
Xiao Tian menundukkan Tailung dengan bantuan Dewa Petir. Dia berencana menundukkan Tailung dengan kekuatan mutlak agar tak berani berhianat. Rencananya tersebut sukses besar terbukti dari sikap Tailung yang mendadak ramah terhadapnya.
Sebelum menuju tempat saudara kembar Tailung, Xiao Tian meminta Tailung beserta pasukannya untuk mengumpulkan bahan herbal untuk meracik obat.
Kebetulan di wilayah sekitar kuil, banyak bahan herbal yang Xiao Tian butuhkan untuk meracik obat. Alhasil Xiao Tian tak perlu menunggu lama untuk menunggu bahan-bahan herbal terkumpulkan.
Xiao Tian meracik obat di dalam ruangan khusus yang Tailung sediakan, dengan berbahan dasar gingseng api, akar duri naga dan rumput ungu Xiao Tian meracik sebuah pil pemulih energi. Dengan berbahan dasar akar kayu manis dan daun darah naga dia meracik pil penambah darah. Xiao Tian juga meracik pil penetral racun dengan berbahan dasar daun duri naga, dan rumput kabut hitam.
Dengan bahan herbal yang melimpah, Xiao Tian meracik ribuan obat untuk berjaga-jaga.
Tak lupa pula dia menyembuhkan luka semua siluman harimau yang telah dia kalahkan.
Melihat kesaktian Xiao Tian dalam mengobati dan menciptakan pil tingkat tinggi, Tailung semakin kagum dan menghormatinya.
Meski Xiao Tian ingin berurusan dengan saudara kembarnya, Tailung tak merasa marah ataupun kesal. Semua itu karena dia memang memiliki dendam pribadi dengan saudara kembarnya itu. Dia sering diganggu oleh saudara kembarnya karena tak mau mengikuti perintah raja iblis Lanbing.
Meski sama-sama tak menyukai manusia, Tailung tak pernah punya niat berperang dengan manusia. Dia hanya terobsesi untuk mengkoleksi emas buatan manusia.
Sedangkan saudara kembarnya begitu terobsesi dengan perang. Sering melakukan pembantaian terhadap manusia, mengikuti perintah raja iblis Lanbing dan sangat membenci emas.
Xiao Tian keluar dari ruangannya setelah selesai menyiapkan ribuan pil penetral racun, pil pemulih energi dan pil penambah darah.
Dia disambut oleh Tailung beserta pasukannya dengan penuh hormat.
"Hormat kepada tuan pendekar." semua siluman harimau kecuali Tailung, bersujud di hadapan Xiao Tian ketika melihatnya keluar dari ruangan khusus.
Tailung berjalan mendekati Xiao Tian, lalu memberikan hormat.
"Salam tuan pendekar, apakah anda sudah siap untuk pergi menemui saudara kembarku?" tanya Tailung sambil memberi hormat.
"Tentu saja." jawab Xiao Tian sambil melangkah melewati Tailung.
Tailung membalikkan badannya sambil melihat punggung Xiao Tian. Wajahnya dihiasi oleh senyuman kebahagiaan.
"Kalian dengar itu?"
"Tuan pendekar sudah siap untuk memberi perhitungan dengan Tailing Zen, sudah saatnya bagi kita membalas perlakuan kasar mereka, dan sudah waktunya bagi kita untuk membasmi para penghianat bangsa siluman itu. Siluman harimau tidak boleh tunduk dibawah perintah bangsa iblis!" tegas Tailung sambil tersenyum.
"Musnahkan para penghianat, bunuh para budak iblis!" teriak para siluman harimau berulang-ulang.
Mendengar ucapan Tailung dan teriakan para siluman harimau, Xiao Tian pun tersenyum.
"Sepertinya mereka memiliki dendam pribadi dengan musuhku kali ini. Ini akan mempermudah urusanku." pikir Xiao Tian.
Setelah berjalan keluar kuil, Kaibo dan naga hitam versi mini menyambut kedatangan Xiao Tian.
"Apakah semuanya sudah siap?" tanya Kaibo sambil menggendong naga hitam di pundaknya.
"Ya, semuanya sudah siap."
"Simpan pil-pil ini di dalam cincin ruangmu untuk berjaga-jaga." Xiao Tian melemparkan beberapa pil pemulih energi, pil penambah darah serta beberapa pil penetral racun kepada Kaibo.
Tailung berjalan paling depan bersama Xiao Tian dan Kaibo yang menggendong naga hitam di pundak kanannya. Sedangkan semua siluman harimau yang merupakan bawahan Tailung, berjalan di barisan paling belakang.
"Tailung, apakah Tailing Zen adalah nama saudara kembarmu?" tanya Xiao Tian.
"Benar sekali tuan pendekar." jawab Tailung.
"Ceritakan tentang saudara kembarmu itu, jelaskan semua secara rinci dari teknik apa yang dia kuasai, setinggi apa kultivasinya dan seberapa banyak pasukannya." ucap Xiao Tian.
"Tailing Zen merupakan saudara kembarku, dia lahir lebih dulu dariku jadi aku memanggilnya kakak sejak dulu. Kalau dari penampilan fisik, kami bagai pinang yang dibelah dua. Dengan kata lain, tak ada satupun perbedaan yang mencolok dari fisik kami."
"Satu-satunya perbedaan kami hanyalah sifat kami. Aku menyukai emas sedangkan kakakku menyukai perak, dia membenci emas karena tubuhnya begitu sensitif terhadap emas. Dia memiliki sebuah alergi yang aneh terhadap emas. Setiap kali menyentuh benda apapun yang terbuat dari emas, dia akan merasakan gatal yang luar biasa."
"Kultivasinya telah mencapai tingkat Dewa petarung lapisan ke dua. Teknik andalannya adalah tubuh perak dan langkah cahaya. Dia bisa berlari dengan kecepatan yang tak masuk akal dan memiliki kemampuan untuk merubah tubuhnya menjadi perak."
"Dia begitu mencintai perak, hingga menyuruh semua pengikutnya menggunakan pakaian berbahan perak."
"Pasukan harimau yang dia pimpin memiliki kekuatan yang tidak kalah jauh dengan kekuatan pasukanku." jelas Tailung sambil berjalan lurus ke arah utara.
"Begitu ya, akan kuingat semua itu." sambung Xiao Tian.
Setelah mereka berjalan cukup jauh ke arah utara, Dewa petir memperingatkan Xiao Tian bahwa mereka sedang diawasi. Dia merasakan aroma siluman harimau lain, yang mengikuti mereka sejak melangkah keluar menjauhi kuil.
Setelah mendengar peringatan dari Dewa Petir, Xiao Tian menghentikan langkahnya sambil berkata.
"Berhati-hatilah, sepertinya ada yang mengawasi kita sejak tadi."
"Berhati-hatilah." ucap Xiao Tian.
Kaibo, Tailung beserta pasukan siluman harimau menghentikan langkah mereka karena mendengar ucapan Xiao Tian.
"Aku tak merasakan sesuatu yang janggal, apa tuan pendekar yakin bahwa ada yang mengawasi kita?" tanya Tailung.
"Sangat yakin, mereka berjumlah delapan orang. Baunya seperti pasukanmu, namun kekuatan mereka sedikit lebih lemah dari pasukanmu." jelas Xiao Tian.
"Tak bisa terdeteksi oleh penciumanku, memiliki aroma yang sama dengan pasukanku namun kekuatan mereka jauh lebih lemah dari pasukanku."
"Pasukan khusus yang bertugas untuk mengawasi gerakan musuh." pikir Tailung.
Tailung mempersiapkan teknik sinar biru di tangan kanannya, sambil berkata.
"Berhati-hatilah, sepertinya pasukan bayangan dari siluman harimau perak, ada di sekitar sini!."
Tak lama setelah Tailung memberi peringatan, terdengar suara auman para siluman harimau perak dari segala penjuru.
Xiao Tian memegang pundak Tailung sambil memberi isyarat bahwa dia akan mengatasi semuanya.
"Simpan tenagamu." ucap Xiao Tian.
Xiao Tian mengeluarkan jarum emas dari cincin ruangnya, kemudian menempatkan jarum-jarum tersebut di sela-sela jarinya.
Dengan satu buah jarum emas di setiap sela-sela jari tangan kanan dan kirinya, Xiao Tian membidik delapan siluman harimau perak yang bersembunyi.
Atas bimbingan Dewa Petir, dia berhasil melacak letak persembunyian para siluman harimau perak tersebut, hingga tak ada satupun jarum yang meleset dari target.
Shut shut shut
Setelah tertusuk jarum emas milik Xiao Tian, delapan siluman harimau perak yang bersembunyi berjatuhan dari atas pohon di sebelah kanan dan kiri rombongan Xiao Tian.
Meski disebut siluman harimau perak, warna bulu mereka masih sama seperti pasukan Tailung, yaitu putih keabu-abuan. Satu-satunya yang membedakan pasukan Tailung dengan pasukan siluman harimau perak adalah pakaian mereka yang terbuat dari perak.
"Luar biasa, seperti yang diharapkan dari seorang pendekar sakti yang sanggup mengalahkanku. Kau bahkan tak menggunakan energi qi sedikitpun untuk melumpuhkan para pasukan bayangan siluman harimau perak yang bersembunyi." ucap Tailung dengan kagum.
"Mereka begitu lemah, kenapa kau sangat waspada dengan mereka?" tanya Xiao Tian.
"Mereka mungkin lemah, tapi mereka tak mudah dideteksi."
"Selain itu mereka sangat ahli memasang jebakan atau menyerang secara diam-diam menggunakan sumpit tiup yang beramunisikan jarum perak beracun."
"Racun dari jarum mereka sangatlah mematikan hingga sanggup membunuh seekor naga raksasa dalam hitungan detik." jelas Tailung.
Setelah mendengar penjelasan Tailung, Xiao Tian berjalan mendekati tubuh siluman harimau perak yang telah dia lumpuhkan.
Dia mengambil paksa semua sumpit tiup yang digenggam erat oleh para siluman harimau perak.
Setelah merampas sumpit tiup mereka, Xiao Tian melihat jarum perak yang berada di dalam sumpit tiup tersebut untuk mengecek racun macam apa yang sanggup membuat Tailung waspada.
Setelah melihat dan mengidentifikasi racun dari jarum perak, Xiao Tian tersenyum lebar.
Melihat senyum di wajah Xiao Tian, Tailung pun berkata.
"Kenapa tuan pendekar tersenyum?"
Xiao Tian memasukkan ujung sumpit tiup itu ke dalam mulutnya, lalu meniup sumpit tersebut sambil mengarahkannya kepada Taiping Chen, salah satu siluman harimau yang merupakan bawahan Tailung.
Shut ....
Taiping Chen tertusuk jarum perak yang keluar dari sumpit tiup Xiao Tian.
Melihat salah satu bawahannya tertusuk jarum perak, Tailung mendekati Xiao Tian, lalu memegang kerah bajunya karena merasa kesal.
"Tuan pendekar, apa maksudmu melakukan ini!"
"Kenapa kau membunuh salah satu bawahanku!" bentak Tailung sambil memegang kerah baju Xiao Tian.
"Ketua Tailung, jangan sakiti tuan pendekar!"
"Aku tidak apa-apa!"
"Jarum perak itu tidak beracun!" teriak Taiping Chen.
Tailung melepas kerah pakaian Xiao Tian, lalu melihat ke arah Taiping Chen. Wajah kesalnya berubah menjadi wajah bingung karena Taiping Chen tak terkena efek racun jarum perak sedikitpun.
"Tuan pendekar, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Tailung dengan wajah bingung.
Xiao Tian melemparkan pil penetral racun ke arah Tailung sambil berkata. "Semua itu berkat pil ini, semua anak buahmu telah menelan pil ini ketika aku menyembuhkan luka mereka."
"Pil ini bukan pil sembarangan, pil ini sanggup menetralkan berbagai macam racun. Dan kebetulan, racun yang terkandung di dalam jarum perak tidak cukup kuat hingga bisa mengurangi efek pil itu."
"Telanlah pil itu, kau adalah satu-satunya orang yang belum menelan pil tersebut." ucap Xiao Tian.
"Baiklah, ngomong-ngomong apakah jarum ekasmu juga mengandung racun?" tanya Tailung.
"Tidak, jarumku hanya memiliki efek pelumpuh."
"Sisanya terserah padamu, kau boleh menyandera mereka ataupun membunuh mereka." jawab Xiao Tian.
"Tuan pendekar, tolong pinjamkan aku satu atau dua buah sumpit tiup itu." ucap Tailung.
Xiao Tian memberikan dua buah sumpit tiup kepada Tailung tanpa rasa ragu. Tailung menggunakan sumpit tiup tersebut untuk meracuni delapan pasukan bayangan siluman harimau perak yang masih tergeletak tak berdaya.
Setelah menghabisi para penguntit, Xiao Tian menyuruh Tailung agar melanjutkan perjalanan menuju markas rahasia Tailing Zen.