Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chalter 288 : Menunjukkan jati diri


Xiao Tian telah menerima semua pil yang dimurnikan oleh Tian Ling. Itu berarti dia telah diakui menjadi murid resmi dan tak perlu melakukan tes lagi.


Biasanya untuk menjadi murid resmi cabang alkemis, harus melewati ujian kekuatan jiwa terlebih dahulu. Namun semua orang memahami keputusan tetua Xianlun.


###


Setelah para calon murid dari tetua Xiang Ying dan tetua Xiang Ning melakukan tes pengukuran kekuatan jiwa, Xiao Tian pergi memasuki area dalam perguruan sambil mengikuti kemana tetua Xianlun pergi.


### Gedung alkemis Xianlun


Ke


"Keluarkan semua pil yang dimurnikan Tian Ling tadi," ucap Xianlun sambil menatap ke arah Xiao Tian.


"Untuk apa?"


"Bukankah kau sudah memberikannya untukku, guru?" tanya Xiao Tian sambil menoleh ke arah Xianlun.


"Berikan saja, guru tak bermaksud buruk kepadamu. Sebenarnya pil yang aku murnikan, mengandung racun yang cukup mematikan. Itu tidak akan memberikan manfaat apapun pada kultivasimu," ucap Tian Ling sambil menatap Xiao Tian.


"Apakah kalian tahu?"


"Orang yang baik, seharusnya tak mengambil kembali apa yang telah diberikan," ucap Xiao Tian sambil membalas tatapan Tian Ling.


"Apapun pendapatmu, aku tidak peduli. Yang pasti pil itu tidak akan memberikan manfaat untukmu. Berikan saja padaku, dan aku akan memberikan pil tingkat dua dengan efektifitas 100% untukmu," ucap Xianlun sambil menatap mata Xiao Tian.


"Semua pil yang aku murnikan, selalu terkontaminasi oleh elemen racunku. Namun biasanya racun yang terkandung tidaklah berbahaya walau mengurangi tingkat efektifitas pilnya."


"Sedangkan pil pil yang kau terima saat ini, merupakan pil dengan kandungan racun yang paling mematikan bahkan bagi seorang Dewa petarung sepertiku. Dan kau bahkan tak memiliki dasar kultivasi sama sekali


Jika kau memaksa untuk menggunakan pil pil itu untuk dirimu sendiri, aku takut kau ... ," ucap Tian Ling dengan tampang cemas.


Xiao Tian mengeluarkan dua puluh pil peningkat kultivasi yang telah dia terima sebelumnya. Pil pil beracun itu, melayang layang di sekitar tangan kanan Xiao Tian dan berputar putar hingga membentuk lingkaran sempurna.


Pil pil itu melayang dan berputar terus menerus. Ketika masih berputar putar di atas telapak tangan kanan Xiao Tian, pil pil itu mengeluarkan asap ungu yang mengandung racun.


Setelah kandungan racun menghilang, kemurnian pil meningkat tajam. Warna pilnya jauh lebih mengkilap, dan efektifitasnya melebihi 200% hingga setara dengan pil tingkat empat.


"Mu ... mustahil, bagaimana mungkin ini bisa terjadi?"


"Tak hanya pandai mendalikan kekuatan jiwa, dia bahkan bisa memurnikan pil yang tak bisa aku murnikan," pikir Xianlun dengan mata terbelalak.


"Guru selalu menghancurkan pil yang telah terkontaminasi oleh racunku agar tak membahayakan orang lain, tapi pria bertopeng ini dengan mudahnya memurnikan pil yang telah terkontaminasi oleh racunku," pikir Tian Ling dengan mata terbelalak.


"Berdasarkan penilaianku, pil pil ini setara dengan pil level empat. Apakah menurutmu adil, jika aku menukarkannya dengan pil level dua?" tanya Xiao Tian sambil memasukkan pil pilnya ke dalam cincin ruang hingga hanya menyisakan satu buah pil yang masih melayang di atas telapak tangannya.


Ketika Tian Ling dan Xianlun masih belum mempercayai apa yang baru saja mereka lihat, Xiao Tian menerbangkan pil itu hingga menuju ke tangan Xianlun. Dan Xianlun langsung menangkap pil tersebut, kemudian mengecek kualitas pilnya.


Saat pertama kali menyentuh pil tersebut, dia sudah tahu tingkat efektifitas pil. Saat itu pula dia sadar, bahwa Xiao Tian bukanlah orang biasa yang tak memiliki kultivasi.


"Apakah pil itu benar benar pil tingkat empat?" tanya Tian Ling sambil menepuk pundak gurunya.


Tanpa menghiraukan ucapan Tian Ling, Xianlun terus menundukkan kepalanya dengan tubuh yang gemetar.


"Si ... siapa kau sebenarnya?"


"Apa yang kau inginkan dariku?" ucap Xianlun dengan nafas terengah engah. Keringat dingin pun mengalir deras dari dahinya. Semua terjadi karena dia berpikir bahwa orang dihadapannya merupakan orang yang tak boleh dia singgung.


"Ini pertama kalinya aku melihat guru gemetar selain kepada tetua sekte, sebenarnya siapa pria ini," pikir Tian Ling sambil menatap Xiao Tian.


"Gingseng naga," ucap Xiao Tian sambil menatap Xianlun.


"Gingseng naga?"


"Itukan salah satu bahan herbal rahasia sekte badai berduri, dari mana kau mengetahui informasi ini?" tanya Xianlun sambil menatap Xiao Tian.


"Embun berduri, jamur es dan batu asap merah. Aku membutuhkan empat bahan itu," ucap Xiao Tian sambil menatap Xianlun.


"Semua bahan yang dia ucapkan merupakan harta pribadi milik patriach. Dan telah menjadi rahasia para tetua. Satu satunya orang luar yang mengetahui rahasia ini hanya tuan Jia Xin. Mungkinkah dia mendapatkan informasi itu darinya?" pikir Xianlun dengan mata terbelalak.


Saat Xianlun masih terkejut, Xiao Tian membuka topeng untuk memperlihatkan wajahnya. Saat melihat wajah Xiao Tian, gadis dengan rambut hitam dan mata berwarna ungu itu terkejut bukan main hingga melangkah mundur seperti ingin menjauh dari Xiao Tian.


Saking takutnya terhadap Xiao Tian, Xianlun bergegas pergi meninggalkan gedung hingga melupakan Tian Ling.


Namun ketika dia belum berhasil keluar dari gedung, Xiao Tian melemparkan jarum jarum akupunturnya untuk melumpuhkan Xianlun agar tak bisa bergerak sedikitpun.


"Siapa kau sebenarnya?"


"Kenapa guru begitu takut setelah melihat wajahmu?" tanya Tian Ling sambil memegang pedang yang dia keluarkan dari dalam cincin ruangnya.


"Sepertinya kau jarang keluar ya?" ucap Xiao Tian sambil melangkah mendekati Tian Ling.


"Menjauhlah darinya, Tian Ling!"


teriak Xianlun dengan tubuh yang tak bisa digerakkan.


"Kenapa?" tanya Tian Ling sambil menatap punggung Xianlun.


"Dia adalah pria yang dicari oleh para pembasmi iblis, pria yang telah menjadi penyebab kematian tuan Xian Yun," ucap Xianlun dengan nafas terengah engah.


"Mu ... mustahil, mana mungkin tuan Xian Yun tewas ditangan remaja yang memiliki umur tak jauh berbeda denganku," ucap Tian Ling sambil mengepalkan kedua tangannya.


"Terserah padamu untuk percaya atau tidak, tapi itulah kenyataanya," ucap Xiao Tian sambil mengeluarkan dua bola hitam yang melesat cepat ke arah Xianlun dan Tian Ling hingga merasuk ke dalam tubuh mereka.


"Apa yang baru saja merasuk ke dalam tubuhku?" pikir Tian Ling dengan mata terbelalak.


"Kalian telah kutandai, jika kalian membocorkan identitasku pada orang lain maka tubuh kalian akan meledak," ucap Xiao Tian dengan tatapan dingin.


"Semoga mereka mempercayai apa yang kuucapkan, jika tidak semua rencanaku akan gagal," pikir Xiao Tian sambil menatap Tian Ling.


"Benar benar tak pandang bulu ya?"


"Kau bahkan tak mengampuni seorang wanita sama sekali," ucap Sunlong yang baru keluar dari dalam cincin ruangnya dan langsung duduk di atas pundak kanan Xiao Tian.


"Ancamanmu kurang mengena dihati mereka, aku yakin mereka tak akan percaya pada ucapanmu," ucap Dewa petir sambil menepuk pundak kiri Xiao Tian.


"Lalu apa yang harus kukatakan?" tanya Xiao Tian melalui telepati.


"Ehm, seharusnya kau nerkata begini ... ,"


"Aku telah menandai kalian. Jika kalian membongkar identitasku pada orang lain, maka tubuh kalian akan meledak. Tapi boong ... ,"


"Hahahah," ucap Dewa petir dengan tampang konyolnya.


"Aih, kenapa kau bercanda disaat saat seperti ini?" ucap Xiao Tian dengan tampang kesal.


"Pria tampan dihadapanku adalah pembunuh orang yang paling dihormati di daratan ini?"


"Dan kami telah ditandai, lalu tubuh kami akan meledak jika membongkar identitasnya?"


"Yang benar saja ... ,"


"Kenapa hal ini harus terjadi padaku?" pikir Tian Ling sambil menundukkan kepala.


"Apakah kau tak apa, Tian Ling?" ucap Xianlun melalui telepati.


"Bagaimana mumgkin aku baik baik saja?"


"Aku baru saja mengagumi seorang pria pada pandangan pertama, tapi hal ini malah terjadi padaku."


"Kenapa pria tampan sepertinya harus menjadi seorang pembunuh!" ucap Tian Ling melalui telepati sambil meremas rambutnya.


"Nyawa kita terancam loh, kenapa kau masih bisa memikirkan hal itu!" teriak Xianlun melalui telepati.