Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 337 : Memanas manasi suasana


Ketika urusan Tian Zhong selesai, Xiao Tian beserta pasukan siluman harimau perak datang sambil membawa pakaian yang sangat mirip dengan pakaian Jenderal Chen Li.


Setelah melihat kemunculan Xiao Tian, Yuan er langsung memuntahkan para siluman rubah merah yang dia amankan sebelumnya.


"Pakailah pakaian ini, untuk menyempurnakan penyamaranmu!" ucap Xiao Tian sambil melempar sebuah replika pakaian Jenderal Chen Li.


Tian Zhong pun menjadi bingung bukan main setelah melihat Xiao Tian memberikan pakaian yang sama persis seperti pakaian jenderal Chen Li, dengan dahi yang dikerutkan dia pun berkata,


"Dari mana kau mendapatkan pakaian ini?" tanya Tian Zhong sambil mengerutkan dahi.


"Aku menyuruh salah satu teman di dalam ruang hampa untuk menjahitkan pakaian itu jauh ketika turnamen alkemis sedang berlangsung. Berbeda dengan kita para manusia, kita memerlukan pakaian pengganti untuk menyempurnakan penyamaran kita. Tak seperti para siluman yang memiliki keahlian untuk merubah pakaian mereka hanya dengan memikirkannya saja," jelas Xiao Tian sambil menatap mata Tian Zhong.


Mendengar penjelasan Xiao Tian yang cukup jelas dan rinci, Tian Zhong pun tak mempertanyakan hal tersebut lagi.


"Ngomong ngomong maafkan aku, gara gara terlambat datang pasukanmu ... ," ketika Tian Zhong belum sempat menyelesaikan ucapannya, Xiao Tian memotong pembicaraan dengan berkata, "Sudahlah, tak apa. Yang penting mereka semua selamat. Toh ini salah mereka sendiri karena bertindak terlalu gegabah,"


Ketika Tian Zhing dan Xiao Tian selesai berbincang satu sama lain, Yuan er yang telah kembali ke wujud manusianya memegang pundak Xiao Tian lalu berkata,


"Apakah mereka akan dikembalikan ke portal anehmu lagi?" tanya Yuan er yang telah kembali ke wujud manusianya.


"Tidak, tugas mereka belum selesai," ucap Xiao Tian sambil mengeluarkan pil dari dalam cincin ruangnya.


Mendengar jawaban Xiao Tian yang berada diluar perkiraannya, Yuan er pun langsung heran dan menolak mentah mentah keputusan Xiai Tian tersebut.


"Tapi, mereka kan sedang terluka parah," ucap Yuan er dengan takpang khawatir.


"Tenanglah, aku juga tahu batasan mereka kok," sambung Xiao Tian sambil tersenyum.


"Apakah kau bisa mengobati luka luka mereia dalam waktu singkat?" tanya Tian Zhong sambilengerutkan dahi.


"Begitulah," jawab Xiao Tian sambil menatap mata Tian Zhong.


Melihat keraguan di mata Tian Zhing dan Yuan er, Xiao Tian oun menunjukkan oil pil tingkat tinggi yang dia simpan di dalam cincin ruangnya. Oil pil itu dia dapatkan dari murid muridnya saat dalam proses berlatih alkemis.


"Suatu keberuntungan bagi mereka karena aku memiliki banyak murid yang berbakti, tanpa banyak bertanya aku mendapat begitu banyak pil tingkat tujuh dari mereka. Dengan pil pil ini, luka separah apapun dari para pendekar alam naga, akan bisa sembuh dalam sekejap mata."


"Karena para siluman rubah merah belum mencapai tingkatan itu, pil ini akan bereaksi lebih baik terhadap tubuh mereka. Bahkan jika beruntung, pil pil pembangkit jiwa di tanganku ini akan bisa membantu mereka menembus ke ranah pendekar alam naga."


Xiao Tian melemparkan pil pil pembangkit jiwa ke mulut para siluman satu persatu tanpa rasa ragu.


Setelah pil pil tersebut tertelan, akhirnya keajaiban pun terjadi. Para siluman rubah merah kembali tersadar, dan semua luka di tubuh mereka pun sembuh seketika. Sayangnya tak ada satupun dari mereka yang berhasil menerobos ke alam naga selain raja siluman rubah merah.


"Kuucapkan selamat kepadamu, karena berhasil menerobos ke ranah pendekar alam naga," ucap Xiao Tian sambil menatap raja siluman rubah merah.


"Maaf karena telah bertindak ceroboh, maharaja Xiao Tian," ucap raja siluman rubah merah sambil memberi hormat.


"Tak apa, aku sudah memprediksikan hal itu kok. Yang penting saat ini kalian dalam keadaan baik baik saja. Tapi, lain kali tolong lakukan tugasmu dengan benar ya ... ," ucap Xiao Tian sambil menegeluarkan tekanan qi yang mendominasi.


"Baik, yang mulia maharaja Xiao Tian," ucap raja siluman rubah merah dengan tampang panik dan ketakutan.


Setelah Xiao Tian menyembuhkan para siluman rubah merah, para siluman harimau perak ditugaskan untuk kembali ke sekte penyamaran masing masing. Sedangkan Tian Zhong ditugaskan untuk pergi lebih dulu ke tempat turnamen dengan memakai rupa Chen Li agar tak ada yang curiga tentang kematiannya.


Ketika Tian Zhong pergi, Yuan er disuruh untuk mengawasi Tian Zhong dari jauh agar tak melakukan hal diluar rencana.


Disaat semua orang telah meninggalkan tempat tersebut, Xiao Tian menatap raja siluman rubah merah lalu berkata, "Katakan apa yang ingin kau bicarakan denganku?"


"Seperti yang diharapkan dari yang mulia, kau begitu peka sehingga menyadari bahwa hamba ingin membicarakan sesuatu dengan anda," ucap raja siluman rubah merah sambil tersenyum.


"Cukup basa basinya, katakan saja langsung ke intinya," tegas Xiao Tian sambil menatap tajam mata raja siluman rubah merah.


"Ini mengenai bangsa siluman kelinci dan bangsa siluman angsa. Aku mendapat kabar bahwa kemungkinan besar mereka ditawan di daratan vampir," jelas siluman rubah merah sambil menatap mata Xiao Tian.


"Daratan vampir ya?"


"Darimana kau mendapat informasi ini?" tanya Xiao Tian sambil menatap mata Raja siluman rubah merah.


"Hamba mendapatkan informasi ini dari Tian Zhong, dari sorotan mata serta detak jantungnya hamba bisa menilai bahwa dia tidak sedang berbohong," ucap Raja siluman rubah merah sambil memberi hormat.


Setelah mendengar informasi dari raja suman rubah merah, Xiao Tian tak langsung bergerak karena memang masih ada urusan di sekte badai berduri. Selain itu, daratan vampir adalah daratan berbahaya dimana para vampir berkuasa. Xiao Tian paham betul bahwa dia harus mempersiapkan banyak hal terlebih dulu sebelum bergerak ke tempat itu.


######


Sementara itu Lian Ting dikejutkan oleh para penatuanya yang sampai di Gedung pusat cabang petarung dengan tampang yang lemas dan tak bersemangat.


"Kenapa kalian begitu lama?"


"Dan apa apaan dengan wajah lemas kalian itu?" tanya Lian Ting sambil menatap penatua Ding.


"Maaf patriach, kami gagal mendapatkan apa yang anda minta. Ternyata dia bukanlah seorang alkemis, tetapi seorang penatua dari cabang petarung. Ilmunya begitu tinggi, hingga kami tak berani berurusan dengannya," ucap penatua Ding sambil memberi hormat.


"Penatua petarung matamu, jelas jelas dia tak memiliki dasar kultivasi sama sekali. Dasar pengada ada!" ucap penatua Lin dari cabang petarung sekte singa perak.


"Penatua Ding tidaklah berbohong, itulah kenyataannya. Kami benar benar tak sanggup melawannya," ucap penatua Yun sambil menundukkan kepala.


"Kau kan tidak ikut, jadi bisa berkata seperti itu. Kalau kau dalam posisi kami sebelumnya, kau pasti sudah mati ketakutan," ucap penatua Yun sambil menatap Penatua Lin.


"Menyerahkan tugas pada wanita memanglah kesalahan besar. Biarkan kami saja yang pergi untuk mengurusnya," ucap para penatua cabang petarung sambil memberi hormat.


"Baiklah, kau boleh pergi. Jangan khawatirkan


turnamennya, aku yakin kali ini kitalah yang jadi juaranya lagi," ucap Lian Ting sambil menatap para tetua.


"Kalau begitu, kami pamit undur diri," ucap para tetua sambil memberi hormat.


"Turnamennya akan dimulai lima belas menit lagi, dan kau datang dengan tangan kosong?" tanya Patriach Sun Yu sambil menatap tajam mata penatua Xen.


"Seperti yang diharapkan dari seorang penatua Xen," ucap penatua Jingnan sambil menatap rendah mata penatua Xen.


"Tapi tak hanya aku yang kalah, bahkan kelima penatua dari sekte singa perak pun dikalahkan," ucap penatua Xen sambil memasang wajah panik.


"Sepertinya aku harus turun tangan juga ya?" ucap penatua Dong sambil tersenyum sinis.


"Tunggu dulu, lihatlah ke arah sana!" ucap penatua Sun Yu sambil menunjuk ke arah sekte singa perak.


"Sepertinya mereka juga ingin membuat perhitungan dengan pria bertopeng itu, kalian boleh pergi tapi jangan terjun langsung. Tunggu setelah para tetua sekte singa perak merebut metode rahasianya dulu. Setelah mereka kelelahan, barulah kalian muncul untuk menyerbunya," ucap Patriach Sun Yu sambil tersenyum.


"Mereka berjumlah sepuluh orang, kami berdua saja tidaklah cukup," ucap Penatua Dong sambil mengerutkan dahi.


"Aku tak menyuruh kalian saja, tetapi menyuruh kalian semua. Maksudku semua tetua," ucap patriach Sun Yu sambil tersenyum.


"Kalau kami semua pergi, siapa yang akan menjaga anda patriach?" tanya penatua Sun Yu sambil mengerutkan dahi.


"Jenderal Chen Li ada disini, tak akan ada yang berani memulai keributan dihadapannya sebelum turnamen selesai. Jadi kalau kalian menghawatirkanku, kembalilah sebelum turnamennya selesai," jelas patriach Sun Yu sambil menatap mata para tetua.


"Baiklah, kami mengerti patriach," ucap para tetua sambil memberi hormat.


"Umpan yang lain, sudah berhasil diluncurkan," pikir siluman rubah merah yang menyamar menjadi penatua Xen.


Ketika kedua sekte sedang merasa panas karena dikalahkan, patriach sekte harimau emas memilih untuk tetap diam walau para siluman yang menyamar menjadi penatua Ling dan dua tetua lainnya sudah berusaha keras memanas manasi pikirannya.


Patriach Jian Su memilih diam, karena instingnya mengatakan bahwa jika dia ikut campur lagi maka sesuatu yang lebih buruk akan menimpanya.


#wilayah petarung dekat gedung Xia Meng


Para siluman rubah telah menyebar kembali sambil bersembunyi di balik bayangan. Sedangkan Xiao Tian masih di tempat terakhir Tian Zhong membunuh Chen Li, Dewa petir yang senantiasa berada disampingnya merasa begitu bosan, karena Xiao Tian mencuekinya sejak Tian Zhong sudah tunduk kepadanya.


"Kita sedang nunggu apa sih?" tanya Dewa petir dengan tampang bosan.


"Tunggu dan lihat saja," jawab Xiao Tian sambil tersenyum lebar.


"Cih, setidaknya tatap mataku saat aku sedang bicara," ucap Dewa petir sambil memasang wajah kesal.