Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 180 : Kembali ke kerajaan Angin.


Setelah menyembuhkan Kaibo dan para siluman harimau, Xiao Tian pergi ke kerajaan Angin untuk mengantarkan putri Feng Yin. Mereka terbang sambil menaiki naga hitam raksasa dengan kecepatan yang tinggi.


Setelah sampai di kerajaan Angin, Xiao Tian disambut oleh Taiwu yang langsung terbang mendekat sambil menaiki naga birunya.


"Pangeran ... !" teriak Taiwu.


Setelah jarak mereka sudah cukup dekat, Taiwu melompat dari naganya lalu langsung terjun memeluk Xiao Tian.


"Kemana saja kau selama ini?"


"Aku sudah pergi bolak balik kerajaan es tapi tak menemukanmu dimanapun, bisakah kau jelaskan padaku?"


"Aku sudah bertanya kepada Topeng bencana dan si Gendut, tapi mereka menutup mulut mereka dan terus berkata kalau kau aman dan tak apa-apa."


"Aku memang tak apa-apa, tapi bisakah kau lepaskan pelukanmu ini?" tanya Xiao Tian.


Taiwu tak menyadari kalau Xiao Tian datang bersama putri Feng Yin dan putri Jia Li, wajahnya seketika memerah lalu langsung melepaskan pelukannya.


"I ... ini tak seperti yang kalian pikirkan, aku masih normal. Aku hanya menghawatirkan pangeran Xiao Tian hingga sedikit lupa diri.


"Hooo, sayangnya aku tak percaya akan hal itu." ledek putri Feng Yin.


"Ayolah putri, berhenti menggodaku."


" Oh iya, kerajaan Angin telah normal kembali."


"Kerajaan petir dan semua kerajaan yang datang setelah peperangan berakhir telah membantu proses perbaikan bangunan istana dan rumah penduduk kerajaan Angin."


"Begitu ya ... ," sambung putri Feng Yin.


"Lalu bagaimana keadaan jenderal Feng Long dan jenderal yang lain?" tanya putri Feng Yin.


"Semua jenderal kerajaan Angin selain jenderal Feng Long mengalami kematian yang tragis. Hanya jenderal Feng Long yang berhasil selamat dari perang melawan iblis," jawab Taiwu.


"Lalu dimana jenderal Feng Long sekarang?" tanya putri Feng Yin.


"Dia ada di tendanya, tubuhnya begitu lemah dan tak berdaya karena tak mau makan sejak kehilangan dirimu."


"Cepatlah temui jenderal Feng Long, dia sangat menghawatirkanmu sampai tak memperdulikan kesehatannya," jawab Taiwu.


"Begitu ya, kalau begitu pinjamkan aku nagamu dan antarkan aku menemui jenderal Feng Long." Putri Feng Yin melompat ke atas punggung naga biru, diikuti oleh Taiwu yang melompat di belakangnya. Sebelum pergi meninggalkan Xiao Tian, dia pun berkata,


"Hamba pamit undur diri, Pangeran."


Setelah menaiki naga birunya Taiwu pun pergi meninggalkan Xiao Tian.


###


Terhitung lima menit sejak Xiao Tian sampai di kerajaan Angin, dia langsung pergi keliling kerajaan untuk menemui jenderal Huang Cheng untuk memberi kabar kepadanya mengenai keadaan Huang Li.


Setelah menemukan tenda tempat jenderal Huang Cheng berkemah, Xiao Tian pun langsung melompat dari atas punggung naga hitam raksasa. Diikuti oleh putri Jia Li yang melompat mengikuti Xiao Tian.


Sebelum memasuki tenda jenderal Huang Cheng, Xiao Tian menghentikan langkahnya. Lalu berbalik menghadap putri Jia Li.


Dengan nada rendah dia pun berkata,


"Diamlah diluar, aku punya urusan penting dengan jenderal Huang Cheng."


"Urusan apa?" tanya putri Jia Li.


"Aku ingin memberi tahukan padanya mengenai kondisi Huang Li."


"Kumohon tunggulah diluar," ucap Xiao Tian dengan wajah yang murung.


"Kenapa tiba-tiba wajahmu murung?"


"Sebenarnya apa yang terjadi dengan Huang Li?" tanya putri Jia Li.


"Dia hanya tak sadarkan diri dalam waktu yang cukup lama, ceritanya sangat panjang. Aku akan menceritakanya padamu nanti. Untuk sekarang tunggulah di luar," jawab Xiao Tian.


"Baiklah, aku akan menunggumu disini. Titipkan salamku kepada jenderal Huang Cheng," ucap putri Jia Li.


"Baiklah, terimakasih atas pengertiannya Lily."


"Satu hal lagi, apapun yang terjadi di dalam sana, baik suara teriakan atau apapun itu."


"Jangan masuk dan mulai ikut campur, ini urusanku dan aku tak ingin kau terlibat. Lagi pula aku sudah bisa menjaga diriku sendiri saat ini," ucap Xiao Tian dengan nada serius.


"Baiklah, aku akan tetap diluar meski terdengar suara teriakan. Aku percaya padamu, Yanyan." Putri Jia Li menatap punggung Xiao Tian terus menerus hingga pangerannya itu pergi memasuki tenda untuk menemui jenderal Huang Cheng.


Setiap langkah Xiao Tian terasa begitu berat, teringin rasanya dia pergi tanpa harus memberi tahu jenderal Huang Cheng. Namun dia tahu hal tersebut merupakan hal yang dilakukan oleh seorang pengecut.


Langkah demi langkah dia jalani dengan jantung yang berdegup kencang. Ketika dia memasuki ruang jenderal Huang Cheng, ekspresi wajahnya langsung berubah. Rasa takutnya menghilang seketika karena melihat sang jenderal terbaring sakit akibat tak mau makan dan minum sama sekali. Melihat keadaan jenderal Huang Cheng Xiao Tian langsung menangis. Air mata di wajahnya menetes keluar karena tak bisa ia bendung lagi.


"Siapa itu?" tanya jenderal Huang Cheng.


"Ini aku." Xiao Tian berjalan mendekati jenderal Huang Cheng yang terbaring lemas di kasurnya.


"Berhenti disana, kemana saja kau selama ini?"


"Untuk apa kau mencariku?"


"Jangan pernah menemuiku jika kau tak bisa mengembalikan putriku kepadaku." Jenderal Huang Cheng berbicara dengan nada kesal.


"Maafkan aku jenderal, aku tak bisa melindungi putrimu."


"Karena aku dia ... " belum sempat menyelesaikan ucapannya, jenderal Huang Cheng berkata, "Aku tak butuh permintaan maafmu, pergilah dari tendaku!"


"Tunggu jenderal, aku mempunyai hal penting yang harus ku bicarakan kepadamu, tolong dengarkanlah aku." Xiao Tian menatap ke arah jenderal Huang Cheng yang terbaring lemas di kasurnya.


Karena Xiao Tian tak kunjung pergi, jenderal Huang Cheng Pun memanggil prajuritnya.


"Prajurit!"


"Ada apa tuanku?" tanya prajurit keluarga Huang.


"Bawa pangeran Xiao Tian keluar dari tendaku, aku tak ingin melihatnya ada di sini." Jenderal Huang Cheng menyuruh prajuritnya keluar tenda dengan nada yang begitu penuh amarah.


"Tunggu, jangan usir aku jenderal. Tolong dengarkan aku!"


"Aku ingin memberitahukan kondisi Huang Li!" teriak Xiao Tian.


Dengan waajah yang sedih, Jenderal Huang Cheng berkata,


"Aku sudah tahu, aku tak ingin dengar lagi karena aku tak akan percaya ucapanmu. Kau pasti ingin mengatakan kabar seperti yang dikatakan orang lain, bukan?"


"Aku sudah muak mendengar orang mengatakan bahwa Huang Li telah tiada, dan jasadnya tak bisa ditemukan. Pergilah aku tak ingin melihat wajahmu, kalau saja Huang Li tak ikut denganmu mungkin dia tak akan menghilang."


"Apa kau tak mendengar apa yang dikatakan jenderal, dia tak ingin kau temui hari ini. Pergilah." para prajurit mencoba menarik Xiao Tian keluar.


"Tidak, kau salah!"


"Huang Li masih hidup, dan tubuhnya ada padaku!"


"Dia hanya tertidur panjang dan tak sadarkan diri selama ini."


"Aku masih mencari cara untuk membangunkannya hingga sekarang. Tolong percayalah padaku," ucap Xiao Tian sambil memberontak hingga membuat prajurit yang memeganginya terpental jauh.


"Apa kau bilang?"


"Kau tidak bercanda bukan?"


"Kalau begitu tunjukkan tubuh Huang Li padaku!" ucap jenderal Huang Cheng sambil menatap ke arah Xiao Tian. Dia masih terbaring lemas di tempat tidurnya karena berpuasa selama beberapa hari, tanpa minum dan memakan makanan apapun.


Xiao Tian membuka portal ruang hampa di hadapan jenderal Huang Cheng dan pasukannya. Dia menceritakan portal apa itu dan alasan mengapa mereka tak bisa menemukan Huang Li.


Xiao Tian memasuki portal tersebut, lalu keluar sambil menggendong tubuh Huang Li yang masih terbaring tak berdaya.


Melihat putrinya berada di gendongan Xiao Tian, jenderal Huang Cheng berusaha begitu keras untuk bangkit dari tempat tidurnya.


Ketika kakinya menginjak tanah dia langsung terjatuh. Namun dia tak menyerah, dia mencoba bangkit kembali dan mulai berjalan meski agak sempoyongan.


Perlahan matanya mengeluarkan air mata. Keajaiban yang selama ini dia dambakan akhirnya terjadi di hadapan matanya. Ketika sudah cukup dekat, dia langsung meraih wajah putrinya. Lalu berkata,


"Huang Li, ayah sudah disini."


Jenderal Huang Cheng meraba lubang hidung Huang Li dan mencoba mengecek denyut nadinya. Namun dia tak merasakan apapun. Dia langsung terdiam membisu, air mata berhenti mengalir melewati pipinya. Jenderal Huang Cheng merasa begitu Syok dan tak berdaya.


"Mustahil, kemana denyut nadi dan hembusan napasnya?"


"Xiao Tian, bukankah kau berkata kalau dia hanya tertidur?"


"Kenapa dia tak bernapas?" tanya jenderal Huang Cheng lirih.


"Rohnya telah disegel oleh seseorang dari sekte iblis, hanya ada dua cara untuk membangkitkannya. Mencari bunga kristal es, atau mencari orang yang telah menyegel jiwanya. Aku belum menemukan petunjuk tentang lokasi orang iblis mengeluarkan petir berwarna kuning," jelas Xiao Tian sambil menggendong Huang Li.


Mendengar ucapan Xiao Tian, jenderal Huang Cheng teringat akan sesuatu. Dengan wajah serius dia berkata,


"Petir kuning ya?"


"Aku pernah mendengar raja iblis yang bisa menggunakan petir kuning, namanya adalah Dianzeng."


"Meski jarang keluar mencari keributan, dia juga merupakan salah satu dari delapan raja iblis yang berasal dari sekte iblis."


"Aku dengar Dianzeng hidup disekitar perbatasan daratan elemen. Kita harus mengalahkan iblis lautan untuk mencapai tempatnya."


"Perbatasan mana yang kau maksud?"


"Daratan elemen dikelilingi oleh lautan luas. Dan di setiap lautan terdapat iblis legenda yang kekuatannya tak terhingga. Selama ribuan tahun daratan elemen terisolasi dari dunia luar karena delapan iblis legenda yang menjaga lautan."


"Orang-orang menyebut mereka dengan sebutan Leviant"


"Iblis lautan yang sanggup menghabisi siapapun yang melewati lautan," jawab Xiao Tian.


"Kalau tak salah aku mendengar cerita tentang Dianzeng dari daerah perbatasan laut bagian barat," jawab jenderal Huang Cheng.


"Begitu ya, kalau begitu aku akan pergi mengecek kesana," sambung Xiao Tian.


"Tidak kau tak perlu kesana, aku yang akan pergi kesana."


"Aku akan ... " belum sempat menyelesaikan ucapannya, jenderal Huang Cheng pingsan tak berdaya karena Xiao Tian menusukkan jarum pelumpuh dengan menggunakan tangan kanannya.


Brukkk


"Jenderal!" teriak para prajurit.


Mendengar teriakan prajurit di dalam tenda, para prajurit di luar tenda ikut memasuki tenda lalu mengarahkan tombak mereka ke kepala Xiao Tian.


"Apa yang kau lakukan, Pangeran?" tanya para prajurit.


Xiao Tian mengeluarkan gelombang kekuatan qi yang begitu dahsyat hingga membuat para prajurit di sekitarnya terpental mundur dalam sekejap mata.


Woooshh


Brukk brukk


Setelah membuat para prajurit terjatuh, Xiao Tian meletakkan tubuh Huang Li ke tempat tidurnya. Dia juga meninggalkan pil menyambung nyawa untuk jenderal Huang Cheng denganmenelankan pil tersebut langsung ke mulutnya sebelum dia pergi meninggalkan tenda.


"Tunggu pangeran!"


"Pil apa yang kau berikan kepada jenderal!" teriak para prajurit.


"Tenanglah, aku tak meracuninya. Kondisinya terlalu buruk untuk pergi ke laut bagian barat. Jaga tubuh jenderal dan putrinya dengan baik. Kalau aku mendengar sesuatu terjadi pada tubuh mereka saat aku pergi maka aku akan mencari kalian hingga ke alam baka. Apa kalian mengerti?" ucap Xiao Tian sambil mengeluarkaj hawa membunuh yang sangat kuat.


Seketika para prajurit langsung terdiam membisu. Mereka mengerti Xiao Tian tak mungkin mencelakai jenderal mereka. Apalagi dengan kekuatannya yang sekarang, seharusnya dia tak memerlukan pil beracun untuk menghabisi jenderal mereka.


Setelah Xiao Tian pergi meninggalkan tenda, para prajurit langsung memindahkan tubuh jenderal yang tergeletak di tanah.


Setelah sampai di luar tenda, Xiao Tian disambut oleh putri Jia Li yang telah menunggunya begitu lama.


"Apa yang terjadi di dalam?"


"Kenapa terdengar banyak teriakan prajurit?" tanya putri Jia Li.


"Tak ada apa-apa, hanya masalah kecil." Xiao Tian berjalan pergi melompat ke punggung naga hitam raksasa, diikuti oleh putri Jia Li yang melompat di belakangnya.


Xiao Tian ingin menemui ayah dan teman-temannya yang berada di sekitar istana kerajaan angin.


Di tengah perjalanan, dia menceritakan semua yang terjadi terhadap Huang Li kepada putri Jia Li yang memang tak tahu apapun. Dia juga menceritakan mengenai apa yang terjadi kepada kerajaan Angin sehingga banyak kerajaan besar yang berkumpul di kerajaan Angin.


######


Topeng bencana, raja Xiao Zhaoye, putri Feng Yin, tetua dari sekte Gunung api dan beberapa raja dari kerajaan lain sedang berunding di aula kerajaan.


"Kerajaan Angin telah dibangun kembali, sudah lebih dari empat hari tak ada serangan dari sekte iblis. Sepertinya keadaan sudah cukup aman. Aku pamit undur diri dari kerajaan Angin. Aku tak bisa meninggalkan kerajaanku lebih dari empat hari," ucap raja kerajaan Magma.


"Kami juga ingin pamit undur diri." Raja kerajaan Air dan raja kerajaan Api bangkit dari kursi mereka.


"Sejak awal tujuan kami adalah sekte iblis, karena sudah tak ada tanda-tanda mereka maka kami juga pamit undur diri," ucap tetua Haoucun.


"Aku juga harus pergi." ucap raja dari kerajaan tanah.


"Katakanlah sesuatu, Topeng bencana!"


"Kau lah yang memiliki keputusan disini." Beberapa raja dari kerajaan kecil yang lainnya menatap menunggu keputusan Topeng bencana, karena tak berani pergi meninggalkan kerajaan Angin tanpa persetujuannya.


"Baiklah, perkumpulan seluruh kerajaan dibubarkan. Perang sudah usai, semua orang diijinkan untuk kembali ke kerajaan masing-masing," ucap Topeng bencana.


"Terimakasih atas pertolongan kalian, tanpa bantuan kalian kerajaan Angin pasti sudah menjadi sebuah reruntuhan belaka." Putri Feng Yin menundukkan kepalanya menghadap para hadirin.


Setelah selesai dengan perundingan mereka, semua raja dan tetua sekte Gunung Api pergi meninggalkan istana. Tak lama setelah itu Xiao Tian memasuki ruangan menemui putri Feng Yin, Topeng bencana dan raja Xiao Zhaoye yang masih duduk di aula kerajaan Angin.


"Salam yang mulia, salam putri Feng Yin, dan salam Topeng bencana."


"Maafkan saya yang telah pergi tanpa ijin saat baru tersadar dari tidur panjang saya." Xiao Tian membungkukkan badannya sambil memberi hormat.


"Kau tak perlu memberi hormat kepada ayahmu, kemarilah datang ke pelukan ayah," ucap raja Xiao Zhaoye.


"Luar biasa, raja Xiao Zhaoye berani bersikap tidak formal dihadapan Topeng bencana," pikir putri Feng Yin.


"Kenapa kau diam saja, Nak?"


"Kemarilah, ayah akan ..... " Belum sempat menyelesaikan ucapannya, raja Xiao Zhaoye merasakan hawa membunuh dari Topeng bencana.


"Sial aku lupa kalau istriku masih menyamar sebagai Topeng bencana dan putri Feng Yin belum mengetahui identitas asli Topeng bencana. Aku lupa bersikap formal," pikir raja Xiao Zhaoye.


"Raja Xiao Zhaoye, sepertinya kita harus bicara diluar sebentar." Topeng bencana berbicara sambil mengeluarkan hawa membunuh.


"Ba ... baik," ucap raja Xiao Zhaoye.


"Tuan Topeng bencana, maaf atas kelancangan hamba. Sebelum pergi membawa raja Xiao Zhaoye meninggalkan aula, bisakah dengarkan ucapan hamba sebentar saja?"


"Hamba ingin pamit pergi menuju laut bagian barat untuk mencari raja iblia Dianzeng." Xiao Tian berbicara sambil membungkuk memberi hormat.


Topeng bencana menghentikan langkahnya, dengan nada tinggi dia berkata,


"Tidak boleh!"


"Kau tak boleh pergi ke laut bagian barat!"


"Berhentilah mencari maut dan tolong diamlah di tempat aman!"


"Kenapa kau sangat hobi mencari masalah?" tanya Topeng bencana.


"Hamba tak bisa merubah keputusan hamba."


"Hamba akan tetap pergi ke lautan bagian barat, demi membuka segel yang mengunci jiwa Huang Li."


"Itu saja yang ingin hamba sampaikan." Xiao Tian membalikkan badannya setelah memberi hormat kepada Topeng bencana.


Topeng bencana melemparkan pedang merahnya ke arah Xiao Tian, namun Xiao Tian menangkap pedang tersebut.


"Apa maksudnya ini?" tanya Xiao Tian.


"Kalau kau memaksa ingin pergi, maka kalahkan aku terlebih dulu!" ucap Topeng bencana.


"Dengan senang hati." Xiao Tian menjawab tantangan Topeng bencana dengan wajah serius.


Bersambung .....