
Markas rahasia Tailing Zen berada jauh di luar hutan bersalju. Markasnya dikelilingi oleh tembok tinggi yang terbuat dari es, di setiap sudut tembok itu di jaga ketat oleh pasukan siluman harimau berbaju perak. Xiao Tian bersama rombongannya melihat para pasukan siluman harimau perak menjaga di atas, di luar dan di dalam tembok.
"Benar-benar dijaga ketat." ucap Kaibo.
"Kau merupakan saudara kembarnya, apa kau tahu apa kelemahan mereka?" tanya Xiao Tian.
"Tentu saja, awalnya pertahanan mereka begitu sulit ditembus. Tapi dengan bantuan naga hitam raksasa dan pil penetral racun, pertahanan mereka bukanlah apa-apa." jawab Tailung.
"Jelaskan maksud ucapanmu." ucap Xiao Tian.
"Penjaga di atas tembok merupakan bagian terkuat dari pertahanan mereka. Mereka memiliki sebuah meriam besar yang sanggup meratakan hutan dalam sekali serang, kelemahan dari meriam itu adalah tidak bisa membidik seseorang yang bergerak cepat di atas udara. Dengan bantuan naga hitam yang sanggup terbang dengan kecepatan tinggi, kita bisa menghancurkan meriam-meriam itu sambil membunuh para penjaga di atas tembok."
"untuk pertahanan di luar tembok, mereka menugaskan pasukan bayangan yang sanggup menghabisi pasukan musuh dengan meracuni mereka memakai sumpit tiup."
"Tapi berkat pil penetral racun milikmu, kita bisa menerobos bagian depan tanpa takut keracunan." jelas Tailung.
"Apa ucapanmu ini bisa kupercaya?" tanya Xiao Tian.
"Tentu saja, aku memiliki dendam pribadi dengan kakakku itu. Jadi aku tak akan memberikan informasi yang palsu kepadamu." jelas Tailung.
"Baiklah, kita lakukan sesuai rencana Tailung."
"Kaibo naiklah keatas punggung naga hitam untuk membantunya menghabisi penjaga di atas tembok, sedangkan sisanya ikuti aku menerobos kedepan." ucap Xiao Tian.
Naga hitam berubah ke bentuk raksasanya, Kaibo menaiki punggung naga hitam lalu terbang menuju bagian atas tembok.
Ketika Kaibo terbang menaiki naga hitam raksasa, perhatian para siluman harimau perak tertuju ke arahnya.
Kaibo mengendalikan ribuan pedangnya untuk menghabisi para siluman harimau yang ada di atas tembok, sedangkan naga hitam raksasa membantu Kaibo menghancurkan meriam dan semua senjata perang di atas tembok dengan menyemburkan api kuning ke arah senjata-senjata itu.
Duarrr duarr
Sreakkk sreakk
"Aaaa ... , " teriak para siluman harimau perak yang terkena semburan api naga hitam dan tebasan dari ribuan pedang milik Kaibo.
"Serangan, kita diserang!"
"Siapkan amunisi, serang naga raksasa dan iblis kecil yang ada di punggungnya!" teriak para siluman harimau perak yang berada di atas tembok.
Setiap meriam yang telah diberi amunisi selalu dihancurkan naga hitam sebelum para siluman harimau perak menembakkan meriam tersebut.
Duar duar duar
"Pergi dan laporkan kepada tuan Tailing Zen, bahwa ada penyusup yang datang mengacau!" ucap salah satu penjaga gerbang bagian dalam.
Ketika para siluman harimau perak disibukkan oleh serangan kejutan Kaibo dan naga hitam raksasa, Xiao Tian dan pasukan Tailung menyerang lewat daratan.
"Serang!" teriak Tailung sambil mengangkat tangannya.
Ribuan pasukan Tailung menyerbu ke depan tanpa membawa senjata. Melihat serangan kejutan dari arah bawah, siluman harimau perak yang menjaga di luar tembok meniup sumpit beracun ke arah pasukan Tailung.
Shut shut shut.
Para pasukan bayangan siluman harimau perak dikejutkan oleh para pasukan Tailung yang masih sanggup menyerbu meski terkena tusukan jarum perak beracun.
"Apa yang terjadi, kenapa mereka masih bisa menyerbu meski jarum jarum beracun telah menusuk tubuh mereka?" ucap para siluman harimau perak yang berjaga di bawah.
Para pasukan Tailung terus menyerbu hingga bisa mendaratkan cakar mereka ke tubuh para siluman harimau yang berjaga di luar gerbang.
Sreakkk
"Mainan kecil itu, sudah tidak bisa menakuti kami lagi." ucap Taiping Chen.
Duakk
"Sampai jumpa di neraka!" ucap salah satu siluman harimau yang merupakan pasukan Tailung.
Tailung dan Xiao Tian menerobos masuk menendang gerbang bagian depan sambil membasmi para siluman harimau yang mencoba menghalangi mereka.
Setelah Xiao Tian dan Tailung memasuki gerbang markas siluman harimau perak, Tailing Zen muncul dihadapan mereka.
"Tailung, aku tak menyangka kalau adikku adalah dalang dari semua kekacauan ini."
"Apa yang ada dipikiranmu hingga membawa seorang manusia bersamamu!"
"Aku hanya meminta satu hal darimu, yaitu bergabung dengan kelompok harimau perak dan singkirkan semua emas itu dari tubuhmu. Tapi kau malah membawa orang-orang aneh untuk mengacau di kediamanku. Aku kecewa padamu adikku." ucap Tailing Zen.
"Berhenti memanggilku adik!"
"Sejak kau menghianati klan dan membiarkan istana es dikuasai oleh bangsa iblis ... ,"
"Aku sudah menganggap kakakku telah tiada!"
"Jadi, berhentilah memanggilku adikmu, Tailing Zen!" teriak Tailung sambil berlari kencang ke arah Tailing Zen sambil menyiapkan jurus sinar biru di tangan kanannya.
Tailing Zen menghindari serangan Tailung dengan mudah, memukul perutnya dengan sekuat tenaga, lalu menendang punggungnya ketika masih terkena efek pukulan keras Tailing Zen.
Duakk
Tailung terlempar jauh hingga menghantam menara pengawas.
"Adik Tailung, sebenarnya apa yang kau pikirkan hingga berani melawanku dengan kemampuan selemah itu?" tanya Tailing Zen sambil menatap ke arah Tailung yang telah terluka parah.
Tailing Zen mengabaikan Xiao Tian karena tak merasakan ancaman dari tubuh Xiao Tian, dia terfokus kepada Tailung dan berusaha membujuk adiknya itu bergabung.
"Adik Tailung, kenapa kau begitu keras kepala!"
"Bergabunglah bersamaku, dan ikuti yang mulia Lanbing. Demi kejayaan siluman harimau putih, kita harus terus bersatu." ucap Tailing Zen.
"Aku tak akan bergabung denganmu, dasar penghianat!"
"Ayah dan ibu telah tiada. Dan kita telah berjanji kepada mereka, agar menjaga kesucian istana es dan membasmi semua iblis yang berani menyentuhnya!"
"Kejayaan siluman harimau putih apanya, kau bahkan mengganti nama rasmu dengan menyebut kelompokmu sebagai siluman harimau perak."
"Kejayaan apa yang kau maksud, dengan menjual kesetiaanmu kepada raja iblis Lanbing, kejayaan apa yang kau maksud, dengan memberikan istana es kita kepada sekte iblis!"
"Jawab aku, Tailing zen!" ucap Tailung dengan tubuh penuh luka.
"Sepertinya sudah tidak ada harapan lagi. Padahal aku ingin bekerja sama denganmu, tapi kau begitu keras kepala. Maafkan aku adikku, sepertinya hari ini adalah hari terakhirmu melihat indahnya dunia." ucap Tailing Zen.
Dari dalam telapak tangan kiri Tailing Zen keluar sebuah tombak perak yang terus memanjang keluar. Dia mencabut tombak tersebut dengan tangan kanannya lalu membidik Tailung yang masih terbaring lemah tertindih reruntuhan menara.
"Selamat tinggal, adikku ... " ucap Tailing Zen.
Sebelum Tailing Zen melempar tombak peraknya, Xiao Tian menusuk punggung Tailing Zen dengan sekuat tenaga.
Cleb ...
"Apa yang?" Tailing Zen terkejut melihat sebuah pedang menembus perutnya.
Tailing Zen membalikkan badannya sambil berusaha menendang Xiao Tian. Xiao Tian mencabut pedangnya lalu melompat mundur.
Darah mengalir deras di tubuh Tailing Zen melewati luka tusukan pedang yang telah Xiao Tian ciptakan.
"Bagaimana caramu menembus tubuh kerasku?" tanya Tailing Zen.
"Tubuh keras?"
"Bagiku tubuhmu itu setipis kertas." ledek Xiao Tian.
"Hahaha, menarik sekali. Ini pertama kalinya seorang manusia berhasil melukai tubuh kerasku. Maaf karena mengabaikanmu tadi, kupikir kau hanyalah manusia lemah yang hanya bisa berlagak kuat."
"Mulai sekarang aku akan serius dalam menghadapimu." ucap Tailing Zen.
Luka tusukan di tubuh Tailing Zen merapat dalam sekejap, tubuhnya berubah menghitam dan matanya mengeluarkan sinar kuning.
"Cih, kenapa kau tidak menyerah saja." ucap Xiao Tian.
"Sialan, Tailung payah, kenapa dia tidak bilang kalau Tailing Zen memiliki kemampuan regenerasi, dan teknik macam apa yang dia gunakan sekarang?" Semua tubuhnya berubah menghitam dan matanya mengeluarkan sinar kuning." pikir Xiao Tian.