Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chaoter 472 : Xiao Tian dan Jia Li


Setelah menerima sebuah persik abadi, Xiao Tian langsung menyimpannya ke dalam cincin ruang. Lalu pergi untuk menemui istrinya. Dia mengabaikan tentang dari mana dan alasan apa Wu Kong mencuri persik tersebut. Dan alasannya tentu saja karena tak ingin ikut campur dengan urusan para Dewa. Apalagi Dewa yang jelas bersikap baik terhadapnya.


Disaat sudah sampai di depan kamar, dia langsung membuka pintu dengan senyum di wajahnya. Sambil memasang tampang yang riang gembira karena sudah mendapatkan apa yang dia perlukan, Xiao Tian pun berkata, "Aku pulang ... ,"


Disaat sudah menyelesaikan kaliamatnya, dia dikejutkan oleh pemandangan yang cukup aneh. Dimana Jia Li dan Huang Li terlihat begitu akur tak seperti biasanya.


Saat mengetahui bahwa Xiao Tian menatap ke arah mereka, kedua gadis itu pun langsung reflek dan berkata,


"Yanyan?"


Sadar bahwa dia baru saja memanggil Xiao Tian sama persis seperti Jia Li memanggilnya. Huang Li langsung menutup mulutnya dan bergumam di dalam hati.


"Apa yang baru saja aku kataka?"


"Kenapa aku bersikap sok akrab dengannya?"


"Aku kan biasanya memanggilnya dengan sebutan Xiao Tian,"


Eisaat Huang Li masih mencoba menutupi rasa canggungnya, Jia Li yang merupakan istri sah dari Xiao Tian langsung melompat ke pelukannya dan berkata, "Kemana saja kau lima hari ini?"


"Kenapa kau tak bercerita kepadaku saat ingin pergi?"


"Apa kau tahu kalau semua orang begitu mencemaskanmu?" ucap Jia Li dengan tangis di wajahnya.


Setelah melihat Jia Li memeluk dirinya, Xiao Tian langsung membalas pelukannya dan berkata, "Maafkan aku karena tak memberi tahumu sebelumnya. Aku hanya pergi untuk menaikkan kultivasiku. Maaf juga karena telah membuatmu cemas, aku tak ada maksud untuk melakukan itu. Semua karena para Dewa datang begitu mendadak. Dan menghentikan waktu untuk sementara ketika berniat membawaku pergi," jawab Xiao Tian sambil membalas pelukan Jia Li.


Huang Li yang sadar terhadap statusnya, langsung melangkah pergi meninggalkan kamar begitu saja. Gadis mana yang sanggup melihat pria yang disukainya berpelukan dengan gadis lain. Jika Xiao Tian tak begitu mengabaikannya mungkin dia merasa baikan. Tapi melihat dia hanya fokus menenangkan Jia Li dan mengabaikan keberadaan dirinya. Akhirnya dia puj memutuskan untuk pergi.


Xiao Tian yang tak memahami sikap Huang Li dengan polosnya menghentikan gerakannya dengan menahan salah satu lengannya. Sambil memasang tampang heran dia pun berkata, "Kemana kau akan pergi?"


"Kenapa tak mengatakan sepatah kat apapun sebelum kau pergi, Huang Li?"


"A ... , aku hanya ingin memanggil teman teman yang lain. Mereka pasti akan gembira mendengar kau telah kembali," jawab Huang Li tanpa menoleh ke belakang.


"Oh begitu ya?"


"Ya sudah kalau begitu."


"Ngomong ngomong jangan lupa ceritakan juga kepada mereka bahwa adikku kini telah terlahir. Dia memiliki wajah yang cantik seperti ibuku," ucap Xiao Tian sambil memegang lengan Huang Li.


"Ah ... begitu ya, selamat karena telah berhasil menjadi seorang kakak," jawab Huang Li tanpa menoleh ke belakang.


"Dasar pria yang tidak peka, apakah dia lupa kalau Huang Li juga memiliki perasaan terhadapnya?"


"Tentu saja moodnya berubah drastis setelah melihat kami berpelukan," likir Jia Li sambil menghela napas.


Bingung dengan reaksi aneh dari Huang Li, Xiao Tian pun mencoba untuk membaca pikirannya dengan menatap kepalanya. "Kenapa dia tak mau melepaskan tangannya?"


"Kalau begini aku bisa menjadi gila," pikir Huang Li dengan wajah yang memerah.


"Apa hubungannya genggamanku dengan hal yang membuatnya gila?"


"Aku tahu kalau dia menyimpan rasa terhadapku, tapi apa hubungannya dengan membuat dia gila?" pikir Xiao Tian dengan heran.


Disaat Xiao Tian masih larut dalam pikirannya, Huang Li melepas paksa pegangannya lalu pergi dan berkata, "Ma ... maaf kan aku Xiao Tian, yang lain pasti sedang khawatir saat ini. Aku harus memanggil mereka dan menyuruh semua orang untuk menghentikan pencarian atas dirimu,"


Woosh, Huang Li pergi begitu saja dan pemghuni kamar pun hanya tinggal mereka berdua saja.


Disaat Xiao Tian sedang larut dalam pikirannya, Jia Li melontarkan ucapan yang tak pernah terpikirkan oleh Xiao Tian. Dimana dia berkata bahwa Xiao Tian boleh menikahi Huang Li asalkan bersikap adil kepadanya.


"Maukah kau menikahi Huang Li untukku?"


"Kurasa dia gadis yang cukup baik."


"Dan dia pun terlihat begitu menyukaimu," ucap Jia Li sambil menatap wajah Xiao Tian.


"Kau kan tahu kalau aku tak memiliki rasa apapun terhadapnya, kenapa kau meminta aku untuk menikahinya?"


"Sebenarnya apa yang terjadi saat aku pergi, Lily?" tanya Xiao Tian.


"Tidak ada apa apa kok," jawab Jia Li sambil tersenyum.


Setelah melihat senyum palsu Jia Li, Xiao Tian langsung menatap wajahnya dengan serius. Dan berharap untuk dapat membaca pikirannya, dan ternyata ingatannya malah terblokir oleh teknik asing yang tidak Xiao Tian ketahui.


Awalnya Xiao Tian hanya dikejutkan oleh teknik yang mencegah dirinya untuk membaca ingatan, namun dia semakin menjadi terkejut setelah menyadari berapa tingkatan kultivasi Jia Li. Dimana sebelumnya dia masih berada dibawah ranah alam immortal, higga menjadi pendekar alam immortal lapisan puncak.


Xiao Tian awalnya tak begitu menyadarinya karena pikirannya tidak dalam keadaan fokus, tapi menyadari peningkatan Jia Li yang begitu pesat hanya dalam waktu lima hari. Membuatnya semakin yakin bahwa ada hal penting hang Jia Li sembunyikan.


Dengan tampang serius Xiao Tian langsung memikirkan segala hal yang terjadi ketika dia pergi. Hingga akhirnya dia oun dapat menyimpulkan terhadap kemungkinan yang paling masuk akal.


Dengan tampang seriusnya dia pun berkata, "Apakah kau berlatih di alam kesunyian milik Dewa kera?"


"Ke ... kenapa kau berpikir begitu?" tanya Jia Li dengan wajah yang terpalingkan.


"Katakan padaku, berapa sisa umurmu sekarang?"


"Apa Dewa kera telah memberi tahumu?" tanya Xiao Tian dengan serius.


"Se ... seminggu lagi," ucap Jia Li dengan tubuh yang gemetar.


"Kenapa kau melakukan itu?"


"Kenapa kau memaksa untuk melatih diri dan menghabiskan masa hidupmu di tempat yang memiliki kemampuan seperti ruang hampaku?" tanya Xiao Tian sambil memegang kedua pundak istrinya.


"Ka ... karena aku sudah tertinggal begitu jauh dari yang lain. Huang Li pun melaksanakan pelatihan yang serupa. Kenapa kau melarangku untuk menjadi kuat untuk membantumu?" tanya Jia Li dengan tangis di wajahnya.


"Kau bahkan tak memiliki rasa terhadapku, sama seperti Huang Li kan?"


"Kenapa kau begitu peduli dengan nyawaku?"


"Kau bahkan mengorbankan nyawamu untukku. Padahal aku pernah nerniat untuk membunuhmu," ucap Huang Li dengan tangis yang menetes membasahi wajahnya.


Disaat Jia Li sedang mengungkapkan segala beban di pikirannya, Xiao Tian berhasil membungkam mulutnya dengan berkata, "Karena kau adalah istriku!"


"Apakah salah jika aku menghawatirkan istriku!"


"Meskipun aku memang belum punya perasaan padamu, setidaknya biarkan aku mencoba untuk mencintaimu!"


Setelah mendengar ucapan Xiao Tian, Jia Li pun tersadar dengan sikap bodohnya. Dia telah membuat Xiao Tian khawatir terhadap dirinya dengan membuang nyawa disaat dia tidak sedang dibutuhkan. Dengan tampang penuh rasa bersalahnya, dia pun berkata, "Ma ... maafkan aku karena telah membuang nyawa yang telah kau perjuangkan untukku. Gara gara aku, waktumu untuk mencari pil penambah umur jadi semakin sedikit,"


Melihat penyesalan di mata Jia Li, Xiao Tian hanya langsung memeluknya dan berkata, "Lain kali jangan terlalu memaksakan dirimu, Lily,"


"Masalah pil penambah umur, kau akan mendapatkannya secepat mungkin. Karena aku telah mendapatkan bahan utamanya dari tangan Dewa kera,"


"Terimakasih karena telah perduli padaku, Yanyan," sambung Jia Li dengan tampang penuh penyesalan.