Aku tahu akan hal itu, lakukan saja sekarang sebelum fokus semua orang kembali teralihkan padaku!" bentak Xiao Tian melalui telepati.
"Kalau begitu, baiklah," ucap Dewa petir sambil menempelkan telunjuknya ke dahi Xiao Tian.
Sinar hijau muncul dari jari telunjuk Dewa petir, bersamaan dengan itu .... ,
tubuh Xiao Tian pun mulai bereaksi.
Tubuhnya gemetar hingga urat urat di punggung tangannya terlihat begitu jelas seperti orang yang menahan rasa sakit.
Namun karena Xiao Tian telah menotok tubuhnya agar tak dapat merasakan rasa sakit, dia hanya bersikap seperti biasa saja.
Ketika proses pemindahan tekniknya selesai, mata Xiao Tian berubah menjadi hijau menyala, kemudian kembali menghitam seperti semula.
Tepat ketika Dewa petir menarik kembali jari telunjuknya, sensasi sakit yang luar biasa mulai dirasakan oleh Xiao Tian karena indera rasa sakitnya telah dikembalikan secara paksa sebagai efek samping dari teknik misterius milik Dewa petir.
Bahkan titik suara yang sebelumnya dia totok pun ikut terbuka paksa akibat sensasi menyakitkan yang dia alami.
"Aaaaaaa!" teriak Xiao Tian dengan keringat dingij di seluruh tubuhnya.
"Menyakitkan, ini sangat menyakitkan," pikir Xiao Tian sambil berteriak begitu kencang.
Sebuah tekanan qi yang begitu kuat keluar dari tubuh Xiao Tian yang saat itu sedang dalam posisi duduk bersila sambil menahan rasa sakit yang sangat luar biasa.
"Rasanya seperti tubuhku sedang dipakar panasnya bara api, serta kulitku sedang dikelupas sedikit demi sedikit. Ini benar benar menyiksa. Tapi aku harus bertahan hingga akhir, semua ini kulakukan demi menerobos ranah berikutnya. Berdasarkan buku teknik beladiri milik guru yang sempat kubaca secara diam diam, rasa sakit adalah metode tercepat untuk menaikkan kultivasi,"
"Dengan memanfaatkan momentum ini, aku harus bisa menahan rasa sakit ini hingga aku dapat menerobos," ucap Xiao Tian di dalam hati.
"Aaaaaa!" teriak Xiao Tian dengan mata yang terbelalak.
"Begitu ya, memanfaatkan rasa sakit demi menerobos ke ranah berikutnya. Sambil menyelam minum air ya, tapi dengan kekuatannya yang sekarang, apakah dia bisa menahan semua rasa sakit itu?" pikir Dewa petir sambil tersenyum tipis.
Hembusan angin disertai tekanan qi terus terpancar keluar di sekitar tubuh Xiao Tian. Semua orang yang tadinya terfokus pada Dian Zheng langsung menatap ke arah Xiao Tian karena hal itu.
"Yan Yan, apakah kau baik baik saja!" ucap Putri Jia Li sambil mencoba mendekati tubuh Xiao Tian. Namun belum sempat dia melangkahkan kakinya, jenderal Tailong menarik tangannya lalu berkata,
"Bukankah sudah kubilang agar tak mengganggu proses penerobosan putra mahkota!"
"Jika kau memaksa mendekat, kau akan merusak konsentrasi putra mahkota. Dan kemungkinan terburuk pasti akan terjadi. Seorang kultivator yang diganggu saat sedang menerobos akan mengalami kerugian besar karena harus mengulangi kultivasinya hingga Lima puluh lapisan. Dan kemungkinan terburuknya adalah mengalami kehancuran dantian hingga tak bisa berkultivasi lagi," ucap jenderal Tailong sambil menarik tangan outri Jia Li.
"Benar kata jenderal Tailong, proses ini tak dapat diganggu. Jika kau ingin membantunya maka diamlah dan jangan mendekatinya, mengerti?" ucap Huang Li sambil memasang wajah kesalnya.
"Kak Huanran, apakah ayah Xiao Tian akan baik baik saja?" tanya Jingmi sambil memegang tangan Huanran.
"Aku pun tak tahu, ini pertama kalinya aku melihat seorang pendekar yang naik tingkat hingga membuat kehebohan yang luar biasa," sambung Huanran sambil mengerutkan dahi.
"Semoga kau berhasil, ketua," ucap Su Yan sambil menatap ke arah Xiao Tian.
"Jangan sampai kalah dengan rasa sakit, guru " ucap si Gendut di dalam hati.
"Jangan kecewakan aku, bocah," ucap Sunlong di dalam hati.
"Kau pasti bisa, tuan," ucap naga hitam dengan bahasanya.
"Jangan patah semangat, putraku," pikir Xiao Hong sambil menatap ke arah Xiao Tian.
Ketika semua fokus masih berpusat kepada Xiao Tian. Dia menyempurnakan cara duduknya yang sempat berubah akibat menahan rasa sakit yang cukup menyiksa.
Kemudian mulai mengeluarkan roh beladiri yang selama ini dia sembunyikan dari sekua orang.
Kemunculan roh ular Yin dan Yang membuat semua orang terkejut bukan main, karena berdasarkan ingatan semua orang Xiao Tian diterima menjadi murid sekte gunung api berkat kemampuan alkemisnya yang sanggup menolong Huang Li melebihi kemampuan alkemis bintang tiga yang pernah jenderal Huang Cheng panggil sebelumnya.
Sedangkan roh beladirinya tak pernah bisa bangkit meski menggunakan bantuan beberapa ahli sekalipun. Meski begitu, dia tetap di hormati berkat ilmu alkemisnya.
Hingga diangkat menjadi putra mahkota.
Namun pandangan semua orang berubah sejak melihat Xiao Tian menghabisi jenderal pembasmi iblis tanpa kesulitan sedikitpun.
Dia bahkan mengejutkan semua orang ketika naga hitam raksasa datang menuruti panggilannya.
Banyak yang berpikir bahwa Xiao Tian sebenarnya telah lama membangkitkan roh beladirinya, namun tak memberitahukannya ke mata umum.
Saat melihat roh beladiri Xiao Tian yang memancarkan kekuatan luar biasa, semua orang langsung terjatuh lemas karena merasa begitu syok dan tak percaya akan apa yang mereka lihat.
"Roh ular Yin dan Yang, roh level lima belas yang sangat langka. Jadi selama ini putra mahkota memiliki roh itu?" ucap jenderal Tailong sambil menundukkan kepalanya.
"Suamiku ... , putra kita ... ," ucap Xiao Hong sambil menepuk pundak Xiao Zhaoye.
"Iya istriku, putra kita melebihi harapan semua orang. Ular Yin Yang merupan roh beladiri langka yang hanya muncul ribuan tahun sekali. Dengan adanya roh beladiri tersebut, putra kita pasti bisa menjadi orang paling ditakuti di alam semesta ini," ucap Xiao Zhaoye sambil menatap Xiao Hong dengan senyuman tipis di wajahnya.
"Dasar bodoh, kenapa kau mengeluarkan roh beladirimu di hadapan semua orang?"
"Bagaimana jika hal ini bocor ke telinga orang lain?" ucap Dewa petir dengan tampang kesal.
"Persetan dengan semua itu, aku tak mau mati konyol sekarang. Membuka segel roh ular yin dan yang merupakan satu satunya caraku untuk bertahan hidup. Kau pun sudah tak bisa membantuku lagi, bukan?"
"Lagipula, aura roh ular Yin Yang tak akan bocor ke luar karena dimensi ini tak terhubung dengan dimensi manapun."
"Ruang hampa ini merupakan tempat yang paling aman untuk mengeluarkan potensi penuh roh beladiriku ini tanpa takut diganggu musuh," sambung Xiao Tian melalui telepati.
"Haih, ini memang satu satunya cara untuk menolongmu dari rasa sakit sekaligus mempercepat kenaikan kultivasi. Tapi kau kan bisa melakukannya di tempat yang agak jauh dari semua orang," ucap Dewa petir sambil menghela napas.
"Disaat sedang menahan rasa sakit, mana mungkin aku terpikirkan untuk berteleportasi!"
"Kalau kau merasa terganggu karena banyak yang mengetahui rahasia ular Yin dan Yang, maka hilangkannsaja ingatan mereka tentang ini. Beres kan?" ucao Xiao Tian melalui telepati dambil mencoba menahan rasa sakit di sekujur tubuhnya.
"Aku memang bisa menghapus sebagian ingatan mereka, tapi jumlah mereka terlalu banyak dan memerlukan energi yang tak sedikit untuk menggunakan teknik pelenyap ingatan," ucap Dewa petir sambil menatap Xiao Tian.
"Kau pikirkan saja solusinya nanti, aku sedang sibuk saat ini. Jangan ganggu konsentrasiku," ucap Xiao Tian melalui telepati.
Huaaaaaa!" teriak Xiao Tian sambil mengeluarkan tekanan qi yang sanggup membuat semua orang terdiam kaku.
Dia berteriak sekencang mungkin untuk mengurangi rasa sakit yang sedang dia derita.
"Cih, merepotkan," ucap Dewa petir sambil menghela napas.
Setelah berkultivasi menahan rasa sakit serta memanfaatkan kekuatan roh beladiri ular Yin dan Yang dalam jangka waktu yang cukup lama, akhirnya Xiao Tian berhasil menerobos hingga enam lapisan dalam sekaligus.
Tingkat kultivasinya saat ini adalah pendekar alam Beast lapisan ke enam.
"Selamat atas kenaikan kultivasimu, putra mahkota," ucap Taiwu, para prajurit serta para jenderal sambil memberi hormat.
"Yan Yan benar benar berbakat, aku jadi merasa tak pantas lagi berdiri disampingnya. Seorang jenius sepertinya seharusnya menikahi seorang putri dari kerajaan besar, bukan putri dari kerajaan kecil yang nyaris hancur seperti kerajaanku," ucap putri Jia Li sambil mengepalkan kedua tangannya.
"Bisakah kau berhenti mengejutkanku, pangeran Xiao Tian. Kalau begini terus, aku jadi semakin sulit untuk melepaskanmu," pikir Huang Li dengan penuh rasa kagum.
"Kekuatan yang sungguh luar biasa, dan aku hampir saja menyinggungnya waktu itu. Syukurlah Huang Fu menghentikanku," pikir Huang Yi dengan mata yang terbelalak.
"Ayah Xiao Tian memang luar biasa, sudah kuduga ayahku pasti bisa menaikkan kultivasinya. Yey!" teriak Jingmi dengan begitu girang.
"Kenapa kau tak bersikap seperti anak anak seusiamu, Kaibo?"
"Bersoraklah seperti Jingmi. Kau kan putra angkat Xiao Tian juga, benar kan?" tanya si Gendut sambil menyentil dahi Kaibo.
"Ketahuilah batasanmu, aku ini jauh lebih tua darimu dasar gendut!" bentak Kaibo dengan tampang kesalnya.
"Pfft tua apanya, tampang dan tinggimu saja masih sama seperti anak berusia lima sampai enam tahun," ledek si Gendut sambil menatap Kaibo.
"Berhenti meledekku!" teriak Kaibo sambil mengeluarkan pedang dari cincin ruangnya.
Si Gendut menahan serangan Kaibo dengan begitu mudah karena Kaibo larut dalam emosi hingga serangannya tidak beraturan.
"Apa hanya ini kemampuanmu?" tanya si Gendut sambil meledek Kaibo.
"Aih dasar mas gendut, bisa bisanya mempermainkan anak kecil di saat seperti ini" ucap Huanran sambil menghela napas.
"Jangan panggil aku anak kecil tante!"
"Panggil aku Kaibo!" ucap Kaibo sambil menghunuskan pedangnya.
"Siapa yang kau panggil tante ha?" ucap Huanran sambil mengeluarkan rantai emasnya.
"Sial, aku lupa kalau dia memiliki rantai emas yang sangat berpengaruh terhadap bangsa iblis sepertiku," pikir Kaibo sambil menelan ludah.
"Sabar Huanran, dia hanyalah anak anak. Kau tak boleh terlalu keras padanya," ucap Huang Li sambil mencoba menahan Huanran.
"Lepaskan tanganmu Huang Li, aku ingin memberi pelajaran pada bocah nakal itu!" bentak Huanran sambil menatap ke arah Kaibo.
"Aku belum bisa menggunakan versi dewasaku, tak ada pilihan lain selain merubah sikapku untuk sementara," pikir Kaibo sambil menelan ludah.
"Hua!"
"Bibi Huanran Jahat!" teriak Kaibo sambil menangis kencang.
"Bibi?" ucap Huanran dengan tampang kesalnya.
"Bisakah kau mengalah terhadap anak kecil?"
"Lihatlah dia bahkan sampai menangis begitu kencang," ucap Huang Li sambil mencoba menenangkan Huanran.
"Serius nih, dia marah hanya karena dipanggil tante dan bibi?"
"Bukankah kau bilang kalau umur huanran sudah lebih dari dua ratus tahun?" tanya Xiao Tian melalui telepati.
"Itu semua karena Huanran memang tak mengingat ingatannya tentang dua puluh tahun ke belakang. Selain pertemuannya dengan si Gendut, dia tak mengingat apapun tentang pengalaman hidupnya. Dan perlu kutegaskan lagi, semua itu bukan akibat dari sihir Wu Kong. Karena Wu Kong hanya mengubah ingatan Huanran tentang keberadaan Dewa dan gosip betapa sampahnya dirimu di masa lalu," jelas Dewa petir melalui telepati.
"Setelah mendengar penjelasan terakhirmu kok aku jadi merasa agak kesal ya," ucap Xiao Tian melalui telepati.
#Alam pikiran Su Yan
"Apa apaan roh beladirinya itu?"
"Bukankah ini curang?"
"Bagaimana bisa seorang manusia dikaruniai roh beladiri tingkat tiga belas, kalau begini aku tak mungkin bisa mengejarnya," ucap sisi lain Su Yan dengan tampang kesalnya.