Reinkarnasi Dewa Obat

Reinkarnasi Dewa Obat
Chapter 514 : Keadaan alam fana


Di dalam sebuah ruang dimensi lain yang terbatasi oleh bebatuan hitam dan kasar berbentuk kubus sempurna, dengan luas dimensi yang mampu disandingkan dengan luas sebuah kerajaan, nampak dipenuhi oleh orang orang kekaisaran Ning. Dari rakyat di seluruh wilayah kekaisaran yang tersisa, serta raja raja dan para bangsawan yang terikat pada kekaisaran Ning.


Kerajaan Ning bagian utara dan selatan, serta orang orang kekaisaran itu sendiri. Mereka semua sedang duduk didaratan bebatuan hitam, sembari melihat layar ilusi berbentuk persegi yang menunjukkan kondisi kerajaan Ning bagian timur.


Berbeda dengan ruang hampa dan dimensi kekosongan milik Wu Kong, dimensi bebatuan hitam memiliki ujung pembatas layaknya sebuah kotak kubus, dan tidak memiliki perbedaan waktu dengan alam fana.


Selain orang orang Kekaisaran Ning yang mayoritas berasal dari keluarga inti, para raja serta pilar kerajaan yang tak memiliki ikatan dengan keluarga inti nampak frustasi karena kehilangan semua sumber daya mereka demi untuk mendapat ruang di dimensi tersebut.


'Manusia itu terlalu diluar dugaan, tak hanya bisa selamat dari teriakan makhluk alam bawah, dia bahkan bisa memojokkannya dengan jurus jurus aneh yang tak pernah kekutahui.'


'Jika Ning Lian Huo tak membuka paksa gerbang alam bawah aku takut, kekaisaranku akan benar benar dihancurkan!' Kaisar Ning Zhou duduk di kursi singgasana bertahtakan emas bersimbol naga yang di letakkan di atas daratn bebatuan hitam.


Lima pilar kekaisaran, serta lima pilar kerajaan yang bertugas sebagai pilar pengawas di kerajaan lain seperti Ning Yuan, nampak berdiri disamping sang Kaisar dan menjauhi raja mereka yang nampak duduk di atas bebatuan batu hitam berukuran sedang tanpa alas apapun.


Raja Ning Wang Lin yang berasal dari kerajaan bagian utara, bernasib sama seperti Raja Ning Huan Yu yang duduk beralaskan batu hitam berukuran sedang sembari dikelilingi tiga pilar kerajaan yang murni berasal dari keluarga cabang mereka. Berbeda dengan sang Kaisar yang takut akan kehancuran kekaisarannya, kedua raja dari keluarga cabang itu hanya menghawatirkan persediaan makanan yang dipegang penuh oleh pihak kekaisaran. Cara pikir mereka sama persis seperti semua rakyat mereka, yaitu berharap akan kejatuhan sang kaisar serta seluruh keluarga inti dan mengabdi kepada Xiao Tian yang mereka anggap sebagai satu satunya karakter yang mampu mewujudkan hal tersebut.


Sedangkan Ning Lian Meng dan Ning Lian Xuan hanya bisa memisahkan diri dari keluarga lain, serta menyayangkan pengorbanan raja mereka.


'Keluarga cabang Lian tak ada bedanya dengan keluarga kekaisaran. Bahkan lebih buruk. Berbeda dengan sang kaisar yang tak pernah mengorbankan rakyat yang mayoritas memiliki ikatan keluarga intinya, keluarga kalian malah rela mengorbankan orang orang sendiri hanya demi menaikkan kultivasi para penghuni istana.'


'Aku bersyukur saat mengetahui kabar bahwa kerajaan timurmu akan bernasib sama seperti kerajaan barat. Rata dengan tanah!' ucapan raja Ning Huan Yu terus terlintas di pikiran Ning Lian Meng.


'Rajamu adalah dalang dibalik bencana ini, aku tak begitu mengerti dari mana dia mendapat teknik berbahaya itu. Yang jelas karena monster yang keluar dari teknik anehnya, sebagian besar rakyat serta orang orangku tewas seketika hanya karena mendengar teriakan anehnya. Kerajaanku bahkan harus menyerahkan semua harta dan pangan yang kami bawa hanya demi mendapat ruang di dimensi ini. Kini kami tak berbeda dengan rakyatku, tak memiliki sekantung makanan pun untuk kami makan nanti!'


'Lagi pula apa gunanya meminta bantuan kepadaku?'


'Bukankah hanya kau dan Ning Lian Meng yang tersisa dikerajaanmu!?' Ning Lian Xuan teringat akan ucapan Ning Wang Lin yang menolak mentah mentah proposalnya saat sudah berada di dalam dimensi bebatuan hitam dan belum mengetahui bahwa rajanya telah tiada.


Brukkk, keduanya berlutut dengan putus asa dan menunduk dengan penuh air mata. "Kenapa kau mengorbankan dirimu, yang mulia?"


"Kenapa?"


.......


Di sebuah daratan siluman yang dipenuhi tanah gersang dan tengkorak hewan. Pria bercaping merah yang sudah menelan semua energi inti naga milik Red Dragon, nampak sedang membasmi para Kaisar iblis yang sudah terbebaskan dari relik mereka.


Clebbb!!! Dia menusukkan pedang ungu bergerigi berlapis asap hitam yang diselimuti aura kematian, ke punggung seorang Kaisar iblis yang nampak tergeletak tak berdaya karena telah terkena dampak teriakan Dewa Iblis Mo Wang.


"Kaisar Iblis penelan warna, dengan ini kau akan menjadi koleksiku yang ke dua puluh," Pria itu tersenyum lebar dengan senyum seorang psikopat.


"Bagaimana kau bisa baik baik saja disaat Kaisar ini terluka begitu parah akibat teriakan aneh itu!?" Kaisar iblis penelan warna nampak terbelalak dengan wujud manusia bermata tiganya.


Pedang ungu itu menyerap tubuh sang Kaisar iblis, layaknya pedang draconic aurora, dan menyalurkan kekuatannya ke dalam tubuh penggunanya.


'Jelas jelas buku terlarang ada ditanganku, lantas siapa makhluk di alam ini yang mengaktifkan teknik terlarang pembuka gerbang alam bawah ini?'


'Apakah ada seseorang yang telah diam diam mempelajari buku terlarangku?'


'Tapi siapa?' pria itu sedang menatap buku terlarang bersimbolkan tengkorak di tangan kirinya, sembari mencoba mencari tahu siapa yang mencuri salah satu teknik rahasianya. Hingga tersenyum sejenak saat terlintas wajah dua orang muridnya.


'Mungkinkah itu mereka berdua!?' pria itu terbayangkan wajah Kaisar Ning Zhou dan Raja Ning Lian Huo yang masih terlihat anak anak berusia sembilan tahunan. 'Dasar bocah bocah tak tahu di untung!?'


"Hhahahahha!" pria itu tertawa cukup keras hingga menarik perhatian suku albino dan beberapa biksu yang mengabdi di sekte pembasmi iblis yang berjalan mengikutinya. Saat sadar semua orang menatapnya dengan tatapan aneh, pria itu berhenti tertawa dan kembali menunjukkan wajah dingin yang mendominasi.


"Sudah genap dua puluh Kaisar iblis yang telah kita habisi, jika ditambahkan oleh Kaisar iblis naga merah di masa lalu, maka sudah genap dua puluh satu kaisar iblis yang berhasil kita musnahkan.


"Ini adalah masa emas bagi sekte kalian, tertawalah bersamaku!"


'Aku tak tahu apakah benar mengikuti monster ini, entah mengapa baunya seperti bau seorang iblis. Mungkin karena pedang aneh yang dia bawa, yang jelas jika kami tak bekerja sama dengannya, mungkin sekte kami akan hancur karena teriakan aneh itu. Pil ungu yang dia berikan tak hanya menaikkan kultivasi kami, tapi juga membuat kami sanggup menahan dampak teriakannya.'


'Semoga saja, setelah para iblis musnah dari bumi ini, pria ini tak berbalik menyerang kami,' salah satu biksu agung yang memiliki rupa Biksu Tong menatap pria bercaping dengan penuh rasa khawatir.


.....


"Ras iblis dan vampir berguguran satu demi satu, kalau begini terus sekte kita akan hancur!" seorang vampir generasi pertama nampak bingung saat melihat anggota sekte pelindung iblis yang berasal dari ras vampir, siluman, dan ras iblis gugur satu demi satu karena tak sanggup menahan dampak teriakan. Rupanya nampak seperti biksu tong, namun memiliki rambut hitam panjang dengan telinga runcing seperti halnya ras vampir generasi pertama pada umumnya.


"Arrghh!" para vampir dan ras lain yang merupakan anggota sekte pelindung iblis, nampak berteriak kesakitan dengan darah yang terus menetes perlahan di sekitar lubang telinga mereka.


'Apa yang terjadi dengan para monster itu?'


'Kenapa mereka berteriak kesakitan?' wanita berdarah murni yang terikat oleh tali emas, nampak heran karena tak merasakan dampak sama sekali seperti halnya para vampir generasi pertama yang rutin mengkonsumsi darahnya. 'Suamiku, kapan kau akan menyelamatkanku?'


'Apakah kau tahu kalau aku masih hidup?'


'Apakah kau dan Taiwu juga terkena dampak jeritan aneh yang menghabisi para makhluk keji itu?' wanita itu meneteskan air mata dengan penuh rasa khawatir.


..........


####


"Teknik pemurnian masal, aktifkan!" sebuah lingkaran sihir berwarna dasar kuning keemasan melebar luas dengan kedua kaki sang naga putih sebagai pusatnya. Para tengkorak hidup yang berada di jangkauan lingkaran sihir tersebut, perlahan lenyap menjadi abu dan rantai emas berlapis pelindung melingkar mulai muncul menutupi gerbang alam bawah.


'Kuharap tak ada Dewa iblis lain yang menerobos keluar hingga Xiao Tian mengembalikan Dewa iblis Mo Wang ke dalam gerbang alam bawah!'


Clingg!!!!! kepala Xiao Tian mendadak sakit tanpa alasan yang jelas. Rasa sakitnya hanya berlangsung beberapa detik, namun itu cukup mengganggu konsentrasinya karena sudah berulang sebanyak dua puluh kali.


"Arghh!"


'Sebenarnya apa yang terjadi padaku?'


'Apakah ini ulah monster itu?' Xiao Tian melangkah mundur sembari menjaga jarak dengan Dewa Iblis Mo Wang.


.....


Di wilayah daratan elemen, Taiwu berpapasan dengan Kaisar Langit yang nampak sibuk memindahkan rakyat kerajaan petir ke dalam dimensi merah miliknya.


"Dimana Dewa Dewi yang lain?" tanya Taiwu dengan heran.


"Mereka sedang berpencar ke kerajaan lain dan memasukkan makhluk fana ke dalam teknik dimensi mereka masing masing." Kaisar langit menjawab dengan serius.


"Bisakah hamba membawa orang orang ke dimensi merah anda?"


"Hamba tak memiliki teknik dimensi lain seperti maharajaku," Taiwu memberi hormat.


"Tentu saja, aku akan membuka portalnya dan menetap disini sampai kau selesai. Pergilah dan bawa orang orangmu!" Kaisar Langit melambai tanpa ragu.


"Terima kasih, yang mulia," Taiwu memberi hormat kepada Kaisar Langit dan berteleportasi ke arah kerajaan awan, untuk menyelamatkan orang orang disana. Meskipun dia menyayangkan karena sudah banyak korban berjatuhan, namun didalam hatinya merasa sedikit lega, karena kerajaan petir sudah tidak diduduki orang orang sekte pembasmi iblis dan benar benar sudah ditinggalkan hingga menyisakan rakyat kerajaan petir sendiri.


"Ikutlah denganku, putri!" Taiwu ditemani pasukan bayangan Xiao Hong membukakan pintu penjara yang mengunci adik putri Jia Li yang nampak diperlakukan cukup baik tanpa diikat dan peralatan tidur yang cukup nyaman.


Gadis itu tak merespon dan hanya terus menutupi telinganya karena tak sanggup menahan dampak teriakan sang iblis, meskipun sudah berhenti sejak lama karena Xiao Tian sedang melawannya saat ini. Sadar bahwa tak mungkin baginya berjalan sendiri, Taiwu menggendongnya secara paksa dan pergi menuju kerumunan orang yang telah berpegangan satu sama lain agar dapat berteleportasi secara masal.


"Pegang lenganku!" ucap Taiwu tanpa ragu.